Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Menunggu di Dalam
Malam itu, suasana di rumah keluarga Fernando terasa sangat mencekam. Arthur berdiri di halaman depan, berbicara dengan Aldi melalui telepon. Matanya tajam menatap layar ponsel, menunggu kabar tentang James. Di belakangnya, Helena berdiri di ambang pintu, dengan wajah pucat dan mata yang sembab.
Arthur menoleh, melihat Helena yang masih berdiri di sana. "Hel, kenapa kamu belum masuk? Aku sudah bilang, kamu harus istirahat."
Helena menggeleng. "Aku tidak bisa tidur, Arthur. Pikiranku terus memikirkan James. Bagaimana keadaannya? Apa dia makan? Apa dia takut?"
Arthur berjalan mendekati Helena, memegang bahunya dengan lembut. "Hel, aku mengerti perasaanmu. Aku juga tidak bisa tidur. Tapi kamu harus menjaga kesehatanmu. Jika kamu jatuh sakit, James akan semakin khawatir. Dan aku akan semakin khawatir."
Helena menatap Arthur, air matanya mulai mengalir. "Arthur, aku takut. Aku takut jika sesuatu terjadi pada James. Dia satu-satunya yang aku miliki."
Arthur mengusap air mata Helena. "Kamu tidak sendiri, Hel. Kamu memiliki aku. Dan aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada James. Percayalah padaku."
Helena mengangguk pelan, meskipun hatinya masih dipenuhi ketakutan.
Arthur menarik Helena masuk ke dalam rumah. "Sekarang, kamu harus istirahat. Aku akan memantau perkembangannya. Jika ada kabar, aku akan memberitahumu segera."
Helena menatap Arthur. "Tapi Arthur, aku ingin ikut mencari James."
Arthur menggeleng tegas. "Tidak, Hel. Kamu tidak bisa ikut. Ini terlalu berbahaya. Aku tidak bisa membiarkan kamu berada dalam bahaya. Jika kamu juga terluka, siapa yang akan menjaga James?"
Helena menunduk, tahu bahwa Arthur benar. Dia memang tidak bisa ikut. Dia tidak punya kemampuan untuk menghadapi para penculik. Yang bisa dia lakukan hanyalah menunggu dan berdoa.
---
Arthur menuntun Helena ke kamar tamu yang sudah disiapkan oleh pelayan. Kamar itu luas dan nyaman, dengan tempat tidur yang empuk dan lampu yang temaram. Arthur menarik selimut, menutupi Helena yang sudah berbaring.
"Hel, tidurlah. Aku akan di luar. Jika ada perkembangan, aku akan segera memberi tahu."
Helena mengangguk. "Arthur... tolong selamatkan James."
Arthur tersenyum tipis, mencium kening Helena, lalu berjalan keluar.
Di luar kamar, Arthur bertemu dengan Mbok Jum yang sudah menunggu dengan nampan berisi segelas susu hangat dan beberapa kue kecil. "Tuan, saya sudah menyiapkan minuman untuk Nona Helena. Ini susu hangat dengan sedikit madu. Bisa membantu Nona tidur lebih nyenyak."
Arthur mengangguk. "Terima kasih, Mbok Jum. Tolong antarkan ke kamarnya. Dan jika dia masih belum tidur, temani dia sebentar. Dia butuh seseorang yang bisa menenangkannya."
Mbok Jum tersenyum bijak. "Tentu, Tuan. Saya akan menjaga Nona Helena."
Arthur kembali ke halaman depan, di mana Aldi sudah menunggu. "Aldi, apa kabar terbaru?"
Aldi menatap tabletnya. "Tim sudah bergerak ke arah pantai utara. Mereka menemukan sebuah gudang tua yang mencurigakan. Tapi masih belum ada tanda-tanda James."
Arthur menghela napas. "Terus pantau. Aku ingin laporan setiap 15 menit."
Aldi mengangguk. "Siap, Pak."
---
Di dalam kamar, Helena masih terbaring di atas tempat tidur. Matanya terbuka, menatap langit-langit. Pikirannya terus berputar. Dia membayangkan James yang ketakutan, menangis di suatu tempat gelap. Dan dia membayangkan dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.
Mbok Jum masuk dengan membawa nampan. "Nona, saya membawakan susu hangat. Ini bisa membantu Nona tidur lebih nyenyak."
Helena menatap Mbok Jum. "Mbok Jum, apakah ada kabar tentang James?"
Mbok Jum menggeleng pelan. "Belum ada, Nona. Tapi Tuan Arthur sedang berusaha. Saya yakin beliau akan menemukan James."
Helena menerima segelas susu hangat itu. Dia menyesap perlahan, merasakan hangatnya susu di tenggorokannya. Matanya terasa semakin berat. Mungkin karena kelelahan, atau mungkin karena susu hangat itu mulai bekerja.
"Nona, tidurlah. Saya akan tetap di sini menjaga Nona," bisik Mbok Jum.
Helena menutup matanya. Dalam hitungan menit, napasnya mulai teratur. Dia akhirnya tertidur, meskipun hanya tidur yang dangkal.
---
Di luar, Arthur masih berdiri di halaman depan. Dia menatap langit malam yang gelap, dengan bintang-bintang yang bersinar redup. Pikirannya melayang pada James. Dia belum pernah bertemu langsung dengan James, tapi dia sudah merasakan ikatan yang kuat.
"Aldi, bagaimana kabar tim di pantai utara?" tanya Arthur.
Aldi menjawab, "Mereka sudah sampai di gudang tua. Ada beberapa tanda-tanda bahwa seseorang pernah berada di sana. Tapi James tidak ada di sana. Mungkin mereka sudah memindahkannya."
Arthur mengepalkan tangannya. "Cari lagi. Jangan berhenti."
Pukul 03.00, Arthur masih belum tidur. Dia menatap layar ponsel, menunggu kabar. Sementara di dalam, Helena tidur dengan gelisah, bermimpi tentang James yang sedang memanggilnya.
Arthur menatap rumahnya dari luar. "James... aku akan menemukanmu. Tunggu aku."
---
Keesokan paginya, Helena terbangun dengan mata yang masih sembab. Dia melihat Mbok Jum yang masih duduk di kursi dekat tempat tidur. "Mbok Jum, apa ada kabar?"
Mbok Jum menggeleng. "Belum ada kabar, Nona. Tapi Tuan Arthur masih di luar. Beliau tidak tidur semalaman."
Helena bangkit, berjalan ke jendela. Dia melihat Arthur yang masih berdiri di halaman depan, berbicara dengan Aldi. Wajah Arthur terlihat lelah, tapi matanya masih tajam.
Helena menatap Arthur. "Dia tidak tidur semalaman karena aku," bisiknya.
Dia lalu berjalan keluar, mendekati Arthur. "Arthur, kamu harus istirahat. Aku bisa bergantian menunggu kabar."
Arthur menoleh, tersenyum tipis meskipun matanya lelah. "Tidak, Hel. Aku tidak bisa tidur. Aku harus memastikan James ditemukan."
Helena mengusap punggung Arthur. "Kita akan menemukannya. Aku percaya."
Arthur menatap Helena, dan untuk pertama kalinya malam ini, dia merasa sedikit tenang. Dia menarik Helena ke dalam pelukannya. "Kita akan menemukannya, Hel. Aku janji."
Di kejauhan, mobil tim Aldi mulai melaju, membawa kabar yang mungkin akan mengubah segalanya.