Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 — CEMBURU YANG TIDAK DIINGINKAN
Sore hari di Istana Valerian diwarnai oleh pendar langit keemasan yang memantul di sepanjang koridor kaca Galeri Timur. Angin sejuk musim gugur berhembus lembut, membawakan aroma bunga mawar dan wangi teh mahal dari arah gazebo utama.
Sesuai dengan arahan pengurus istana, Alena diharuskan mendampingi beberapa selir lain untuk menghadiri acara minum teh sore di pelataran Galeri Timur. Mengenakan gaun sutra simpel berwarna biru keabu-abuan, Alena duduk sedikit terpisah dari kerumunan lady bangsawan. Jemarinya sibuk merapikan lipatan kain di lapangannya, sementara pikirannya masih tertuju pada pedang kayu jati yang ditaruh Elian di samping tempat tidurnya.
Namun, ketenangan Alena terusik saat rombongan utama calon Putri Mahkota melintas di sepanjang pelataran.
Lady Seraphina Ardent melangkah dengan keanggunan sempurna. Ia mengenakan gaun sutra berwarna krem bersulamkan benang emas, perhiasan mutiara murni melingkar cantik di lehernya. Di sisinya, Pangeran Adrian berjalan tegap dengan seragam dinas militer berwarna hitam kusam.
Seraphina bergerak sangat dekat di samping Adrian. Tangannya yang terbalut sarung tangan sutra sesekali menyentuh lengan tegap sang pangeran saat wanita itu berbicara dengan senyuman paling memesona. Wajah Seraphina memancarkan aura seorang calon Ratu yang percaya diri, seolah-olah memamerkan pada seluruh istana bahwa posisinya di samping sang pewaris takhta tak tergoyahkan oleh siapa pun.
"Lihatlah mereka," bisik salah satu selir di dekat meja Alena dengan nada kagum. "Lady Seraphina benar-benar pasangan yang sangat serasi untuk Putra Mahkota. Cantik, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga Ardent yang perkasa."
"Tentu saja," timpal selir lainnya. "Hanya wanita sehebat Seraphina yang pantas berdiri di samping Pangeran Adrian saat naik takhta nanti."
Alena mendengarkan bisik-bisik itu dalam diam. Matanya yang berwarna hijau hazel sengaja dialihkan ke arah cangkir teh porselen di tangannya. Ia membujuk hatinya untuk tetap tenang, mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia kembali ke istana ini hanya demi melindungi Elian, bukan untuk merebut kembali tempat di samping Adrian.
Namun, saat matanya secara tak sengaja mendongak dan melihat bagaimana Seraphina tertawa kecil sembari membetulkan posisi kerah kemeja Adrian... sebuah sengatan pedih yang teramat tajam mendadak membakar dadanya.
Perasaan itu merayap naik tanpa bisa ditahannya—sebuah rasa cemburu yang liar, pahit, dan menyiksa.
Perasaan lama yang dikiranya telah mati dan terkubur selama tujuh tahun di Desa Bellmare kini meledak kembali dengan kekuatan yang menghancurkan. Alena mengepalkan tangannya rapat-rapat di balik meja, menahan gejolak emosi yang membuat tenggorokannya terasa kering dan sesak.
Ia membenci dirinya sendiri karena masih merasakan hal itu. Ia membenci kenyataan bahwa melihat wanita lain menyentuh Adrian masih sanggup merobek hatinya hingga hancur berkeping-keping.
Tanpa disadari Alena, dari kejauhan, Adrian menyadari kehadiran wanita itu.
Meski Seraphina terus berbicara di sisinya, perhatian Adrian sepenuhnya teralih pada sosok Alena yang duduk kaku di sudut pelataran. Mata abu-abu pekat milik sang pangeran menangkap perubahan kecil pada raut wajah Alena—jemari yang meremas kain gaun, sudut bibir yang bergetar tipis, dan pandangan mata hijau hazel yang meredup oleh luka yang tersembunyi.
Adrian menghentikan langkahnya mendadak, memotong kalimat Seraphina secara halus.
"Maafkan aku, Seraphina," ujar Adrian datar, suaranya kaku tanpa emosi. "Ada urusan dokumen paviliun yang harus kupastikan dengan pengurus interior sekarang. Kau bisa melanjutkan acara minum tehmu."
Seraphina tersentak pelan, senyum cantiknya sedikit membeku. "Ah... begitu? Baiklah, Adrian. Jangan terlalu lelah bekerja."
Seraphina terpaksa melangkah pergi bersama para pengawalnya, menyisakan Adrian yang memutar tubuhnya dan melangkah lurus menuju sudut pelataran tempat Alena duduk.
Melihat Adrian berjalan mendekat sendirian, para selir lain terburu-buru membungkuk hormat dan melangkah mundur, meninggalkan Alena sendirian di meja batu tersebut.
Alena berdiri dari kursinya, menundukkan kepala kaku. "Yang Mulia Putra Mahkota."
Adrian berhenti tepat di hadapan Alena. Pria tegap itu menunduk sedikit, mengamati wajah Alena yang dipenuhi ketegangan yang tertahan. Kebisuan di antara mereka terasa begitu tebal dan sarat akan emosi yang tertahan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu sejak tadi, Alena?" tanya Adrian pelan, suaranya rendah dan dalam.
Alena memalingkan wajahnya ke samping, menolak menatap mata abu-abu yang seolah sanggup membaca seluruh isi pikirannya. "Saya tidak menatap Anda, Yang Mulia. Saya hanya sedang menikmati teh sore."
"Kau berbohong lagi," sahut Adrian, melangkah satu garis lebih dekat. Sebuah kilatan kecil yang tajam berkilat di mata abu-abunya. "Aku melihat caramu menatapku saat Lady Seraphina berdiri di sisiku tadi."
Darah Alena mendadak mendidih akibat provokasi halus itu. Ia mengadahkan wajahnya, menatap langsung ke dalam mata Adrian dengan nada menantang yang dipenuhi kepedihan.
"Lalu apa yang Anda harapkan dari saya, Pangeran Adrian?" seru Alena dalam bisikan tajam yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Apakah Anda ingin saya bertepuk tangan melihat betapa mesranya Anda dengan calon Ratu Anda?! Lady Seraphina adalah pasangan sempurna Anda, bukan? Semuanya sangat cocok dan indah seperti yang selalu diinginkan oleh Dewan Kerajaan!"
Adrian memiringkan kepalanya sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat tipis.
"Apakah kau cemburu, Alena?" tanya Adrian pelan, nada suaranya bergetar oleh rasa ingin tahu yang dalam dan terikat.
Pertanyaan itu menghantam Alena bagai tamparan keras. Wajahnya memerah padam oleh perpaduan antara malu, marah, dan keputusasaan yang meluap.
"Cemburu?!" desah Alena dengan tawa sinis yang dipaksakan. "Jangan terlalu percaya diri, Adrian! Saya tidak memiliki hak maupun keinginan untuk cemburu pada hubungan Anda dengan Lady Seraphina! Kedatangan saya di sini hanyalah sebagai selir sementara demi Elian, bukan untuk mencampuri urusan asmara Putra Mahkota!"
"Jika kau tidak cemburu..." bisik Adrian, mendadak memangkas sisa jarak di antara mereka hingga Alena bisa merasakan napas hangat pria itu menyapu keningnya, "...mengapa matamu berkaca-kaca seperti saat kau menatapku di Taman Mawar tujuh tahun lalu?"
Kata-kata Adrian memutus seluruh pembelaan di tenggorokan Alena.
Alena membeku. Bibirnya terkatup rapat, tetapi air mata hangat yang sejak tadi ditahannya mendadak menetes melintasi pipinya tanpa bisa dikendalikan.
Melihat air mata itu jatuh, senyuman provokatif di wajah Adrian sirna seketika, digantikan oleh ekspresi kepedihan dan penyesalan yang teramat dalam. Pria itu mengangkat tangannya perlahan, berniat menyapu air mata di pipi Alena dengan ibu jarinya, namun Alena melangkah mundur satu langkah lebar, menepis secara halus sentuhan itu.
"Jangan sentuh saya, Adrian," bisik Alena, suaranya pecah oleh tangis yang tertahan. "Tolong... jangan mainkan perasaan saya lagi."
Pertengkaran kecil itu mendadak menguap, menyisakan keheningan yang teramat pedih di antara mereka berdua.
Di balik kemarahan, gengsi, dan benteng kebohongan yang coba mereka bangun masing-masing, baik Adrian maupun Alena mendadak menyadari kenyataan yang teramat menyiksa:
Cinta di antara mereka belum pernah mati.
Rasa cinta yang tumbuh tujuh tahun lalu di bawah naungan pohon eboni Taman Mawar tidak pernah sirna oleh waktu, kemiskinan, maupun ancaman politik. Rasa cinta itu masih hidup, membakar jiwa mereka dengan kerinduan yang kejam dan luka yang belum pernah benar-benar sembuh.
Adrian menatap Alena yang sedang menyapu air matanya kasar, dadanya berdenyut perih luar biasa. "Aku tidak sedang memainkan perasaanmu, Alena," kata Adrian parau, suaranya sarat akan kebenaran yang jujur. "Karena bagiku... tidak pernah ada wanita lain di dalam hatiku selain dirimu."
Alena menahan napasnya, menatap Adrian dengan keputusasaan yang mendalam sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi terburu-buru menyusuri Galeri Timur, meninggalkan Adrian yang berdiri membeku di bawah pendar keemasan sore yang kian meredup.