Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam pertama
Langkahnya sengaja diperlambat, berjalan mengendap-endap berusaha tak mencolok, berharap bisa duduk diam tanpa ada yang menyadari keberadaannya.
Namun suara ibunya tiba-tiba terdengar jelas memanggil namanya, membuat tubuhnya seketika menegang kaku.
"Vivian... sini sayang!"
"Aduh, ibu... Pake manggil segala lagi" batinnya memprotes, ia menepuk jidatnya pelan tapi tetap memenuhi panggilan, tanpa bantahan.
Dengan ragu ia melangkah mendekat. Sayangnya kakinya belum terbiasa menopang tubuh di atas sepatu hak tinggi itu. Baru beberapa langkah, kakinya tergelincir.
Prang!
Ia jatuh tepat ke pangkuan seorang pria. Kedua tangannya refleks mencengkeram bahu pria itu agar tak terjatuh sepenuhnya.
Waktu seolah berhenti berputar di detik itu. Mereka saling bertatapan lekat, jantung Vivian berpacu liar seakan hendak melompat keluar dari dada.
Ia buru-buru menunduk dalam menahan malu, serta ketakutan yang diam-diam mengancam. "Ini kan pria tadi" batinnya.
"Turun!" ucap pria itu singkat dan dingin. Namun anehnya, tubuhnya tetap diam di tempat, tak bergerak sedikit pun, tak menyentuh maupun mendorong gadis yang ada di pangkuannya.
"Vivian, hati-hati sayang," suara ibunya terdengar cemas dari meja.
Ibu Vivian hendak beranjak bangun mendekat, namun tangannya ditahan suaminya.
"Sudahlah... biarkan saja," ucap ayahnya sambil terkekeh jenaka, matanya berbinar geli. "Sepertinya anak-anak ini mulai akrab. Biarkan mereka mengenal satu sama lain dengan caranya sendiri."
Vivian akhirnya duduk kembali di kursinya dengan hati-hati. Ia sesekali merapikan helaian rambut dan lipatan gaunnya yang sedikit berantakan.
Rasanya begitu canggung, karena di seberang sana, pria berwajah dingin itu tak pernah mengalihkan pandangan darinya, menatap lekat tanpa berkedip sedikit pun, seolah ada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Sampai akhirnya ibunya membuka suara, memecah keheningan.
"Vivian, perkenalkan. Ini pak Budi, Ayah baru kamu," ucapnya lembut. Lalu beralih menunjuk pria di sampingnya. "Dan ini Raynor, kakak kamu juga"
Vivian tersenyum seperlunya, sopan namun masih malu-malu.
Saat mereka saling bersalaman, tangannya yang kecil tiba-tiba digenggam erat oleh tangan besar milik Raynor. Genggamannya kuat, namun tidak menyakitkan, membuat jantung Vivian kembali berpacu tak menentu.
Makanan pun mulai disajikan di atas meja, lengkap dengan sepasang sumpit di samping piring masing-masing.
Vivian menatap benda kecil itu dengan cemberut. Ia mencoba mengikuti cara yang tadi diajarkan, menjepit potongan daging... tapi sekali lagi ia tergelincir jatuh. Coba lagi, tetap gagal. Wajahnya makin mengerucut, bibirnya menonjol kesal.
"Aduh... susah banget sih..." gerutunya pelan, hampir mau melempar sumpit itu saja.
Raynor yang melihat tingkahnya, perlahan menghela napas. Tanpa bicara, ia mengambil alih sumpit di tangan Vivian, lalu dengan gerakan lincah menjepit potongan daging empuk itu.
"Sudah, diam saja," ucapnya singkat.
Ia mengangkat makanan itu, lalu mendekatkannya ke mulut Vivian.
"Buka."
Vivian tertegun sejenak, pipinya memerah lagi. Tapi karena sudah sangat lapar dan lelah mencoba, ia akhirnya membuka mulut pelan-pelan.
Cip...
Makanan itu masuk dengan aman. Rasanya enak sekali.
