NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:879
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terungkap (2)

Aku ingin segera bangkit dari bed ini. Rasanya ingin kukeluarkan semua kegundahan ku pada Ferdy. Tapi tubuh lemasku seakan tidak bisa diajak berdamai. Tubuh lemasku seakan meminta hak nya untuk hanya rebahan seharian ini.

Aku tahu Ferdy pun pasti sangat penasaran dan mungkin banyak pertanyaan di benaknya. Tapi mungkin karena melihat kondisi ku yang memprihatinkan seperti ini, akhirnya dia mengurungkan semuanya dan menyimpan seluruh rasa penasarannya menunggu sampai aku terlihat normal lagi di matanya.

Ferdy yang tadi pamit untuk menelepon om Hendry dan menunggu orderan makanan sampai di ruang depan, kini sudah kembali menampakkan batang hidungnya di hadapan ku. Ada keletihan di wajah itu. Tapi tetap pancaran sinar kebahagiaan juga tidak hilang dari wajah letih di depan ku ini.

"Makan yuk Dit. Laper gue. Lo bisa bangun kan?" Aku memperhatikan nya yang masih membuka paper bag berisi kotak makanan yang kami pesan.

"Bantuin Dy." Aku mengangkat kedua tanganku meminta nya untuk membantuku bangkit. Ferdy pun langsung menarik tanganku dan satu tangan lain nya dia letakkan di belakang punggungku untuk mendorong.

"Lo kurusan ya. Ringan banget." Kembali suara Ferdy membuatku menyunggingkan senyum. Rasanya dunia ini akan lupa bagaimana suasana murung jika ada Ferdy di dalamnya.

"Kita kedepan aja ya, sambil nonton makannya." Aku yang sudah berdiri sempurna mulai berjalan perlahan. Masih ada sensasi berputar kurasakan, meski tidak begitu mengganggu namun cukup membuat jalanku sedikit oleng. Ferdy pun segera menggapit lenganku dan berjalan menyeimbangkan langkahku.

Kami telah duduk di karpet depan tv sambil menyandarkan punggung kami pada kaki sofa disini. Ferdy pun mulai sibuk menyiapkan makanan untuk kami makan.

"Ini bubur ayam Lo. Perlu gue suapin juga nggak?"

"Gue nggak selemah itu Dy, gue bisa makan sendiri ko." Aku menerima 1 porsi bubur ayam pada bowl sekali pakai yang Ferdy keluarkan dari paper bag di tangannya.

Setelah menghidupkan televisi, tanpa nafsu aku mencoba menyuapkan bubur ayam kedalam mulutku. Rasanya pahit. Tapi untungnya masih bisa kutelan tanpa gangguan rasa mual.

Ferdy yang memesan nasi lengkap dengan ayam krispi saus nya pun mulai menyantap penuh semangat makanan nya.

"Hmmm,,, Dy,, Lo nggak pengen nanya apa-apa?" Aku meliriknya sebentar sebelum memusatkan pandanganku ke arah bubur kembali.

"Banyak si yang mau gue tanya. Tapi nanti lah nunggu Lo cerita aja. Gue sekarang dapat misi nya nemenin Lo, jagain Lo, dan merawat Lo. Jadi, nanya-nanya bisa nanti aja." Di tengah kunyahan nya Ferdy pun menjawab panjang lebar.

"Gu-gue... Positif HIV." Kalimat singkat yang ingin kusampaikan langsung pada nya akhirnya bisa keluar juga.

Ferdy terlihat menghentikan aktifitasnya, dia terpaku dan kemudian menatapku tajam.

"Lo nggak usah prank gue."

"Gue serius." Aku masih berusaha menatap mata tajamnya untuk mencari reaksi apa yang akan Ferdy perlihatkan padaku.

"Oke, gue akan nemenin Lo sampai dapat kesembuhan." Setelah jeda cukup lama, akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Ferdy.

"Gue nggak akan bisa sembuh. Nggak ada obat yang bisa nyembuhin nya Dy."

"Kita bahas nanti. Lo habisin dulu makanan Lo dan gue juga mau habiskan makanan gue dulu."

