NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:985
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Rahasia Tanam yang Terkubur Seratus Tahun

Fajar baru saja menyingsing di lereng Gunung Sumbing ketika mobil Agung dan Larasati tiba di balai desa. Langkah mereka cepat namun tenang, wajah keduanya tidak lagi menunjukkan ketegangan pimpinan perusahaan besar, melainkan kekhawatiran orang tua yang tak sabar memeluk anak-anak mereka. Begitu Lala dan Bagas berlari mendekat, Larasati langsung merangkul keduanya erat, mencium kening masing-masing berulang kali, seolah memastikan mereka benar-benar utuh setelah malam yang penuh kejutan itu.

“Kalian berani sekali,” bisik Agung sambil mengusap rambut keriting Lala yang berantakan tertiup angin gunung. Matanya berbinar campur aduk: marah karena anak-anak mempertaruhkan diri, tapi lebih besar lagi rasa bangganya melihat mereka tidak lari dari tanggung jawab. “Tapi Ayah bangga. Sangat bangga.”

Tak lama kemudian, mobil lain datang membawa Ibu Saras, Aditya, dan Arif. Keluarga besar Saraswati lengkap turun ke desa itu—tanda bahwa mereka tidak akan membiarkan ancaman baru itu merusak sedikit pun apa yang sudah dijaga tiga generasi.

Pagi itu juga, kabar mengejutkan menyebar ke seluruh penjuru desa. Sebuah tenda besar didirikan di lapangan desa, dihiasi spanduk besar bertuliskan: DARMAWAN GROUP MEMBERI BANTUAN MODAL GRATIS BAGI PETANI KOPI SEJAHTERA. Di depan tenda, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tujuh tahun, berpakaian kemeja putih rapi, senyumnya ramah, matanya cerdas namun menyimpan kilatan dingin yang sulit disembunyikan.

Itulah Kevin Darmawan, keponakan tunggal Rama Darmawan, satu-satunya pewaris keluarga Darmawan yang tersisa.

Ia berbicara dengan suara lantang, menggunakan pengeras suara agar terdengar ke seluruh penjuru lapangan:

“Saudara-saudara sekalian! Saya tahu selama ini hasil panen kalian tidak sebanding dengan kerja keras. Harga beli kadang jatuh, cuaca makin tidak menentu, pohon-pohon tua mulai menguning. Keluarga Darmawan dulu memang pernah berselisih dengan keluarga Saraswati. Tapi itu masa lalu! Saya datang membawa perdamaian, membawa bantuan. Modal tanam tanpa bunga, pupuk subsidi, bahkan jaminan beli panen dengan harga dua puluh persen lebih tinggi dari pasar! Syaratnya satu: kalian gunakan bibit unggul kami, dan jual hasil panen hanya pada kami.”

Beberapa warga yang hidupnya pas-pasan tampak tergiur. Mereka berdesak-desakan mendekati meja pendaftaran, tidak peduli bahwa bibit yang ditawarkan itu adalah bibit tiruan Kopi Melati yang kualitasnya jauh di bawah standar.

Saat Kevin sedang asyik berbagi amplop berisi uang muka kepada warga, suara Larasati yang tenang namun tegas memecah keramaian:

“Kalau bantuanmu sungguhan, Kevin, mengapa bibit yang kamu berikan tidak memiliki sertifikat resmi varietas warisan dunia? Mengapa kamu menyuruh orang-orangmu menebang hutan lindung dan mengaku-ngaku sebagai perintah keluarga Saraswati?”

Seluruh lapangan seketika hening. Semua mata beralih ke arah keluarga Saraswati yang berjalan beriringan masuk ke tengah keramaian. Kevin tersenyum lebar, tidak menunjukkan rasa terkejut sedikit pun. Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Agung.

“Kak Agung, Kak Larasati. Akhirnya kita bertemu. Paman saya Rama sudah banyak bercerita soal kalian. Dia bilang kalian adalah lawan yang paling hebat sekaligus paling menyebalkan yang pernah dia hadapi.” Suaranya pelan hanya bisa didengar oleh keluarga itu. “Dia juga berpesan: apa yang dulu kalian rampas dari keluarga kami, sekarang saya yang akan mengambil kembali. Pelan-pelan. Sampai tidak ada yang tersisa.”

Agung tidak menyambut uluran tangan itu. Tatapannya tajam tanpa rasa takut. “Kami tidak pernah merampas apa pun, Kevin. Rama jatuh karena kesalahannya sendiri. Dan kalau kamu mengikuti jejaknya, jalan yang sama akan menantimu.”

Perdebatan panas tak terelakkan. Kevin dengan lihai memutarbalikkan fakta, menuduh keluarga Saraswati hanya memanfaatkan petani untuk keuntungan sendiri, menahan harga beli rendah sementara perusahaan meraup miliaran rupiah dari ekspor. Beberapa warga yang sempat ragu kembali goyah mendengar kata-kata manisnya.

Di tengah keributan itu, Bagas tiba-tiba menarik lengan baju Ayahnya pelan. Wajah anak itu bersinar penuh semangat, tangannya memegang buku catatan tua peninggalan kakek buyut yang halamannya sudah menguning.

“Ayah, aku temukan ini semalam. Di halaman paling belakang yang hampir robek. Ada catatan cara tanam rahasia yang dipakai kakek buyut kita seratus tahun lalu.”

