NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Pak Satria Mengundurkan Diri

Galang Suryanegara duduk di kursi Komisaris Utama selama dua jam sebelum menyadari kursi itu dingin.

Semua orang memanggilnya Pak Galang. Semua orang tersenyum sopan. Semua dokumen formal diletakkan di hadapannya. Tetapi tidak ada mata yang benar-benar menunggu perintahnya.

Saat ia meminta laporan vendor, staf menyerahkan salinan yang terlalu rapi.

Saat ia bertanya tentang kontrak strategis, direktur menjawab bahwa aksesnya masih perlu sinkronisasi hukum.

Saat ia memerintahkan sekretaris memanggil kepala divisi, sekretaris itu berkata dengan lembut, "Mereka sedang mengikuti pengarahan Pak Satria."

Nama itu membuat Galang membanting pena.

Ia mencoba menelepon tiga kepala divisi langsung. Yang pertama tidak mengangkat. Yang kedua menjawab dengan sopan bahwa ia sedang berada di rapat penting. Yang ketiga mengirim pesan singkat: Maaf, Pak, prioritas operasional masih mengikuti arahan transisi Pak Satria.

Untuk pertama kalinya, Galang menyadari bahwa tanda tangan Prabu tidak otomatis berubah menjadi kendali.

"Panggil Pak Satria ke lobby. Sekarang."

Setengah jam kemudian, seluruh lobby Gedung Takdir penuh.

Karyawan dari berbagai lantai turun. Kepala divisi berdiri di baris depan. Staf administrasi, tim hukum, keamanan, keuangan, bahkan office boy yang biasanya tidak pernah muncul di acara formal, semua memenuhi ruang luas di bawah logo emas Takdir.

Galang berdiri di dekat tangga, wajahnya kaku. Ia mengira orang berkumpul untuk melihat kekuasaan barunya.

Lalu Pak Satria berjalan ke tengah lobby.

Pria tua itu mengenakan setelan hitam sederhana. Rambut putihnya rapi. Di tangannya ada surat pengunduran diri.

Arya berdiri beberapa langkah di belakang, bersama Dewi. Ia tidak bicara. Ia hanya melihat.

Pak Satria menghadap seluruh karyawan.

"Saya, Satria," katanya, suaranya tidak keras tetapi mencapai sudut lobby, "hari ini mengundurkan diri dari jabatan eksekutif di PT Takdir Nusantara Group."

Bisik-bisik pecah.

Beberapa karyawan menutup mulut. Seorang staf perempuan di bagian legal langsung berkaca-kaca.

Galang tersenyum puas. "Keputusan yang bijak. Orang tua memang harus tahu kapan mundur."

Pak Satria menoleh padanya sebentar, lalu kembali ke karyawan.

"Saya bukan mundur karena takut. Saya juga bukan mundur karena tidak menghormati perusahaan ini." Ia mengangkat surat itu. "Saya hanya ingin semua orang tahu kepada siapa loyalitas saya berdiri."

Lobby menjadi sunyi.

"Saya bukan loyal kepada gedung ini. Bukan kepada kursi. Bukan kepada cap perusahaan. Saya loyal kepada orang yang membangun perusahaan ini dari nol ketika semua orang menganggapnya hampir mati."

Mata banyak karyawan bergerak ke arah Arya.

Pak Satria melanjutkan, suaranya mulai bergetar tetapi tidak patah. "Tiga tahun lalu, banyak dari kalian melihat seorang pria muda datang diam-diam, membaca laporan sampai pagi, menolak memotong gaji staf kecil saat perusahaan rugi, dan membayar vendor kecil lebih dulu ketika kas kita tipis. Orang itu bukan saya. Bukan Dewi. Orang itu Arya Suryanegara."

Beberapa kepala divisi menunduk.

"Jika hari ini ada pihak yang merasa bisa mengambil Takdir hanya dengan selembar keputusan keluarga, silakan. Gedung bisa dipindah nama. Kursi bisa diganti orang. Tapi hati perusahaan ini tahu siapa yang membuatnya berdetak."

Galang melangkah maju. "Cukup!"

Tidak ada yang bergerak.

Keheningan itu menghina lebih tajam daripada teriakan. Jika Galang benar-benar memegang Takdir, satu kata darinya seharusnya membuat semua orang bubar. Tetapi para karyawan tetap berdiri. Mereka tidak melawan secara kasar. Mereka hanya memilih mendengar Pak Satria sampai selesai.

