Saniya Syamira, tak memiliki pilihan lain selain menerima perjodohan amanah dari almarhum kakeknya.
Terlebih sang ibu mengkhawatirkan dirinya jadi perawan tua dikarenakan memiliki kekurangan. Saniya penyandang disabilitas fisik, kaki kanannya diamputasi sedari dia berumur 8 tahun.
Mampukah Saniya menjalani biduk rumah tangga bersama pria berstatus duda yang pernah gagal menikah sampai dua kali dengan wanita sama yakni, cinta pertamanya?
Lantas, bagaimana dengan sepasang anak tirinya, bisakah mereka menerima wanita lain selain ibu kandung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung jawab suami : 15
Daun pintu terbuka separuh, pertama yang tampak oleh mata yakni, tempat tidur kosong. Saniya tidak ada di sana.
Yarash masuk dan menutup pintu, sorot matanya meredup memandangi kaki palsu bersandar pada dinding tembok.
Suara gemericik air dari dalam kamar mandi, menghantarkan langkah sang pria mendekati daun pintu.
Di dalam, Saniya mengguyur badannya. Duduk di bawah shower membiarkan air dingin menyejukkan luka terasa perih.
Tidurnya tidak nyenyak, efek obat hanya bertahan sebentar saja.
Saniya menyudahi mandi tanpa menggunakan sabun, menghindari luka terkena bahan kimia.
Dengan berpegangan pada tepian shower box, pelan-pelan ia berdiri, mengambil kruk dan sangat hati-hati keluar seraya menjaga keseimbangan tubuh.
Diraihnya handuk kimono dan handuk kecil untuk mengeringkan rambut.
Hesstt ….
Permukaan kulit yang sakit bergesekan dengan handuk, rasa sakitnya langsung naik ke ubun-ubun membuatnya meringis.
“Gapapa, kan kamu sudah terbiasa menahan sakit seperti ini. Jatuh dari tangga, tersayat pisau, terkena minyak panas. Ini gak seberapa, pasti kuat Sanaya,” ucapnya menyemangati diri sendiri.
Luka seperti teman baginya, terlebih sewaktu awal-awal kakinya baru diamputasi, dan masih masa adaptasi mengandalkan satu kaki saja.
Dua tahun Saniya belajar membiasakan diri, melangkah tanpa menggunakan kaki palsu, mengandalkan kruk dan kaki kiri. Dia sering jatuh, ujung kakinya yang diamputasi terkadang terasa berdenyut. Semua itu ditahannya, tidak mengadu karena percuma.
Kedua orang tuanya sibuk meratapi nasib, saling menyalahkan atas kecelakaan maut yang merenggut anak sulung mereka.
Menjadi abai terhadap gadis kecil berumur 8 tahun yang butuh dukungan, pendampingan, dan curahan kasih sayang.
“Ini cuma luka biasa. Tidak lebih mengerikan seperti pertama kali kamu menarik selimut rumah sakit dan melihat sebelah kaki hanya sebatas lutut lebih sedikit,” Saniya terkekeh kecil.
Dipandanginya pantulan diri pada cermin dinding wastafel. “Hai … ayo bertahan terus memainkan peran wanita kuat. Jangan lemah, gak boleh cengeng. Semangat!”
Senyumnya tidak sampai pada mata, dan dia menghela napas panjang, mensugesti diri, membayangkan hal-hal menyenangkan, mengusir bayang-bayang mengerikan kecelakaan masih segar dalam ingatan.
“Saniya, apa kamu baik-baik saja?”
Tubuh Saniya tersentak pelan, dia terkejut mendengar suara Yarash di luar pintu.
“Tolong buka pintunya, Saniya! Kamu sudah terlalu lama di dalam kamar mandi!” ketukan berubah menjadi gedoran.
Saniya belum sempat mengeringkan rambut, dan handuknya masih tersampir pada pundak. Diraihnya kruk, lalu dia mendekati pintu.
Sepasang mata hitam legam menyipit memperhatikan wajah istrinya yang baru saja membuka pintu. “Kita ke dokter sekarang! Mukamu pucat.”
Yarash mendorong pintu agar terbuka lebar, tak banyak bicara langsung membopong tubuh Saniya keluar dari dalam kamar mandi, membiarkan kruk jatuh menghantam lantai.
Tubuh dalam bopongan ala bridal style, diturunkan hati-hati ke atas kasur.
Saninya terburu-buru membenahi handuk tersingkap sampai pertengahan paha, ada rasa tidak percaya diri saat netra suaminya secara terang-terangan melihat ke kaki kanan.
Yarash mengalihkan perhatian, melihat ke atas meja rias yang mana terdapat pakaian Saniya. Ia pun beranjak mengambil baju ganti itu.
“Mas, biarkan disitu, nanti —” suaranya terhenti. Terlambat mengucapkan disaat pria berpostur tegap sudah terlanjur memegang bra warna putih senada dengan celana dalam.