Saat suasana mulai memanas, Lala melompat ke atas sebuah batu besar di pinggir lapangan, mengangkat kedua tangannya meminta perhatian semua orang. Suaranya yang lantang namun tulus terdengar jelas:

“Warga sekalian! Bapak Kevin bilang dia mau menyejahterakan kita. Tapi coba pikir: kenapa bantuan besar itu datang cuma sekarang, pas nama kopi kita sudah terkenal di seluruh dunia? Kenapa bibitnya tidak boleh diperiksa oleh siapa pun? Kalian mau hasil panen kalian nanti tidak laku karena pasar tahu itu palsu? Atau kalian mau tetap menjaga nama baik kopi asli leluhur kita, yang harganya akan makin tinggi karena kualitasnya tidak ada tandingannya?”

Sari yang tadi sempat tertegun akhirnya melangkah maju ke tengah lapangan. Ia menceritakan semuanya: bagaimana Kevin menawar biaya operasi adiknya untuk memata-matai desa, bagaimana kelompok itu menebang hutan, bagaimana mereka berencana menjual kopi palsu dengan harga murah sampai kopi asli hancur harganya. Satu per satu warga yang tadinya antre mendaftar mundur perlahan, wajah mereka penuh kemarahan karena sudah dimanfaatkan.

Kevin tampak mulai terdesak, tapi ia tidak mau menyerah begitu saja. Ia tertawa sinis:

“Omong kosong semua! Kalian cuma takut bersaing! Lagipula, pohon kopi kalian mulai banyak yang mati karena cuaca makin panas. Dalam lima tahun lagi, tidak akan ada lagi Kopi Melati asli yang tersisa. Saat itulah kalian akan datang merangkak meminta bantuan padaku!”

Saat itu juga, Bagas maju ke depan, membuka buku catatan tuanya di atas meja. Suaranya pelan tapi didengarkan semua orang:

“Kevin salah. Kakek buyut kita sudah mengatasi masalah yang sama seratus tahun lalu. Dulu pernah terjadi kemarau panjang selama tiga tahun, hampir semua pohon kopi mati. Tapi dia menemukan caranya: sistem tanam tumpangsari tiga lapis. Kopi ditanam di tengah, di sekelilingnya ditanami pohon pelindung asli gunung ini yang akarnya dalam menyimpan air, dan di bawahnya ditanami tanaman obat atau sayuran yang menjaga kelembapan tanah. Catatannya bilang cara ini tidak hanya bikin pohon tahan kekeringan, tapi juga membuat aroma biji kopinya makin kuat, ada rasa khas yang tidak bisa ditiru oleh bibit apa pun—bahkan oleh klon sekalipun.”

Arif yang mendengarkan segera memeriksa catatan itu dengan saksama. Sebagai arsitek yang juga paham soal lingkungan, matanya berbinar takjub. “Ini masuk akal secara ilmiah! Akar pohon pelindung akan menahan air tanah lebih lama, naungannya menjaga suhu tanah tetap sejuk, dan keanekaragaman tanaman itu mencegah hama menyebar cepat. Ini pertanian berkelanjutan yang paling canggih, tapi diajarkan leluhur kita satu abad yang lalu!”

Malam itu, setelah Kevin pergi dengan wajah muram meninggalkan desa, seluruh warga berkumpul di balai desa. Mereka tidak lagi ragu. Di pimpinan Agung dan Larasati, dengan bimbingan Bagas yang menjelaskan cara tanam rahasia itu perlahan-lahan, dan Lala yang mengatur pembagian tugas antarwarga, mereka sepakat memulai gerakan besar-besaran keesokan harinya: menanam kembali pohon pelindung di hutan lindung yang rusak, menerapkan sistem tumpangsari di setiap kebun, dan membentuk kelompok pengawas desa yang berjaga bergiliran siang dan malam agar tidak ada lagi orang asing yang berani merusak wilayah mereka.

Sementara itu, Sari mendapatkan kabar gembira: tim medis perusahaan sudah datang menjemput adiknya untuk dioperasi di rumah sakit terbaik di kota, seluruh biaya ditanggung sepenuhnya oleh program kemanusiaan keluarga Saraswati. Perempuan itu menangis haru, berjanji akan mengabdikan dirinya membantu menjaga kebun dan hutan desa seumur hidup.

Malam itu juga, di sebuah penginapan mewah di kota bawah gunung, Kevin membanting ponselnya ke dinding sampai hancur berkeping-keping. Rencananya yang sudah disusun bertahun-tahun hancur hanya dalam satu hari karena dua remaja dan sebuah catatan tua berdebu. Ia menatap foto lama pamannya Rama yang tergantung di dinding, lalu menggertakkan gigi.

“Kalian menang putaran ini, Saraswati,” gumamnya dingin. “Tapi permainan baru saja dimulai. Kalau kalian mau bermain dengan aturan leluhur, mari kita lihat siapa yang lebih tahu cara memanfaatkan kelemahan masa lalu keluarga kalian sendiri.”

Ia menekan nomor di ponsel baru. Di ujung telepon, suara seorang pria tua yang tidak dikenal menjawab dengan suara parau:

“Gimana, Nak? Sudah siap membongkar rahasia terbesar keluarga Saraswati yang bahkan Bu Wulan sendiri sampai mati pun takut mengungkapnya?”

Kevin tersenyum sinis, matanya berkilat penuh dendam yang makin menyala.

“Siap. Ayo mulai. Kali ini kita serang bukan dari luar. Kita hancurkan mereka dari dalam, dari luka paling dalam yang tidak pernah sembuh.”

Di lereng gunung yang tenang, keluarga Saraswati tidak tahu bahwa badai yang sesungguhnya belum datang. Bahwa di balik kemenangan kecil hari ini, tersimpan sebuah rahasia kelam masa lalu yang jika terbongkar, bukan hanya perusahaan yang bisa hancur—tapi juga persatuan keluarga yang mereka bangun dengan susah payah selama puluhan tahun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!