Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 30
“Akhirnya kita bisa bertatap muka juga, Nyonya?” Anne melangkah pelan, sudut bibirnya terangkat samar, tangan bersedekap di depan dada. “Tapi … pantaskah kau dipanggil dengan sebutan Nyonya?”
Ia berjalan lebih mendekat, senyum samar berganti seringai halus dan tatapan menjurus. “Nyonya itu hanya untuk wanita terhormat, bukan wanita yang gemar membuntuti laki–laki ke kamar mandi.”
“Kau ….”
“Panggil aku ndoro. Aku ini putri juraganmu. Apa kau lupa siapa Kartijo Suseno? Pelanggan mu.” Suara Anne memelan di akhir kalimat, satu tangan menutup bibir yang menahan tawa.
Gadis mengenakan kebaya kuning gading milik sang ibu, rambut di kepang rapi menoleh sekilas ke arah sungai, di mana Tutik dan Rodiyah baru menyelesaikan cucian mereka dan bersiap kembali ke rumah yang tentu saja akan melewati dirinya juga Marni.
Senyum di bibirnya semakin lebar, sudut mata melirik wajah pias wanita paruh baya di depannya.
“Haruskah aku menunggu mereka sampai sini untuk mengatakan siapa dirimu sebenarnya? Ah … tapi tidak seru, kau saja mempermalukan nama ibu di depan seluruh warga desa, jadi …,” Anne menggantungkan ucapannya, satu tangan mengusap pundak bergetar Marni, pandangan menjurus pada dua orang mulai menaiki perengan landai.
“Jadi kita tunggu waktu yang tepat untuk membuka kedokmu juga bangkotan tua dan anak laki–laki dungu mu itu.”
Bersamaan dengan Tutik dan Rodiyah sampai atas bukit, Anne menundukkan badan, mengambil bakul bambu dan beberapa pakaian yang tercecer di tanah. Suaranya kembali terdengar mendayu dengan senyum teduh dan tatapan hangat.
“Lain kali lebih berhati-hati lagi kalau berjalan di hutan, Mbokde, sering kali ular dan musang berkeliaran. Akan sangat berbahaya jika sampai terinjak, usahakan pakai teklek atau paling tidak alas kaki seadanya,” ucapnya sambil menyodorkan pakaian telah selesai dibereskan.
Wajah Marni mengeras seketika, tangan menggenggam erat pinggiran bakul bambu, bibir berkedut ingin membalas, namun tertahan seruan Rodiyah, juga Argono yang kebetulan datang.
“Kenapa, Mbokde? Jatuh atau ….”
“Hampir menginjak musang yang mengejar serangga,” potong Anne, tatapannya berpindah ke arah Argono. “Lain kali jangan biarkan ibumu berjalan sendirian, meski hanya mencuci di sungai. Hutan ini sekalipun tak begitu luas, banyak terdapat hewan liar, bisa-bisa ibumu diterkam salah satunya.”
Sindiran halus itu menggelitik rasa penasaran Argono, sambil mendekat ke arah sang ibu, ia membalas ucapan gadis semakin membuatnya berdebar tak karuan bila berdekatan. “Kalau tau begitu, mengapa kau sendiri sering melewatinya seorang diri? Bahkan tak jarang saat malam menjelang.”
“Karena aku pengendali semuanya,” sarkas Anne, senyum manis menghiasi wajah ayu nya.
“Kowe, cepet pulang sana. Wanita hamil tak baik berada di sungai lama-lama, opo kowe tak tau ilmu kejawen, atau pura-pura abai, berharap ada dedemit berwujud manusia menculikmu,” tunjuknya pada Tutik yang berdiri terpaku di sebelah Argono.
Mendengar ucapan Anne yang terdengar seperti sentilan untuk dirinya, Tutik membusungkan dada, tanpa rasa takut membalas gadis ayu mulai berjalan menjauh dari mereka.
“Mending aku diculik dedemit, daripada kowe … luarnya saja halus dalamnya penuh akal bulus, menjebak laki-laki demi kepuasan birahi.”
“Ucapanmu tak salah, Mbakyu, hanya kurang tepat.” Anne kembali berbalik badan, ujung bibirnya masih terangkat tipis. “Bukan aku yang menjebak mereka, tapi para laki-laki itu yang terjebak angan-angan nya, berpikir diri ini mudah dinaiki tanpa sadar tempat dimana dia tengah berpijak.”
Kalimat menohok meski disertai senyum manis itu menghujam dada Argono, mata sedari tadi tak berkedip mengatup sejenak dan sialnya langsung bertumbuk dengan netra tajam Anne begitu terbuka.
