aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 - Janji di Bawah Bayangan Gunung
"Siapa sebenarnya gurumu sebelum bertemu denganku?"
Pertanyaan itu melayang di udara, membelah keheningan gubuk tua di tepi hutan. Chou Tian berdiri tegak, memotong garis cahaya mentari pagi yang masuk dari celah dinding bambu. Matanya yang tajam menatap lurus pada bocah empat tahun di hadapannya.
Sun Chen menundukkan kepala. Ia bisa merasakan tekanan halus yang keluar dari tubuh pria tua itu, sebuah keberadaan kental milik seorang ahli yang kenyang pengalaman bertarung. Namun, jiwa seorang jenderal yang pernah mengarungi ribuan pertempuran tidak mudah goyah. Sun Chen menarik napas pendek, lalu mendongak perlahan.
"Saya tidak memiliki guru," ujar Sun Chen. Suaranya jernih, tanpa getaran sedikit pun. "Di desa saya dulu, ada beberapa pengawal yang sering berlatih di alun-alun. Saya hanya sering mengamati, mengingat, dan menirunya sendiri."
Chou Tian menyipitkan mata. Kerutan di dahi pria paruh baya itu semakin dalam, menandakan ketidakpercayaan yang nyata. Mana mungkin seorang anak balita mampu menirukan teknik tinju yang presisi hanya dengan melihat pengawal desa? Namun, ketika ia mencari celah keraguan atau gestur gelisah dari wajah anak itu, ia tidak menemukan apa pun. Sorot mata Sun Chen jujur, begitu dalam, dan sedingin telaga purba.
"Berdiri," perintah Chou Tian pendek.
Sun Chen segera menaati perintah itu. Ia mengabaikan rasa perih di telapak tangannya yang terluka akibat menahan napas dan cengkeraman batu sebelumnya.
Chou Tian melangkah memutar, melipat kedua tangannya di belakang punggung. "Katakan padaku, Nak. Mengapa kau begitu ingin menjadi kuat?"
"Kekuatan adalah alat," jawab Sun Chen tanpa ragu. Ia tidak memiringkan kepalanya atau ragu-ragu mencari kata yang disukai orang dewasa. "Kekuatan dibutuhkan untuk melindungi apa yang tersisa, dan untuk membalas mereka yang telah menghancurkan hidup saya."
Chou Tian menghentikan langkahnya. Matanya membesar sedikit. Jawaban itu terlalu dingin, terlalu matang untuk diucapkan oleh anak seusia Sun Chen. Pria tua itu menangkap kilatan kabut hitam di kedalaman pupil mata Sun Chen. Kebencian yang amat sangat, dendam yang pekat, tetapi di atas semua itu, ada tekad membara yang tak tergoncangkan.
"Dan jika suatu hari kau memiliki kekuatan tertinggi di dunia ini," lanjut Chou Tian, "apa yang akan kau lakukan?"
"Saya akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa memaksakan kehendaknya pada saya lagi," balas Sun Chen. "Seorang pendekar sejati bukan mereka yang bersembunyi di balik gelar suci, melainkan mereka yang mampu berdiri tegak di atas takdirnya sendiri."
Suasana mendadak hening. Chou Tian menatap Sun Chen lama sekali. Ada rasa ngeri yang berseliweran di benaknya saat mendengar jawaban itu, tetapi pada saat yang sama, dadanya bergemuruh. Anak ini bukan sekadar bocah biasa yang selamat dari pembantaian. Ia adalah benih liar yang jika ditempa dengan benar, bisa membelah langit.
"Nama saya Chou Tian," ucap pria tua itu akhirnya, merobek kesunyian. "Hanya seorang pengembara tua tanpa sekte."
Sun Chen menunduk penuh hormat, tetapi dalam hatinya, sebuah nama legendaris berulang kali bergema. *Chou Tian. Setan Tinju.* Pendekar tunggal yang di kehidupan masa lalunya terkenal menghancurkan tiga cabang sekte sesat sendirian hanya dengan sepasang tangan kosong.
"Puluhan tahun lalu," lanjut Chou Tian dengan nada suara yang perlahan melunak, menyisakan kepahitan, "seluruh klan saya hancur. Diberantas sampai ke akar-akarnya karena perebutan kitab pusaka. Sejak hari itu, saya mengembara sendirian. Saya bersumpah tidak akan pernah mengambil murid, karena saya tidak ingin teknik berdarah klan saya jatuh ke tangan yang salah dan mengulang tragedi yang sama."
Chou Tian melangkah mendekati Sun Chen, lalu berlutut dengan satu kaki hingga pandangan mereka sejajar.
"Menerima murid berarti menyerahkan seluruh beban klan ini ke pundakmu," kata Chou Tian, suaranya terdengar amat berat. "Oleh karena itu, ada syarat yang tidak boleh kau langgar sampai matimu."
Sun Chen menatap mata gurunya tanpa berkedip. "Katakan, Guru."
"Pertama, jangan pernah menyalahgunakan ilmu ini untuk membantai mereka yang lemah dan tidak berdaya," tegak Chou Tian. "Kedua, jangan pernah mengkhianati gurumu sendiri. Dan ketiga, selamanya jangan pernah melupakan hati nuranimu demi mengejar kekuatan instan."
Kata-kata itu meresap ke dalam dada Sun Chen. Di kehidupan sebelumnya, ia mengabaikan semua aturan moral demi bertahan hidup di dalam Kultus Demonic. Ia menyerap tenaga instan, mengorbankan fondasi tubuh, dan berakhir dikhianati di tepi jurang. Kali ini, jalannya akan berbeda.
"Saya, Sun Chen, bersumpah di hadapan Langit dan Bumi," ucap Sun Chen perlahan, menyatukan kedua tangannya. "Saya akan memegang teguh tiga syarat ini."
Di dalam hatinya, Sun Chen menambahkan satu kalimat dengan dingin. *Aku tidak akan membantai yang lemah, tetapi mereka yang menghancurkan keluargaku akan kubayar tuntas dengan darah.*
"Bagus," gumam Chou Tian. Pria itu menghentakkan jubahnya, lalu duduk bersila di atas lantai tanah. "Lakukan upacaranya."
Tanpa perlu diajari lagi, Sun Chen berlutut. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam hingga dahi menyentuh tanah yang dingin. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Setiap sentuhan dahinya ke tanah diiringi oleh kesadaran baru bahwa ia tidak lagi sendirian di dunia yang kejam ini.
Chou Tian mengulurkan tangan mulusnya yang berkulit kasar, memegang bahu kecil Sun Chen dan mengangkatnya berdiri. "Mulai hari ini, kau adalah murid pertama sekaligus murid terakhirku."
Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dalam kereta budak yang kotor, Sun Chen merasakan gelombang kehangatan yang asing mengaliri dadanya. Di kehidupan masa lalunya, para petinggi Kultus Demonic hanya melihatnya sebagai alat atau bidak pertempuran. Namun kini, di depan pria tua bernama Chou Tian ini, ia kembali diperlakukan sebagai seorang manusia.
"Kemarikan tanganmu," panggil Chou Tian seraya mengambil sebuah wadah kayu kecil dari balik lipatan jubahnya.
Sun Chen mengulurkan tangan kanannya yang tergores dalam. Chou Tian mengambil sedikit salep berwarna hijau gelap yang berbau harum obat-obatan hutan, lalu mengoleskannya dengan sangat hati-hati ke telapak tangan Sun Chen.
Rasa dingin yang menyegarkan segera menggantikan rasa panas terbakar pada lukanya.
"Sebelum kau memikirkan cara memukul musuh," ujar Chou Tian sambil membalut tangan Sun Chen menggunakan kain bersih, "kau harus memahami fondasi raga terlebih dahulu. Jika fondasimu retak, semakin tinggi tenaga dalam yang kau himpun, semakin cepat tubuhmu hancur dari dalam."
Sun Chen mendengarkan setiap kata itu dengan penuh rasa hormat. Penjelasan sang guru menampar kesadarannya. Inilah kesalahan fatal di kehidupan lalunya. Kultus Demonic memaksanya meminum ramuan pemicu dan menyerap energi secara ganas sejak kecil. Hasilnya memang luar biasa dalam waktu singkat, tetapi fondasinya cacat tajam, membuatnya tertahan di puncak Ahli dan tidak pernah bisa menembus tingkat Suci.
"Ayo," ajak Chou Tian seraya berdiri dan berjalan keluar dari gubuk. "Kita pindah ke tempat yang lebih sesuai."
