Arya Sena adalah seorang anak yang tidak diketahui publik dari pasangan Tunggul ametung dan seorang wanita yang merawatnya ketika dia mengalami luka parah akibat perintah penguasa Kediri yang memerintahkannya untuk menumpas pemberontakan disuatu daerah, setelah terluka Tunggul Ametung dirawat oleh seorang perempuan didesa bersama beberapa orang setianya, dan disaat itu mereka tidak sengaja jatuh cinta, ketika sudah benar-benar pulih, Tunggul Ametung menyuruh gadis itu untuk melupakannya, ditambah dihatinya hanya ada istrinya Dedes, lalu tanpa diketahui perempuan itu mengandung, setelah kurang lebih sembilan bulan lahirnya anak di kandungnya seorang laki-laki, tapi tak lama bayi itu kemudian meninggal tak kuasa menahan kesedihan tanpa suami sekarang ditinggal anak yang baru dilahirkan, perempuan itu kemudian juga meninggal, lalu jiwa dari timeline modern merasuki tubuh bayi itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon subspace_illusion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA UNTUK MASA DEPAN
Sore itu suasana di pelataran balai tirta terasa sangat lengang. Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna keemasan di permukaan air kolam yang tenang.
Hanya ada aku dan Anusapati. Tanpa mahkota, tanpa pengawal-pengawal, dan tanpa rentetan aturan istana yang membosankan.
Umur kami hanya selisih sekitar dua bulan. Kalau sedang berduaan seperti ini.
"Sena," buka Anusapati santai sambil melemparkan segenggam pakan ke arah ikan-ikan kolam. "Saudara-saudaraku yang lain dari jalur Arok sudah mendapatkan wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Sekarang tinggal kau saja yang belum."
Aku yang sedang bersandar santai di pilar kayu hanya menoleh tipis, menenggak minuman dari cangkir tembaga di tanganku tanpa berniat menyela.
Anusapati menatapku dengan raut wajah yang sulit diartikan, lalu terkekeh pelan.
"Kau ini saudara kandung seayah denganku. Kita berdua sama-sama mewarisi darah Mendiang Akuwu Tunggul Ametung. Dulu ibuku, Ken Dedes, adalah permaisurinya, dan ibumu adalah wanita dari Tugaran yang menyelamatkan Ayahanda saat disergap pasukan Kediri. Ditambah lagi, sekarang kau malah menikah dengan Rimbu, adikku sendiri... sungguh, hubungan keluarga kita ini benar-benar rumit dan gila kalau dipikir-pikir," kekehnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ia lalu menatapku lebih serius, namun tetap dengan nada santai khas saudara. "Tapi bagaimanapun rumitnya silsilah kita, kau berhak atas sebuah wilayah. Katakan padaku, daerah mana yang kau inginkan?"
Aku tersenyum tipis, menggeleng pelan sambil melemparkan pandangan ke arah air kolam.
"Untuk saat ini, biarkan aku tetap di sini dulu," jawabku tenang.
"Takhtamu sebagai Raja Singhasari ini baru saja berdiri di atas tanah yang masih basah. Pondasinya belum benar-benar kokoh. Biarkan aku membantumu mengawasi situasi, membersihkan ancaman-ancaman yang berpotensi menggoyahkan posisimu. Nanti, kalau kurasa takhtamu sudah benar-benar stabil dan tidak ada lagi yang berani macam-macam... barulah aku akan mengambil wilayahku sendiri."
Anusapati menatapku sebentar, lalu tersenyum dan menepuk bahuku agak keras.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku mempercayaimu sepenuhnya. Tapi ingat, kapan pun kau sudah siap, tinggal sebut saja nama tanahnya."
"Tentu," balasku singkat.
Anusapati tidak tahu saja, di balik penolakan ku yang terkesan 'berbakti' dan penuh pengorbanan ini, otak modernku sebenarnya sedang mengalkulasi sebuah strategi jangka panjang yang jauh lebih gila.
Dalam benakku, aku sudah mengunci satu wilayah spesifik yang saat ini mungkin sama sekali tidak dilirik oleh raja-raja di tanah Jawa ujung medini (singapura lama).
Sebuah pulau sepi di utara yang saat ini masih berada di bawah mandala kekuasaan Kerajaan Dharmasraya di bawah pimpinan Raja Srimat Trailoky. Bagi orang-orang di era ini, ujung medini mungkin hanya dianggap sebagai rawa-rawa bakau dan pemukiman nelayan yang tidak terlalu mencolok. Tapi bagiku yang datang dari masa depan, tempat itu adalah titik emas paling strategis di perairan Asia Tenggara.
Aku menyeringai tipis dalam hati sambil menyesap kembali minumanku.
“Kalau aku mengambil tanah kekuasaan di pedalaman Jawa, keberadaan ku justru bakal terus mengacak-acak alur sejarah dan memperkeruh peta politik Singhasari. Lebih baik aku membidik ujung medini. Di sana aku bisa membangun basis kekuatan maritim ku sendiri, mengendalikan jalur perdagangan, dan mengumpulkan kekayaan tanpa harus mengganggu jalannya garis sejarah utama tanah Jawa.”
Sore berganti malam. Di dalam kediamanku, suasana terasa begitu hening. Hanya terdengar suara jangkrik dari luar dan suara pelan pendar api dari lampu minyak yang menerangi sudut ruangan.