Pak Satria berbalik ke Arya, lalu menunduk dalam. "Tuan Muda, mulai hari ini saya tidak lagi menjabat di Takdir. Jika Anda mengizinkan, saya akan kembali berdiri di belakang Anda sebagai pelayan Keluarga Suryanegara."

Arya menatap pria tua itu.

Selama tiga tahun, Pak Satria menjadi tangan yang menandatangani dokumen, suara yang menjawab telepon, orang yang membersihkan jejak agar Arya bisa tetap menjadi bayangan. Ia bisa memilih tetap di gedung besar, di kursi aman, dengan gaji dan kuasa.

Ia memilih pergi.

"Pak Satria," kata Arya, "berdiri di sampingku. Bukan di belakang."

Mata Pak Satria memerah.

Saat Arya berjalan menuju pintu lobby, sesuatu terjadi.

Eko, kepala keamanan, berdiri tegak dan menunduk.

"Terima kasih, Pak Arya."

Lalu staf legal.

Lalu kepala keuangan.

Lalu satu per satu karyawan membentuk barisan, memberi jalan, dan menunduk saat Arya lewat. Tidak ada yang berteriak. Tidak ada slogan. Justru keheningan itulah yang membuat Galang kehilangan warna.

Ia memperoleh jabatan.

Arya membawa pergi rasa hormat.

Dewi berhenti di samping Galang dan berkata pelan, "Selamat menikmati gedung kosong."

Galang mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih.

Malam itu, di sebuah rumah aman baru di pinggir kawasan bisnis, Pak Satria membuka koper logam di atas meja.

Arya, Dewi, dan Eko berada di ruangan itu. Di luar, dua tim keamanan berjaga.

Pak Satria mengeluarkan beberapa folder.

"Prima Investment Corp. terdaftar melalui jalur Singapura dengan struktur nominee berlapis. Aset likuid saat ini tersebar di beberapa rekening dan instrumen. Nilai konservatifnya..."

Ia berhenti sebentar.

Dewi tidak sabar. "Berapa?"

"Sedikit di atas empat puluh triliun rupiah."

Eko hampir tersedak.

Dewi menatap Arya. "Kamu menyimpan empat puluh triliun dan membiarkan Maryam menyebutmu pengemis?"

Arya duduk di sofa, membuka satu folder. "Aku tidak menyimpan untuk membuktikan apa pun pada Maryam."

Pak Satria melanjutkan, "Selain itu, ada kontrak opsi pada beberapa perusahaan pemasok Takdir, saham minoritas di dua perusahaan logistik, dan akses ke dana cadangan yang tidak masuk struktur keluarga."

Dewi tertawa pelan, penuh kelegaan dan ngeri. "Prabu membekukan akses keluarga, tapi tidak menyentuh ini."

"Karena ini bukan milik keluarga," kata Arya. "Ini milikku."

Untuk pertama kalinya setelah keputusan Prabu, ruangan itu terasa hangat.

Arya bukan diusir tanpa harta.

Ia hanya mengganti medan perang.

Larut malam, setelah Dewi dan Eko pergi, Arya duduk sendirian di ruang kerja kecil rumah aman. Di depannya ada kotak tahan api peninggalan Lestari.

Pak Satria berdiri di pintu, tetapi Arya mengangkat tangan.

"Aku buka sendiri."

Pria tua itu menunduk dan menutup pintu.

Arya mengeluarkan kalung amber tua dari laci. Itu satu-satunya benda dari ibunya yang selalu ia bawa. Di bagian belakang batu amber, ada rangkaian angka kecil yang selama ini ia kira nomor produksi.

Ia mengetik angka itu ke panel kotak.

Lampu merah berubah hijau.

KLIK.

Kotak terbuka.

Di dalamnya ada hard disk terenkripsi berwarna hitam, sebuah USB drive logam, dan amplop tipis bertuliskan tangan Lestari:

Untuk Arya. Jika kau membaca ini, berarti mereka sudah bergerak.

Napas Arya tertahan.

Ia memasukkan USB drive ke laptop.

Layar menyala, meminta kunci enkripsi kedua. Setelah ia memasukkan tanggal yang hanya diketahui keluarganya, folder demi folder muncul.

Offshore Accounts.

Holding Documents.

Bagaskara Investigation.

Restricted.

Arya menatap folder terakhir itu.

Di bawahnya, angka estimasi aset bergerak perlahan setelah sistem membaca indeks.

Lebih besar dari Prima.

Jauh lebih besar.

Jari Arya berhenti di atas touchpad.

"Ibu," bisiknya, "apa sebenarnya yang Ayah tinggalkan?"

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!