NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4 : Pandangannya

Sulastri menatap layar ponselnya dengan senyum puas. Beberapa foto yang baru saja diambilnya terlihat sangat meyakinkan. Dari sudut pengambilan gambar, Rudi tampak berdiri begitu dekat dengan Winarsih. Bahkan, saat Winarsih menerima kotak obat, keduanya terlihat seperti sedang saling bertukar hadiah.

"Bagus... bagus sekali."

Tanpa membuang waktu, Sulastri langsung mengirim foto-foto itu kepada Benni melalui aplikasi pesan.

Tak lama kemudian, ponselnya berdering.

"Bu, ini apa?" tanya Benni dari seberang dengan suara bergetar.

Sulastri sengaja menghela napas panjang. "Ibu sebenarnya nggak tega mengirimnya."

"Tapi... itu benar Winarsih?"

"Iya."

"Siapa laki-laki itu?"

"Teman kerjanya, belakangan ini mereka kelihatan dekat sekali."

Benni masih berusaha berpikir jernih. "Mungkin... dia cuma mengobati luka Winarsih."

Sulastri langsung memotong. "Ben, kamu masih saja membelanya?"

"Ibu melihat dengan mata kepala sendiri. Mereka sering mengobrol, tertawa, bahkan laki-laki itu perhatian sekali sama Winarsih."

"Tapi...."

"Ibu juga perempuan, Ben. Ibu tahu kalau perhatian seorang laki-laki itu bukan tanpa alasan."

Ucapan itu membuat Benni terdiam. Perlahan, rasa percaya yang selama ini ia simpan mulai runtuh. Sulastri tahu putranya mulai goyah.

Ia pun menambahkan racun terakhir. "Kalau kamu tidak percaya, coba telepon Winarsih sekarang."

Benni menggenggam ponselnya erat. "Aku tidak tahu nomernya, Bu."

"Nah, itu dia. Kenapa dia tidak pernah berusaha menghubungimu? Karena dia sudah sibuk dengan laki-laki lain."

Kalimat itu menghantam hati Benni. Tanpa sadar, emosinya mulai menguasai pikirannya. "Kalau memang begitu..." ucapnya lirih.

Sulastri menyunggingkan senyum tipis. "Iya, Nak?"

"Aku akan mencari tahu sendiri."

Sulastri langsung pura-pura menangis untuk mengalihkan perhatian Benni. "Ibu cuma tidak ingin kamu dipermainkan. Kamu sudah bekerja banting tulang di negeri orang, tapi istrimu...."

"Cukup, Bu!" Suara Benni meninggi untuk pertama kalinya. Dadanya naik turun menahan amarah. "Kalau semua ini benar... aku tidak akan memaafkannya."

Sulastri mematikan telepon dengan sudut bibir yang terangkat puas. "Berhasil."

Di saat yang sama, Winarsih sedang duduk sendirian di belakang pabrik sambil mengoleskan obat merah pada luka di lututnya. Ia sama sekali tidak tahu bahwa, ribuan kilometer jauhnya di Jepang, suaminya baru saja mulai kehilangan kepercayaan kepadanya.

Sementara Sulastri menatap langit sore dengan senyum kemenangan. "Tunggu saja, Winarsih. Sebentar lagi kamu bukan cuma kehilangan uang kiriman dari Benni. Tapi juga akan kehilangan statusmu sebagai istrinya."

Beberapa hari berlalu.

Fitnah yang ditanamkan Sulastri perlahan terus menggerogoti hati Benni. Hampir setiap malam, perempuan itu menghubungi putranya di Jepang, menceritakan kebohongan demi kebohongan.

"Ben, tadi Winarsih pulangnya hampir magrib. Laki-laki itu masih sering mengantarnya sampai depan pabrik. Ibu sudah berusaha menasihatinya, tapi dia malah membantah."

Semua cerita itu hanyalah karangan Sulastri. Namun karena berada ribuan kilometer jauhnya, Benni tidak memiliki cara untuk memastikan kebenarannya.

Di sisi lain...

Winarsih tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Pagi bekerja di pabrik roti, sore membantu membersihkan tempat produksi, lalu malam pulang ke rumah dengan tubuh yang lelah.

Setiap kali sampai di rumah, ia masih berharap Sulastri akan berubah. Namun harapan itu selalu pupus.

"Kenapa baru pulang?" bentak Sulastri sambil melipat tangganya di dada dan matanya melotot.

"Tadi ada pesanan roti yang harus diselesaikan dulu, Bu," jawab Winarsih sambil menunduk.

"Alasan!"

Winarsih memilih diam, ia sudah terlalu lelah untuk membantah. Kini ia masuk kedalam kamarnya, tanpa memikirkan ucapan mertuanya itu.

Malam itu, ponsel Sulastri kembali berdering. Benni menghubunginya.

"Bu... aku sudah tidak kuat."

"Kamu kenapa, Nak?" tanya Sulastri.

"Aku terus memikirkan foto-foto itu."

Sulastri berpura-pura mengusap air mata. "Ibu juga sedih melihat rumah tanggamu begini."

