NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033: Lestari Dewi Muncul Kembali

Lestari Dewi datang ke studio Dewi Busana dengan membawa dua kantong plastik.

Isinya gorengan hangat, es teh tawar, dan sebungkus kue lapis dari toko kecil di dekat stasiun.

Kiara menatap bawaan itu, lalu tertawa untuk pertama kalinya pagi itu.

"Kamu datang seperti mau menjenguk orang sakit."

Lestari mengangkat bahu. "Bisnis baru itu mirip orang sakit. Butuh makanan, perhatian, dan jangan terlalu banyak dikunjungi orang yang cuma memberi saran mahal."

Studio yang masih setengah berantakan langsung terasa lebih ringan.

Lestari tidak berubah banyak sejak reuni kampus. Ia tetap berpakaian sederhana, rambutnya diikat rapi, matanya jernih seperti orang yang tidak terbiasa menyembunyikan niat buruk karena memang tidak membawa niat buruk. Di antara dunia Kiara yang penuh kalimat berlapis, kehadiran Lestari terasa seperti jendela yang dibuka.

"Aku lihat berita kamu keluar dari Hartono," kata Lestari setelah mereka duduk di meja pola.

"Berita atau gosip?"

"Dua-duanya. Berita bilang kamu mundur untuk alasan pribadi. Gosip bilang kamu kalah perang keluarga."

Kiara mengambil sepotong gorengan. "Menurutmu?"

"Menurutku orang yang kalah tidak biasanya membuka studio dengan mata menyala seperti itu."

Kiara diam sebentar.

Pujian dari Lestari tidak terdengar seperti upaya mengambil hati. Itu membuatnya lebih sulit diterima.

Lestari berjalan mengelilingi studio, melihat papan mood, kain linen, potongan pola, dan beberapa sampel jaket kerja perempuan yang sedang dibuat. Ia menyentuh satu kain dengan jari kasar yang tidak malu bekerja.

"Bagus," katanya. "Tapi mahal."

Kiara menghela napas. "Kamu bahkan belum tanya harga."

"Aku tahu dari cara kainnya membuatku takut menyentuh terlalu lama."

Staf muda di sudut ruangan hampir tertawa.

Kiara memberi isyarat agar ia tidak perlu menahan.

"Aku ingin kualitasnya bagus," kata Kiara. "Kalau terlalu murah, jahitan dan bahan akan turun."

"Aku tidak bilang murah." Lestari menatapnya. "Aku bilang jangan hanya membuat baju untuk perempuan yang punya sopir."

Kalimat itu membuat tangan Kiara berhenti.

Lestari duduk di tepi meja.

"Aku dari Bogor, Kia. Ibuku punya dua kemeja bagus untuk acara penting. Satu kebaya yang dipakai ke kondangan, satu blazer pinjaman dari tanteku kalau harus datang ke kantor pemerintah. Banyak perempuan biasa ingin terlihat rapi, kuat, dan tidak murahan. Tapi kalau masuk toko besar, harganya membuat mereka mundur. Kalau beli yang murah, potongannya sering membuat mereka merasa tubuhnya salah."

Kiara mendengarkan.

Di kepala Kiara, Dewi Busana awalnya berdiri sebagai bentuk pembuktian. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bisa membuat brand berkualitas tanpa nama Hartono. Karena itu, ia tanpa sadar bergerak menuju kelas premium yang selama ini paling ia kenal: perempuan kota, kantor bagus, kartu kredit tebal, acara sosial.

Lestari membawa pintu lain.

"Jangan hanya buat high fashion untuk orang yang sudah biasa dilayani," katanya. "Buat sesuatu untuk perempuan yang naik KRL, bawa tas laptop, pulang kerja masih belanja sayur, tapi tetap ingin bercermin dan merasa: aku pantas dihormati."

Ruangan menjadi sunyi.

Staf muda yang tadi tertawa kini ikut menatap Kiara.

Kiara membuka buku catatan.

"Accessible premium," gumamnya.

"Bahasa manusianya?"

"Bagus, kuat, masih bisa dibeli."

"Nah. Itu aku paham."

Kiara mulai menulis lebih cepat.

Lini pertama tidak harus gaun mahal. Bisa blazer kerja ringan, outer dengan saku fungsional, kemeja yang tidak menerawang, celana dengan ukuran yang tidak menghukum tubuh perempuan. Harga tidak boleh terlalu rendah sampai kualitas jatuh, tetapi cukup masuk akal agar pembeli pertama bukan hanya lingkaran sosial Hartono.

