NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Salju turun deras hari itu di wilayah Utara, menelan seluruh medan perang dalam putih yang dingin dan kejam. Namun, putih itu ternodai—diselingi merah darah yang membeku di tanah. Matahari tak lagi tampak, langit diselimuti asap hitam pekat dari reruntuhan yang terbakar.

Sebagian prajurit-prajurit Eliot duduk meringkuk di sudut-sudut gelap, tubuh mereka kurus, wajah pucat kelaparan.

Bibir mereka membiru, tangan gemetar sambil menggenggam pedang yang tumpul. Sesekali terdengar batuk serak atau rintihan lapar, seperti suara kematian yang mengintai dari balik dinding.

Di kejauhan, raungan terompet musuh terdengar menembus angin. Menandakan akan adanya serangan berikutnya.

“Tuanku… sudah sebulan sejak utusan kita dikirim. Tak ada tanda bala bantuan dari ibu kota…” Seorang prajurit muda datang tergesa, lututnya gemetar.

Sir Eliot terdiam, genggamannya di gagang pedang begitu erat hingga buku jarinya memutih. Matanya menatap ke luar jendela, di mana cahaya api dari kamp suku Avarian menerangi kegelapan malam.

“… mereka sengaja membiarkan kita mati di dalam sini,” gumam Elliot lirih.

Seorang prajurit lain, lebih tua, memohon dengan suara bergetar.

“Tuanku… rakyat di dalam benteng tak lagi punya roti. Para orang tua menangisi kematian anak mereka setiap malam. Jika kita tetap bertahan di dalam sini… mereka akan mati pelan-pelan.”

Eliot menunduk, dadanya terasa sesak. Lalu ia bangkit, suaranya menggelegar, memaksa dirinya untuk tegak meski hatinya sudah porak poranda.

“Dengar aku baik-baik! Kita adalah Orion! Selama aku masih bernapas, tak satu pun dari kalian akan menyerah pada para barbarian itu! Jika kerajaan melupakan kita… maka biarlah sejarah yang mengingat nama kita!”

Sorak lemah terdengar, tapi mata para prajurit berkilat kembali dengan keberanian.

Malam itu, Avarian menyerang bertubi-tubi. Eliot bersama pasukan terakhirnya memimpin langsung di garis depan.

Musuh yang menyerbu kastil bukanlah bangsa asing dari seberang lautan, melainkan suku Avarian, yang sebelumnya terikat perjanjian damai dengan kerajaan. Davira-lah dalang di balik itu semua.

Dengan kelicikannya ia berhasil menghasut bangsa Avarian menyerang kastil Orion, menyalakan amarah mereka akibat ulah Liam yang sembrono melanggar kesepakatan.

Pedangnya berputar, tubuh-tubuh pasukan barbarian jatuh satu per satu. Nafasnya memburu, pundaknya terluka parah, tapi ia tak mundur.

Sambil menatap kobaran api yang melahap tanah leluhurnya, Eliot hanya bergumam putus asa, suaranya nyaris terkoyak oleh angin dingin.

“Bukan Avarian yang menghancurkan kami… tapi dua manusia yang lebih keji dari monster…”

Matanya berkilat, dipenuhi darah dan kebencian. Ia mengangkat wajahnya ke langit yang tertutup salju, lalu berteriak dengan seluruh tenaga yang tersisa.

“Liam! Davira! Kalian telah mengorbankan kami! Jika ada kehidupan kedua… aku bersumpah akan menebas kepala kalian dengan tanganku sendiri!”

Seolah mendengar sumpahnya, langit mendadak bergetar. Bayangan seekor naga besar berputar-putar di atas awan gelap, sayapnya merobek kabut salju. Cahayanya berkilau samar, seperti saksi bisu tragedi malam itu.

Namun, dari balik kegelapan, sebuah tombak panjang melesat menembus dadanya.

HUKK!!

Tubuh Eliot terguncang, darah hangatnya muncrat lalu cepat dari mulutnya. Ia terhuyung, tersungkur berlutut, tapi matanya tetap menatap langit yang memutih. Dengan suara parau penuh kebencian, ia memaksa bibirnya bergetar.

“Demi semua yang hilang… aku akan kembali…”

Tangannya berusaha meraih pedang yang terjatuh. Jemarinya berlumur darah, tapi ia tetap menggenggamnya erat, seakan menolak melepaskan kehormatannya.

Dan di detik terakhir, matanya perlahan terpejam di antara kobaran api, jeritan prajurit, dan raungan terompet perang Avarian.

.

.

Ya... Ini lah kejadian tiga tahun kemudian, waktunya tak lama sebelum Davira di bunuh oleh liam, Duke Elliot Lamont Orion terkubur bersama keluarganya beserta pasukannya.