“Kenapa gak gaun longgar?” Yarash kurang suka pada pilihan sang istri yang hendak mengenakan setelan rok dan kaos.
Dirasa terlalu lama jawaban Saniya, diapun berinisiatif membuka lemari, mengambil satu-satunya dress tersisa pada gantungan baju.
“Jangan yang itu, Mas. Besok mau aku pakai ngajar,” cegah Saniya, dapat menebak pilihan pria berdiri membelakanginya.
“Besok pikirkan nanti. Sekarang kamu butuh pakaian nyaman.” Yarash melepaskan dress longgar warna kuning kunyit motif bunga Daisy kecil dari hanger.
Dress tergenggam di tangan kanan, sebelahnya lagi memegang celana dalam dan bra.
Saniya malu sendiri, pipinya terasa hangat. Sementara sang pria berdiri santai dengan raut wajah biasa saja.
“Taruh disitu, abis itu tolong mas Yarash keluar dulu,” ucapnya menghindari menatap, memilih melihat ke samping tempat duduknya.
Yarash tidak lagi mendebat, dia menurut, dan memberi privasi ke istri yang ternyata memiliki sifat pemalu.
‘Saya kira kamu tidak bisa didera oleh rasa malu, ternyata lucu juga melihatmu tersipu Saniya,’ batinnya bergumam, bibir tersenyum kecil, dan pakaian diletakkan disamping wanita enggan melirik ke arahnya.
Ketika Yarash sudah keluar dan pintu tertutup rapat, sedikit tergesa Saniya memakai baju ganti, dan terburu-buru mengeringkan rambut menggunakan handuk kecil.
Sepuluh menit kemudian, Saniya sudah siap bepergian, dan sudah memakai kaki palsu yang dikenakan sepatu loafers warna khaki, lebih tertutup daripada flat shoes.
Rambutnya dibiarkan tergerai karena masih sangat lembab. Saniya menukar tas kerja dengan tas selempang kecil satu-satunya miliknya sudah dua tahun menemani.
***
“Mas, apa keputusan kita ninggalin Ardan sudah tepat? Nanti takutnya dia marah karena kamu tinggal?” tanya wanita sudah duduk di jok sebelah kemudi.
“Dia taunya saya pulang jam lima sore, sekarang masih pukul setengah dua,” jawab Yarash sambil menyalakan mesin mobil.
“Kendurkan sabuk pengaman mu, Saniya, supaya tidak menekan bagian perut yang sakit,” ucapnya perhatian.
Saniya mengendurkan tali seat belt. Dalam hati sedikit merasa cemas, takut jika Ardan tantrum sewaktu mereka pulang nanti.
Yarash tidak membunyikan klakson, menghindari suara berisik demi menjaga suasana rumah tetap aman dari gangguan teriakan balita masih terlelap di kamarnya sendiri.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Saniya diperiksa oleh dokter jaga, lalu diarahkan ke dokter spesialis kulit.
Yarash setia menemani, dia juga yang mengusulkan sang istri konsultasi ke dokter kulit agar bekas lukanya nanti bisa hilang sempurna.
Selama di rumah sakit, pasangan pengantin baru itu tampak normal di mata publik. Berjalan bersisian meski tak bergandengan tangan. Sang pria memberi perhatian dari mulai membeli minum, sampai berdiri di samping istri sewaktu menunggu antrian.
Saniya dan Yarash baru saja keluar dari ruangan dokter kulit, selanjutnya mereka menuju bagian farmasi untuk menebus beberapa jenis obat khusus diminum dan ada juga salep dioleskan ke bagian kulit yang terluka.
“Kita mampir dulu ke salah satu butik yang ada di mal, sekalian makan siang.” Yarash menarik sabuk pengamannya.
“Untuk apa ke butik?” tanya Saniya heran.
“Beli beberapa pakaian nyaman untuk kamu pakai, biar lukanya cepat sembuh,” jawabnya santai.
“Gak perlu, Mas. Bajuku yang dicuci tadi pagi sama Bibi, pasti sekarang sudah kering,” ia yang terbiasa mandiri, membeli pakaian menggunakan uangnya sendiri, merasa risih diberi cuma-cuma.
Yarash mengubah posisi duduk sedikit menyamping, menyandarkan siku pada setir mobil, lalu memandang lekat tepat pada manik hijau keemasan. “Saniya, sudah kewajiban saya memenuhi kebutuhan sandang pangan papan dirimu. Tolong jangan buat saya merasa menjadi laki-laki tidak bertanggung jawab.”
Saniya tetap enggan menerima. “Tapi beneran aku gak lagi butuh pakaian baru, yang di rumah masih bagus-bagus. Sayang uangnya —”
“Diam, atau mau saya cium kamu sekarang juga, hem ...?”
.
.
Bersambung.
ini sdh pol pas... bagus
si kecil ardan & si tita mulut racun😁
jngn di ganti lg ya kak cublik
lupakan lepaskan belenggu masa lalu.. sambutlah masa depan
dahayu apa kabarrr...