MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~APARTEMEN YANG DINGIN
Setelah diantar pulang Seo Jun pagi tadi, Disya berdiri diam di tengah ruang tamu. Pintu tertutup rapat, menyisakan keheningan pekat. Ia menatap sekeliling: lantai marmer berkilau, jendela kaca besar membiarkan cahaya matahari masuk, perabotan kulit gelap tampak empuk dan mahal. Di sudut ada televisi layar lebar, lukisan bernilai tinggi di dinding, dan rak kaca berisi barang yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
Namun semuanya terasa asing. Semuanya terasa dingin.
Disya melangkah pelan ke jendela, menatap jalan raya yang mulai ramai. Ia teringat apartemen Min Jae tadi pagi: sisi tempat tidur yang kosong, pesan singkat lugas, dan keheningan yang sama persis. Dua tempat berbeda, namun sama kosong tanpa kehangatan.
Ia duduk di tepi kasur empuk. Menyentuh seprai yang baunya sama persis dengan milik Min Jae. Seketika bayangan malam itu kembali: ciuman lembut, suara yang menenangkan, rasa sakit pertama kali, hingga sentuhan tangan yang menyeka air matanya. Nyata, namun terasa begitu jauh.
"Jangan berharap lebih," bisiknya pelan. "Itu hanya kebutuhan. Dia bersikap lembut agar kau tidak kesakitan. Tak ada perasaan di sana."
Bel pintu berbunyi keras memecah sunyi. Disya terkejut, segera menghapus jejak air mata sebelum membuka pintu. Seo Jun berdiri di sana dengan wajah datar, di belakangnya dua kurir mendorong troli penuh kotak berlabel toko ternama.
"Selamat pagi, Nona Disya," sapa Seo Jun singkat. "Ini barang pesanan Tuan Min Jae untukmu. Biarkan mereka memasukkannya."
"Barang apa ini, Oppa Seo Jun?" tanya Disya bingung. "Saya tak memesan apa pun."
"Tuan Min Jae yang membelikan semuanya," jawabnya memberi isyarat. "Pakaian harian, kuliah, perlengkapan mandi, kosmetik, buku pelajaran, dan semua kebutuhan pribadi. Dia berpesan agar kau tak perlu lagi memakai barang murah atau rusak."
Kurir menyusun semua barang rapi di kamar dan ruang ganti luas. Setelah mereka pergi, Seo Jun menyerahkan amplop cokelat kecil.
"Ini kartu debit dan kunci cadangan," jelasnya. "Kartu ini tak ada batas pengeluaran untuk kebutuhanmu. Beli apa saja, kirim uang ke Ibumu di Jeju, atau berobat jika sakit. Tuan Min Jae berpesan: jangan sungkan, jangan ragu, dan jangan merasa berhutang. Ini bagian dari perjanjian kalian."
Disya memegang kartu itu dengan jari gemetar. Selama ini ia selalu hitung setiap koin, makan seadanya, tunda beli kebutuhan demi kuliah. Kini benda kecil ini bisa memenuhi segalanya tanpa ragu harga. Terasa berat menerimanya, tapi ia tahu ini kewajiban Min Jae sesuai kesepakatan.
"Terima kasih," ucapnya pelan. "Terima kasih sudah membantu saya."
Seo Jun mengangguk pelan, sedikit melembut. "Saya hanya menjalankan tugas. Jika ada apa-apa, hubungi saya saja. Saya pamit."
Pintu tertutup kembali. Disya membuka kotak satu per satu hati-hati. Bahan pakaian sangat halus, ukuran pas persis, warnanya sesuai seleranya yang sederhana. Ada sepatu nyaman, tas ransel kokoh, hingga alat tulis lengkap. Semuanya sempurna, tapi belum terasa miliknya.
Siangnya Disya bersiap ke kampus. Memilih pakaian paling sederhana namun rapi, berusaha tampil biasa saja. Namun saat berjalan ke gerbang, banyak mata melirik—bukan mencolok, tapi perubahan penampilannya tiba-tiba jauh lebih terawat.
Di kelas, Nara sahabatnya langsung menghampiri.
"Disya! Kau berubah banget!" seru Nara pegang bahunya. "Bajumu bagus, tasmu juga keren. Dari mana dapat uang? Bukannya kemarin kau bingung bayar semester ini?"
Disya tersenyum tipis, jawab hati-hati sesuai aturan rahasia. "Ada kerabat jauh yang membantu. Dia tahu saya kesulitan, jadi kirim bantuan. Sekarang tak perlu kerja di kafe lagi."