Setelah kehancuran keluarga Orion, pertahanan kerajaan Nether tak pernah lagi sama. Para menteri terpecah, ada yang lari, ada yang berkhianat.

Kerajaan tetangga memutus kerja sama dagang, memandang Nether sebagai kerajaan rapuh yang menunggu runtuh. Dan dari balik hutan salju, suku Avarian menduduki tanah Orion, lalu merayap merebut beberapa daerah perbatasan Nether.

Davira tersenyum pahit, lalu tertawa seperti orang meratap. “Yah… kacau sekali kala itu.”

Ia bersandar pada pilar, tangannya meremas gaun tidur hingga berkerut. “Betapa bodohnya diriku… Menjadi anjing penurut yang menjilat kaki Liam. Semua darah, semua jeritan, dan semua kehancuran itu… Aku yang menanggungnya, hanya demi menegakkan tahtanya raja busuk.”

Davira menutup matanya sejenak, mencoba menepis bayangan wajah Eliot yang terpatri dalam ingatan. Tatapan dingin dan penuh kebencian, seakan masih menempel jelas dalam ingatan.

Dok… dok… dok!

Davira tersentak kaget. Suara ketukan itu keras, memecah keheningan malam. Ia buru-buru meraih jubah tidurnya, menyampirkannya di bahu sebelum melangkah menuju pintu.

Begitu gagang pintu diputar, tampak seorang pelayan muda berdiri di ambang dengan wajah tegang. Nafasnya terengah, seakan ia berlari dari ujung koridor.

“Ampun, Nyonya…” suaranya bergetar, menunduk dalam-dalam. “Ada seseorang yang… bersikeras ingin bertemu Anda malam ini.”

Alis Davira terangkat tipis. “Siapa?” tanyanya cepat.

Pelayan itu ragu sejenak, lalu menjawab lirih.

“Duke... Duke Eliot.”

“Malam-malam begini! Suruh dia temui aku besok pagi saja sebelum acara pernikahan,” pekik Davira ketus, melipat kedua tangannya di dada.

Pelayan itu hendak menunduk memberi hormat dan pergi, namun tiba-tiba bayangan besar menutupi cahaya lilin di koridor.

Sosok tinggi berjubah biru melangkah maju, berdiri tegak di belakang sang pelayan. Matanya yang tajam, bagaikan elang mengunci pandangan pada Davira. Tatapannya menusuk, penuh rasa ingin tahu bercampur dengan ketidakpercayaan.

Davira terdiam sejenak. Bukan karena rasa takut, melainkan karena sejarah kehidupan sebelumnya, dan hanya ia yang tahu. Davira mencoba bersikap tenang, ia menarik napas panjang, lalu mengangkat dagu dengan angkuh.

“Bukankah sangat tidak pantas bagi seorang pria terhormat seperti Anda, mendatangi seorang janda di malam begini, Duke Eliot?” ucapnya tenang, meski di balik suaranya yang datar, jantungnya berdetak tak karuan.

Eliot melangkah maju, wajahnya tetap sedingin baja. Tatapan elangnya menusuk tanpa bergeser sedikit pun. “Pernikahan mendadak yang kau tuntut… terlalu mencurigakan untuk kutunggu hingga matahari terbit.” Bibirnya terangkat tipis, membentuk senyum sinis penuh tuduhan.

Eliot menoleh sekilas pada pelayan wanita itu. “Tinggalkan kami.”

Davira ikut mengangguk, menyetujui. Begitu pintu kamar tertutup, Eliot mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya, kilatan logam muncul—sebuah belati tajam. Ujungnya segera terarah lurus ke dada Davira.

Mata Davira tetap dingin meski belati Eliot mengarah tepat ke dadanya. “Tuan Duke… apakah Anda pikir mengacungkan pisau akan membuatku gentar?” Ucapnya tajam.

Eliot menatapnya tajam, kedua matanya menyipit. “Aku hanya ingin kau mengerti… sebaiknya cari pria lain untuk kau nikahi, aku tidak akan segan-segan menghentikan pernikahan konyol yang kau rencanakan. Ingatlah, aku bukan orang yang bisa kau mainkan seperti Liam.”

Glek!

Davira menelan ludah, napasnya tersengal. Panik sesaat merayapi tubuhnya, sadar sepenuhnya bahwa di hadapannya berdiri Duke Orion—pria yang bukan hanya kuat, tapi berbahaya, nyaris seperti 'anjing gila dari Utara'.

Desas-desus yang pernah ia dengar, kalau lelaki ini pernah menumpahkan darah keluarganya sendiri… membunuh saudara, bahkan ibunya, tanpa ragu demi tujuan dan prinsipnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

#TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA ❤️❤️❤️

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
smoga Elliot cepat datang sebelum semuanya terlambat. 😭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
tawaran menggiurkan tapi… dia salah 🤣 Elliot bukan Liam yg suka sama cewek murahan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!