Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 22: Tari Dapat Kerja
Joko berdiri lama di pinggir jalan, merasakan dingin yang tidak berasal dari angin.
Dingin itu belum sempat menjadi jawaban. Seminggu berlalu dengan wajah kampung yang tampak kembali biasa. Anak-anak kembali bermain di halaman, pedagang sayur tetap lewat pagi-pagi, dan Pak Karso tidak muncul lagi. Justru karena semuanya tampak biasa, Bu Yati semakin sering memperhatikan Bunga dari kejauhan.
Pagi itu, kabar baik datang lewat ponsel Tari.
Ia sedang melipat baju Melati ketika layar menyala. Nomor toko pakaian di mal mengirim pesan singkat: Tari diterima sebagai pramuniaga. Training dimulai Senin depan. Ia harus membawa fotokopi KTP, ijazah SMA, dan pas foto.
Tari membaca pesan itu tiga kali.
"Ma..." suaranya bergetar.
Bu Yati yang sedang mengulek sambal berhenti. "Apa?"
Tari menyerahkan ponsel dengan kedua tangan.
Bu Yati membaca. Huruf-huruf di layar tiba-tiba kabur. Ia mengerjap, tetapi air mata tetap jatuh.
"Ma, jangan nangis. Tari belum mulai kerja."
"Justru karena kamu akan mulai."
Dalam kehidupan lalu, Tari tidak pernah punya kesempatan seperti ini. Anak itu selalu bergerak dari satu pengorbanan ke pengorbanan lain: dikirim ke kampung, dipaksa menikah, hamil dalam tubuh lemah, lalu pergi sebelum sempat tahu rasanya punya gaji sendiri. Hari ini, sebuah pesan singkat dari toko pakaian terasa seperti pintu yang benar-benar terbuka.
Bu Yati memegang wajah anaknya. "Kamu dengar, Nduk? Mulai minggu depan, kamu punya nama di daftar pekerja. Bukan pembantu orang. Bukan calon menantu orang. Pekerja."
Tari menangis sambil tertawa.
Melati yang tidak mengerti ikut memeluk paha Tari. "Mbak Tari kerja?"
"Iya, Mel."
"Nanti beli kerupuk?"
Tari tertawa lebih keras. "Nanti kalau gajian, Mbak belikan kerupuk satu plastik besar."
Pak Tono duduk di teras, mendengar semua itu. Wajahnya masih kaku karena urusan Anto dan Sri, tetapi kali ini ia tidak langsung meremehkan. Beberapa hari terakhir ia melihat Tari bangun paling pagi, menyiapkan bubur Melati, menyapu halaman, lalu masih belajar menghitung diskon toko dari kertas bekas. Anak perempuan yang dulu ia anggap selalu bisa disuruh ternyata paling sedikit bicara dan paling banyak bergerak.
"Baguslah kalau diterima," katanya pelan.
Bu Yati menoleh. "Apa?"
Pak Tono tampak tidak nyaman karena semua orang mendengar. "Aku bilang, bagus kalau Tari diterima."
Tari menunduk. "Terima kasih, Pak."
Bu Yati tidak melewatkan kesempatan. "Lihat, Pak Tono. Anak perempuan itu kalau diberi jalan, dia bisa jalan sendiri. Lihat Anto di rumah mertuanya, kapan dia datang bawa beras? Tari belum gajian saja sudah bantu rumah."
Pak Tono ingin membantah, tetapi kata-katanya tersangkut. Anto memang belum datang. Watini hanya sekali mengirim pesan meminta baju Fajar yang tertinggal, tanpa menanyakan kabar siapa pun.
Guntur pulang sekolah saat suasana masih basah oleh tangis bahagia. Ia masuk dengan tas miring, melihat semua orang, lalu curiga.
"Ada yang mati lagi?"
Bu Yati melempar lap kecil ke arahnya. "Mulutmu."
Tari tersenyum. "Aku diterima kerja, Tur."
Guntur mencoba terlihat biasa. "Oh. Bagus."
Namun saat Tari masuk kamar untuk menyimpan dokumen, Guntur mengambil ponsel Bu Yati dan diam-diam mencari tutorial cara membuat pas foto di kios dekat sekolah. Bu Yati melihat dari sudut mata, tetapi tidak menegur. Anak itu masih gengsi, tapi tangannya mulai bergerak ke arah yang benar.
