Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.
update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
Sona, yang tidak memedulikan tingkah aneh pemuda di lantai itu, merentangkan tangannya ke arah meja kecil di dekat sofa. Jemarinya meraih sebuah kacamata berbingkai tipis dan menyematkannya di telinga. Setelah kacamata itu bertengger di pangkal hidungnya, Sona mengedipkan matanya beberapa kali, dan ketajaman tatapannya kembali seperti sedia kala.
Yudi memaksa tubuhnya berdiri. Ia memeluk lengannya sendiri, menutupi dada telanjangnya. "Yo... Kaichou-sama. Ohayou... apa tidurmu nyenyak?" Suaranya keluar terpatah-patah, suaranya naik satu oktaf di akhir kalimat. Kakinya sedikit bergeser mundur. "Mengenai ucapanmu tadi... bisakah kau jelaskan kenapa aku dan kau berakhir di ruangan ini dalam keadaan seperti ini? Kita tidak... melakukan itu... bukan?" Yudi memberikan penekanan yang sangat jelas pada kata 'itu', kedua alisnya terangkat tinggi, menunggu konfirmasi dengan wajah tegang.
Sona memiringkan kepalanya ke kiri. Ekspresinya benar-benar datar, tak terpengaruh sedikit pun oleh kepanikan lawan bicaranya. "Itu maksudnya apa?" Sona bertanya balik dengan nada monoton. Ia memperbaiki letak kaus putih di bahunya dengan santai. "Kita tidak melakukan apa-apa. Hanya berbaring bersama di atas sofa dengan melepas sebagian pakaian. Lagipula, aku yang melepas—"
"O-op! Stop!" Yudi berteriak nyaring sambil mengangkat kedua tangannya ke depan, telapak tangannya terbuka menghadap Sona seolah menahan sesuatu yang tak kasat mata. Wajahnya berubah pucat pasi. Langkahnya tersentak mundur hingga punggungnya bergesekan dengan kayu rak buku. "Jangan lanjutkan kalimatmu! Sebaiknya kau jelaskan saja langsung dari inti permasalahannya kenapa kita bisa berakhir seperti ini!" serunya dengan napas memburu, berusaha keras menghentikan kata-kata Sona agar otaknya tidak mulai memproyeksikan visualisasi yang liar.
Sona menatap Yudi selama lima detik tanpa berkedip. "Kau ini benar-benar berisik sekali," ucap Sona pelan. Nada suaranya turun satu tingkat, memancarkan aura dingin yang mendominasi ruangan. "Lain kali, dengarkan dulu penjelasan orang lain sampai selesai sebelum menyela."
Bulu kuduk di lengan dan leher Yudi langsung berdiri tegak. Ia merapatkan bibirnya seketika, kedua tangannya turun dan menempel lurus di sisi paha, berdiri tegap layaknya prajurit yang diinspeksi oleh komandan.
Melihat pemuda itu akhirnya diam, Sona melipat kedua tangannya di pangkuan. "Kau memang tidak ingat apa pun tentang malam tadi. Itu adalah hal yang sangat wajar. Efek samping dari kebangkitan kembali sering kali berupa hilangnya ingatan jangka pendek mengenai saat-saat terakhir sebelum kematian."
Mendengar kata kematian, bahu Yudi menegang. Secara refleks, tangan kanannya bergerak meraba dada kirinya. Tidak ada bekas luka di sana, namun sebuah sensasi ngilu imajiner tiba-tiba melintas di ingatannya.
"Sebelum aku melanjutkan," sambung Sona, tatapan matanya mengunci pergerakan Yudi, "Menurut pengetahuanmu, ada berapa jenis makhluk hidup yang berjalan di atas dunia ini? Jika jawabanmu cukup memuaskan, aku akan menjelaskan dengan detail kenapa kita berakhir di ruangan ini, dan mungkin saja... memberitahumu seberapa liarnya kau semalam."
Sona memberikan penekanan nada pada kalimat terakhirnya. Sudut bibirnya tidak terangkat, namun matanya memancarkan intimidasi yang aneh.
Mendengar frasa 'liarnya kau semalam', bola mata Yudi membesar. Keringat dingin kembali mengalir deras dari dahinya. Napasnya yang sempat teratur kini kembali memburu. Kedua tangannya bergerak-gerak tidak karuan di depan dada. Ia melangkah maju satu langkah, lalu mundur lagi. Kepanikan total kembali mengambil alih kendali tubuhnya.
