NovelToon NovelToon
Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Istri Gemuk Yang Selalu Di Remehkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

Sejak tubuhnya menggemuk, Laila tak pernah lagi dihargai oleh suaminya. Ia terus dihina karena penampilannya, padahal sang suami sendiri hanya mampu memberi nafkah seadanya. Demi membeli satu botol skincare impiannya, Laila diam-diam menyisihkan sisa uang belanja setiap hari. Namun, ketika sebuah kesempatan mengubah hidupnya, pria yang dulu merendahkannya justru mulai menyesal. Akankah Laila memaafkan, atau memilih meninggalkan semua luka yang pernah ia terima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab_23

Berhenti!" teriak Adrian keras. Wajahnya dipenuhi ketegangan, sementara sorot matanya tertuju tajam pada jalan gelap di depan.

Nathan langsung menginjak rem.

"Kenapa, Tuan?" tanya Nathan cepat. Wajahnya dipenuhi kebingungan, sementara kedua tangannya masih menggenggam kemudi.

Adrian menunjuk sebuah papan tua di pinggir jalan.

"Lihat." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi keterkejutan, sementara matanya menyipit memperhatikan tulisan yang hampir tertutup semak.

Leonard segera melihat ke arah yang ditunjuk.

"Desa Sukamaju." gumam Leonard lirih. Wajahnya dipenuhi ketegangan, sementara tangannya meraih senter.

Nathan menatap Adrian melalui kaca spion.

"Apakah ini tempat yang Tuan maksud?" tanyanya serius. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.

Adrian mengangguk perlahan.

"Ya." jawab Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi keyakinan. "Tapi ada sesuatu yang tidak beres."

"Apa itu?" tanya Leonard cepat. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.

Adrian mengangkat foto lama yang sejak tadi berada di tangannya.

"Tempat ini..." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Aku pernah datang ke sini."

Leonard membeku.

"Sejak kecil?" tanyanya hati-hati. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Adrian memejamkan mata sejenak.

"Aku tidak ingat semuanya." jawabnya lirih. Wajahnya dipenuhi kesulitan mengingat. "Tapi setiap kali melihat foto ini, ada sesuatu yang terasa sangat familiar."

Nathan segera turun dari mobil.

"Kita harus berhati-hati." ucap Nathan tegas. Wajahnya dipenuhi kesiapsiagaan, sementara tangannya memegang alat komunikasi.

Mereka bertiga berjalan memasuki desa.

Udara malam terasa dingin. Jalanan sepi, hanya suara jangkrik dan hembusan angin yang terdengar.

Beberapa meter kemudian, Adrian berhenti.

"Rumah itu..." ucap Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan, sementara telunjuknya menunjuk sebuah rumah tua di ujung jalan.

Leonard menatap rumah tersebut.

"Pak Hadi tinggal di sana?" tanyanya penasaran. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan.

Adrian mengangguk.

"Ya." jawabnya singkat. Wajahnya dipenuhi keyakinan.

Mereka segera mendekati rumah itu.

Namun pintunya terbuka.

Nathan langsung mengangkat tangan.

"Jangan masuk dulu." perintah Nathan tegas. Wajahnya dipenuhi kewaspadaan, sementara tubuhnya berdiri menghadang Adrian.

Adrian menatap ke dalam rumah.

"Pak Hadi!" panggilnya keras. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

Tidak ada jawaban. Leonard masuk perlahan.

"Rumah ini kosong." ucap Leonard serius. Wajahnya dipenuhi kecurigaan, sementara matanya menyapu seluruh ruangan.

Nathan menemukan sebuah kursi terbalik.

"Ada bekas perkelahian." ucap Nathan tegas. Wajahnya dipenuhi ketegangan.

Adrian mengepalkan tangan.

"Mereka sudah lebih dulu datang." gumamnya dingin. Wajahnya dipenuhi kemarahan.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

"Kalian terlambat." suara Pak Pria tua itu.

Ketiganya langsung berbalik.

Seorang pria tua berdiri beberapa meter dari mereka. Adrian membelalakkan mata.

"Pak Hadi?" tanya Adrian cepat. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Pria tua itu mengangguk.

"Ya." jawab Pak Hadi pelan. Wajahnya dipenuhi kelelahan.

Leonard segera mendekat.

"Di mana Rani?" tanyanya tegas. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

Pak Hadi menatap Adrian.

"Kalau kalian ingin menemukan Rani, kalian harus mengetahui kebenaran terlebih dahulu." jawabnya serius. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

Adrian melangkah maju.

"Katakan semuanya." perintah Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketegangan.

Pak Hadi menghela napas panjang.

"Rani adalah anak yang selama ini kalian cari." jawabnya lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan.

Adrian terdiam.

"Apa maksud Anda?" tanya Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi kebingungan.

Pak Hadi menatap foto lama di tangan Adrian.

"Anak perempuan dalam foto itu adalah Rani." jawabnya mantap. Wajahnya dipenuhi keyakinan.

"Dan anak laki-laki kurus di sebelahnya..."Pak Hadi menunjuk Adrian."...adalah kamu."

Adrian membeku.

"Aku?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Leonard menatap foto itu.

"Jadi selama ini..." gumam Leonard. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan.

Pak Hadi mengangguk.

"Rani adalah teman masa kecilmu." jawabnya pelan. Wajahnya dipenuhi kesedihan. "Kalian sangat dekat."

Adrian memegang kepalanya.

