Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.
Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.
Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Ibu Sarif lalu menggenggam kedua tangan Tara. "Kalau nanti Allah mengangkat karier Sarif, jangan berubah. Kalau nanti Allah memberi rezeki berlimpah, tetaplah rendah hati. Kalau nanti Allah menguji dengan kesulitan, tetaplah bersyukur. Dan kalau suatu hari pundak suamimu dihiasi bintang demi bintang..." Beliau tersenyum bangga. "...pastikan yang ikut naik bukan kesombonganmu. Tetapi kualitas dirimu."
"Bu... Saya tidak tahu apakah saya bisa menjadi istri prajurit yang baik." Tara merasa deg-degan. Ia yang dinilai orang-orang sembrono ini apakah mampu. Soalnya, istri-istri TNI yang datang ke acaranya tadi saja terlihat berwibawa semua.
Ibu Sarif mengusap punggung tangannya. "Tidak ada yang langsung pandai. Kami semua belajar. Saya pun dulu belajar. Tetapi satu hal yang harus selalu kamu ingat."
"Apa itu, Bu?"
"Dukung karier suamimu dengan ikhlas. Jangan menjadi beban yang menariknya ke bawah. Jadilah alasan yang membuatnya selalu ingin pulang. Doakan setiap langkahnya. Dan kalau Allah berkehendak, semoga kariernya terus meningkat. Minimal sampai tiga bintang tersemat di pundaknya."
Tara tersenyum sambil mengangguk mantap. "Insyaallah, Bu. Saya tidak bisa menjanjikan menjadi istri yang sempurna. Tapi saya berjanji akan menjadi teman terbaik bagi Bang Sarif, mendukungnya dalam keadaan lapang maupun sempit, dan tidak akan mengukur kebahagiaan kami dari apa yang dimiliki orang lain."
Mendengar jawaban itu, ibu Sarif tersenyum lega. Dalam hati beliau merasa, putranya tidak salah memilih pendamping hidup. Bukan karena Tara berasal dari keluarga sederhana atau karena wajahnya yang cantik, melainkan karena gadis itu memiliki hati yang mudah menerima nasihat dan tahu bahwa kebahagiaan rumah tangga tidak dibangun oleh kemewahan, tetapi oleh rasa syukur, saling menghormati, dan kesediaan untuk tumbuh bersama dalam setiap fase kehidupan.
Usai bicara dengan ibu mertuanya, giliran Ratna yang mendekati Tara, ia memang sejak tadi mengintai Tara, bahkan saat Tara ngobrol dengan ibunya Sarif pun, Ratna sempat nguping. "Kamu itu sebenarnya berutang sama aku."
Tara mengernyit. "Hah? Utang apa?"
"Karena aku menolak perjodohan itu, kamu jadi dapat jodoh lumayan."
Tara menoleh ke kanan dan kiri, pura-pura mencari sesuatu.
Ratna mengerutkan dahi. "Nyari apa?"
"Nyari yang katanya 'lumayan'."
"Maksudnya?"
Tara menunjuk dirinya sendiri sambil terkekeh. "Ini bukan lumayan kali, Mbak."
Ratna mengangkat alis. "Lalu?"
Tara mengacungkan jempol. "Ini premium."
Ratna memutar bola matanya. "Ih... Kamu itu ya."
"Apa?"
"Sampai kapan sih bersikap ekonomis begitu?"
Tara berkedip bingung. "Ekonomis?"
"Iya. Semua diukur pakai untung rugi, jackpot, premium." Ratna menghela napas panjang. "Nggak elegan. Kita ini ningrat. Kamu nggak lupa kan keturunan siapa? Ekonomi keluarga kita itu diatas rata-rata, jadi jangan selalu bikin malu, Tara!"
Tara langsung mengangguk serius. "Iya."
Ratna tampak puas.
Namun sedetik kemudian Tara melanjutkan dengan wajah polos, "Ningrat..."
"Iya."
"Tapi hari-hari kami makan tahu tempe. Bahkan pernah makan nasi garam doang. Memang ningrat begitu ya kak?"
Ratna melotot. "Itu bukan maksudku!"
Tara buru-buru mengangkat kedua tangan. "Iya, aku tahu. Cuma ya lucu aja. Tinggal di rumah gedong, tapi kami itu bisa dikatakan pas digaris kemiskinan." lagi-lagi Tara cekikikan. "Udahlah, dari pada Kakak ngomongin hal-hal yang nggak masuk di otakku, lebih baik berikan sekarang hadiahnya untukku!" Tara menengadahkan tangannya ke arah kakak sepupunya itu.
