NovelToon NovelToon
Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Diusir Jadi Pembantu, Dipinang Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengasuh / Menikahi tentara
Popularitas:131
Nilai: 5
Nama Author: Raven Ayu

Sepuluh tahun Arum jadi "calon menantu" keluarga Prasetyo. Nyatanya? Cuma pembantu tanpa gaji yang mencuci, memasak, dan menahan hinaan setiap hari.

Begitu Reyhan—putra keluarga itu—lulus dan kuliah di Jakarta, Arum langsung ditendang keluar. Alasannya satu: **"Kamu nggak sederajat lagi."**

Ia lalu dibuang ke rumah dinas Mayor Bramantyo Adiwangsa—**"Sang Macan"**, perwira berhati batu yang baru pulang terluka dari perbatasan. Konon tatapannya saja bikin prajurit menunduk. Arum pikir ia cuma akan jadi pengurus rumah biasa.

Tapi lelaki dingin yang katanya tak pernah melirik perempuan itu… malam demi malam menatapnya makin dalam.

Saat keluarga Prasetyo datang menghina, sang Mayor menendang pintu dan berdiri di depannya:
**"Di rumahku, dia orangku. Sentuh sehelai rambutnya, coba saja."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Di Rumahku, Dia Orangku

Gagang pintu bergerak dari luar.

Bara meraih selimut tipis dari ranjang dan melemparkannya ke arah Arum.

"Tutup tubuhmu."

Arum menangkap kain itu tepat ketika pintu terdorong terbuka. Ia membungkus bahu dan dadanya, lalu merapat ke sisi ranjang. Bara berdiri di depannya, menutup pandangan orang dari pintu meski kaki kanannya masih gemetar menahan sakit.

Kapten Hartono muncul dengan senyum lebar.

"Maaf, Mayor. Pintunya tidak terkunci." Tatapannya menyapu air di lantai, kancing yang berserakan, dan selimut yang membungkus Arum. Senyumnya berubah tipis. "Sepertinya saya datang pada waktu yang kurang tepat."

"Kamu datang tanpa menunggu izin," kata Bara.

Hartono segera meluruskan punggung. "Mohon maaf. Saya hanya ingin memastikan anak ini tidak merepotkan Mayor."

Anak ini.

Arum menunduk. Dua kata itu terdengar lebih dingin daripada saat Hartono masih membiarkannya memanggil Bapak.

Bara menggeser tubuh setengah langkah, tetap menutupi Arum. "Dia punya nama."

Hartono tertawa kecil. "Tentu. Maksud saya Arum. Anak itu memang agak lambat, Mayor. Sejak kecil harus disuruh berkali-kali. Kalau dia bikin Bapak kesal, pukul saja. Tidak apa-apa. Dia biasa diberi pelajaran."

Udara di ruang tengah mendadak terasa berat.

Arum menggenggam selimut di bawah dagu. Ia menunggu Bara mengangguk, atau sekadar membiarkan kalimat itu lewat seperti semua orang dewasa yang pernah mendengar Bu Yatmi memarahinya.

Bara tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menatap Hartono.

Senyum Kapten itu pelan-pelan menghilang.

"Saya bercanda, Mayor," ujarnya cepat. "Namanya juga mendidik anak. Kadang perlu tegas."

"Kamu sudah selesai?"

"Ada sedikit hal yang ingin saya sampaikan kepada Arum. Urusan keluarga." Hartono menunjuk pintu. "Sebentar saja."

"Sampaikan di sini."

Hartono melirik Arum. Sorot matanya berubah, menyuruhnya datang tanpa kata. Tubuh Arum bergerak lebih dulu karena kebiasaan yang dibangun selama delapan tahun.

Ia melangkah ke arah pintu sambil tetap membungkus diri dengan selimut.

Ketika melewati Bara, suara lelaki itu menahannya.

"Arum."

Ia berhenti.

"Kamu tidak harus pergi kalau tidak mau."

Kalimat sederhana itu membuat Arum bingung. Di rumah Prasetyo, keinginan bukan sesuatu yang pernah ditanyakan kepadanya.

Hartono tertawa hambar. "Tidak apa-apa. Dia tahu saya cuma ingin bicara."

Ia meraih lengan Arum dan menariknya ke sudut dekat pintu. Tubuh Hartono menghalangi pandangan dari ruang tengah. Pintu setengah terbuka menjadi semacam dinding tipis di antara mereka dan Bara.

Jari Hartono mencengkeram lengannya.

"Apa yang kamu lakukan?" bisiknya.

"Saya bekerja."