Selanjutnya tak ada lagi obrolan diantara kami. Masing-masing dari kami mencoba menyibukkan diri dengan memakan makanan didepan kami. Aku tahu suapan yang Ferdy lakukan semakin terasa berat, entah apa yang sebenarnya dia rasakan sekarang. Dia berusaha menutupi seluruh gejolak hatinya dengan aktifitas makan nya itu. Sementara aku, di suapan ke empat aku memutuskan untuk berhenti makan. Bukan karena mual, tapi aku merasa sangat tidak berselera sekarang. Ditambah lidah pahit ku yang benar-benar menghilangkan seluruh nafsu makan ku. Bahkan rasa lapar pun tidak kurasakan sama sekali. Ku tutup kembali bowl sekali pakai ini. Aku membiarkan Ferdy menghabiskan seluruh makanannya dan mencoba menyibukkan diri dengan tontonan di depan ku.

"Oke, gue selesai. Gue beresin ini dulu. Bubur Lo mau sekalian gue simpenin dulu ga?" Aku memperhatikan seluruh gerakannya dan langsung mengangguk atas tawaran itu. Ferdy pun beranjak ke dapur dan mungkin mencuci tangannya, karena kudengar suara air kran yang mengalir.

Aku tahu setelah ini Ferdy akan mengorek lebih banyak informasi dariku. Dia memang selalu menempatkan semua hal yang dia anggap serius tidak dengan main-main. Tidak dengan gangguan apapun. Tidak dengan sambil-sambil melakukan kegiatan yang lain. Mungkin baginya informasi yang diberitahukan tadi merupakan hal serius yang harus dibahas dengan khusus.

"Dit,,, gue mau denger semuanya. Lo siap?" Suara bernada instruksi tersebut membuatku kembali menyunggingkan senyum.

"Ambilin Tumbler gue dulu Dy, di nakas kamar." Aku mengangguk dan memberi syarat sebelum aku memulai semua cerita ini.

"Siap!" Tanpa menunggu lama, Ferdy telah kembali dari kamar dengan menenteng Tumbler hitamku.

Kami mengambil bantal sofa dan masih dengan posisi duduk diatas karpet namun sekarang sambil memeluk bantal tersebut.

"Iya, seperti info tadi. Gue positif HIV. Di tubuh gue ada virus HIV. Dan sekarang gue sedang menjalani perawatan khusus untuk konsumsi obat ARV, yang efek samping nya bisa berbeda-beda masing-masing obat nya. Hari ini gue merasa energy gue bener-bener terkuras habis meski tidak melakukan kegiatan berat. Kemaren gue hanya dapat serangan mual, pusing dan muntah sesekali aja si." Aku mulai dengan penjelasan singkat yang mewakili seluruh keadaan ku sekarang.

"Oke, gue percaya sekarang. Gue boleh nanya?" Masih dengan respon santai nya Ferdy menanggapi ceritaku. Sangat berbanding terbalik dengan apa yang ku bayangkan, kukira Ferdy akan sangat syok dan akan sulit mempercayai semua ini.

Ternyata stay cool.

"Boleh."

"Lo tau dapat virus nya dari mana? Maksud gue, apa yang udah Lo lakuin?" Keraguan sangat terlihat jelas dari air muka Ferdy saat ini. Entah dia begitu enggan membahasakan dengan lebih gamblang maksud ucapan nya atau memang dia jelas tidak mempercayai semua hal yang mungkin menjadi alasan tertular virus HIV ini telah kulakukan.

"Lo kenal gue Dy, kita enam tahun bareng. Menurut Lo kenapa?" Aku sengaja meminta pendapat nya terlebih dahulu, setidaknya aku akan tahu tingkat kepercayaan nya padaku seperti apa.

"Gue yakin untuk hubungan sex bebas dan temen2 nya itu nggak mungkin Lo lakuin Dit. Kalau pun penggunaan jarum suntik narkoba, setahu gue Lo juga bukan pemake, kecuali kalau Lo memang sangat lihai menyembunyikan fakta kalau Lo pemake dari gue. Tapi itu nggak mungkin. Lo terlalu lugu, Lo terlalu polos, Lo terlalu mudah di tebak untuk menyembunyikan hal besar seperti itu Dit." Aku begitu terharu sekarang. Ini yang kuharapkan dari orang-orang di sekitarku. Mempercayaiku meski tidak ada bukti, mempercayaiku meski sangat mustahil.

