Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 — HUKUMAN UNTUK NAYA
Kamis sore di SMA Garuda Bangsa selalu terasa lebih sunyi dari hari-hari biasanya. Mayoritas siswa sudah pulang ke rumah masing-masing begitu bel jam pelajaran terakhir membahana. Namun bagi Naya Aurelia, sore ini berarti satu hal: penderitaan.
Pagi tadi, Naya kembali melakukan kesalahan fatal. Ia terlambat masuk kelas lima belas menit gara-gara ketiduran di bangku taman saat jam istirahat pertama. Malang baginya, yang menangkap basah kejadian itu bukan guru biasa, melainkan Pak Danu—guru Bimbingan Konseling paling killer se-sekolah.
Hukumannya? Membersihkan dan merapikan seluruh rak di perpustakaan lantai dua sampai mengkilap.
"Apes banget sih hidup gue..." gumam Naya kesal, mengibaskan kemoceng ke arah tumpukan buku sejarah tebal hingga debu-debu beterbangan di udara. "Uhuk! Uhuk! Debunya tebel banget lagi, kayak dosa-dosanya Arka!"
Naya berdiri sendirian di lorong di antara dua rak kayu tinggi bernomor enam. Aroma kertas tua, kayu lapuk, dan pembersih lantai yang khas menyelimuti seluruh ruangan berpendingin udara itu.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang teratur bergaung dari arah pintu masuk perpustakaan.
Naya menghentikan sapuan kemocengnya, melongokkan kepala sedikit dari balik rak. Wajahnya seketika makin ditekuk saat melihat siapa yang berjalan mendekat.
Arka Pradipta.
Laki-laki itu masih mengenakan seragam sekolah lengkap dengan ban lengan OSIS biru gelapnya. Di tangannya, Arka membawa lembar presensi kedisiplinan dan sebuah papan jalan.
"Ngapain lo ke sini?" sembur Naya langsung, menyilangkan tangan di dada. "Mau ngetawain gue yang lagi dihukum?"
Arka menghentikan langkahnya dua meter di depan Naya. Wajahnya tenang tanpa riak emosi. "Pak Danu minta saya mengawasi kamu. Katanya kalau tidak diawasi pengurus OSIS, kamu cuma bakal main HP atau tidur di antara rak buku."
"Gue nggak selicik itu ya!" protes Naya tak terima, mengacungkan kemocengnya ke arah Arka. "Gue tuh lagi kerja keras! Mending lo pergi deh, ngrusak pemandangan tahu nggak."
"Kalau saya pergi, Pak Danu bakal nambah poin pelanggaran kamu," balas Arka datar. Ia menarik sebuah kursi kayu dari meja baca terdekat, lalu duduk di sana seraya membuka lembar catatannya. "Lanjutkan pekerjaan kamu. Anggap saja saya tidak ada."
"Gimana bisa menganggap lo nggak ada kalau muka menyebalkan lo terpampang nyata gitu?!" omel Naya sengit.
Meskipun mulutnya terus menggerutu, Naya akhirnya kembali menata tumpukan ensiklopedia tebal ke rak paling atas. Ia berjinjit di atas ujung sepatunya, merentangkan tangan setinggi mungkin untuk menjangkau celah kosong di rak kayu setinggi dua meter lebih itu.
Arka memperhatikan gerak-gerik Naya dari kursinya. Tangannya yang memegang pulpen mendadak berhenti. Ada guratan cemas yang samar di matanya saat melihat posisi kaki Naya yang agak goyah di atas lantai porselen yang licin.
"Naya, pakai tangga kecil di sudut sana," tegur Arka, nadanya merendah. "Jangan berjinjit begitu. Nanti jatuh."
"Gue sampai kok! Nggak usah sok perhatian!" tolak Naya keras kepala. Ia makin memaksakan tubuhnya berjinjit tinggi, mencoba mendorong tiga volume ensiklopedia berat berturut-turut ke celah rak atas.
"Naya, dengarkan—"
Krek!
Suara kayu berderit nyaring mendadak memotong kalimat Arka.
Rak kayu tua bernomor enam tempat Naya bersandar rupanya memiliki pasak penyangga bagian bawah yang sudah lapuk. Akibat dorongan berat dari tubuh Naya yang hilang keseimbangan, rak kayu raksasa yang sarat dengan ratusan buku tebal itu mendadak miring ke depan secara drastis.
"Eh—eh?!" Naya membelalakkan matanya panik saat melihat bayangan rak kayu raksasa itu bergerak menimpanya. Tangannya gemetar, tubuhnya membeku seketika di tempat oleh rasa takut yang luar biasa. "Arka...!"
"NAYA, AWAS!"
