NovelToon NovelToon
Sepatu Lusuh

Sepatu Lusuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:376
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MALAM DI PUSKESMAS

Pak Darma datang sambil mengikat sarungnya.

“Ada apa?” tanyanya dari halaman.

“Ibu susah bernapas,” jawabku.

Ia masuk, melihat Ibu yang duduk membungkuk di tepi dipan, lalu berbalik lagi tanpa melepas sandal.

“Aku ambil motor.”

Hujan memukul atap. Ayah membungkus Ibu dengan selimut, kemudian mengangkatnya ke teras. Ibu ringan di lengannya, tetapi Ayah tetap harus berhenti sekali untuk mengubah pegangan.

“Aku ikut,” kataku.

“Tidak.”

“Aku bisa pegang lampu.”

“Jalannya licin.” Ayah menggeser selimut sampai menutup kepala Ibu. “Kau sama Nira ke rumah Mbah Wreda.”

“Aku tidak mau.”

Ayah menoleh. “Langga.”

Aku mengenal nada itu. Bukan marah. Tidak ada waktu untuk berdebat.

Pak Darma mendorong motor tuanya sampai ke teras. Mesin baru menyala setelah diinjak beberapa kali. Asapnya bercampur dengan hujan. Ayah duduk di depan. Ibu di tengah. Pak Darma naik paling belakang dan menahan tubuh Ibu dengan satu tangan.

Nira berdiri tanpa sandal di ambang pintu.

“Bu,” panggilnya.

Ibu membuka mata. “Masuk. Dingin.”

“Besok pulang?”

Ibu mengangguk kecil.

Motor bergerak. Rodanya sempat selip di halaman sebelum mencapai jalan. Aku mengangkat lampu minyak tinggi-tinggi sampai cahaya belakang motor hilang di tikungan.

Nira masih melihat ke arah yang sama.

“Ayo masuk,” kataku.

Ia tidak bergerak. “Ibu bohong nggak?”

“Tidak.”

“Kakak tahu?”

“Tidak.”

Nira mengusap hidung dengan punggung tangan. “Tadi bilang tidak.”

Aku tidak menjawab.

Mbah Wreda datang membawa payung daun pisang. Air mengalir dari ujung capingnya. Ia memeriksa rumah, mematikan tungku, lalu menyuruh kami membawa satu selimut dan pakaian sekolah.

“Buku juga?” tanya Nira.

“Kalau kau mau belajar sambil mengantuk.”

Nira memasukkan buku membaca ke tas.

Bengkel Mbah Wreda lebih dingin daripada rumah kami. Bau lem dan karet basah memenuhi ruangan. Ia menyalakan tungku kecil, menggantung pakaian kami dekat api, lalu menggelar tikar di antara rak sandal dan peti kayu.

“Duduk dekat sini,” katanya. “Jangan pegang kaleng lem.”

Nira memeluk kaleng susu. “Aku tahu.”

“Kemarin kau hampir duduk di atasnya.”

“Itu beda.”

Mbah Wreda mendengus. Ia menuang air jahe ke tiga cangkir. Aku menolak ketika cangkir disodorkan.

“Perutku nggak enak.”

“Makanya minum.”

“Kalau muntah?”

“Jangan ke sepatu orang.”

Nira terkekeh. Suaranya berhenti cepat, seperti ia merasa tidak boleh tertawa saat Ibu sedang dibawa ke puskesmas.

Kami duduk mendengar hujan. Air menetes dari satu lubang atap ke ember. Tok. Tok. Tok. Sesekali angin mendorong pintu hingga berderit.

Nira menggoyang kalengnya. Koin Gala dan kancing Mbah Wreda beradu.

“Kalau Ibu harus beli obat lagi, pakai ini,” katanya.

“Koinnya cuma satu.”

“Ya tambah kancing.”

“Kancing nggak bisa buat bayar.”

“Siapa tahu penjualnya butuh.”

Aku hampir mengatakan warung tidak menerima kancing. Aku urung. Ia sudah menarik lutut ke dada dan menempelkan dagu di atasnya.

Mbah Wreda duduk di meja kerja. Ia menjahit sandal dengan lampu kecil di samping siku. Tangannya bergerak tanpa banyak suara.

“Mbah,” kata Nira, “puskesmas buka malam?”

“Buka.”

“Dokternya tidur?”

“Mungkin. Nanti dibangunkan.”

“Kalau marah?”

“Ya biarkan marah. Tetap harus periksa ibumu.”

Nira mengangguk. Jawaban itu tampaknya cukup.

Aku membuka buku matematika. Satu soal tentang pembagian beras kubaca tiga kali. Angkanya tidak masuk ke kepala. Aku menutup buku, membukanya lagi, lalu mencoret angka yang sebenarnya benar.

“Jangan dipaksa,” kata Mbah Wreda.

“Aku harus belajar.”

“Belajar besok masih ada.”

Aku memegang pensil lebih erat. “Kalau besok Ibu belum pulang?”

Mbah Wreda berhenti menarik benang. “Kita lihat besok.”

Aku benci jawaban itu. Orang dewasa sering menyuruh menunggu seolah menunggu tidak membutuhkan tenaga.

Nira pindah ke dekatku. Ia membuka buku membaca dan menunjuk satu paragraf.

