NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: SMA DAN KERINDUAN YANG MENDALAM

Setelah kelulusan SMP yang penuh haru, Rangga diterima di SMA Negeri 1 Kabupaten—sekolah favorit yang terletak di ibu kota kabupaten, sekitar dua jam perjalanan dari Desa Sumbermulyo. Sekolah itu dikenal sebagai sekolah terbaik di seluruh kabupaten, dengan fasilitas lengkap dan guru-guru berkualitas yang telah meluluskan banyak siswa berprestasi. Rangga merasa bersemangat dan antusias untuk memulai babak baru dalam hidupnya, tetapi di sisi lain, ia merasa berat meninggalkan Nenek dan desanya yang sudah menjadi bagian dari dirinya selama bertahun-tahun.

"Kau harus pergi, Nak. Ini adalah kesempatan emas untukmu. Jangan sia-siakan," kata Nenek Saroh saat Rangga mengungkapkan keraguannya untuk pergi. Wajahnya tampak lebih tua dan lebih lelah dari biasanya, tetapi matanya tetap berbinar-binar penuh harapan untuk cucunya. "Nenek akan baik-baik saja di sini. Nenek punya tetangga yang baik, dan Ucok serta teman-temanmu akan sering menjenguk. Kau tidak perlu khawatir."

Rangga memeluk Nenek erat-erat, merasakan tulang-tulangnya yang menonjol karena usianya yang semakin lanjut. "Aku akan pulang setiap akhir pekan, Nek. Aku janji tidak akan pernah melupakan Nenek."

"Nenek tahu kau anak yang baik dan berbakti. Pergilah, raih mimpimu. Nenek akan selalu mendoakanmu, di mana pun kau berada," kata Nenek dengan air mata berlinang di pipi keriputnya.

Rangga berangkat ke SMA dengan perasaan campur aduk antara kegembiraan dan kesedihan. Ia membawa tas berisi pakaian, buku-buku, dan bekal makanan dari Nenek—nasi liwet dengan lauk sederhana yang selalu mengingatkannya pada kehangatan rumah. Anisa juga bersekolah di SMA yang sama, dan mereka berjanji untuk saling mendukung dan menjaga satu sama lain di lingkungan yang baru dan asing.

Hari pertama di SMA, Rangga merasakan perbedaan yang sangat besar. Sekolah itu jauh lebih besar dan megah dari SMP-nya, dengan gedung-gedung berlantai tiga yang dicat putih bersih, laboratorium lengkap dengan peralatan modern, perpustakaan besar berisi ribuan buku, dan lapangan olahraga yang luas dengan rumput hijau yang terawat. Siswa-siswanya berasal dari berbagai daerah di kabupaten—ada yang dari kota, ada yang dari desa, ada yang dari keluarga kaya, dan ada yang dari keluarga sederhana. Rangga merasa seperti ikan kecil di lautan yang luas dan dalam, dikelilingi oleh berbagai macam spesies yang berbeda.

Di kelas, Rangga bertemu dengan teman-teman baru yang membantunya beradaptasi. Ada Andi, anak dari kota yang ramah dan suka bercanda, selalu bisa mencairkan suasana dengan lelucon-leluconnya yang kocak. Ada Budi, anak pendiam yang luar biasa pintar matematika dan selalu menjadi juara kelas. Ada Sari, gadis ceria yang suka menyanyi dan selalu membawa semangat ke mana pun ia pergi. Dan ada juga beberapa siswa lain yang, seperti Rangga, berasal dari desa dan merantau ke kota untuk mengejar pendidikan yang lebih baik.

Namun tidak semua pengalaman di SMA berjalan mulus. Beberapa siswa dari kota memandang rendah siswa dari desa. Mereka sering mengejek cara bicara, pakaian, dan kebiasaan siswa desa dengan nada menghina. Rangga menjadi sasaran ejekan karena logat Jawanya yang masih kental dan seragamnya yang sederhana—seragam yang dibelinya dari pasar murah, berbeda dengan seragam mahal yang dikenakan teman-temannya dari kota.

"Hei, Rangga si anak desa! Kau masih pakai sepatu jepit? Ini SMA, bukan SD kampung!" ejek seorang siswa bernama Fajar, yang dikenal sebagai anak orang kaya di kota. Fajar selalu mengenakan sepatu mahal bermerek dan jam tangan mewah yang membuatnya terlihat menonjol di antara siswa lain. Teman-temannya ikut tertawa, memandang Rangga dengan sinis.

Rangga tidak marah. Ia hanya tersenyum dengan tenang, tidak terpengaruh oleh ejekan mereka. "Sepatu ini sudah cukup untukku, Fajar. Aku tidak perlu barang-barang mahal untuk membuktikan siapa diriku. Nilai seseorang tidak diukur dari sepatu atau jam tangannya."

Fajar dan teman-temannya tertawa lebih keras, tetapi Rangga tidak peduli. Ia sudah terbiasa dengan ejekan sejak di SD dan SMP. Ia tahu bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh apa yang ia kenakan atau miliki, tetapi oleh siapa ia sebenarnya di dalam hati. Ia juga tahu bahwa suatu hari nanti, ia akan membuktikan bahwa anak desa pun bisa menjadi orang sukses, tidak kalah dengan anak-anak kota.

