Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibawa Pergi
Pak RT maju ke depan, berdiri di samping Pak penghulu. “Semuanya sudah siap Pak, termasuk beberapa warga yang akan menjadi saksi.”
Ilham berdiri di belakang Baskara, memberikan dukungan diam-diam sambil mengamati setiap langkah yang terjadi. Dia telah menyiapkan amplop berisi uang yang akan diberikan sebagai mas kawin, sesuai dengan yang disepakati dengan Pak RT sebelumnya.
Pak penghulu membuka kitab suci, kemudian memulai doa dan pembacaan ayat suci yang menjadi bagian dari proses akad nikah. Suaranya yang merdu dan tenang membuat suasana ruangan menjadi lebih kondusif, menghilangkan sebagian ketegangan yang terasa di sejak tadi.
Pak penghulu pun menjabat tangan Baskara dan mengikrarkan ijab qobul hingga suara para saksi menyerukan kata SAH!
Yaya menutup mata sebentar, mengingat semua kesusahan yang dia alami dan pilihan yang harus dia ambil sekarang. Dia membuka mata dan menatap Baskara dengan tatapan nanar yang penuh air mata. Lalu pak penghulu mendoakan kebahagiaan dan keselamatan mereka berdua. Ilham segera memberikan amplop mas kawin kepada Pak RT, yang kemudian menyerahkannya kepada Yaya dengan senyum yang lebih hangat dari biasanya.
“Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaan yang sebenarnya, nak,” ujar Ibu Sri dengan lembut, mengusap punggung Yaya.
Baskara mendekati Yaya dengan langkah hati-hati. “Kita akan bicara tentang semua ini nanti,” ujarnya dengan suara rendah dan penuh ketegasan, hanya bisa terdengar oleh Yaya. “Sekarang, mari kita pergi dari sini dulu.”
Ilham sudah siap membawa mereka berdua, membuka pintu mobil dengan sopan. Yaya melihat ke belakang satu kali lagi, melihat rumah Pak RT yang telah menjadi tempat perlindungan pertamanya di kota ini meski hanya beberapa jam. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tapi dia tahu bahwa dia harus berani menghadapi masa depan yang baru bersama pria yang baru saja menjadi suaminya.
Yaya sendiri tidak tahu akan seperti apa pernikahannya ini, bahkan tadi tidak ada sentuhan seperti mencium tangan suami ataupun kecupan di kening seperti yang biasa Yaya lihat setelah ijab qobul. Bahkan tidak ada cincin pernikahan.
*****>>>{}<<<*****
Setelah beberapa menit berkendara dalam keheningan, mobil akhirnya berhenti di depan gedung apartemen bertingkat tinggi yang megah dengan nama President Sweet Residence terpampang jelas di atas pintu masuk. Cahaya lampu hias yang memantul dari lantai marmer membuat Yaya merasa semakin kecil dan tidak nyaman. Dia mengerutkan kening sedikit, mata memandang segala sesuatu dengan rasa kagum yang bercampur kebingungan.
Ilham membuka pintu mobil untuk Baskara, kemudian membantu Yaya yang terlihat ragu untuk turun. Mereka berjalan masuk ke lobi yang luas, di mana beberapa petugas keamanan dengan sopan menyapa Baskara. Ilham hanya mengantar mereka hingga depan dua pintu besi besar yang tidak pernah Yaya lihat sebelumnya.
“Pak, saya akan kembali dulu. Saya sudah menyampaikan pesan kepada staf apartemen agar siap membantu jika ada kebutuhan apa pun,” ucap Ilham dengan sopan, sebelum mengucapkan selamat malam dan berbalik pergi meninggalkan mereka berdua.
Yaya menatap pintu besi besar itu dengan mata penuh kebingungan. Dia menggerakkan tubuhnya dari kanan ke kiri, tidak tahu apa itu dan bagaimana cara masuk. Ketika pintunya sedikit terbuka karena ada orang yang keluar, Yaya bahkan mundur kaget, seperti melihat sesuatu yang aneh.