"Enak?" tanya Raynor, tatapannya yang biasanya dingin kini terlihat sedikit lembut.
Vivian mengangguk semangat sambil mengunyah. "Enak banget!"
Malam itu, ia kembali menjahit serpihan sayapnya yang patah. Memulihkan kehangatan yang sempat meredup.
Walau segala luka dan kesakitan masih ia rasa. Luka itu belum pulih, bahkan setiap hal manis yang ia lalui sedikit mengingatkan tentang masa lalu bersama kekasihnya.
Tapi otak pintarnya selalu membantah kuat. Dia bukan Satria, dia Raynor, dan dia adalah kakaknya...
Raynor menyuapi Vivian satu per satu, tanpa peduli pandangan orang lain. Sementara gadis itu hanya duduk diam, tersenyum malu-malu, merasa aneh tapi sekaligus... nyaman sekali.
...****************...
Ayah baru Vivian berpura-pura menguap lebar, menutup mulutnya dengan tangan. "Wah, sudah larut sekali. Kami duluan ya, anak-anak. Kalian santai saja di sini."
Senyum jahil terselip di bibirnya, jelas sekali ia sengaja meninggalkan mereka berdua karena ingin cepat-cepat malam pertama.
Ibu Vivian hanya tersenyum malu, lalu keduanya berjalan beriringan menuju kamar mereka, meninggalkan meja makan yang kini hanya berisi Vivian dan Raynor.
Suasana hening sejenak. Raynor kembali mengambil sumpit, menjepit makanan dengan tenang, lalu mengulurkannya ke mulut Vivian.
Gadis itu hanya diam membuka mulut, menelan makanan itu pelan-pelan. Wajahnya masih merah merona, tapi rasanya aneh, rasanya tenang dan nyaman sekali disuapi seperti ini. Walau tanpa obrolan hangat, tapi suasana ini sudah jauh lebih hangat.
Setelah selesai, mereka berjalan beriringan menyusuri lorong panjang menuju kamar.
Vivian ingin sekali segera melepas sepatu hak tingginya yang sudah membuat kakinya perih. Tapi karena ada Raynor di sampingnya, niatnya urung, rasa gengsinya muncul.
Ia memaksakan diri berjalan tegak, berusaha terlihat santai, padahal setiap langkahnya goyah dan tak seimbang.
Satu kali ia hampir terhuyung ke kiri, lalu sekejap lagi nyaris tersandung ke kanan. Berkali-kali ia hampir jatuh, tangannya mencoba berpegangan ke dinding.
Hingga akhirnya Raynor berhenti tiba-tiba. Tanpa kata, ia berbalik, lalu dengan sigap mengangkat tubuh Vivian dalam gendongan ala bridal.
"Kyaaa! Kak Raynor... turunin aku! Aku bisa jalan sendiri!" seru Vivian kaget, tangannya memukul pelan bahu pria itu, meronta minta diturunkan.
Namun Raynor sama sekali tak peduli. Wajahnya tetap datar dan dingin. "Aku tak sesabar itu menunggu orang berjalan terpincang" ucapnya singkat.
Ia melangkah lebar menuju kamarnya sendiri, membuka pintu dengan satu tangan, lalu meletakkan tubuh Vivian dengan hati-hati di atas sofa empuk.
Raynor kemudian berjongkok tepat di depan kaki Vivian. Tangannya yang besar dan hangat perlahan menyentuh tali sepatu itu, melepaskannya satu per satu.
Saat sepatu itu terlepas, terlihat jelas bekas memar kemerahan melingkar di pergelangan kaki kecilnya, bekas gesekan tali sepatu yang terlalu kencang dan tidak biasa ia pakai.
Raynor mengusap pelan area yang memar itu dengan ujung jarinya, tatapannya berubah sedikit lembut, seolah ada rasa tak suka melihat Vivian terluka.
"Kaki kecil tidak cocok dipaksa tinggi" gumamnya pelan, hampir tak terdengar.