NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Halaman latihan keluarga Shen masih diselimuti kabut tipis. Udara pagi terasa menggigit, tetapi para pemuda keluarga Shen baru saja mulai berdatangan.

Tiba-tiba, sebuah teriakan terdengar tergesa-gesa dari dekat gerbang.

"Shen Yunche!"

Seorang pemuda berlari kencang menghampirinya. Yunche yang baru keluar dari kamar terpaksa menghentikan langkah.

"Ada apa?"

"Penatua Ketiga mencarimu!"

Yunche seketika mengerutkan kening. "Kenapa lagi?"

"Katanya kau harus segera ke halaman latihan."

"Untuk apa?"

Pemuda itu hanya mengangkat bahu. "Tidak tahu."

Yunche terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Sesaat kemudian, raut wajahnya berubah panik.

"Jangan-jangan..."

"Apa?"

"Kue."

Pemuda itu mengernyit heran. "Kue apa?"

"Yang kemarin."

"Memangnya kenapa?"

Tanpa menjawab, Yunche langsung berbalik arah dan berlari kencang. "Aku belum bayar!"

"Bayar apa?!"

"Kue!"

"Shen Yunche!"

Namun, Yunche sudah keburu melesat pergi.

Di halaman latihan, Gu Qingli sudah berdiri menanti. Dia datang jauh lebih awal dari biasanya. Lima menit, sepuluh menit, hingga dua puluh menit berlalu, tetapi sosok yang ditunggunya belum juga muncul.

Gu Qingli menatap matahari yang kian meninggi dengan kening berkerut. "Belum datang juga?"

Tak lama kemudian, kegaduhan terdengar dari kejauhan.

"Penatua! Berhenti dulu! Saya cuma mau menjelaskan!"

"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan?!"

"Saya benar-benar tidak paham maksud Penatua!"

"Soal kue itu!"

Yunche melintasi halaman latihan dengan napas tersengal, sementara Penatua Ketiga mengejarnya dari belakang sambil membawa emosi membara.

"SHEN YUNCHE!"

Gu Qingli sempat mematung. Yunche berlari melewatinya, tetapi mendadak berhenti dan menoleh. Mata mereka saling beradu.

Yunche terkekeh canggung. "Oh, halo."

Gu Qingli menatapnya datar. "Kau terlambat."

Yunche menunjuk Penatua Ketiga yang masih bernapas terengah-engah di belakangnya. "Ini bukan salahku."

Gu Qingli melirik Penatua Ketiga sejenak, lalu kembali menatap Yunche. "Kenapa bisa begitu?"

Yunche berbisik pelan, "Kue."

Gu Qingli terdiam, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kau terlambat... cuma karena kue?"

"Masalahnya rumit."

"Menurutku tidak."

Yunche tidak sempat berdebat lagi karena Penatua Ketiga sudah mendekat. "Penatua, ampun!" pekiknya sambil kembali melesat pergi.

Gu Qingli berdiri terpaku. Dia hanya diam menatap kekacauan itu selama beberapa detik. Namun perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis.

"Bodoh," batinnya.

Setengah jam kemudian, Yunche akhirnya kembali dengan napas yang masih naik-turun. Dia berdiri tepat di hadapan Gu Qingli.

"Maaf," cetusnya pelan.

Gu Qingli memandangnya lekat. "Kenapa minta maaf?"

"Karena terlambat."

"Kau tahu aku menunggumu?"

Yunche mengangguk pelan. "Tahu."

Gu Qingli bungkam.

Yunche lalu menunjuk ke arah Penatua Ketiga yang kini duduk kelelahan di kejauhan. "Tapi salahkan dia."

Penatua Ketiga mendadak menoleh tajam. "Shen Yunche!"

Yunche langsung mundur satu langkah. "Baik, baik..."

Gu Qingli menghela napas panjang. "Bisa kita mulai?"

Yunche menyanggupi dengan anggukan cepat. "Mulai."

Keduanya berhadapan dan bersiap. Namun sebelum senjata terangkat, Yunche tiba-tiba menyela.

"Gu Qingli."

"Apa lagi?"

"Kau sudah sarapan?"

Gu Qingli makin berkerut keningnya. "Sudah."

"Baguslah."

"Kenapa bertanya?"

"Kalau belum, aku mau mengajakmu makan."

Gu Qingli menatapnya heran. "Aku belum makan," lanjut Yunche sambil menunjuk dirinya sendiri. "Jadi, mau menemaniku?"

"Kenapa harus denganku?"

"Sebab makan sendirian itu membosankan."

Gu Qingli menatapnya datar. "Kenapa tidak mengajak Ruowei?"

"Dia sedang sibuk membantu di dapur."

"Kalau begitu tunggu dia selesai."

Yunche mendesah pelan. "Dia bakal lama."