"Apa?" Ratna kembali melotot.
"Hadiah pernikahan. Masa nggak ada? Katanya ningrat, jangan pelitlah. Selama ini kakak nggak pernah memberi apapun untukku, masa di hari spesialku, kakak juga nggak ngasih apa-apa!" Tara pura-pura kesal.
"Aku nggak punya hadiah apapun!" Ratna bicara dengan nada tinggi.
"Ya udah, kalau gitu doakan saja pernikahanku dan Bang Sarif." tadih Tara.
Bagaimana bisa Ratna melakukannya. Hatinya masih dipenuhi iri dengki. Ia tak bisa berbesar hati mendoakan Tara. Ia menggeleng. "Jangan minta apapun dariku!"
"Kalau begitu jangan makan apapun dari pesta pernikahanku!" Tara terus mengejar. Ia sebenarnya tak serius, hanya ingin membuat gara-gara dengan Ratna yang memang gampang tersulut emosinya.
"Ihhh ya udah, aku nggak akan makan apapun. Lebih baik order nasi Padang dari pada makan makanan di acara kamu yang ...."
Belum sempat Ratna melanjutkan, Tara sudah memotong. "Yang apa? Nggak enak? Murahan? La kadarnya? Ini Nenek lho yang menyediakan semuanya. Kakak berani bilang begitu aku aduin sama Nenek." Tara mencibir.
"TARA!" Ratna benar-benar kesal, ia langsung menghentakkan kakinya, lalu berbalik arah kembali ke kamarnya. Sementara Tara ketawa puas. Ia hanya ingin bercanda sebelum meninggalkan rumah ini untuk ikut suaminya.
***
Seharusnya, candaan-candaan Tara saat itu cukup ditanggapi dengan tawa. Tidak ada niat sedikit pun di dalam hati Tara untuk menyombongkan diri atau menyakiti Ratna. Justru sebaliknya, sebelum ikut Sarif pindah ke kota penugasannya, Tara ingin meninggalkan kenangan yang indah bagi keluarga besarnya, termasuk untuk kakak sepupunya itu. Begitulah cara Tara menghadapi perpisahan, dengan bercanda, membuat orang tertawa, lalu diam-diam menyimpan kesedihannya sendiri.
Sayangnya, hati Ratna sudah lebih dulu dipenuhi iri dan dengki. Ketika hati telah dikuasai perasaan semacam itu, candaan terdengar seperti ejekan, perhatian terasa seperti pamer, bahkan ketulusan pun dianggap memiliki maksud tersembunyi. Ratna tidak lagi mampu menangkap niat baik di balik setiap ucapan Tara. Semua perkataan sepupunya itu ia masukkan ke dalam hati, diputar berulang-ulang di dalam pikirannya, hingga perlahan berubah menjadi luka yang sebenarnya ia ciptakan sendiri.
Padahal Tara tetaplah Tara. Gadis yang sejak kecil terbiasa menertawakan kesulitannya sendiri agar ibunya tidak ikut bersedih. Ia bercanda ketika lelah, tersenyum ketika hatinya rapuh, dan memilih mengalah ketika diperlakukan tidak adil. Namun, bagi seseorang yang sudah memandang dengan kacamata iri, cahaya pun bisa terlihat seperti api yang membakar. Dan sejak saat itu, bukan lagi ucapan Tara yang melukai Ratna, melainkan penyakit hati yang terus ia pelihara hingga membuatnya sulit menikmati kebahagiaan orang lain.
Suasana rumah sudah tinggal keluarga saja, berbagai hidangan pernikahan Tara masih banyak tersisa di atas meja. Nenek memang memesan cukup banyak untuk jaga-jaga dan dibagikan ke tetangga nantinya. Aroma masakan pun masih memenuhi seluruh rumah.
Di tengah keramaian itu, Ratna justru masuk sambil membawa kantong berisi makanan cepat saji.
Nenek Bani yang melihatnya langsung mengernyit. "Lho, Ratna. Kenapa kamu beli makanan?"
Ratna mengangkat kantong plastik itu. "Lapar, ibu nggak masak apapun hari ini."
Nenek menghela napas. "Di rumah sedang banyak makanan."
Ratna menjawab datar. "Aku nggak akan makan apa pun hidangan pernikahan Tara."
Suasana mendadak hening. Beberapa orang yang sedang mengambil makanan langsung menoleh.
Nenek Bani meletakkan sendok di tangannya. "Ratna."
"Hm?"
"Sampai kapan kamu mau bersikap kekanak-kanakan seperti ini?"