NovelToon NovelToon
ONCE AGAIN

ONCE AGAIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Masa Depan / Ketos
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Irdyna Aira

Mereka tumbuh bersama sebagai sahabat kecil, hingga takdir memisahkan langkah mereka. Bertahun-tahun kemudian, Alya Nadira Adhitama kembali ke Indonesia dan tanpa sengaja bertemu lagi dengan sahabat masa kecilnya, Arga Fernansyah, di sekolah yang sama. Mereka menjadi teman sekelas, tetapi tak ada satu pun yang menyadari bahwa mereka pernah saling mengenal.

Di tengah hari-hari yang dipenuhi tawa, mimpi, dan kebersamaan, perlahan muncul rasa yang tak pernah mereka duga. Hingga suatu petunjuk dari masa kecil mengungkap sebuah rahasia—bahwa orang yang selalu ada di samping mereka selama ini adalah sahabat yang pernah mereka kehilangan. Sebuah kisah tentang pertemuan kembali, persahabatan, dan takdir yang selalu menemukan jalannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irdyna Aira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 19: Pagi dikelas XII IPA 1

Koridor lantai dua gedung XII IPA mulai ramai oleh keriuhan siswa-siswi yang baru selesai mengikuti upacara bendera.

Suara derap langkah kaki, derai tawa, dan sahut-sahutan terdengar memantul di sepanjang selasar. Ada yang berlari-lari kecil agar tak terlambat masuk jam pertama, ada yang masih asyik nongkrong di depan pagar koridor, dan beberapa guru terlihat berjalan anggun menuju ruang piket memeluk tumpukan buku pelajaran.

Di ujung koridor, Arga dan Nadira—diikuti empat murid baru kelas sepuluh—akhirnya tiba di depan pintu kayu bertuliskan XII IPA 1.

Arga mendorong pintu kelas yang sedikit terbuka. "Masuk aja dulu, Dek."

Keempat adik kelas itu mengangguk sopan dengan senyum canggung. "Permisi ya, Kak..."

"Iya, santai aja."

Kedatangan mereka otomatis menyedot perhatian beberapa anak IPA 1 yang sedang mengobrol di dalam kelas.

"Woi, Ga!" seru Bima dari atas mejanya. "Bawa tamu lu? Anak mana tuh?"

Arga terkekeh pelan. "Anak baru. Mau daftar basket."

"Oalah... pantesan ikutan nempel sama Kapten," sahut Bima manggut-manggut.

Sementara Arga mengurus adik kelas, Nadira langsung melangkah menuju bangkunya di baris kedua dekat jendela—tempat favorit yang selama tiga tahun terakhir selalu ia tempati berdampingan dengan Arga.

Nadira meletakkan map tebal OSIS di atas meja, lalu membuka ritsleting ransel pink-nya. Kotak bekal pink yang tadi dibawakan Arga ia keluarkan perlahan.

"Alhamdulillah..." gumam Nadira pelan seraya mengelus perutnya. Rasa lapar memang mulai menggerogoti setelah berdiri hampir satu jam memimpin barisan di bawah terik matahari pagi.

Di sisi lain ruang kelas, Arga membuka ransel hitamnya. Tangannya meraba-raba bagian dalam tas hingga menemukan map cokelat yang ia cari.

"Nah... ketemu juga," gumam Arga.

Ia mengeluarkan satu bendel lembaran formulir pendaftaran ekstrakurikuler basket, lalu menghitungnya cepat. "Satu... dua... tiga... empat. Pas."

Arga menyerahkan empat lembar formulir berstempel OSIS itu kepada para murid baru. "Nih. Diisi yang lengkap ya."

"Siap, Kak!"

"Kalau udah selesai diisi, besok atau lusa bisa dikumpulin ke ruang sekretariat basket di dekat lapangan," terang Arga ramah. "Satu lagi... jangan lupa tempel pasfoto ukuran tiga kali empat."

"Oh iya, Kak Arga. Mau nanya, nanti ada tes seleksinya nggak, Kak?" tanya salah satu siswa cowok.

Arga mengangguk mantap. "Ada. Minggu depan kita adakan tes fisik, dribble, passing, shooting, sama mini game. Jadi dipersiapin dari sekarang ya."

Mata keempat adik kelas itu berbinar penuh semangat. "Siap, Kak!"

"Sip. Kalau ada info yang belum jelas, bisa langsung nanya ke Kakak atau Kak Fahri," tambah Arga.

"Iya, Kak. Terima kasih banyak ya, Kak Arga!"

"Sama-sama. Semangat ya!"

Keempat siswa kelas sepuluh itu berpamitan sopan sebelum akhirnya melangkah keluar kelas sambil sibuk membaca lembar formulir di tangan mereka.

Bima yang memperhatikan dari kejauhan langsung bersiul goda. "Wih... mantap Pak Kapten! Calon penerus tim basket melimpah nih."

Arga tertawa renyah. "Baru empat orang, Bim. Paling nanti pas jadwal Demo Ekskul nambah lagi."

"Baguslah, biar regenerasi tim kita aman," sahut Bima setuju.

Sementara itu, di meja dekat jendela...

Nadira baru saja membuka tutup kotak bekal pink-nya. Aroma harum ayam teriyaki langsung menyeruak. Hari ini Bu Maya membawakan bekal super lengkap: nasi putih hangat, ayam teriyaki, telur gulung, brokoli rebus, dan potongan buah semangka segar di wadah terpisah.