“Aku baca, Kakak bilang kalau salah.”

Ia baru sampai baris ketiga ketika menguap. Huruf-hurufnya mulai tertukar. Pada kata jendela, ia membaca jedela, lalu membetulkan sendiri. Beberapa menit kemudian kepalanya jatuh di lenganku.

Aku memindahkan buku dari pangkuannya. Ia tetap memegang kaleng susu sampai tertidur.

Mbah Wreda menutup tungku sebagian. “Tidurlah.”

“Aku tunggu Ayah.”

“Kalau dia datang, kubangunkan.”

“Aku bisa dengar motor.”

Aku berbaring, tetapi tidak menutup mata. Setiap suara dari jalan membuatku duduk. Kadang hanya ranting jatuh. Kadang air dari talang tumpah ke tanah. Sekali terdengar mesin, tetapi menjauh ke arah dusun lain.

Menjelang subuh, suara motor akhirnya berhenti di depan bengkel.

Aku berlari keluar tanpa memakai sandal.

Pak Darma turun lebih dulu. Ayah duduk di belakang dengan baju basah dan mata merah. Jok tengah kosong.

“Mana Ibu?”

“Masih di puskesmas,” kata Ayah.

Nira muncul sambil menyeret selimut. “Kenapa?”

“Dokter mau lihat napasnya sampai pagi.”

“Berarti belum boleh pulang?”

“Belum.”

Ayah masuk ke bengkel dan duduk di bangku rendah. Kedua tangannya menutup wajah. Lumpur mengering sampai ke lutut celananya.

Aku berdiri di depannya. “Ibu sakit apa?”

“Infeksi di paru-paru.”

Nira mendekat. “Paru-paru yang mana?”

Ayah menyentuh dadanya. “Yang buat bernapas.”

“Rusak?”

“Tidak. Kata dokter masih bisa diobati.”

Aku menangkap kata masih. Ayah tampaknya sadar, sebab ia segera menambahkan, “Ibumu akan pulang.”

Pagi baru terang ketika kami berangkat ke puskesmas. Pak Darma mengantar dua kali karena motor tidak kuat membawa kami semua. Aku pergi bersama Ayah lebih dulu. Nira menyusul dengan Mbah Wreda.

Jalan kabupaten penuh lubang berisi air. Setiap roda masuk genangan, tubuh kami terangkat dari jok. Ayah beberapa kali memegang saku kemejanya, memastikan uang di sana tidak jatuh.

Ibu berbaring dekat jendela puskesmas. Ada selang kecil di bawah hidungnya. Wajahnya pucat, tetapi dadanya tidak lagi naik turun secepat malam tadi.

Aku berhenti di ujung ranjang.

Ibu membuka mata. “Kok tidak sekolah?”

“Ini masih pagi.”

“Pulang nanti sekolah.”

Aku melihat selang di wajahnya. “Ibu saja belum pulang.”

Nira datang beberapa menit kemudian. Ia langsung naik ke kursi dan menaruh kaleng susu di meja samping ranjang.

“Ini buat obat,” katanya.

Ibu menyentuh kaleng itu. “Simpan.”

“Kalau kurang, bilang.”

Petugas meminta kami menunggu di luar saat dokter memeriksa. Dari bangku lorong, aku melihat Ayah berdiri di meja administrasi. Ia menghitung uang dua kali. Petugas menggeleng. Ayah menghitung lagi, seolah jumlahnya bisa bertambah.

Pak Darma mengeluarkan beberapa lembar dari dompetnya.

“Nanti kuganti,” kata Ayah.

“Sudah. Bayar dulu.”

“Aku masih punya utang yang kemarin.”

“Tambah saja catatannya.”

Ayah menerima uang itu. Tangannya menutup lama di atas lembaran tersebut sebelum menyerahkannya kepada petugas.

Ibu boleh pulang menjelang sore. Dokter memberi beberapa bungkus obat dan menyuruhnya banyak tidur, makan cukup, serta segera kembali jika demam atau sesak muncul lagi. Ayah mengangguk pada setiap kalimat. Aku tidak yakin bagaimana kami akan memenuhi bagian makan cukup.

Di rumah, aku menimba air. Nira menyusun obat berdasarkan gambar matahari dan bulan yang dibuat petugas. Ayah memasak bubur terlalu encer. Ibu hanya sanggup makan empat sendok.

Setelah ia tidur, Pak Darma datang ke teras. Aku sedang membilas panci di dekat dinding. Suara mereka terdengar jelas.

“Ada kerjaan di balik bukit,” kata Pak Darma. “Pecah batu. Bayarannya lumayan.”

“Mulainya kapan?”

“Besok subuh.”

“Kerjanya apa saja?”

“Angkat keranjang, sortir batu, apa yang disuruh mandor.”

Ayah diam. Dari dalam, Ibu batuk dua kali.

Pak Darma menurunkan suara. “Debunya banyak. Berat juga.”

“Aku ambil.”

“Pikir dulu.”

“Aku sudah pikir.”

Ayah masuk untuk mengambil parang kecilnya. Ia mengasah mata parang di dekat pintu, lalu menaruhnya di samping tikar agar tidak lupa saat berangkat.

1
Riska Noor
bagus ceritanya, realita di pelosok daerah tertentu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!