"Kalau kamu membuat ini," kata Lestari, menunjuk sketsa blazer, "jangan lupa ukuran lengan. Banyak perempuan kerja naik motor. Kalau terlalu sempit, mereka tidak bisa bergerak."

Kiara mencatat.

"Dan jangan semua warna aman seperti orang takut hidup."

"Apa salahnya hitam, putih, navy?"

"Tidak salah. Tapi perempuan biasa juga suka warna yang membuat hari Senin tidak terasa seperti hukuman."

Staf muda itu ikut menyahut dari meja kain, "Warna sage atau bata mungkin bagus, Bu. Tidak terlalu mencolok, tapi tidak membosankan."

Kiara menoleh.

"Kamu juga setuju?"

Staf muda itu ragu, lalu mengangguk. "Kalau hanya warna kantor, kita bersaing dengan brand lama. Kalau ada warna yang hangat, mungkin orang ingat Dewi Busana lebih cepat."

Lestari menunjuknya. "Nah. Dengarkan dia. Dia wajah pasar juga."

Kiara melihat dua perempuan di depannya: satu teman lama dari keluarga biasa, satu staf muda yang pernah hampir ditolak karena CV tidak cukup cantik. Keduanya sedang memberi hal yang tidak pernah ia dapatkan di ruang dewan Hartono: pendapat yang lahir dari hidup nyata, jauh dari sekadar posisi.

Ia menulis judul baru di bagian atas halaman:

Lini Pertama: Rapi untuk Hidup Nyata.

Di bawahnya, ia menambahkan:

Tidak membuat perempuan meminta maaf pada tubuhnya sendiri.

Kalimat itu membuatnya berhenti sebentar.

Mungkin inilah perbedaan antara brand yang hanya ingin terlihat mahal dan brand yang ingin dipakai.

Lestari mengambil kue lapis.

"Kamu juga jangan terlalu takut pakai cerita sendiri."

"Cerita apa?"

"Perempuan yang keluar dari rumah besar dan mulai lagi di studio kecil. Itu cerita. Tapi jangan jadikan dirimu korban. Jadikan dirimu bukti."

Kiara menatapnya.

"Kamu selalu bicara seperti ini?"

"Tidak. Biasanya aku bicara soal diskon telur."

Mereka tertawa.

Tawa itu tidak besar, tetapi cukup untuk membuat studio terasa tidak lagi seperti ruang kerja yang sedang belajar bernapas. Ia terasa seperti tempat yang mungkin benar-benar bisa tumbuh.

Menjelang sore, Lestari membantu staf muda mencoba salah satu sampel outer. Ia berputar di depan cermin kecil, lalu berkata bahwa saku dalamnya bagus tetapi kancingnya terlalu mudah lepas kalau dipakai naik motor. Kiara mencatat itu dengan serius.

"Kamu benar-benar mencatat?"

"Kamu pasar yang aku tidak boleh abaikan."

"Aku merasa sangat resmi."

"Jangan sombong."

Saat Lestari hendak pulang, ia berhenti di depan papan nama Dewi Busana.

"Aku senang kamu membuat ini," katanya.

Kiara berdiri di sampingnya. "Aku masih takut."

"Bagus. Orang yang tidak takut biasanya tidak mendengar."

Kiara tersenyum kecil. "Kamu dan Arga punya jawaban yang sama menyebalkannya."

Lestari menoleh, matanya menggoda tetapi lembut. "Dia mendukungmu?"

"Ya."

"Bagus. Dulu di reuni, aku pikir kalian berdua seperti orang yang berdiri di jembatan yang hampir runtuh. Sekarang setidaknya kalian sama-sama melihat ke arah yang sama."

Kiara tidak menjawab, tetapi wajahnya menghangat.

Lestari memegang kantong kosongnya.

"Kia, tidak peduli sekarang kamu tinggal di mana, punya uang berapa, atau memakai nama apa di kartu nama, kamu tetap salah satu orang paling tulus yang pernah kukenal. Cuma dulu kamu terlalu sibuk membuktikan diri kepada orang yang tidak tahu cara menerima ketulusan."

Mata Kiara terasa panas.

Di Rumah Anggrek, ketulusan sering dianggap kelemahan.

Di studio kecil itu, dari mulut teman lama yang membawa gorengan, kata itu terasa seperti sesuatu yang boleh ia miliki lagi.

"Terima kasih," katanya pelan.

Lestari tersenyum.

"Nanti kalau koleksi pertamamu jadi, aku mau beli. Tapi kasih ukuran manusia biasa, ya."

Kiara tertawa sambil menghapus sudut matanya.

"Aku akan mulai dari situ."

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!