Dalam pecahan detik yang teramat singkat, Arka bergerak dengan refleks yang luar biasa cepat. Laki-laki itu melompati meja baca, menerjang maju ke lorong rak tanpa memedulikan papan jalan dan pulpennya yang terlempar ke lantai.
BRUK! BRAK!
Suara gemuruh puluhan buku tebal yang menghantam lantai bergaung keras memenuhi perpustakaan yang sepi.
Arka berhasil merengkuh tubuh Naya tepat sebelum rak utama roboh sepenuhnya. Ia memutar posisi tubuh mereka di udara, menjadikan punggung dan bahunya sendiri sebagai perisai untuk melindungi Naya dari hantaman rak kayu dan bongkahan buku-buku keras yang berjatuhan dari atas.
Thump!
Mereka berdua terhempas ke lantai porselen dalam posisi Arka yang menindih Naya secara protektif, menyelimuti tubuh Naya sepenuhnya di dalam pelukannya. Tangan kanan Arka mendekap erat belakang kepala Naya, membenamkan wajah cewek itu di ceruk lehernya, sementara tangan kirinya menahan beban rak kayu yang tersangga miring di atas bahunya.
Aroma debu kertas bercampur dengan wangi maskulin khas Arka menyelimuti kesadaran Naya.
Keheningan yang mendalam mendadak merayap kembali setelah reruntuhan buku berhenti jatuh.
Naya memejamkan matanya rapat-rapat, jantungnya berdegup begitu liar dan keras hingga rasanya ingin melompat keluar dari rongga dadanya. Tangannya secara refleks mencengkeram erat kemeja seragam Arka di bagian pinggang.
"Naya..." suara Arka terdengar sangat serak, napasnya memburu dan hangat menerpa pelipis Naya. "...kamu... kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?"
Naya perlahan membuka matanya.
Wajah Arka berada tepat di atasnya—hanya berjarak dua sentimeter. Manik mata hitam laki-laki itu memancarkan rasa panik, cemas, dan ketakutan yang teramat nyata. Sesuatu yang belum pernah Naya lihat seumur hidupnya pada diri seorang Arka Pradipta yang selalu dipandang seperti robot tanpa emosi.
Dahi Arka bertumpuk keringat dingin. Ada sedikit noda debu di pipi kirinya dan ringisan menahan sakit di sudut bibirnya akibat bahunya menahan beban rak kayu.
"Arka..." bisik Naya bergetar, suaranya nyaris hilang. "Lo... bahu lo kena rak?"
"Saya tidak apa-apa," potong Arka cepat, berusaha memantapkan suaranya walau matanya sempat terpejam menahan nyeri di bahu kirinya. Tangannya yang menahan kepala Naya justru semakin mengusap lembut rambut cewek itu. "Yang penting kamu selamat."
Yang penting kamu selamat.
Kalimat singkat itu menghantam dada Naya bagaikan hantaman gelombang raksasa.
Jantung Naya berdetak dalam ritme yang teramat kacau—bukan lagi karena rasa takut pada rak yang roboh, melainkan karena kedekatan tubuh mereka dan tatapan penuh perlindungan di mata Arka. Untuk pertama kalinya, Naya bisa merasakan dengan sangat jelas betapa kuatnya dekapan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya ini. Betapa hangat dada Arka yang kini naik-turun bersamaan dengan napasnya sendiri.
"Arka..." Naya menelan ludah, matanya terkunci pada manik mata hitam di hadapannya. "Lepasin dulu... bahu lo bisa cedera kalau nahan rak terus."
Arka menatap mata Naya selama beberapa detik dalam keheningan yang intens. Perlahan-lahan, Arka mendorong beban rak kayu itu ke samping menggunakan siku kirinya hingga rak itu tersandar aman di dinding perpustakaan, lalu bergeser duduk di samping Naya.
Naya ikut duduk, buru-buru memeriksa bahu Arka dengan raut cemas yang tak bisa disembunyikan. "Bahu lo beneran nggak apa-apa? Coba liat!"
"Cuma terbentur sedikit, Naya. Jangan berlebihan," jawab Arka datar, berusaha menguasai raut wajahnya kembali meski ada rona merah tipis yang merayap di lehernya. Ia berpaling untuk mengambil papan jalannya yang tergeletak di antara tumpukan buku.
Naya menatap Arka yang sibuk merapikan kertas-kertasnya. Dadanya masih bergetar hebat.
Kebencian yang biasa ia pelihara dengan rapi tiap kali berhadapan dengan Ketua OSIS ini mendadak terasa begitu memudar, digantikan oleh kebingungan dan rasa hangat yang perlahan-lahan mulai merusak pertahanan hatinya.