"Iya, gue nggak pernah melakukan hal yang mungkin membuat gue tertular. Tapi faktanya, gue terinfeksi Dy. Dan gue nggak tahu kenapa." Aku tidak berusaha mengelak sama sekali, memang fakta inilah yang terjadi.

"Sebentarrrr. Gue inget!!! Lo pernah kena jarum suntik Dit." Aku mengernyit bingung menanggapi apa yang Ferdy ucapkan.

Apakah maksudnya jarum suntik saat aku diinfus?

Atau maksudnya jarum suntik saat aku disuntik imunisasi dulu?

"Lo inget Leon kan? Anak basket patriot. Yang di awal tahun kelas 12 meninggal?" Aku mengangguk menanggapinya.

Apa hubungan Leon dengan semua ini?!

Bahkan dia sudah meninggal hampir setahun lalu. Dan bukankah dia bisa dikatakan musuh buat aku?! Meski kuakui, tidak ada dendam sama sekali yang tertinggal kepadanya setelah kematian nya itu.

"Lo inget di kelas sebelas dulu kan. Kita menang tanding dari patriot." Aku masih mengangguk menanggapinya, biarlah ku tunggu semua kalimat Ferdy keluar. Aku masih enggan menanggapi dengan kalimat apapun.

"Dit, setelahnya Dit. Lo harus inget. Mereka tiba-tiba datang melabrak Lo di toilet sekolah mereka." Kali ini aku terkesiap menyadari kejadian naas itu.

Ya, aku ingat pernah terkena jarum suntik disitu.

Aku yang saat sparing berlangsung terpaksa harus mundur dan meminta pergantian pemain karena maag ku yang tiba-tiba kambuh. Aku mencoba menuju uks disana untuk meminta obat maag. Saat itu kudapati Leon lawanku dari SMA patriot yang sepekan sebelumnya kalah tanding menghampiriku. Aku pun bertanya padanya terkait UKS dan obat maag, dan dengan bantuan nya aku berhasil mendapatkan obat maag dan segera meminumnya. Tapi anehnya, setelah menelan obat itu aku justru merasakan gejolak mual yang tidak biasa dan langsung berlari ke arah toilet. Sialnya di toilet aku malah dikeroyok oleh anak-anak patriot yang bahkan aku pun belum mengenali wajah mereka. Saat kesadaranku hampir hilang, kulihat Leon dengan jarum suntik di tangannya menusuk-nusuk pergelangan tanganku dengan membabi buta. Ya, bukan hanya sekali tusukan tapi berkali-kali bahkan mungkin sampai puluhan kali. Aku sampai harus di gips setelahnya.

"Dit?! Lo inget?!" Guncangan kecil yang dilakukan Ferdy pada pundakku membuatku kembali terkesiap. Sepertinya tadi aku melamun.

"Gue nggak tahu gimana kejadiannya, tapi luka tusukan jarum suntik di tangan Lo waktu itu nyeremin banget Dit. Banyak dan tangan Lo hampir terkoyak. Lo juga ditemukan di toilet dengan kondisi babak belur parah." Ferdy kembali bersuara membuatku urung mengucapkan apapun.

"Iya, gue baru inget sekarang. Mungkin jarum suntik itu sebenarnya telah terinfeksi HIV."

"Nah, tepat! Leon juga sebenernya meninggal karena AIDS Dit." Kalimat Ferdy selanjutnya membuatku benar-benar tidak percaya.

"Lo jangan ngarang Dy. Nggak baik memfitnah orang yang sudah meninggal." Aku menyanggah nya segera. Mana mungkin berita sebesar itu tidak ku ketahui.

"Udah jadi rahasia umum Dit. Lo terlalu lurus si, jadi nggak nanggepin gosip-gosip yang ada. Waktu itu sempet viral ko, tapi memang karena back-up nya kuat berita itu langsung hilang dan tidak terdengar lagi."

Aku masih mencoba mengingat seluruh kejadian itu, ya, aku yakin itu satu-satu nya kejadian yang mungkin menjadi alasan ku terinfeksi virus ini. Apalagi jika ditambah fakta bahwa Leon meninggal karena AIDS.

Aku punya alasan sekarang!

Kak Ivan, om Hendry kalian harus tahu kejadian ini.

Dan Dheka,, perlukah aku menjelaskan padanya?!

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!