"M-makhluk hidup di dunia ini ada... ada tumbuhan! B-binatang! Manusia!" Yudi berseru dengan cepat, suaranya gemetar. Ia menghitung dengan jari-jarinya yang bergetar. "Dan... dan sisanya adalah makhluk-makhluk mitologi! S-seperti Iblis! Malaikat! Dewa! Mungkin... mungkin aku tidak tahu pastinya! J-jadi... bisakah kau jelaskan sekarang apa yang sudah terjadi padaku semalam dan apa maksudnya dengan seberapa liarnya diriku itu?! Ojou-sama!" Yudi menundukkan kepalanya dalam-dalam di akhir kalimat, kedua telapak tangannya menyatu di depan dahi seolah sedang memohon.
Sona mendengus pelan. "Hn. Cukup menarik. Kau tidak sepenuhnya bodoh."
Sona berdiri dari sofa. Kaus kebesarannya jatuh hingga mencapai pertengahan pahanya. Ia berjalan mendekat ke arah Yudi dengan langkah-langkah pelan yang nyaris tanpa suara. "Dan ya, kau memang begitu liar semalam. Karena kau bertarung mati-matian, menggunakan kemampuan yang melebihi batas manusia normal, melawan salah satu makhluk supernatural bernama Malaikat Jatuh..." Sona berhenti tepat dua langkah di depan Yudi. "...lalu kau mati."
Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang panjang. Udara pagi yang hangat perlahan terasa mendingin. Sona menatap lurus ke dalam pupil mata Yudi. "Apa kau percaya dengan apa yang baru saja kusampaikan itu?" tanya Sona dengan suara datar yang berat.
Yudi perlahan menurunkan kedua tangannya dari dahi. Kepalanya tegak kembali. Matanya balas menatap kedua mata ungu Sona di balik lensa kacamata itu. Tidak ada keraguan, tidak ada getaran pada kornea mata Sona. Yudi membiarkan keheningan mengambil alih sejenak. Bahunya yang tegang perlahan turun dan mengendur. Otot-otot wajahnya yang tadinya kaku kini merileks.
"Iya, aku percaya," ucap Yudi akhirnya. Nada suaranya telah berubah. Tidak ada lagi kepanikan atau getaran ketakutan. Suaranya terdengar sangat tenang, datar, dan menerima kenyataan yang disajikan padanya.
Sona memiringkan kepalanya sedikit. Ekspresinya masih datar, namun matanya memancarkan rasa ingin tahu. "Begitu mudahnya kau menerima fakta itu. Apa alasannya?"
"Kau itu bukan tipe orang yang menipu siapa pun, Kaichou," jawab Yudi santai. Tangannya terangkat, mengusap leher bagian belakangnya sendiri. "Lalu, matamu tadi... memancarkan kejujuran absolut dan tekad yang sangat kuat, seolah kau sedang menimbang apakah mentalku sanggup menerima realita ini atau tidak. Jadi... aku memang sudah mati ya." Yudi menunduk menatap telapak tangannya sendiri, membuka dan menutup genggamannya. "Tapi kenapa aku bisa hidup kembali dan berdiri di sini sekarang?" Yudi kembali menatap Sona, menuntut kelanjutan cerita.
"Hn. Kau bereaksi cukup tenang, berbanding terbalik dengan kepanikanmu sebelumnya," gumam Sona, matanya mengamati postur Yudi yang kini benar-benar rileks. "Lalu, mengenai alasan kenapa kau bisa hidup kembali..."
Tiba-tiba, udara di sekitar Sona bergejolak. Tekanan di dalam ruangan meningkat secara drastis, membuat buku-buku di atas rak sedikit bergetar. Partikel-partikel cahaya gelap bermunculan di punggung Sona.
Sraat!
Suara seperti kain yang dirobek dengan paksa menggema di udara. Dari balik punggung Sona, merobek udara secara literal, muncul sepasang sayap hitam yang menyerupai sayap kelelawar raksasa. Selaput membran sayap itu memancarkan kilau kelam di bawah sinar matahari pagi. Sona merentangkan kedua sayap iblisnya selebar mungkin, menghalangi cahaya dari jendela dan menjatuhkan bayangan besar yang menyelimuti seluruh tubuh Yudi di depannya.
"Karena aku mereinkarnasikan dirimu menjadi Iblis dengan menggunakan dua bidak Pawn," ucap Sona, suaranya menggema penuh otoritas mutlak di ruangan itu. Angin tipis berhembus dari kepakan pelan sayapnya, mengacak-acak rambut Yudi. "Dan aku, Sona Sitri, adalah Tuanmu yang baru."