Benni menarik napas panjang. "Kalau memang Winarsih sudah berubah..." Ia menghentikan ucapannya beberapa saat. "Lebih baik hubungan ini diakhiri saja."

Mata Sulastri langsung berbinar. Meski begitu, ia tetap memasang nada sedih. "Jangan terburu-buru mengambil keputusan, Ben."

"Aku sudah memikirkannya baik-baik."

"Lalu... apa yang akan kamu lakukan?"

Benni memejamkan mata. "Besok aku akan mengirim surat."

"Surat?"

"Iya."

"Aku akan menceraikan Winarsih."

Sulastri menutup mulutnya agar tawa kemenangannya tidak terdengar. "Ibu... sebenarnya masih berharap kalian bisa baik-baik saja."

"Tidak perlu, Bu." Suara Benni terdengar dingin.

"Aku tidak mau punya istri yang mengkhianatiku."

Telepon pun berakhir.

Begitu sambungan terputus, Sulastri tertawa pelan di dalam kamarnya. "Hahaha... akhirnya aku berhasil."

Sementara itu...

Di kamar sempitnya, Winarsih masih duduk di tepi ranjang sambil menjahit kancing bajunya yang lepas. Sesekali ia menatap foto pernikahannya dengan Benni yang tergantung di dinding.

"Mas..." ia tersenyum tipis. "Aku harap Mas selalu sehat di sana."

Winarsih sama sekali tidak menyadari bahwa, di saat ia sedang merindukan suaminya, Benni justru telah mengambil keputusan yang akan menghancurkan seluruh hidupnya.

***

Keesokan paginya, Winarsih kembali berangkat mengantar pesanan roti. Berbeda dengan hari sebelumnya, perjalanan menuju Puskesmas Sekar Sari kali ini berjalan lancar.

Ia mengayuh sepedanya perlahan sambil sesekali merasakan perih di lutut yang masih lecet, tetapi semangatnya untuk bekerja tidak berkurang sedikit pun.

Beberapa menit kemudian, ia tiba di halaman puskesmas. Winarsih menurunkan keranjang rotinya, lalu melangkah masuk dengan hati-hati.

Belum sempat ia memanggil seseorang, dari arah lorong muncul sosok Dokter Arga yang baru selesai memeriksa pasien.

Mata keduanya bertemu sesaat. Winarsih langsung menundukkan pandangannya.

"Maaf, Dok... saya mau mengantar roti," ucapnya pelan.

Arga tersenyum tipis. "Oh... ternyata Mbak Winarsih."

Ia baru saja hendak mengatakan sesuatu ketika suara riang terdengar dari belakang.

"Hei, Mbak!" panggil Desi sambil berjalan menghampiri.

"Iya, Mbak."

"Ini roti dari Juragan Warso, ya?"

"Iya."

"Wah, masih hangat." Desi langsung mengambil satu bungkus roti dan menghirup aromanya. "Hmmm... harum sekali, jadi bikin lapar."

Winarsih tersenyum kecil melihat tingkah perawat itu.

"Uangnya seperti biasa, nanti saya langsung dikirim ke Juragan Warso, ya."

"Siap, Mbak."

"Kalau begitu, saya bawa dulu rotinya." Desi segera mengangkat keranjang itu dan membawanya ke ruang staf.

"Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Winarsih sopan.

Baru saja ia berbalik hendak pergi, suara Arga menghentikan langkahnya. "Mbak Winarsih."

Winarsih menoleh pelan.

"Lukanya... bagaimana? Sudah membaik?"

Winarsih tanpa sadar melihat siku dan lututnya yang kini sudah dibalut plester. "Sudah jauh lebih baik, Dok. Terima kasih."

"Syukurlah."

Suasana mendadak hening.

Winarsih merasa canggung. Ia hanya menggenggam ujung bajunya sambil sesekali menundukkan kepala.

"Saya benar-benar minta maaf soal kejadian kemarin," ujar Arga tulus.

"Tidak apa-apa, Dok. Itu juga bukan sepenuhnya salah Dokter."

Arga tersenyum lega mendengar jawaban itu. "Kalau begitu... hati-hati di jalan."

"Iya, Dok."

Winarsih membungkukkan badan sedikit sebagai tanda pamit, lalu berjalan keluar dari puskesmas. Entah mengapa, pandangan Arga terus mengikuti langkah gadis desa itu hingga menghilang di balik gerbang.

Desi yang baru kembali dari ruang staf memperhatikan atasannya yang masih berdiri memandang ke luar.

Ia menyeringai jahil. "Dok..."

Arga tersadar dari lamunannya. "Iya?"

"Dokter ngelihatin Mbak itu terus dari tadi."

Arga langsung berdeham pelan. "Nggak juga."

"Hem... masa sih, Dok?" goda Desi sambil menahan tawa.

Arga hanya menggeleng kecil, tetapi tanpa ia sadari, senyum tipis masih menghiasi wajahnya. Di dalam hatinya, ada perasaan yang sulit dijelaskan setiap kali melihat gadis sederhana bernama Winarsih itu.

Dokter Arga Pratama

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!