Kinara Novelya Putri
Sakit hati tidak membuat Kinar menyerah untuk melanjutkan hidupnya. Karena ia percaya, jika suatu saat nanti ia akan mendapatkan cinta yang begitu tulus dari seorang pria.
Jefan Bintang Yudhistira
Jefan yang merasa dikhianati oleh Mecca akhirnya mendekati Kinar yang ia ketahui sudah lama menaruh hati padanya.
"Sebenarnya apa sih status hubungan kita?" Tanya Kinar sangat pelan tapi Jefan masih mampu mendengarnya karena jarak mereka yang dekat.
Jefan mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan Kinar. Ia diam, menunduk seakan tak memiliki keberanian untuk menatap wajah Kinar lagi.
"Kita ciuman, kamu panggil aku sayang, bahkan sikap kamu begitu manis sama aku. Tapi status hubungan kita nggak ada kejelasannya."
"Kamu sabar ya! Aku janji akan selesaikan hubungan aku sama Mecca secepat mungkin."
"Aku nggak butuh janji, Jef. Aku hanya butuh kamu jawab apa status hubungan kita selama ini?"
"Kamu maunya gimana?" Jefan membalikkan pertanyaan Kinar yang membuat Kinar kecewa dan keluar dari mobilnya begitu saja.
Akankah Kinar dan Jefan dapat bersatu dalam ikatan cinta? Akankah jalan cinta mereka mulus tanpa adanya lika-liku? Cerita selengkapnya langsung baca ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon is fitriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps. 29 Penyesalan Elsa
"Bik Rumi mau kemana?" Elsa menahan langkah Bik Rumi yang terlihat tergesa menuju pintu utama.
"Mau bukain pintu buat non Kinar, non."
"Nggak usah! Biarin aja dia di luar!" Kata Elsa ketus dengan posisinya yang duduk di sofa sembari tangannya memainkan ponsel.
"Tapi kasihan, non. Sebentar lagi sepertinya mau turun hujan." Jawab Bik Rumi setelah beberapa kali terdengar petir menyambar.
Elsa beranjak kemudian menghampiri Bik Rumi yang terlihat menunduk. Ia takut menatap wajah majikannya yang sepertinya sedang diliputi amarah.
"Bik Rumi kembali aja ke kamar!" Bik Rumi pun menurut.
Dari luar Kinar masih tak berhenti mengetuk pintu. Akhirnya, Elsa pun mengalah membukakan pintu tersebut untuk Kinar.
"Elsa, akhirnya lo buka juga pintunya!" Kinar menghela nafas lega.
"Masih ingat pulang ternyata?" Elsa menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan tatapan sinis.
"Kenapa kamu ngomongnya seperti itu?"
"Lo nggak malu apa kalau ada tetangga yang lihat pulang selarut ini sama cowok? Gue aja malu lo, Kin denger omongan tetangga tentang lo yang sering diantar jemput cowok. Hah! Tapi kayaknya sekarang lo udah nggak punya malu lagi." Elsa tersenyum getir membuat mata Kinar berkaca-kaca. Sungguh apa yang kali ini Elsa katakan sangat menyakiti hatinya.
"Elsa, aku tau di sini aku cuma numpang hidup sama keluarga kamu. Aku juga sudah banyak menjadi beban buat kamu dan keluarga. Kalau memang kamu keberatan aku tinggal disini, kamu bilang aja! Dan aku akan pergi! Tapi tolong, jangan bawa-bawa nama Jefan!"
"Bahkan sekarang, lo lebih peduli sama dia ketimbang sahabat lo ini!" Cibir Elsa.
"Lo tau, Kin? Semenjak lo berhubungan sama cowok itu, lo jadi lupa waktu. Cinta udah merubah Kinar yang gue kenal. Kinar sahabat gue udah nggak ada lagi." Ucap Elsa menekankan setiap katanya.
"Justru aku yang nggak ngenalin kamu lagi. Elsa yang aku kenal bukan Elsa yang sekarang ada di depan aku. Karena Elsa sahabatku itu, nggak akan mungkin bisa menyakiti sahabatnya dengan kata-kata yang kasar." Kinar menjeda ucapannya. Ia menarik nafas dalam.