Yudi tidak mundur selangkah pun. Ia tidak berteriak, tidak terjatuh, dan tidak menunjukkan tanda-tanda teror di wajahnya. Matanya hanya terpaku pada selaput sayap hitam yang merentang megah di hadapannya. Ia berkedip dua kali.
"Dua bidak Pawn ya..." Yudi membeo dengan nada datar. Ia menyandarkan kedua tangannya di pinggang. "Lalu... apa kelebihan khusus dari bidak yang ditanamkan padaku ini, Oujousama?"
Pertanyaan polos dan sangat situasional itu membuat sayap hitam Sona berhenti mengepak di udara. Ujung-ujung sayap itu bergetar kaku sesaat. Mata ungu Sona sedikit melebar di balik kacamatanya.
"He~" Sona mengeluarkan suara gumaman panjang. Kedua sayap di punggungnya melipat dengan cepat dan menghilang menjadi partikel cahaya gelap dalam sekejap. Sona melipat tangannya di dada. "Kau... bahkan tidak tersentak atau terkejut sama sekali saat melihat wujud asliku dan menyadari fakta secara visual kalau kau bukan manusia lagi dan aku adalah iblis."
Yudi mengangkat bahunya dengan gerakan santai. "Mau bereaksi berlebihan dan melompat-lompat terkejut juga percuma, Kaichou. Kejadiannya sudah lewat dan tidak bisa diulang kembali," balasnya. Ia memutar tubuhnya, berjalan menuju meja kerja dan menopang tubuhnya pada pinggiran meja tersebut. "Lebih baik aku menggunakan energiku untuk berpikir apa yang bisa kulakukan ke depannya."
Yudi menoleh ke arah Sona, menatap gadis itu dengan tatapan jernih. "Aku bukan tipe orang yang mau membuang-buang waktu memikirkan hal-hal rumit seperti apakah aku menyesal telah diubah menjadi iblis atau meratapi nasib menjadi budak. Aku lebih memilih hidup mengalir apa adanya. Toh, menjadi iblis di bawah komandomu sepertinya aku masih bisa makan enak dan hidup santai. Ya... tidak terlalu buruk, bukan?" Yudi menyunggingkan senyum tipis di akhir kalimatnya.
Ruangan kembali hening. Sona menatap pemuda di depannya lekat-lekat. Tiba-tiba, Sona mengangkat tangan kanannya, menutupi mulut dan hidungnya dengan punggung tangan. Bahunya mulai bergetar pelan. Sebuah suara dengusan tertahan keluar dari sela-sela jarinya, diikuti oleh kekehan pelan yang mengalun halus. Tawa itu semakin jelas, memecah citra dingin dan kaku yang selalu menyelimuti dirinya selama di akademi.
Bagi Sona, hal ini adalah pengalaman yang sangat langka. Ini adalah reaksi paling aneh yang pernah ia terima saat menjelaskan realita pahit kepada bawahan-bawahannya yang baru saja kehilangan kemanusiaan mereka. Tidak ada tangisan, tidak ada penyangkalan, hanya penerimaan absolut yang dibalut dengan kemalasan yang jujur.
Sona menurunkan tangannya secara perlahan dari wajahnya. Bahunya berhenti bergetar. "Kau benar-benar manusia yang cukup aneh," ucap Sona, nadanya terdengar sangat lembut, kehilangan seluruh ketajaman otoriternya. "Tapi... aku tidak membencimu."
Bibir Sona melengkung ke atas, membentuk sebuah senyuman tulus yang sangat hangat. Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela menerangi wajahnya, membuat matanya bersinar lembut dan senyumannya tampak begitu damai, sangat kontras dengan identitas iblis yang baru saja ia proklamirkan.
"Mulai sekarang, tolong layani aku dengan baik, Yudi-san."
Mendapatkan senyuman manis dan langka dari sang Ketua OSIS secara langsung dari jarak dekat, seluruh pergerakan Yudi terhenti total. Tubuhnya mematung sempurna. Matanya menatap lurus ke arah Sona tanpa berkedip sedikit pun. Napasnya tertahan di paru-paru, sementara kedua tangannya jatuh lemas di sisi tubuhnya. Ruang OSIS itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara kicauan burung dari luar jendela dan seberkas cahaya pagi yang jatuh di antara mereka berdua.