Anisa yang melihat kejadian itu dari kejauhan segera menghampiri Rangga. Wajahnya merah padam karena marah melihat temannya diejek. "Jangan pedulikan mereka, Rangga. Mereka hanya iri karena kau lebih pintar dari mereka. Orang-orang bodoh selalu mengejek orang yang lebih baik dari mereka."

"Aku tidak peduli, Anisa. Aku di sini untuk belajar dan meraih mimpiku, bukan untuk bermain gengsi atau terlibat dalam permusuhan anak-anak," jawab Rangga dengan tenang, menggenggam tangan Anisa untuk menenangkannya.

Seiring berjalannya waktu, Rangga mulai beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia bergabung dengan klub matematika dan sains yang sering mengadakan lomba dan pelatihan. Ia mengikuti berbagai lomba akademik dan selalu meraih prestasi gemilang, membuat nama sekolahnya semakin dikenal di tingkat kabupaten. Guru-guru mulai menghargainya karena kerajinan, kecerdasan, dan sikapnya yang rendah hati. Perlahan tapi pasti, ejekan dari teman-teman mulai berkurang, dan beberapa dari mereka bahkan mulai menghormatinya. Fajar, meskipun tidak pernah secara terbuka mengakui kesalahannya, mulai menunjukkan sikap yang lebih baik dan berhenti mengejek siswa-siswa desa.

Namun di balik semua kesibukannya di sekolah dan prestasinya yang gemilang, Rangga selalu merindukan desa dan Neneknya dengan sangat dalam. Setiap akhir pekan, ia pulang ke desa tanpa pernah melewatkan satu minggu pun. Ia membantu Nenek di kebun, membersihkan gubuk, dan bermain dengan Ucok serta teman-temannya yang masih setia menunggunya di bawah pohon beringin. Ia juga selalu membawa oleh-oleh untuk Nenek—makanan ringan dari kota, atau kadang hanya sekadar kabar bahwa ia baik-baik saja dan sehat.

Suatu akhir pekan, saat Rangga pulang ke desa dengan langkah gembira, ia melihat Nenek sedang duduk di teras dengan wajah yang tampak lebih pucat dan lemah dari biasanya. Wajahnya yang dulu bercahaya kini terlihat kusam, dan napasnya terasa lebih pendek. Rangga langsung merasa cemas dan takut. "Nek, apa Nenek sakit? Wajah Nenek pucat sekali. Apa yang terjadi?"

Nenek Saroh tersenyum lemah, berusaha menutupi rasa sakitnya. "Nenek hanya sedikit lelah, Nak. Tidak usah khawatir. Nenek hanya kurang istirahat."

Rangga tidak percaya dengan kata-kata Nenek. Ia memegang tangan Nenek, merasakan dinginnya kulitnya yang biasanya hangat. "Nek, aku tidak mau Nenek berbohong padaku. Apa yang sebenarnya terjadi? Tolong katakan yang sejujurnya."

Nenek menghela napas panjang, air mata mengalir di pipinya. "Nenek memang sedikit sakit akhir-akhir ini, Nak. Tapi Nenek sudah minum obat dari puskesmas. Nenek baik-baik saja, kok. Kau tidak perlu khawatir."

Rangga merasa hatinya hancur berkeping-keping melihat Nenek yang semakin lemah. Ia tidak tega melihat Nenek menderita sendirian sementara ia berada jauh di kota. "Nek, aku akan membawa Nenek ke rumah sakit di kota. Aku akan mencari uang untuk biaya pengobatan Nenek. Aku tidak akan membiarkan Nenek sakit seperti ini."

"Tidak usah, Nak. Nenek tidak mau membebanimu. Kau sedang sekolah, kau harus fokus pada belajarmu. Jangan sia-siakan masa depanmu hanya karena Nenek," kata Nenek dengan tegas namun lembut.

"Tidak, Nek. Nenek adalah segalanya bagiku. Aku tidak akan membiarkan Nenek sakit sendirian. Aku akan merawat Nenek sebaik mungkin," kata Rangga dengan tekad yang tidak bisa digoyahkan.

Malam itu, Rangga tidak bisa tidur sedetik pun. Ia memikirkan Nenek yang semakin tua dan sakit-sakitan, sementara ia harus pergi ke kota untuk sekolah dan meraih mimpinya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa merawat Nenek sepenuhnya. Namun ia juga tahu bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar membantu Nenek adalah dengan terus belajar, meraih kesuksesan, dan suatu hari membawa Nenek ke kota untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik.

Esok paginya, Rangga berbicara dengan Bu Siti dan tetangga-tetangga terdekat. Mereka semua berjanji untuk membantu merawat Nenek selama Rangga di sekolah. Rangga juga meminta Ucok untuk sering menjenguk Nenek dan memberinya kabar setiap hari.

"Rangga, tenanglah. Aku akan menjaga Nenek Saroh seperti nenekku sendiri. Aku akan memastikan dia makan, minum obat, dan tidak kesepian. Kau fokuslah pada sekolahmu," kata Ucok dengan tulus, memegang bahu Rangga dengan erat.

Rangga merasa sedikit lega dan tenang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk belajar lebih giat dari sebelumnya, meraih beasiswa yang lebih tinggi, dan suatu hari membawa Nenek ke kota untuk berobat dan hidup lebih nyaman. Ia juga berjanji untuk tidak pernah mengabaikan Nenek, untuk selalu pulang setiap akhir pekan, dan untuk selalu mendoakan kesehatan Nenek.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!