"Bukannya kamu yang dulu dukung aku dekat sama Jefan? Kamu juga yang minta Jefan buat jagain aku selama kamu ke Singapura. Tapi kenapa, karena sebuah salah paham yang kebenarannya juga sudah aku jelaskan, kamu masih nggak percaya sama Jefan? Bahkan, sekarang kamu juga terlihat benci sama aku? Jadi yang salah siapa, Sa? Aku atau kamu?" Air mata Kinar begitu saja lolos dari kedua ujung matanya.
"Apa aku salah, Sa kalau aku juga ingin bahagia? Apa salah kalau ada cowok yang sayang sama aku? Aku nggak mau, Sa kalau harus jadi obat nyamuk kamu terus. Aku juga ingin ngerasain punya pacar. Jujur, Elsa! Aku iri sama kamu. Orang tua masih lengkap, punya kakak yang begitu sayang sama kamu, hidup juga serba kecukupan, apapun yang kamu mau selalu terwujud. Sedangkan aku? Apa yang aku punya, Sa? Aku nggak punya apa-apa! Bahkan buat tidur sama makan aja aku numpang sama kamu." Kinar berkata dengan air mata yang deras mengalir.
Begitu juga dengan Elsa. Pipinya pun sudah basah dengan air mata. Gadis itu hanya diam membisu mendengar semua penuturan dari Kinar.
Kinar mengusap seluruh air mata di wajahnya. Lalu, bergegas masuk ke dalam rumah. Ia berhenti memandang sebentar ke arah Bik Rumi yang berdiri di tengah-tengah ruang keluarga. Kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar yang ia tempati.
"Non, Kinar!" Panggil bik Rumi yang melihat Kinar menarik koper besar miliknya.
Kinar berhenti di depan bik Rumi. Kemudian, memeluk erat tubuh wanita paruh baya itu.
"Bik Rumi, maaf, selama di sini aku sudah banyak merepotkan. Dan, terima kasih juga karena sudah begitu baik sama aku!" Kata Kinar setelah melepas pelukannya. Lalu, menarik kembali kopernya berjalan menuju pintu utama.
"Non Kinar, mau kemana?"
Kinar tak menjawab. Ia hanya melemparkan senyum kepada bik Rumi.
"Elsa! Makasih karena selama ini udah baik sama aku! Mulai malam ini, aku nggak akan bikin kamu malu lagi karena omongan tetangga." Kinar beranjak pergi meninggalkan rumah itu. Tapi, langkahnya kembali berhenti. Ia menoleh ke belakang menatap Elsa yang sedari tadi hanya diam.
"Sebenci apapun kamu sama aku, aku tetap menganggapmu sahabat." Ucap Kinar sebelum ia melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan rumah itu.
Jederrr
Petir menyambar menemani kepergian Kinar bersamaan dengan hujan yang turun begitu deras. Elsa masih tetap diam menatap punggung Kinar yang sudah semakin tak terlihat.
Di dalam kamar, bik Rumi tak berhenti memikirkan keberadaan Kinar. Apalagi di luar sana kondisi hujan yang deras disertai pula dengan angin yang kencang. Akhirnya, ia teringat akan sesuatu. Bik Rumi mencari ponsel jadulnya kemudian mendial kontak yang menjadi tujuannya.
Tut... Tut... Tut...
Panggilannya tersambung tapi tak kunjung mendapat jawaban dari seberang. Bik Rumi kembali mencoba sekali lagi, namun masih tetap sama. Kemudian ia mengetikkan sebuah pesan dengan harapan Jefan segera membaca pesan singkatnya.
Bik Rumi harap-harap cemas apakah pesannya sudah dibaca oleh Jefan atau belum. Karena, ponsel yang ia miliki hanyalah ponsel jadul yang hanya bisa digunakan untuk telepon ataupun SMS. Tidak seperti ponsel yang sekarang banyak digunakan orang-orang pada umumnya.