Nara menatap lekat seolah ingin baca kebohongan, tapi akhirnya lega tersenyum. "Syukurlah. Aku senang kau tak perlu capek pulang larut. Tapi... kau terlihat sedih. Kau baik-baik saja kan?"
"Saya baik-baik saja, cuma belum terbiasa."
Pelajaran berjalan biasa, tapi hati Disya berat. Jam istirahat teman-teman bergerombol tertawa lepas, berbagi bekal, bercanda hal sepele. Disya berjalan di belakang, tersenyum tapi merasa asing. Tak bisa berbagi hidup barunya, tak bisa bicara soal Min Jae, tak bisa keluh kesepian. Semua harus disimpan sendiri.
Sore setelah kuliah, ia tak langsung pulang. Berjalan menyusuri pinggir sungai dekat kampus. Angin lembut menerpa wajah. Melihat anak dikejar ayah, pasangan berbagi camilan, orang tua peluk anak erat. Semuanya hangat penuh kasih.
Seketika teringat ibunya di Jeju. Ia kirim uang lewat kartu itu, lalu menelepon.
"Halo, Nak?" suara ibu lemah namun ceria. "Kau sudah pulang? Ibu baru dapat notifikasi masuk. Dari mana uang sebanyak ini?"
"Ibu jangan khawatir," tahan haru. "Ada kenalan baik yang bantu. Sekarang Ibu tak perlu kerja pasar sampai sore. Istirahat, periksa kesehatan, makan bergizi ya."
Ibunya terharu, suara bergetar. "Terima kasih, Disya. Kau anak beruntung. Tapi hati-hati, jangan berhutang budi terlalu besar."
Disya menunduk. "Iya Bu. Saya hati-hati."
Setelah telepon, ia duduk di bangku taman. Lega ibu terbantu, tapi kata ibu makin memberatkan hati. Ia memang berhutang—bukan pada kebaikan, tapi pada perjanjian dingin.
Menjelang malam pesan masuk: "Malam ini saya jemput jam tujuh. Ke apartemen saya."
Tepat pukul tujuh mobil sudah menunggu. Sepanjang jalan hening. Min Jae tampak sangat lelah, mata sayu, sering usap wajah pelan. Di apartemennya makan malam sederhana tersedia. Mereka makan dalam sunyi, hanya suara sendok dan piring.
Setelah itu Min Jae duduk di sofa, pejamkan mata sandarkan punggung.
"Oppa lelah sekali?" tanya Disya memberanikan diri.
Min Jae buka mata perlahan, menatap jendela gelap. "Syuting dari pagi buta sampai sekarang. Ditambah latihan tari sulit. Kadang ingin berhenti sejenak."
Ia menoleh. "Tapi tak bisa. Banyak orang bergantung pada nama saya."
Disya tarik napas, tanya yang lama ingin ia ucapkan. "Oppa... kenapa tempat tinggal Oppa dan saya begitu dingin? Barang lengkap mahal, tapi tak seperti rumah, melainkan hotel mewah."
Min Jae diam lama. Tatapan kosong seolah lihat masa lalu jauh.
"Karena rumah bukan sekadar bangunan dan barang," jawabnya pelan tegas. "Rumah ada di mana ada perhatian, tawa, kekacauan kecil karena sering dipakai. Di sini semuanya harus rapi, sempurna, tak boleh salah. Saya lama tak punya tempat seperti itu. Bagi saya, ini hanya tempat istirahat sebelum bekerja lagi."
Tatapannya tajam mengingatkan batas.
"Dan apartemenmu pun begitu. Itu hanya tempat sementara. Jangan anggap rumahmu. Jangan harap hangat di sini. Ingat posisimu, Disya. Kita hanya isi kekosongan, bukan saling memiliki."
Kata itu menohok dada. Disya tunduk, sedih menyelimuti. "Maaf... saya lupa diri."
Malam itu ia menemani Min Jae sampai tertidur lelap karena lelah, lalu tidur di sisi lain tanpa berani mendekat. Pagi pulang, keheningan tetap menyambut.
Disya tersenyum tipis. Tak bisa paksa orang beri hangat, tapi bisa buat tempat ini nyaman untuk dirinya sendiri. Ia susun barang, taruh foto ibu di meja, buka jendela lebar biar udara segar masuk.
Apartemen ini memang dingin dan asing. Tapi di sini ia bertahan, jalani perjanjian, dan kunci hati rapat sampai waktunya tiba.