Sun Chen segera melangkah menyusul di belakang. Mereka menyusuri celah-celah tebing dan menembus belantara pegunungan yang rapat. Di sepanjang jalan, Chou Tian mengoreksi cara berjalan Sun Chen.
"Jangan menumpu pada tumitmu," tegur Chou Tian tanpa menoleh. "Tekan sedikit jarimu ke tanah. Biarkan pinggulmu memimpin gerakan, bukan dadamu. Bernapaslah mengikuti ritme dua langkah sekali hela."
Sun Chen mencobanya. Awalnya terasa aneh dan canggung untuk tubuh anak kecil ini. Namun, setelah beberapa ratus meter, ia menyadari keajaibannya. Rasa lelah di kakinya berkurang drastis, dan setiap langkahnya menjadi jauh lebih stabil.
Ini bukan sekadar cara berjalan biasa, batin Sun Chen terkagum-kagum. Ini adalah fondasi dari teknik meringankan tubuh tingkat tinggi.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka tiba di sebuah lembah tersembunyi yang dilingkungi tebing batu raksasa. Sebuah gubuk bambu sederhana berdiri di dekat sungai kecil yang jernih.
Di halaman gubuk itu, teronggok berbagai peralatan yang tampak tidak asing bagi Sun Chen. Ada puluhan batu kali berukuran raksasa, tiang-tiang kayu keras yang ditanam ke tanah dengan ketinggian berbeda, serta sebuah air terjun kecil yang mengalir deras dari atas tebing batu.
Chou Tian menunjuk ke arah batu-batu raksasa itu. "Selama tiga tahun ke depan, aku tidak akan mengajarimu satu pun jurus tinju atau teknik tempur."
Sun Chen mengangguk tenang, mendengarkan.
"Latihanmu setiap hari hanya membawa batu, melompati tiang kayu, dan berdiri di bawah kucuran air terjun itu untuk mengatur napas," kata Chou Tian, menatap muridnya untuk melihat apakah ada rasa kecewa di wajah anak itu. "Apakah kau keberatan?"
"Tidak, Guru," jawab Sun Chen mantap.
Senyum tipis akhirnya terukir di bibir Chou Tian yang biasanya kaku. Ia mengangguk puas. Jika anak lain diberi latihan seperti ini, mereka pasti akan mengeluh bosan atau menganggapnya sebagai penderitaan tanpa guna. Namun, Sun Chen justru melihat latihan fisik brutal ini sebagai emas murni. Ia sedang membangun fondasi raga terkuat yang pernah ada di Benua Tengah.
Malam pun jatuh memeluk lembah tersembunyi itu. Suara jangkrik dan gemericik air terjun menjadi musik alami yang menemani keheningan malam. Di dalam gubuk, napas teratur Chou Tian menandakan sang guru telah tertidur lelap setelah seharian beraktivitas.
Di luar gubuk, Sun Chen duduk bersila di atas sebuah batu datar yang dingin. Matanya terpejam rapat. Ia membiarkan angin malam membelai wajahnya, mengatur napas sesuai dengan ritme dasar yang diajarkan Chou Tian tadi siang.
Namun, saat Sun Chen mencoba menyelami lautan kesadarannya untuk membersihkan pikiran, ruang gelap di dalam batinnya mendadak bergetar halus.
Suasana di dalam kesadarannya bergolak. Kegelapan di sana tidak lagi sunyi, melainkan berguncang pelan seolah ada makhluk raksasa yang terbangun dari tidur ribuan tahunnya. Dari kedalaman yang tak terjangkau, sebuah suara bergaung pelan, begitu samar tetapi sanggup menggetarkan jiwa Sun Chen.
"Kau telah memilih jalan yang berbeda..."
Napas Sun Chen tertahan di dalam meditasi.
Di dalam lautan kesadarannya yang gelap gulita, sebuah cahaya redup berwarna ungu kehitaman perlahan menyala. Dari balik cahaya itu, muncul seserak bayangan bersisik tipis yang melayang anggun. Sisik naga hitam.
Benda itu memancarkan aura purba yang sangat pekat, berputar perlahan di tengah lautan kesadaran Sun Chen. Setiap putarannya seolah membuka lipatan pengetahuan terlarang yang pernah dijanjikan sosok raksasa di dasar jurang waktu itu. Warisan purba Kitab Naga Hitam tahap paling dasar perlahan-lahan mulai memperlihatkan wujudnya di hadapan Sun Chen.