*****
Di atas tempat tidur, Elsa duduk bersandar dengan papan ranjang. Air matanya terus menetes ketika semua yang Kinar katakan berputar kembali di otaknya.
Ia menatap jendela, gordennya berterbangan kemana-mana karena tiupan angin yang cukup kencang diiringi petir yang menyambar. Hujan pun semakin turun dengan derasnya.
Ia menyesali semua ucapan yang keluar dari mulutnya tadi. Padahal, ia tidak benar-benar marah dengan Kinar. Ia hanya ingin menjaga sahabatnya itu, terlebih dalam urusan cinta. Ia tidak ingin jika Kinar terluka kembali. Tapi, ternyata caranya tersebut justru membuat Kinar pergi.
Elsa bergegas cepat keluar dari kamar. Berjalan melewati setiap ruangan yang ada di dalam rumahnya. Namun, langkahnya terhenti di ruang tamu karena suara Bik Rumi yang memanggilnya.
"Non Elsa mau kemana?"
"Cari Kinar, Bik."
"Tapi di luar sedang hujan, Non! Waktu juga sudah sangat malam." Ujar bik Rumi lembut.
Kepala Elsa mendongak melihat jam dinding yang terpampang jelas menunjukkan pukul 23.30 WIB. Lalu, menoleh ke arah jendela. Dari sana terlihat jika hujan yang turun begitu lebat. Elsa hanya bisa menghembuskan nafasnya lemah.
"Saya tadi sudah SMS den Jefan, Non. Semoga saja SMS-nya dibaca dan den Jefan bisa mencari non Kinar." Elsa langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bik Rumi. Ia yakin Jefan pasti akan sangat marah jika mengetahui penyebab kepergian Kinar.
*****
Di sisi lain, Jefan baru memasuki kamarnya setelah berbincang panjang bersama keluarganya di ruang tengah. Ia langsung meraih ponsel yang ada di dalam saku celananya. Ponsel yang dari sore tadi sengaja ia silent, karena tidak ingin ada yang mengganggu waktunya bersama Kinar.
Jefan mengernyitkan keningnya ketika melihat ada banyak miss call dari Bik Rumi.
"Bik Rumi tumben malam-malam begini miss call banyak banget." Gumam Jefan ketika membuka layar ponselnya.
Matanya seketika melotot setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh asisten rumah tangga Elsa itu.
//Den Jefan, non Elsa sama non Kinar berantem. Dan sekarang non Kinar pergi dari rumah//
Jefan langsung melakukan panggilan dengan bik Rumi. Akan tetapi, bik Rumi tidak menjawab panggilannya. Jefan langsung menyambar jaket serta kunci mobilnya. Berjalan tergesa menuruni anak tangga menuju garasi. Tanpa memperdulikan derasnya hujan yang turun, ia tetap melajukan mobilnya menyusuri jalanan menuju rumah Elsa.
"Kinar kemana, Bik?" Tanya Jefan setelah sampai di rumah Elsa dan langsung disambut oleh Bik Rumi.
Bik Rumi menggeleng, "saya tidak tahu, den. Non Kinar tidak bilang apa-apa."
Jefan beralih menatap Elsa dengan tajam. Rahangnya sudah mengeras. Ingin sekali ia marah dengan gadis itu.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Kinar. Gue nggak akan pernah maafin lo!" Jefan kembali berlari ke mobilnya, melaju mencari Kinar yang tidak tahu kemana perginya.
"Kamu dimana, Kinar?"
Jefan masih terus mengemudikan mobilnya secara perlahan. Derasnya air hujan sangat mengganggu penglihatan Jefan. Ia harus menoleh ke kiri kanan mencari keberadaan Kinar.
Hatinya sudah penuh diliputi rasa kekhawatiran. Hampir 2 jam Jefan menelusuri jalanan, tapi masih belum menemukan pujaan hatinya itu. Ditambah lagi nomor Kinar yang tidak bisa dihubungi menambah rasa khawatir dalam dirinya.
cuma sangat disayangkan,, alurnya muter muter..
selalu diceritakan lagi dan lagi, bisa 1 bab tu yg muter..
semoga kedepan lebih baik lagi.. semangat
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti