NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

****

Suara riuh amarah warga mengagumi keheningan siang Desa Hulu Rawa. Dua orang pemuda desa memegangi kedua lengan Melani dengan ikatan tali ijuk yang melilit pelan di pergelangan tangannya. Bidan muda berwajah manis itu diseret menuju pelataran Rumah Adat. Kain tenun biru yang melekat di tubuhnya tampak sedikit kusut, sementara rambut hitamnya terurai acak tertiup angin.

Di pelataran tanah yang luas, ratusan warga telah berkumpul. Suasana begitu mencekam. Di atas teras Rumah Adat, duduk melingkar para tetua senior berambut perak, diapit oleh Bi Naya yang berdiri menopang tubuhnya pada tongkat kayu dengan senyum kemenangan terselubung.

Tepat di tengah teras, berdiri sosok Rangga Wira. Pria tegap berparas tampan itu mengenakan kain adat kebesarannya, berdiri bagai tiang karang di tengah badai amarah warganya. Namun, di balik sorot matanya yang sehitam malam dan tak bergelombang, ada kilat kecemasan yang amat dalam saat melihat Melani dituntun paksa ke hadapannya.

"Lepaskan dia!" bentak Rangga Wira dengan suara baritonnya yang menggelegar, seketika membungkam teriakan warga di pelataran.

Dua pemuda yang memegang Melani tersentak kaget dan refleks melepas cengkeraman mereka. Melani berdiri menyapu pergelangan tangannya yang sedikit memerah, lalu mendongak menatap lurus ke arah Rangga Wira.

"Ki Rangga!" teriak Bi Naya melangkah maju ke depan teras, menyuarakan provokasi. "Perempuan kota ini telah meracuni anak-anak Hulu Rawa! Obat-obatan kimianya telah mengutuk tanah kita! Belasan anak kini terbaring sekarat di Pustu! Hukum adat harus ditegakkan!"

"Benar, Ki Rangga! Serahkan dia pada hukum adat! Usir dia dari tanah ini!" seru Sutan dari barisan depan warga, memancing emosi massa.

Mbah Baya, tetua senior berjanggut putih, mengelus janggutnya dan menatap Rangga Wira dengan raut tegang. "Ki Rangga, sebagai Ketua Adat, Kamu tidak boleh membiarkan keselamatan warga terancam oleh orang asing. Anak-anak adalah masa depan suku kita. Jika benar obat-obatannya adalah racun, hukuman berat harus dijatuhkan."

Rangga Wira menatap para tetua, lalu menurunkan pandangannya tepat pada Melani yang berdiri sendirian di bawah tangga.

"Bidan Melani," panggil Rangga dengan suara datar, mencoba menjaga netralitas posisinya sebagai pemimpin adat. "Di hadapan seluruh warga dan para tetua Hulu Rawa... apa jawabanmu atas tuduhan ini?"

Melani menarik napas panjang, menetralkan gemuruh ketakutan di dadanya. Wajah cantiknya tak lagi menyiratkan kepanikan, melainkan keberanian murni seorang tenaga medis profesional. Ia melangkah satu anak tangga mendekati teras, menatap seluruh warga tanpa rasa gentar.

"Saya adalah seorang tenaga kesehatan," ujar Melani, suaranya jernih dan lantang membelah keheningan. "Pendidikan saya mengajari saya untuk berpikir logis dan berdasar bukti nyata. Saya sangat menghormati adat istiadat dan tradisi yang dipelihara di tanah ini, dan saya sama sekali tidak ada niat untuk merusak atau menggantikannya!"

Melani mengedarkan pandangannya ke arah para ibu yang menangis meratapi anak-anak mereka.

"Saya tahu anak-anak yang lahir dan tumbuh di Hulu Rawa adalah anak-anak yang kuat. Tidak mungkin kondisi kritis seperti ini terjadi tanpa ada sebab yang jelas. Kejadian ini berlangsung sangat cepat dan mendadak, menyerang belasan anak sekaligus dalam kurun waktu yang bersamaan!" tegas Melani.

Ia membalikkan badan dan menunjuk tepat ke arah Bi Naya. "Muntah hebat, demam tinggi, dan kejang perut akut dalam waktu sesingkat ini bukanlah reaksi dari vitamin atau obat medis yang saya berikan dua hari lalu! Ini adalah racun yang masuk secara masif dari zat luar—bisa dari makanan atau sumber air yang dikonsumsi bersama-sama!"

"Bohong!" pekik Bi Naya dengan wajah memerah. "Kamu hanya mencari alasan untuk menyelamatkan lehermu sendiri, Perempuan Kota!"

"Cukup, Bi Naya!" potong Rangga Wira tegas, melangkah turun beberapa anak tangga hingga berdiri sejajar dengan Melani.

Rangga Wira berdiri tegak di samping Melani. Ia menatap warganya yang masih dipenuhi gejolak emosi. Sebagai Ketua Adat, ia tahu posisinya tidak boleh memihak tanpa bukti dasar. Namun, tanggung jawab utamanya bukanlah sekadar menjatuhkan hukuman, melainkan memastikan keselamatan seluruh rakyatnya.

"Wargaku sekalian! Para tetua yang saya hormati!" suara Rangga bergema penuh otoritas. "Sebagai Ketua Adat, saya tidak berdiri di sini untuk membela siapa pun secara buta. Yang terpenting bagi saya detik ini bukanlah menghakimi seseorang, melainkan memastikan anak-anak kita yang sedang terbaring sakit bisa selamat dan pulih kembali!"

Rangga berpaling menatap Mbah Baya dan Bi Naya.

"Jika kita menjatuhkan sanksi adat atau mengusir Bidan Melani detik ini juga, apakah anak-anak kita akan seketika sembuh? Tidak!" tegas Rangga. "Menghukum orang yang belum tentu bersalah hanya akan menutupi sumber bahaya yang sebenarnya!"

"Lalu apa mau Ki Rangga?" tanya Sutan dengan nada tak puas.

Rangga Wira menyilangkan tangannya di dada, tatapannya menyapu seluruh pelataran.

"Saya menggunakan hak tertinggi saya sebagai Ketua Adat untuk menunda persidangan ini!" seru Rangga Wira. "Saya memberikan waktu dua puluh empat jam kepada Bidan Melani dan diri saya sendiri untuk mencari dan membuktikan dari mana asal racun yang sebenarnya!"

Suasana pelataran seketika gempar. Bi Naya membelalak tak percaya.

"Dua puluh empat jam, Ki Rangga?!" protes Bi Naya histeris. "Bagaimana kalau dalam dua puluh empat jam itu anak-anak kita mati?!"

"Bidan Melani akan tetap memberikan perawatan darurat kepada anak-anak di Pustu di bawah pengawasan ketat saya!" tangkis Rangga Wira tanpa kompromi. "Jika dalam dua puluh empat jam racun sebenarnya tidak ditemukan atau kondisi anak-anak tidak membaik... saya sendiri yang akan menyerahkan Bidan Melani untuk menerima sanksi adat tertinggi!"

Melani menoleh cepat, menatap garis wajah Rangga Wira dari samping. Pertaruhan pria itu begitu besar—Rangga mempertaruhkan reputasinya sebagai Ketua Adat demi memberinya kesempatan dan menyelamatkan anak-anak desa.

Mbah Baya mengangguk lambat. "Keputusan Ki Rangga adil dan bijaksana. Kita beri waktu dua puluh empat jam sampai matahari terbit besok pagi."

Bi Naya mengepalkan tangannya rapat-rapat, mengutuk dalam hati sementara Sutan di sebelahnya tampak gelisah.

Rangga Wira memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata jernih Melani yang berkilau di bawah terik matahari.

"Dua puluh empat jam, Melani," bisik Rangga pelan, hanya cukup didengar oleh gadis di sebelahnya. Ada kelembutan terselubung di balik intonasi suaranya yang berat. "Buktikan padaku dan pada seluruh desa ini bahwa kepercayaan yang kuberikan padamu tidak salah."

Melani menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan keberanian dan rasa terima kasih. "Terima kasih, Pak Rangga. Saya tidak akan mengecewakanmu."

Bersambung..

hai man temennn, bagaimana cerita terbaru dari author yang satu ini, apakah kalian menyukai? Hehehe.....

Komen, kritik dan saran yang banyak yaa buat author

Loppp you sekebonnn ❤️❤️🥰❤️😚🫶

1
Apis
knp g di jelasin jg kejahatan pramono lainya thor kaya ke Melani dendamnya karna Melani menolak di nikah sirih jd istri ke 2 biar tambah malu sekalian jd tambah seru biar di rujak sama istrinya 😄
neng ade
akhirnya di tindak tegas juga itu pak Pramono..
Nurul Boed
ceritanya beda dgn novel yang lain,, bagus kak,,, semangat up ya kak 😍😍
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
neng ade
up yang banyak dong thor 🙏
Apis
dramanya jngn berat" ya thor tipis" aj kalo manis"nya baru boleh bnyk 😄
nunik rahyuni
klo menikah aoa cuma di drsa hulu rawa sj...g ke kampung melani dlu baru di boyong je desa suami...masa melani di tinggal di hulu rawa
neng ade
menunggu acara upacara pelaminan adat Hulu Rawa
Kusii Yaati
pejabat Pramono harus di tindak lanjuti itu, laporkan saja biar di pecat 😡
neng ade
selamat untuk Rangga dan Melani karena udah dapat restu dari ayahnya Melani
neng ade
Sutan harus dihukum bersama orang yang menyuruh nya
dika edsel
keren ceritanya...,bintang lima untukmu thor🌟
Kusii Yaati
semangat pak ketua,raih restu keluarga calon Bu ketua suku...ku doa' kan lancar...💪😘
pasti lancar ya Thor 🤭
neng ade
Rangga dan Melani semoga keduanya mendapatkan restu dari kedua orang tua Melani ❤️
Kusii Yaati
dua duanya tapi yang paling berat akan berpisah dengan pak ketua suku 🤭
neng ade
Melani takut karena harus berpisah dengan mu Rangga 😊
Apis
duh pak rangga udah mulai ter ter Melaniku nich 🤣🤣🤣🤣
neng ade
manis dan romantis yang indah dan syahdu ❤️
neng ade
setelah itu akan ada pernikahan adat antara Rangga dan Melani
neng ade
Alhamdulillah.. ..🤲
neng ade
Rangga dan Melani berjodoh .. mereka berdua akhirnya bisa menangkap basah Sutan dengan barang bukti yang ada di tangan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!