Keduanya saling pandang selama beberapa detik dalam hening.

"Aku tidak mau," tolak Gu Qingli dingin.

Yunche manggut-manggut. "Baiklah." Dia meraih pedang kayunya. "Kalau begitu, ayo bertarung."

Gu Qingli sedikit terkejut dengan perubahan sikapnya yang begitu cepat. "Secepat itu?"

"Iya."

"Kau tidak kecewa?"

"Kecewa kenapa?"

"Aku menolak ajakanmu."

Yunche mengangkat bahu santai. "Untuk apa kecewa?"

Gu Qingli tertegun. Yunche lalu mengangkat pedang kayunya tinggi-tinggi. "Ayo mulai."

Gu Qingli mendengus pelan, lalu merangsek maju.

Latihan hari itu berlangsung lebih lama dari biasanya. Yunche masih tetap kalah—berkali-kali tumbang ke tanah. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Gu Qingli mulai menyadari satu hal: Yunche makin sulit dikalahkan.

Bukan karena kekuatan fisiknya melonjak drastis, melainkan karena pemuda itu mulai membaca pola pertarungannya.

Serangan pertama, Yunche berhasil menghindar. Serangan kedua, dia mundur tepat waktu.

Namun pada serangan ketiga—BUAK!

Yunche tetap terkena hantaman dan tersungkur. Meski begitu, dia langsung bangkit berdiri tanpa membuang waktu.

Gu Qingli menatapnya takjub. "Kau belajar."

Yunche mengusap hidungnya yang terkena debu. "Terpaksa. Kalau tidak belajar, aku bisa babak belur terus setiap hari."

Gu Qingli hampir tersenyum—hampir saja, sebelum akhirnya ditahannya setengah mati. Yunche yang menyadarinya langsung menunjuk wajah gadis itu.

"Kau hampir tertawa!"

"Tidak."

"Jelas-jelas hampir!"

"Tidak."

"Aku melihatnya!"

"Shen Yunche."

"Ya?"

"Diam."

Yunche terkekeh. "Baik."

Hari demi hari berlalu, dan kebiasaan itu perlahan terbentuk. Setiap pagi, Yunche akan datang ke halaman latihan di mana Gu Qingli sudah lebih dulu menunggu. Kadang Yunche yang terlambat, kadang Gu Qingli yang datang terlambat, tetapi entah bagaimana, mereka selalu berakhir di tempat yang sama.

Pola latihan mereka pun berubah. Dulu Gu Qingli hanya menjatuhkannya, kini gadis itu mulai mengajarinya.

"Langkahmu salah," tegur Gu Qingli.

Yunche bingung. "Di mana salahnya?"

"Kaki kirimu."

"Kaki kiri yang mana?"

Gu Qingli memijat pelipisnya. "Kakimu cuma ada dua."

"Oh, yang ini?" Yunche menunjuk kakinya.

"Yang satunya lagi."

Gu Qingli memejamkan mata sejenak. "Kenapa aku harus mengajari orang sebodoh ini?" batinnya gemas.

Dia akhirnya berjalan mendekat. "Lihat ini. Ketika lawan menyerang dari kanan, jangan mundur." Gu Qingli mempraktikkan gerakan kakinya.

"Lalu?"

"Bergeraklah ke samping agar serangannya meleset."

"Oh, begitu." Yunche mencoba menirukannya. Dia melangkah ke samping, tetapi...

BRUK!

Dia malah hilang keseimbangan dan jatuh telentang.

Gu Qingli mematung. Yunche yang terduduk di tanah menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sepertinya ada yang salah."

Gu Qingli menghela napas pasrah. "Bangun."

Yunche mengulurkan tangannya. "Bantu berdiri."

Gu Qingli menatap tangan itu dingin. "Bangun sendiri."

"Teman masa tidak mau membantu?"

"Kita bukan teman."

Mendengar itu, Yunche langsung bangkit sendiri. "Oh, begitu."

Gu Qingli memerhatikannya. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Ayo lanjut." Yunche kembali mengangkat pedang kayunya.

Namun, entah mengapa ada perasaan ganjil yang mengganjal di dada Gu Qingli. Kalimat "Kita bukan teman" yang baru saja diucapkannya mendadak terasa begitu asing dan tidak nyaman di lidahnya sendiri.

Sementara itu, di luar kediaman keluarga Shen, Xiao Hanzhou sedang berdiri anggun di tepi danau. Di belakangnya, dua orang pemuda dari Sekte Awan Biru berdiri patuh.

"Kakak Xiao," panggil salah satu murid.

"Hm?"

"Kapan kita akan kembali ke sekte?"

"Setelah urusan dengan keluarga Gu selesai."

Pemuda itu tersenyum tipis. "Sepertinya Kakak Xiao sangat memberi perhatian lebih pada keluarga Gu."

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!