Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Alasan-Alasan Kecil
Dan ketika Keira datang, orang itu memilih pergi.
Keira berdiri cukup lama di jalur batu, menatap teh yang masih mengepulkan uap tipis. Ia tidak menyentuhnya. Tidak memanggil. Tidak mengejar.
Di Kediaman Ciu, ada orang yang memberi perhatian dengan cara menghilang.
Namun beberapa hari setelah itu, Keira mulai menyadari bentuk lain dari perhatian, meski ia belum tahu harus menyebutnya apa.
Bukan dari Kevin Ciu.
Dari lantai tiga.
Panggilan pertama datang pada Senin pagi, tepat setelah Keira selesai membuat catatan perkembangan Jayden. Bi Sari masuk ke kamar bermain dengan wajah agak bingung sambil membawa map hitam.
"Suster Keira, ini harus diantar ke ruang kerja Ko Ethan."
Keira menerima map itu.
"Saya?"
"Iya. Pesan dari Jefri."
"Biasanya dokumen kantor dibawa staf administrasi."
Bi Sari juga terlihat memikirkan hal yang sama, tetapi ia hanya berkata, "Kalau sudah pesan dari atas, kita jalankan."
Keira memastikan Jayden sedang bersama pengasuh lain, lalu naik ke lantai tiga.
Area itu selalu berbeda dari lantai lain. Lebih sunyi, lebih dingin, dengan karpet tebal yang menelan suara langkah. Tidak ada foto keluarga di dinding. Tidak ada vas bunga yang terlalu cerah. Hanya garis-garis bersih, pintu tertutup, dan aroma kopi hitam.
Jefri Tan menunggunya di depan ruang kerja.
"Ko Ethan di dalam," katanya. "Ketuk dua kali."
Keira mengangguk, mengetuk, lalu masuk setelah terdengar suara pendek dari dalam.
"Masuk."
Ethan duduk di balik meja besar, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung rapi. Matanya tidak langsung menatap Keira. Ia membaca layar laptop, satu tangan memegang ponsel, tangan lain di dekat tumpukan kontrak.
Keira meletakkan map di sudut meja.
"Dokumen dari Bi Sari, Ko Ethan."
"Buka halaman ketiga."
Keira berhenti sebentar, lalu membuka map. "Yang bagian tanda terima?"
"Baca nominalnya."
Ia membaca angka yang diminta. Ethan memberi catatan singkat, menandatangani dua lembar, lalu mengembalikan map itu.
"Sampaikan ke Jefri."
"Baik."
Tidak ada percakapan lain.
Keira keluar dengan perasaan bahwa ia baru saja menjadi perantara hidup antara meja Ethan dan meja Jefri.
Hal itu seharusnya selesai di sana.
Tetapi dua hari kemudian, Jefri kembali muncul di dekat kamar bermain.
"Suster Keira, Ko Ethan minta laporan perkembangan belajar Adik Jay."
Keira mengambil buku catatan dari rak kecil. "Saya sudah kirim ringkasannya lewat Bi Sari tadi pagi."
"Beliau minta lisan."
"Sekarang?"
"Sekarang."
Jayden sedang menyusun kartu kata di karpet. Ia menoleh.
"Ci Keira ke mana?"
"Sebentar ke atas. Adik Jay lanjutkan susun kata 'Bola makan wortel'. Nanti Ci Keira cek."
Jayden mengangguk serius, seolah mendapat tugas negara.
Di lantai tiga, Ethan mendengar laporan itu tanpa ekspresi.
Keira berdiri dua langkah dari meja, buku catatan terbuka di tangannya.
"Adik Jay sudah bisa mengenali lima belas kata benda sederhana. Dia lebih cepat belajar kalau ada benda asli atau gambar. Untuk angka, dia suka menghitung benda bergerak, misalnya semut atau mobil mainan. Fokusnya bisa lebih panjang kalau topiknya dia pilih sendiri."
Ethan menatap dokumen di depannya.
"Berapa lama?"
"Untuk kegiatan biasa, sepuluh sampai lima belas menit. Untuk hal yang menarik baginya, bisa dua puluh menit lebih."
"Itu normal?"
"Di atas rata-rata untuk usia lima tahun, tapi masih masuk akal kalau minatnya kuat."
Ethan akhirnya mengangkat mata.
Tatapan itu singkat, tetapi Keira merasa seluruh kalimatnya baru benar-benar didengar.
"Lanjutkan."
Keira menunggu. "Lanjutkan laporannya atau lanjutkan metodenya?"
Jefri yang berdiri di dekat pintu menurunkan pandangan.
Ethan diam satu detik.
"Metodenya."
"Baik, Ko Ethan."
Pertemuan kedua selesai.