"Bekerja? Dengan baju terbuka dan pintu kamar tidak dikunci?" Wajah Hartono mendekat. Napasnya berbau kopi pahit. "Kamu mau merusak nama keluarga Prasetyo?"

"Kancing saya lepas ketika jatuh."

"Jangan bohong. Kamu kira bisa memikat Mayor lalu berdiri sejajar dengan Reyhan?"

Nama itu membuat bahu Arum kaku.

Hartono mempererat cengkeraman. "Dengar baik-baik. Reyhan punya masa depan. Dia akan pulang membawa gelar dan menikah dengan perempuan yang sepadan. Jangan sampai tingkahmu di rumah ini menyeret namanya."

"Saya sudah keluar dari rumah kalian."

"Tapi orang tahu kami yang membesarkanmu. Kalau kamu mempermalukan kami, saya akan pastikan kamu tak bisa bekerja di satuan mana pun."

Arum menelan rasa sakit di lengannya. "Lepaskan."

Hartono terdiam.

Mungkin itu pertama kalinya Arum meminta sesuatu kepadanya dengan suara setegas itu.

"Apa?"

"Tangan saya sakit. Tolong lepaskan."

Wajah Hartono mengeras. Telapak tangannya terangkat.

Arum refleks menutup mata dan mengecilkan bahu. Tubuhnya mengingat gerakan itu lebih cepat daripada pikirannya. Menunggu suara tamparan. Menunggu panas di pipi. Menunggu perintah untuk tidak menangis.

Namun, yang terdengar justru bunyi keras sepatu menghantam daun pintu.

Brak!

Pintu terayun lebar dan membentur dinding. Hartono tersentak. Tangannya masih terangkat ketika Bara berdiri di ambang, wajahnya tanpa ekspresi.

Kemarahan lelaki itu tidak meledak dalam teriakan. Justru ketenangannya membuat bulu kuduk berdiri.

"Hartono."

Tak ada pangkat di depan nama itu.

Kapten Hartono segera menurunkan tangan. "Mayor salah paham. Saya hanya..."

Bara melangkah maju. Kaki kanannya menyeret sedikit, tetapi sorot matanya tak bergeser dari tangan yang mencengkeram Arum.

"Lepaskan dia."

Hartono membuka jari.

Arum mundur satu langkah. Bara menariknya ke belakang tubuhnya dengan satu tangan. Gerakannya cepat, pasti, dan seolah telah dilakukan berkali-kali di medan tempur.

"Dia anak angkat saya," Hartono mencoba menjelaskan. "Saya berhak mendidiknya."

"Bukan di rumahku."

"Mayor tidak tahu tabiatnya sejak kecil. Dia pembawa sial. Orang tuanya meninggal, lalu..."

"Cukup."

Suara Bara rendah. Satu kata itu memotong semua yang hendak keluar dari mulut Hartono.

Lelaki itu berdiri tegak meski nyeri merambat dari kaki kanan ke pinggang. Tangan yang menahan Arum di belakangnya tidak goyah.

"Di rumahku, dia orangku." Tatapan Bara menekan Hartono hingga lelaki itu tak berani berkedip. "Sentuh satu helai rambutnya lagi. Coba saja."

Hartono memucat.

Dari belakang punggung Bara, Arum menatap bahu lebar yang menghalangi seluruh ancaman di depannya. Selama delapan tahun, setiap kali tangan Bu Yatmi atau Hartono terangkat, ia selalu mencari sudut untuk bersembunyi.

Hari ini, seseorang berdiri menjadi sudut itu untuknya.

"Mayor, saya tidak punya maksud buruk. Saya hanya menjaga agar urusan ini tidak menjadi omongan di asrama. Pangkat Mayor sedang diperhatikan untuk promosi. Kehadiran gadis seperti dia bisa..."

"Kamu mengancamku dengan promosi?"

"Bukan begitu."

"Keluar."

Hartono menatap Arum dari balik bahu Bara. Kebencian yang telanjang muncul sesaat sebelum ia menundukkan kepala kepada atasannya.

"Siap, Mayor."

Ia berjalan ke teras, lalu berhenti. "Arum, nanti kita bicara lagi."

Bara menggeser tongkatnya ke depan pintu. "Tidak akan ada pembicaraan tanpa sepengetahuanku."

Hartono tak menjawab. Ia pergi dengan langkah cepat.

Pintu ditutup.

Kesunyian kembali memenuhi Blok C-3, tetapi tubuh Arum tidak ikut tenang. Bahunya gemetar di balik selimut. Ia masih menunggu suara Hartono kembali, masih merasakan bayangan telapak tangan di atas kepalanya.

Bara berbalik.

Tatapannya jatuh pada bekas merah di lengan Arum. Rahangnya menegang. "Dia sering melakukan itu?"