Bagus pulang tidak lama kemudian, membawa dus kecil pesanan dan bau jalanan. Saat mendengar kabar Tari diterima, ia bersiul pelan.
"Mbak Tari jadi orang mal sekarang."
Tari malu. "Mas, jangan begitu."
"Aku serius. Orang mal harus rapi. Besok aku antar fotokopi KTP dan ijazah ke kios laminating sekalian. Jangan sampai kertasmu lusuh."
Bu Yati mengangkat alis. "Gratis?"
Bagus meringis. "Untuk adik sendiri masa dihitung?"
"Kamu kalau bilang begitu biasanya sudah menghitung dari tadi."
"Ibu ini susah sekali percaya anak."
"Karena anakku kamu."
Tari tertawa kecil. Di tawa itu ada rasa keluarga yang lama hilang: saling ejek tanpa membuatnya merasa tidak berharga. Melati ikut tertawa meski tidak paham.
Bu Yati mengambil map plastik baru dari lemari. Sebenarnya map itu ia simpan untuk surat penting rumah, tetapi hari ini surat pentingnya adalah ijazah Tari.
"Semua dokumen masuk sini," katanya. "KTP, ijazah, pas foto, surat panggilan. Kalau orang toko tanya, jawab jelas. Kalau ada yang menyuruh bayar macam-macam di luar aturan, pulang bilang Mama."
Tari mengangguk. "Iya, Ma."
Pak Tono tiba-tiba merogoh saku dan meletakkan dua puluh ribu rupiah di meja.
Semua orang menatapnya.
"Untuk pas foto," katanya kaku.
Jumlah itu tidak besar. Bahkan mungkin terlambat puluhan tahun. Tapi bagi Tari, uang kecil dari ayah yang selama ini hampir tidak pernah melihatnya tetap membuat matanya basah.
"Terima kasih, Pak."
Siang menjelang sore, pesan lain datang.
Kali ini dari nomor Hendro.
Bu Yati membaca nama pengirim dan langsung duduk lebih tegak.
Assalamu'alaikum, Bu. Putri sudah ditemukan. Sekarang di rumah sakit tentara. Kondisinya lemah, tapi aman. Terima kasih untuk keberanian Ibu dan Mbak Tari.
Saya juga sudah menyerahkan keterangan awal ke pihak berwenang. Mohon doanya agar Putri berani bicara pelan-pelan.
Di bawah pesan itu ada foto.
Seorang perempuan muda berbaring di ranjang rumah sakit. Wajahnya tirus, matanya cekung, tetapi di sampingnya ada Hendro berdiri dengan seragam rapi. Tangannya tidak menyentuh bahu Putri, tetapi posisinya cukup dekat untuk menunjukkan penjagaan.
Bu Yati mengucap pelan, "Alhamdulillah."
Tari mendekat. "Putri selamat?"
"Iya."
Tari mengusap dada, lega seperti ikut menemukan jalan pulang.
Tari menatap foto itu lama. Matanya berhenti pada wajah Hendro, lalu cepat berpindah ke Putri. Tidak cukup cepat untuk lolos dari Bu Yati.
Bu Yati menahan senyum. Ia membalas Hendro dengan sopan: Alhamdulillah. Semoga Putri lekas pulih. Jangan biarkan dia merasa sendirian.
Setelah itu, ia mengambil screenshot foto tersebut dan mengirimkannya ke Tari dengan pesan lain.
Perwira itu kelihatan makin lumayan kalau sedang menjaga adiknya.
Dari kamar, terdengar suara Tari tercekat.
"Mama!"
Guntur yang sedang minum hampir tersedak. "Ibu mulai aneh."
"Diam, anak kecil."
Untuk pertama kalinya setelah begitu banyak kematian, rumah itu tertawa.
Tawa itu tidak lama.
Menjelang magrib, Bu Sari mengetuk pintu dengan panik. Kerudungnya miring, napasnya kacau, wajahnya pucat.
"Yati, gawat!"
Bu Yati langsung berdiri. "Apa?"
"Bunga hilang. Dari tadi dicari nggak ada. Joko sudah muter satu kampung. Nggak ada di mana-mana!"
Ponsel Bu Yati hampir terlepas dari tangannya.
Di halaman, Melati yang sedang memegang boneka Bunga menatap orang dewasa satu per satu.
"Nga ke mana, Mbah?"