Namun, baru saja Nadira mengangkat sendoknya...

"Alyaa..." panggil sebuah suara dari samping meja.

Nadira mendongak. Rika, teman sekelasnya, sudah berdiri memegang buku tulis.

"Iya, Rik?"

"Jadwal tugas hari ini apa aja ya, Nad?" tanya Rika memastikan.

Nadira mengetuk pelipisnya pelan. "Hari ini... kalau nggak salah cuma PR Matematika sama Fisika deh."

"Oh iya, bener! Untung inget," Rika mengangguk lega.

Belum sempat Rika bergeser, teman sekelas yang lain mendadak datang membawa buku saku. "Alyaaa..."

"Hm? Kenapa lagi?"

"Minta bocoran PR Matematika, pliss... mau nyocokin rumus!"

Nadira tersenyum geli. "Udah dikerjain belum?"

"Udah dong! Tapi ragu sama nomor lima..."

"Yaudah, nih," Nadira mengambil buku Matematika dari tasnya. "Lihat jawabannya aja ya, jangan langsung difoto mentah-mentah semuanya."

"Hehe... Siap, Bu Ketos! Makasih ya Alya!"

Belum sempat buku Matematika itu berpindah tangan sepenuhnya, suara lain kembali menginterupsi dari arah depan.

"Alyaaa..."

Nadira tertawa kecil melihat tingkah teman-temannya. "Iya... Kenapa lagi?"

"Minta pinjem buku Fisika juga dong!"

"Aduh, kalian ini... datangnya gantian banget kayak antrean sembako," kekeh Nadira geli.

Seluruh anak IPA 1 yang mendengar itu meledakkan tawa.

"Hehe... soalnya yang rajin ngerjain PR dari jauh-jauh hari cuma kamu, Alya!" celetuk salah satu murid dari barisan tengah.

"Iya nih! Kalau nungguin Arga..." cibir yang lain. "...kadang bukunya masih penuh revisi coretan."

Gelak tawa kembali menyapu ruangan.

Arga yang sedang merapikan map basket di mejanya spontan menengadah kaget. "Lah! Kok malah nama gue yang dibawa-bawa?"

Bima langsung menyenggol bahu Arga sambil tertawa. "Fakta itu, Ga! Lu mah ngerjainnya emang kilat kayak kilat kilat khusus, tapi revisinya juga segunung!"

"Ya namanya juga proses belajar, Bim!" sahut Arga membela diri sambil tertawa renyah.

Nadira ikut tersenyum manis seraya merogoh tasnya kembali. Ia mengeluarkan buku Fisika bertuliskan namanya yang dipenuhi sticky note warna-warni di setiap bab. "Nih. Hati-hati ya, jangan sampai sticky note-nya lepas."

"Siap! Makasih banyak ya, Alya cantik!"

Namun, baru saja Nadira hendak menarik napas dan meraih sendok bekalnya...

"Alyaaa..." panggil suara lain dari sudut belakang.

Nadira seketika memegang dahinya seraya tertawa pasrah. "Ya Allah... Masih ada lagi?!"

"Iya! Mau pinjem catatan Kimia dong!"

Seketika riuh tawa pecah di seluruh penjuru kelas.

"HAHAHA! Itu mah bukan tugas hari ini, Bambang!" seru Bima terbahak-bahak.

"Oh, bukan hari ini ya?" tanya murid itu polos.

"Bukan! Lu salah jadwal, Kimia mah besok!" timpal teman sebelahnya gemas.

Suasana kelas XII IPA 1 yang semula tenang kini berubah menjadi hangat dan penuh canda. Di kelas ini, semua murid sudah paham betul satu hukum tak tertulis: jika ingin memastikan tugas atau meminjam catatan paling rapi, orang pertama yang dicari adalah Alya Nadhira.

Bukan karena Nadira pelit atau merasa paling pintar. Justru sebaliknya, gadis itu selalu terbuka dan senang hati membantu siapa pun yang benar-benar mau belajar.

Arga yang berdiri di samping meja Nadira menggeleng-gelengkan kepala melihat meja sahabatnya yang kini dikerumuni tumpukan buku dan teman-teman sekelas.

"Lah... belum sempat makan sepiring pun udah dikerubungin kayak gula," gumam Arga geli.

Nadira menatap Arga dari celah kerumunan teman-temannya dengan raut wajah memelas yang amat menggemaskan.

"Ga..." bisik Nadira pelan.

"Hm?"

"Tolong bilangin mereka... aku mau makan dulu dua suap aja..." rengek Nadira pasrah.

Arga terkekeh gemas. Cowok itu lantas bersandar di tepi meja Nadira, melipat kedua tangannya di dada, lalu bersuara lantang menenangkan seisi kelas.

"Oii, teman-temanku sekalian! Kasih napas dulu buat Bu Ketos!" seru Arga tegas namun bercanda. "Dia dari pagi belum sempat sarapan gara-gara ngurusin barisan kalian di lapangan. Biarkan dia makan dulu dengan tenang. Nanti habis makan, baru boleh antre pinjam buku satu-satu."

Seketika teman-teman sekelas mereka tertawa dan kompak mundur beberapa langkah dari meja Nadira.

"Siap, Pak Kapten!" "Iya deh, ampun! Biar Alya sarapan dulu!" "Jangan galak-galak, Ga!"

Nadira menghembuskan napas lega, memamerkan senyum paling manisnya pada Arga. "Terima kasih banyak, Arga..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!