Keira turun dengan pikiran sederhana: Ko Ethan mulai peduli pada perkembangan Jayden. Itu bagus. Bagaimanapun, Jayden tinggal di rumah yang sama dan semua anak butuh orang dewasa yang memperhatikan.
Ia tidak melihat Jefri berdiri lebih lama di koridor setelah pintu tertutup.
Jefri bekerja untuk Ethan bertahun-tahun. Ia tahu ritme majikannya seperti orang tahu jadwal napas sendiri. Ko Ethan tidak suka laporan lisan kalau laporan tertulis sudah cukup. Ko Ethan tidak memanggil staf rumah tangga ke lantai tiga tanpa keperluan mendesak. Ko Ethan, sejak dulu, menjaga jarak dari semua yang berbau domestik.
Namun minggu itu, Suster Keira naik ke lantai tiga dua kali.
Pada Jumat sore, menjadi tiga kali.
Alasannya lebih aneh.
"Materi tentang nutrisi bayi?" Keira mengulang ucapan Jefri di depan lift kecil servis.
Jefri menyerahkan amplop cokelat. "Ko Ethan bilang, karena kamu yang punya sertifikat baby care, kamu paling tepat memeriksa."
"Bukankah dokter anak Nyonya Stephanie yang memberi panduan nutrisi?"
"Benar."
"Lalu kenapa dokumennya ada di Ko Ethan?"
Jefri menatapnya dengan wajah datar.
"Ko Ethan yang minta."
Jawaban itu menutup semua pertanyaan.
Keira naik lagi.
Di ruang kerja, Ethan berdiri dekat jendela. Cahaya sore jatuh di sisi wajahnya, membuat garis rahangnya tampak lebih tajam. Ia berbalik ketika Keira masuk.
"Periksa."
Keira membuka amplop. Isinya brosur klinik anak, tabel kebutuhan nutrisi ibu menyusui, daftar makanan pemicu alergi umum, dan beberapa catatan tercetak dari dokter.
Ia membaca cepat.
"Ini untuk Nyonya Stephanie?"
"Untuk bayi."
"Bayi di bawah enam bulan belum perlu makanan tambahan, Ko Ethan. Yang utama ASI atau susu formula sesuai arahan dokter. Nutrisi pendukung diberikan lewat kondisi ibu menyusui dan evaluasi dokter, bukan langsung ke bayi."
"Saya tahu."
Keira mengangkat mata.
Kalau tahu, kenapa memanggil saya?
Pertanyaan itu hampir keluar, tetapi ia menahannya. Ethan Ciu bukan orang yang nyaman ditanyai alasan pribadi.
Ia hanya berkata, "Kalau begitu, dokumen ini sudah sesuai. Saya sarankan semua perubahan tetap lewat dokter anak."
Ethan mengambil kertas itu dari tangannya. Jari mereka tidak bersentuhan.
"Tinggalkan catatan tertulis."
"Baik."
Keira duduk di kursi kecil dekat meja samping, menulis ringkasan lima poin. Ethan kembali bekerja. Tidak ada suara selain ketukan keyboard dan goresan pena Keira di kertas.
Jefri berdiri di luar pintu yang sedikit terbuka.
Dari posisinya, ia bisa melihat sesuatu yang Keira tidak lihat.
Setiap kali Keira menunduk menulis, mata Ethan berhenti sebentar di atas kepalanya. Bukan lama. Hanya satu atau dua detik. Begitu Keira bergerak, Ethan kembali ke layar seolah tidak terjadi apa-apa.
Setelah Keira selesai, ia menyerahkan catatan itu.
"Ada lagi, Ko Ethan?"
"Tidak."
"Kalau begitu saya turun."
Ethan mengangguk tanpa melihat.
Keira keluar.
Di koridor, ia melewati Jefri dengan sopan. "Ko Jefri."
Jefri mengangguk. "Suster Keira."
Langkah Keira menjauh di karpet tebal.
Jefri menunggu sampai ia berbelok ke arah tangga, baru masuk ke ruang kerja.
Ethan sudah kembali membaca dokumen. Wajahnya dingin seperti biasa.
"Bereskan yang di meja samping," katanya.
"Baik, Ko Ethan."
Jefri mengambil amplop cokelat, brosur dokter, dan kertas catatan Keira. Saat merapikan tumpukan alat tulis, tangannya berhenti.
Di sisi kanan meja Ethan, ada sebuah kotak pena baru.
Jefri mengenali mereknya. Mengenali modelnya. Mengenali warna peraknya yang dingin.
Model yang sama persis dengan pena yang pernah Ko Ethan buang setelah Suster Keira melihat tangannya gemetar.
Jefri menatap kotak itu sebentar, lalu menutupnya kembali tanpa suara.
Ko Ethan membuang satu.
Lalu membeli satu lagi yang sama.