Arum menggeleng terlalu cepat. "Tidak."

"Kalau tidak, kenapa kamu menutup mata sebelum tangannya turun?"

Pertanyaan itu membuat napas Arum berhenti. Ia memandang lantai yang masih basah oleh air tumpah. Di permukaan air, kancing bajunya tergeletak seperti benda kecil yang tak punya tempat.

"Kadang saya terlambat bangun," ujarnya akhirnya. "Atau nasi terlalu lembek. Atau seragam Reyhan belum kering waktu hujan."

"Lalu mereka memukulmu?"

"Bu Yatmi bilang itu bukan memukul. Hanya mengajar supaya saya tahu berterima kasih."

Tongkat di tangan Bara berderit karena digenggam terlalu kuat.

"Sejak umur berapa?"

Arum tak menjawab. Ia berjongkok hendak mengambil kancing, tetapi Bara lebih dulu menahan lengannya.

"Jangan bersihkan apa pun sekarang."

"Kalau airnya dibiarkan, lantainya licin."

"Aku tidak bertanya soal lantai."

Arum mengangkat wajah. Mata lelaki itu begitu marah, tetapi untuk pertama kalinya kemarahan seorang pria tidak diarahkan kepadanya. Kesadaran itu terasa asing. Hangat, sekaligus menyakitkan.

"Saya sudah keluar dari sana," katanya lirih. "Tidak akan terjadi lagi."

"Benar." Suara Bara turun, hampir seperti sumpah. "Tidak akan terjadi lagi."

Arum mempercayainya, meski belum tahu mengapa ia berani percaya secepat itu.

"Lihat aku."

Arum tidak mampu.

Bara mendekat satu langkah. Kali ini ia tidak menyentuh sebelum memberi waktu bagi Arum untuk mundur. Ketika gadis itu tetap di tempat, ia mengangkat tangan dan menyentuh dagunya dengan dua jari.

Sentuhannya jauh lebih lembut daripada suaranya.

Wajah Arum terangkat. Setitik air mata yang sedari tadi tertahan akhirnya meluncur dari sudut mata.

Bara menyekanya dengan ibu jari.

"Tak usah takut," katanya. "Ada aku."

Pertahanan Arum pecah.

Ia tidak menangis keras. Hanya ada dua bahu yang bergetar, bibir yang ditekan rapat, dan air mata yang terus jatuh meski ia berusaha menghapusnya. Tangannya menggenggam ujung selimut seperti tadi menggenggam selendang ibunya di depan pintu.

Bara tampak lebih gugup menghadapi air mata itu daripada menghadapi Hartono. Tangannya turun, naik lagi, lalu akhirnya berhenti di atas kepala Arum.

"Jangan menangis."

"Saya tidak ingin merepotkan Mayor."

"Kamu belum cukup kuat untuk merepotkanku."

Arum tertawa kecil di sela napas yang patah. "Itu bukan cara yang baik untuk menenangkan orang."

"Aku tidak pernah menenangkan orang."

"Kelihatan."

Mata Bara menyipit, tetapi tidak ada kemarahan di sana.

Setelah Arum memperbaiki kancing dengan jarum dan benang, Bara membawanya ke kamar utama. Ranjang di sana lebih lebar, jendelanya menghadap halaman belakang, dan atapnya tidak bocor.

"Mulai sekarang, kamu pakai kamar ini untuk istirahat siang," katanya.

Arum menatapnya. "Ini kamar Mayor."

"Bukan lagi."

"Saya bisa memakai kamar belakang dapur."

"Atapnya lembap."

"Tapi..."

"Arum."

Nada perintah itu kembali, tetapi kini tidak membuatnya takut.

"Baik, Pak Mayor. Untuk istirahat siang saja. Malam saya tetap ke rumah Bu Inah."

"Bagus."

Bara berbalik menuju ruang tengah. Baru dua langkah, kaki kanannya melemah. Tangannya menahan dinding. Napasnya tertarik pendek akibat tendangan pada pintu tadi.

Arum segera mendekat, tetapi ia berhenti sebelum menyentuh.

"Boleh saya bantu?"

Bara menatap tangan yang terulur.

Kali ini, ia tidak menolak.

Telapak tangannya menutup tangan Arum. Berat tubuhnya bertumpu seperlunya, tidak memaksa, seolah menerima bantuan itu adalah sebuah janji yang sama seriusnya dengan perlindungan yang baru ia ucapkan.

Di luar, langkah Hartono sudah hilang dari gang.

Di dalam rumah yang gelap dan berbau obat, Arum untuk pertama kalinya tidak merasa sendirian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!