“Kamu mau tetap berdiri disitu seperti patung dan saya tinggalkan?” ucap Baskara dengan nada kesal, mengambil kartu akses dari saku jasnya. “Jangan berdiri seperti orang kampungan yang baru pertama kali keluar desa!”
Yaya terkejut mendengar kata-kata itu, wajahnya memerah karena malu dan hati sedikit terluka. Dia mengikuti Baskara dengan langkah kecil, namun ketika masuk ke dalam ruang tertutup lift tersebut, dia langsung menjepit tangan di dada saat pintunya mulai menutup secara otomatis.
“Jangan berisik dan jangan menyentuh apa-apa!” sentak Baskara dengan suara tajam ketika melihat Yaya hendak menyentuh panel tombol di dinding lift. “Lift bukan mainan yang bisa kamu sentuh sembarangan!”
Yaya segera menarik tangannya kembali, menunduk pandangannya sambil menggigit bibir bawah. Tubuhnya sedikit menggigil—baik karena ketakutan dengan mesin yang bergerak naik maupun karena kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulut Baskara. Selama perjalanan menuju lantai 25, keheningan semakin pekat, diperparah oleh pandangan Baskara yang sinis setiap kali melihat Yaya yang tampak kaget dengan getaran atau suara mesin lift.
Saat pintu lift terbuka, Baskara berjalan dengan langkah mantap bahkan sedikit cepat, seolah tidak ingin dilihat bersama Yaya. Dia berjalan menuju salah satu pintu apartemen dengan nomor 2503, membukanya dengan kunci elektronik tanpa menunggu Yaya yang masih berada di belakang.
“Silakan masuk jika kamu bisa berjalan dengan benar dan tidak membuat kekacauan!” ucapnya tanpa menoleh.
Yaya memasuki ruangan dengan hati-hati, mata hampir terpaku melihat segala sesuatu di sekitarnya namun tidak berani menyentuh apa pun setelah diperingatkan tadi. Ruang tamu yang luas dengan sofa kulit hitam berkualitas tinggi, meja kopi marmer, dan televisi layar datar besar membuatnya merasa semakin tidak nyaman dan merasa benar-benar seperti orang kampungan yang dikatakan Baskara.
“Kamar tamu ada di sebelah kanan. Jangan menyentuh barang-barang di kamar itu kecuali benar-benar perlu. Ada kamar mandi dan lemari di dalamnya dan ada beberapa pakaian wanita yang mungkin kamu bisa pakai,” ucap Baskara dengan nada dingin sambil melepas jasnya dan menjemput botol air mineral dari lemari es. “Untuk saat ini, itu akan jadi kamar kamu. Besok pagi kita akan membahas apa yang harus kita lakukan selanjutnya. Dan ingat, jangan membuat rumah ini berantakan!”
Yaya mengangguk perlahan, air mata sudah mulai mengumpul di sudut matanya namun dia berusaha dengan segala cara untuk tidak menangis. Dia berjalan menuju kamar tamu yang disebutkan, membuka pintu dan melihat ranjang besar dengan seprai putih bersih. Saat dia menutup pintu kamar dan jatuh duduk di tepi ranjang, air matanya akhirnya menetes deras, rasa malu dan sakit hati lebih kuat daripada rasa syukur yang dia rasakan tadi.
Sementara itu, Baskara berdiri di balkon yang menghadap pemandangan kota malam, merokok sebatang rokok dengan wajah yang penuh kesal. Dia merasa tersesat dalam situasi yang tidak bisa dia kendalikan, dan melihat Yaya yang tidak tahu apa-apa tentang kehidupan kota hanya membuatnya semakin kesal, baik pada dirinya sendiri maupun pada keadaan yang telah membawanya pada pernikahan yang tidak diinginkan ini.