Di dunia modern di mana kultivasi berjalan beriringan dengan teknologi, Chen Mo adalah siswa jenius dengan nilai teori sempurna yang bermimpi menjadi kultivator hebat.
Namun, kenyataan pahit menghantam di hari kelulusan saat Upacara Kebangkitan menunjukkan bahwa dia hanya memiliki Bakat Rank F—level terendah yang dicap sebagai "sampah".
Kekecewaannya bertambah ketika teman masa kecilnya, Su Mengqi, yang membangkitkan Bakat Rank S, langsung memutuskannya demi mengejar masa depan bersama para elit.
Meskipun diremehkan oleh semua orang dan masuk ke Akademi Naga Bintang yang bergengsi hanya karena jalur akademis, Chen Mo tidak putus asa, terutama setelah dia secara tak terduga membangkitkan "Sistem Check-in".
Melalui sistem ini, dia mendapatkan hadiah tak terbatas mulai dari pil langka, teknik kuno, hingga uang tunai hanya dengan melakukan check-in di berbagai lokasi akademi.
Diam-diam, di balik tembok akademi yang penuh cemoohan, Chen Mo mulai menumpuk kekuatan dan kekayaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Gadis itu berjalan menjauh dan menghilang ke arah tangga menuju lantai dua perpustakaan.
Chen Mo menatap kepergian gadis elit itu tanpa minat sama sekali.
"Baguslah dia pergi, aku benci basa-basi yang tidak ada ujungnya," batin Chen Mo santai.
Dia menaruh kembali buku peternakan babi itu ke tempat asalnya.
Tentu saja dia tidak sungguh-sungguh membaca buku itu.
Itu hanyalah alasan konyol yang dia gunakan untuk mengakhiri percakapan sesegera mungkin.
Chen Mo menyadari perutnya mulai berbunyi pelan.
Teknik Pernapasan Bintang Primal rupanya membakar banyak sekali kalori saat pertama kali terpasang di tubuhnya.
"Aku harus pergi ke kantin barat sebelum jam makan siang berakhir."
"Sayang sekali kalau subsidi makan gratis untuk Rank F sampai hangus hari ini," gumam Chen Mo sambil berjalan menuju pintu keluar.
Chen Mo mendorong pintu perpustakaan dan melangkah keluar menuju panasnya terik matahari siang.
Sementara itu, di lantai dua perpustakaan kuno, Ye Qingxue sedang memegang sebuah gulungan tua berwarna merah.
Dia menatap ke arah pintu keluar melalui jendela kaca berdebu di lantai dua.
Mata birunya yang sedingin es memperhatikan punggung Chen Mo yang semakin menjauh.
"Dia menyembunyikannya dengan sangat baik," gumam Ye Qingxue pelan.
"Tidak ada fluktuasi energi, tidak ada tekanan aura, terlihat persis seperti Rank F yang tidak berguna."
"Tapi gerak-gerik tubuhnya saat menutup buku tadi, ketepatannya tidak bisa dilakukan oleh orang tanpa ilmu bela diri."
Ye Qingxue mengingat kembali bagaimana Chen Mo menutup buku berdebu itu tanpa sedikit pun debu mengenai seragam pemuda tersebut.
Ada hembusan napas yang nyaris tidak terlihat, menahan semua debu agar mengarah jauh dari tubuhnya.
Itu adalah teknik pengendalian mikroskopis yang bahkan belum tentu bisa dikuasai oleh murid elit.
"Chen Mo, ya?"
Ye Qingxue mengingat nama yang tertera di dada pemuda itu.
"Sepertinya tahun ini kelas dasar kedatangan monster aneh yang memakai topeng babi."
Gadis itu tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman yang sudah bertahun-tahun tidak pernah muncul di wajahnya.
Di sisi lain akademi, Chen Mo akhirnya tiba di kantin asrama barat yang terlihat sangat menyedihkan.
Tidak ada makanan mewah seperti daging naga panggang atau sup herbal energi tingkat tinggi.
Yang tersedia di sini hanyalah nasi putih keras, sup kubis bening, dan beberapa potong daging ayam tiruan.
Banyak murid kelas dasar yang mengeluh sambil memakan jatah mereka dengan wajah murung.
Brak!
Suara bantingan nampan keras terdengar dari meja tidak jauh dari tempat Chen Mo akan duduk.
Seorang murid kelas dasar bertubuh kurus tersungkur ke lantai.
Makanannya tumpah berhamburan mengotori sepatu seorang senior berbadan kekar dari kelas menengah.
"Kau buta ya, sampah?!" teriak senior kekar itu dengan marah.
"M-maafkan saya, Senior! Saya tidak sengaja, lantai ini sangat licin," ucap murid kurus itu sambil memungut makanannya dengan gemetar.
"Maaf kau bilang? Sepatu ini lebih mahal dari harga nyawamu!"
Senior kekar itu mengangkat kakinya dan bersiap untuk menendang wajah murid kurus tersebut.
Murid-murid kelas dasar lainnya hanya bisa menunduk ketakutan, tidak ada satu pun yang berani ikut campur.
Plak!
Sebuah tangan dengan santai menahan kaki besar senior kekar itu di udara.
Senior itu terkejut dan menoleh, mendapati Chen Mo berdiri di sampingnya sambil memegang nampan makanan di tangan kirinya.
"Kantinku sudah cukup berisik dengan keluhan makanan, jangan menambah keributan lagi dengan suara teriakanmu," ucap Chen Mo datar.
"Turunkan kakimu dan pergilah makan di mejamu sendiri."
Chen Mo menatap senior kekar itu tepat di mata, mengaktifkan sekilas Niat Membunuh Darah Besi yang baru saja dia dapatkan.
Seketika, senior kekar itu merasakan hawa dingin yang luar biasa merambat dari tulang ekor hingga ke lehernya.
Dia merasa seolah-olah baru saja ditatap oleh sesosok iblis haus darah dari kedalaman neraka.
Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahi senior kekar tersebut.
"B-baik, aku pergi! Awas kau, jangan pikir urusan kita sudah selesai!"
Senior kekar itu menarik kakinya dengan tergesa-gesa dan berlari kabur meninggalkan kantin seperti tikus ketakutan.
Murid kurus di lantai menatap Chen Mo dengan mata berbinar penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih banyak, Saudara! Kalau tidak ada kau, gigiku pasti sudah rontok tadi."
"Bukan masalah. Cepat bersihkan lantai ini, aku mau makan di meja ini," jawab Chen Mo sambil duduk dan meletakkan nampannya.
Chen Mo mulai menyantap nasi keras dan sup kubisnya dengan sangat tenang.
Dia tidak peduli dengan tatapan kagum dan bisik-bisik dari murid kelas dasar lain yang kini menganggapnya sebagai pahlawan asrama.
Baginya, dia hanya menyingkirkan lalat yang mengganggu waktu makannya yang berharga.
Setelah suapan terakhirnya, layar biru transparan kembali muncul di pandangannya.
Ting!
[Pemberitahuan Sistem.]
[Lokasi Akademi Naga Bintang telah sepenuhnya dipindai.]
[Ditemukan lebih dari 50 lokasi check-in tersembunyi tingkat tinggi.]
"Lima puluh lokasi?" batin Chen Mo sambil membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Sepertinya masa sekolahku di sini tidak akan membosankan sama sekali."
Chen Mo tersenyum lebar, bersiap untuk memanen seluruh harta karun tersembunyi di akademi raksasa ini.