Di atas meja kayu, aku sedang sibuk mencoret-coret lembaran papirus tebal. Tangan kiriku menopang dagu, sementara tangan kananku memegang kuas kecil, menggoreskan bagan dan alur rencana masa depanku di ujung medini mulai dari pembangunan dermaga laut dalam hingga jaringan intelijen pelabuhan.
Sudah pasti, tulisan yang ku gunakan sama sekali bukan aksara Kawi atau Jawa Kuno yang biasa dipakai di zaman Singhasari ini. Aku menulisnya menggunakan aksara Latin dengan kombinasi bahasa Indonesia modern dan bahasa Inggris. Di dunia yang ku anggap seperti novel ini, tidak ada satu pun makhluk baik itu manusia Singhasari maupun siluman yang bisa membaca rahasia di dalam kertas ini.
Langkah kaki halus terdengar mendekat dari arah belakang.
Sebelum aku sempat menggulung lembaran itu, dua lengan ramping tiba-tiba melingkar hangat di pundakku.
Rimbu menyandarkan dagunya di bahuku, rambut mewanginya terurai membelai pipiku. Matanya yang jernih menatap bingung ke arah lembaran papirus di atas meja.
"Kakang..." gumam Rimbu halus, alis tipisnya bertaut heran. "Coretan apa ini? Ini bukan aksara Jawa Kuno ataupun Sansekerta.
Tulisan dari negeri mana lagi yang sedang Kakang pelajari malam-malam begini?"
Aku menghentikan goresan kuas ku, menyandarkan punggung ke dada Rimbu, lalu menoleh tipis menatap wajah cantiknya yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahku. Senyum tipis terukir di bibirku melihat raut penasaran dari putri Ken Arok ini.
"Ini tulisan rahasia," jawabku santai sambil mengusap pelan pipinya. "Hanya orang-orang dari masa yang sangat jauh yang bisa membacanya."
Rimbu merengut manja, mencubit pelan bahuku karena merasa dijahili. "Ih, Kakang selalu saja begitu! Selalu penuh rahasia dan sok misterius. Ajarin aku, dong. Aku juga mau bisa baca tulisan rahasia milik suamiku sendiri."
Aku tertawa kecil, memutar tubuhku menghadapnya lalu menarik pinggangnya mendekat. "Nanti aku ajarin."
"Janji yaa?" sahut Rimbu cepat, menatap mataku lekat-lekat sambil mengacungkan jari kelingkingnya dengan wajah penuh harap.
"Iya, janji," balasku singkat, menautkan kelingkingku ke kelingkingnya lalu mengecup keningnya pelan.
Dalam hati aku cuma bisa terkekeh. Mana mungkin aku benar-benar mengajarinya bahasa dan aksara Latin modern? Tapi ya sudahlah, memberi janji kecil untuk menenangkan istriku ini rasanya bukan ide yang buruk untuk menikmati malam yang tenang sebelum badai politik Singhasari benar-benar pecah.
Matahari baru saja terbit ketika aku melangkah menuju kediaman Anusapati. Suasana keraton pagi ini masih sepi, hanya ada beberapa penjaga yang menyapa dengan anggukan hormat. Mumpung suasana politik di Singhasari masih adem ayem dan belum ada tanda-tanda Tohjaya bakal bikin ulah di Kediri, ini saat yang paling pas buat mengeksekusi rencana besarku.
Anusapati sedang duduk santai di teras dalam sambil menikmati teh hangat ketika aku mendekat.
"Pagi-pagi sudah rapi, Sena," sapanya santai, menuangkan cangkir kedua tanpa melihat ke arahku. "Mau latihan perang atau mau ke mana?"
"Aku mau izin cuti beberapa hari, Anusapati," jawabku langsung pada intinya, duduk di kursi kayu di hadapannya.
Anusapati menghentikan gerakannya, menatapku heran dengan alis terangkat. "Cuti? Ke mana? Jangan bilang kau mau bertapa lagi di gunung seperti waktu itu?"
Aku tertawa kecil, menggelengkan kepala. "Bukan. Ada sedikit urusan pribadi di luar pulau yang harus ku selesaikan. Lagipula, situasi istana sedang tenang. Mata-mata kita di Kediri juga melaporkan belum ada pergerakan mencurigakan dari Tohjaya. Ini waktu yang tepat sebelum keadaan kembali sibuk."
Anusapati diam sejenak, mengamati wajahku seolah mencari alasan lain. Tapi pada akhirnya dia menghela napas pasrah dan tersenyum tipis. Umur kami yang cuma beda dua bulan memang membuat dia tidak pernah bisa benar-benar bersikap kaku atau melarang ku layaknya seorang raja kepada bawahannya.
"Ya sudah kalau itu maumu," ucap Anusapati sambil melambaikan tangannya santai. "Ambil waktu sebanyak yang kau butuhkan. Tapi ingat, jangan lama-lama."
"Baik. Terimakasih yang mulia." balasku singkat.
Setelah pamit sekilas pada Rimbu yang tentu saja sempat merengut curiga tapi berhasil ku bujuk aku langsung bergerak meninggalkan wilayah Singhasari. Tanpa membuang waktu naik kapal dagang yang lambat, aku mengaktifkan Ajian Saipi Angin. Langkah kakiku membelah daratan dan lautan dengan kecepatan luar biasa, melintasi Selat Sunda hingga akhirnya menginjakkan kaki di tanah Sumatra, menuju pusat kekuasaan Kerajaan Dharmasraya.
Tujuanku cuma satu: menemui Raja Srimat Trailoky dan menyegel kesepakatan atas ujung medini sebelum ada pihak lain yang menyadari potensi besar tempat itu.