"Tapi kenapa aku tidak mengingatnya?" tanyanya frustrasi. Wajahnya dipenuhi kebingungan.

"Karena kamu mengalami kejadian yang membuat ingatanmu tentang masa itu terkubur." jawab Pak Hadi serius. Wajahnya dipenuhi keprihatinan.

Nathan langsung bertanya.

"Kejadian apa?" tanyanya cepat. Wajahnya dipenuhi ketegangan.

Pak Hadi terdiam beberapa saat.

"Dulu Adrian sering dibully oleh anak-anak lain." jawabnya lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan. "Dia berasal dari keluarga yang tidak dianggap oleh orang-orang di desa."

Adrian menundukkan kepala.

"Rani selalu membelaku?" tanyanya pelan. Wajahnya dipenuhi haru yang mulai muncul.

Pak Hadi mengangguk.

"Setiap kali mereka mengejekmu, Rani selalu berdiri di depanmu." jawabnya tegas. Wajahnya dipenuhi keharuan.

Leonard menatap Adrian.

"Jadi tulisan 'anak itu bukan korban'..." gumam Leonard. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Pak Hadi menyelesaikan kalimatnya.

"Karena Rani bukan hanya melihatmu sebagai korban." jawabnya pelan. Wajahnya dipenuhi rasa haru. "Dia adalah orang yang menyelamatkanmu."

Adrian menatap kosong.

"Bagaimana?" tanyanya lirih. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.

Pak Hadi menarik napas panjang.

"Suatu hari, kamu dikejar beberapa anak sampai ke sungai." jawabnya serius. Wajahnya dipenuhi kesedihan. "Kamu jatuh dan hampir tenggelam."

Nathan menegang.

"Lalu Rani menolongnya?" tanya Nathan cepat. Wajahnya dipenuhi ketegangan.

"Ya." jawab Pak Hadi. Wajahnya dipenuhi keharuan. "Rani melompat ke sungai tanpa memikirkan keselamatannya sendiri."

Adrian menutup matanya.

Seketika sebuah bayangan muncul di kepalanya.

Seorang anak perempuan berlari.

"Adrian! Pegang tanganku!" teriak Rani kecil. Wajahnya dipenuhi kepanikan, sementara tangannya terulur ke arah Adrian.

"Aku takut!" jawab Adrian kecil. Wajahnya dipenuhi ketakutan.

"Jangan takut! Aku di sini!" teriak Rani kecil tegas. Wajahnya dipenuhi keberanian.

Bayangan itu menghilang.

Adrian membuka mata dengan napas memburu.

"Rani..." gumamnya lirih. Wajahnya dipenuhi keterkejutan.

Leonard langsung mendekat.

"Tuan?" panggil Leonard cemas. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.

"Aku ingat..." ucap Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi haru. "Aku mulai mengingatnya."

Pak Hadi menatap Adrian.

"Rani selalu membelamu." lanjutnya. Wajahnya dipenuhi keharuan. "Bahkan ketika anak-anak lain menyebutmu pengecut, Rani berdiri di depan mereka."

Adrian menelan ludah.

"Dia pernah berkata..." ucap Adrian lirih. Wajahnya dipenuhi kesedihan.

"Apa?" tanya Leonard cepat. Wajahnya dipenuhi rasa penasaran.

Adrian menatap foto itu.

"Dia berkata, 'Kalau kalian ingin menyakiti Adrian, kalian harus melewatiku dulu.'" jawab Adrian pelan. Wajahnya dipenuhi haru.

Nathan terdiam.

"Rani memang seperti itu." ucap Nathan lirih. Wajahnya dipenuhi kekaguman.

Pak Hadi mengangguk.

"Namun ada alasan mengapa kalian akhirnya terpisah." jawabnya serius. Wajahnya dipenuhi kesedihan.

Adrian langsung menatapnya.

"Apa yang terjadi?" tanya Adrian tegas. Wajahnya dipenuhi ketegangan.

"Orang-orang yang tidak ingin masa lalu itu terbongkar memisahkan kalian." jawab Pak Hadi. Wajahnya dipenuhi kecemasan.

Leonard menyipitkan mata.

"Siapa mereka?" tanyanya tajam. Wajahnya dipenuhi kecurigaan.

Pak Hadi menatap ke arah pintu.

"Bu Ratih mengetahui semuanya." jawabnya pelan. Wajahnya dipenuhi keseriusan. "Dia berusaha menyimpan bukti agar suatu hari kalian bisa bertemu lagi."

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
sunaryati jarum
Rani.anak.orang kaya yang disingkirkan atau ada orang yang suka pada Adrian
sunaryati jarum
Kamu tidak tertarik wanita karena mengharapkan Rania,Nak Adrian
sunaryati jarum
Balas budi atau ada Rasa Nak Adrian
sunaryati jarum
Tekad yang bagus Rani
sunaryati jarum
Yang menolong ternyata teman.kecilmu
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu...
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Feni sang penulis novel
wow Saya suka dengan ceritanya Saya suka dengan alur bagian hemat harga tertawa sinis sudut bibirnya berangkat mengejek semangat terus ya kak bikin karyanya Saya suka banget dengan alur ceritanya semuanya Saya suka oh iya kak bolehkah saya mempromokan kenapa baru saya novel saya ada 3 sih tapi kalau kakak suka semuanya tolong berikan komentar dan bintang 5-nya ya kak semangat terus terima kasih
Fransiska aghata
oke kak, makasih udah mampir😁
Ayu Ara12
next dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!