“Ada baiknya kau mencari tau kebenarannya dulu sebelum mengumbar cerita, kalau tak benar adanya, bukan hanya malu yang kau dapat, tapi juga dosa besar,” lanjut Anne seraya melanjutkan langkah, meninggalkan orang-orang yang masih terpaku di tempatnya.
“Bocah kae koyone bener-bener ngilmu gendam, sampe Mbokde saja dibuat bisu sama dia,” celetuk Rodiyah memecah keheningan yang sempat menggantung.
“Itulah sebabnya kita harus berhati-hati dan segera menyadarkan penduduk desa agar tak semakin terjerumus oleh mulut manisnya,” geram Marni, sudut matanya memicing, menatap punggung Anne di kejauhan.
“Bener, Mbokde. Anak gundik itu semakin menjadi-jadi, tak pernah aku sulit berbicara selama ini, tapi di hadapannya seolah mulut ini dikunci,” timpal Tutik.
Argono yang masih tak melepaskan pandang dari sosok ayu, berjalan dengan tangan bertaut di belakang tabuh, kepangan rambut bergoyang, mengikuti setiap hentakan langkah, meneguk ludah kasar. Ia menoleh sekilas pada sang ibu, meminta segera kembali ke rumah, lalu buru-buru berlari menyusul Anne yang sudah menghilang di balik rimbun dedaunan.
“Mau kemana anake sampeyan, Mbokde? Jangan-jangan—”
“Jaga bicaramu! Kau pikir anakku sudi menyentuh keturunan gundik murahan itu?!” sergah Marni, amarah tertahan dalam dada dilampiaskan pada dua wanita yang setia mendengar kabut dusta darinya.
“Betul. Kowe itu kalau bicara dipikir dulu, mana mungkin wong bagus seperti Argono mau sama bekasan bandot-bandot tua,” imbuh Tutik, tak juga mampu menahan geram dalam hati.
Rodiyah menggaruk kepala nya yang tak gatal, mata berkedip cepat, bibir bergumam, namun tak ada kata yang terucap.
Ketiganya lalu membubarkan diri tanpa mengucap satu patah kata lagi.
Sementara itu di jalanan setapak menuju tengah hutan, senandung langgam Jawa mengalun merdu dari bibir Anne, beradu derik serangga liar yang bersahutan. Tangan sedari tadi bertaut di belakang badan, berpindah ke samping, menyapu pucuk ilalang.
Langkah Anne perlahan melambat sudah barang tentu disengaja, sebab tau ada langkah lain di belakangnya. Namun perlahan kembali normal, bibir masih menyenandungkan langgam, pandangan lurus pada daun-daun yang bergemerisik tertiup semilir angin.
Gadis terbiasa membelah hutan itu terdiam sejenak, senyum tipis tersungging di bibirnya. Tanpa menoleh dan menghentikan langkah ia berkata:
“Mau sampai mana kau mengikuti dengan mengendap-endap begitu?”
Argono berdehem pelan, tersenyum tipis, lalu memasang raut santai seolah tak ada yang perlu disembunyikan.
“Aku tak sedang mengikutimu, hanya kebetulan berjalan searah saja,” katanya coba berkelit.
Anne terbahak seketika, langkahnya terhenti, wajah ayu menoleh cepat sampai kepangan pada rambut terayun ke kanan-kiri, yang tentu saja membuat Argono semakin salah tingkah. “Napasmu yang terengah-engah saja terdengar sampai ke telingaku, masih mau berkilah?”
Ia kemudian melanjutkan langkahnya, menyusuri jalanan setapak menuju perbatasan desa.
“Kau ternyata tak hanya cerdik, tapi cukup peka,” ucap Argono, berjalan tenang di belakang.
“Orang-orang sepertiku memang dilatih untuk semua itu, kalau tak peka, bagaimana dapat mengenali hama yang kapan saja bisa menyusup pada pertanianku,” jawabannya lebih pada sindiran halus.
Argono mengangguk samar, kaki seperti terpatri, terus mengikuti langkah Anne yang diam-diam mengulum senyum di depannya.
“Mau menemaniku keliling persawahan ke desa tetangga?” tawar Anne.
“Dengan berjalan kaki?” balas Argono, mata elangnya memicing, menanti jawaban gadis ayu telah berbalik badan menghadap padanya.
Anne tak menjawab, malah bersiul nyaring, tak lama dua kuda berlari ke arah mereka.
“Naiklah ke kuda putih itu. Dia jinak, milik adikku. Kau bisa berkuda, ‘kan? Atau kau mau menunggangi satu kuda denganku?”
“Hah ….”
Bersambung
Ilustrasi Anne dan Argono.
siapa yg nyulikk marni
kasman uduu kuii
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria