Dulu, Adrian hanyalah seorang anak miskin yang setiap hari hidup dalam hinaan dan siksaan. Hingga suatu malam, hidupnya berubah ketika seorang Don mafia terbesar di Swiss mengangkatnya sebagai anak dan pewaris keluarga Moretti.
Kini, di usia 23 tahun, Adrian Moretti dikenal sebagai Don muda yang disegani. Dingin, kejam kepada musuh, tetapi selalu melindungi orang yang tidak bersalah.
Sampai suatu hari, ia menyelamatkan seorang gadis bernama Aurora yang dikejar para penagih utang, orang-orang yang ternyata pernah menghancurkan masa kecil Adrian.
Niatnya hanya menolong, namun semakin lama mengenal Aurora, hati Adrian yang selama ini membeku perlahan luluh. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta. Sayangnya, Adrian tidak pernah belajar bagaimana mencintai dengan benar.
Baginya, mencintai berarti melindungi.
Melindungi berarti memiliki. Dan siapa pun yang berani merebut Aurora darinya... akan menjadi musuh seluruh keluarga Moretti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 : Menjadi Tahanan
Aurora mengerutkan kening. "Keluarga... Moretti?"
Nama itu terdengar begitu familiar dan itu yang membuat bulu kuduknya meremang.
Ia menoleh ke arah Adrian. "Siapa sebenarnya kalian?"
Adrian tidak langsung menjawab. Ia kembali melangkah memasuki aula utama, seolah pertanyaan itu tidak cukup penting untuk dijawab.
Aurora mengejar langkahnya. "Hei! Aku sedang bertanya!"
Adrian berhenti tepat di depan tangga marmer yang melengkung ke lantai dua. Perlahan ia membalikkan badan.
"Aku Adrian Moretti."
Aurora menghela napas kesal. "Nama itu sudah kau katakan tadi. Maksudku, siapa sebenarnya dirimu?"
Beberapa pelayan saling melirik.
Johan hanya berdiri di belakang Adrian sambil mengusap tengkuknya pelan. Tak banyak orang yang berani menanyakan identitas Don mereka secara langsung.
Adrian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. "Aku pemilik tempat ini."
"Hanya itu?"
"Ya."
Aurora mendecak pelan. "Kalau hanya pemilik rumah, kenapa semua orang memanggilmu Don?"
Mendengar pertanyaan itu, suasana aula mendadak menjadi sunyi. Tak seorang pun berani mengeluarkan suara. Johan bahkan sempat melirik Adrian, menunggu apakah pemimpinnya akan menjawab atau tidak.
Beberapa detik kemudian...
"Aku pemimpin keluarga Moretti."
Aurora berkedip. "Keluarga? Maksudmu perusahaan keluarga?"
Adrian tidak menjawab.
Sebaliknya, Johan yang melangkah maju. "Nona Aurora. Mulai hari ini, Anda berada di bawah perlindungan keluarga Moretti."
Aurora mengernyit. "Perlindungan dari siapa?"
Johan terdiam. Ia menoleh kepada Adrian, meminta izin. Adrian menganggukkan kepala pelan.
Johan menarik napas. "Keluarga Moretti bukan keluarga biasa."
Aurora mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Apa maksudmu?"
"Organisasi kami menguasai sebagian besar wilayah Swiss."
Jantung Aurora berdetak sedikit lebih cepat. "Organisasi? Organisasi apa?"
Sebelum Johan sempat menjawab, Adrian lebih dulu menjawab. "Organisasi yang membuat banyak orang takut menyebut namanya."
Aurora menatapnya lekat. "Apa maksudmu?"
Adrian tetap memasang wajah datar. "Semakin sedikit yang kau tahu, semakin aman untukmu. Aku tidak suka menyembunyikan sesuatu dari orang yang berada di bawah perlindunganku. Tapi untuk saat ini, sebaiknya kau jangan banyak bertanya."
Aurora mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Karena dunia yang sedang kau masuki bukan dunia yang seharusnya kau kenal."
Suasana kembali hening.
Aurora ingin kembali bertanya, tetapi tatapan Adrian yang dingin membuat kata-kata itu tertahan di tenggorokannya.
Adrian mengalihkan pandangan ke arah seorang wanita muda yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari tangga.
"Isabel."
Seorang wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun dengan seragam pelayan berwarna hitam putih segera melangkah maju dan membungkukkan badan.
"Ya, Don."
"Antar gadis ini ke kamarnya."
Isabel mengangguk hormat. "Baik, Don."
Adrian melanjutkan ucapannya. "Siapkan pakaian yang layak untuknya. Ajarkan semua peraturan yang berlaku di markas ini. Mulai besok, bawa dia ke mansion. Untuk sementara dia akan membantu pekerjaan di sana."
"Baik, Don Muda."
Aurora langsung membelalakkan mata. "Tunggu! Aku tidak pernah setuju untuk tinggal di sini! Apalagi bekerja untukmu!" Ia menatap Adrian dengan kesal. "Kau bahkan tidak bertanya pendapatku."
Isabel tampak gugup melihat keberanian Aurora. Belum pernah ada orang yang berbicara seberani itu kepada Don muda mereka.
Namun Adrian tetap tenang, ia menatap Aurora beberapa detik sebelum berkata pelan, "aku lelah."
Aurora masih ingin membantah. "Tapi aku..."
"Untuk malam ini..." Adrian memotong ucapannya tanpa meninggikan suara. "Jangan membantah." Nada suaranya tetap tenang, tetapi mengandung wibawa yang membuat seluruh ruangan kembali sunyi. "Banyak hal yang akan ku jelaskan nanti. Tapi bukan sekarang, aku sudah mengambil keputusan."
Aurora mengepalkan kedua tangannya. Ia benar-benar ingin berteriak. Namun melihat puluhan pasang mata yang tertuju kepadanya, ia akhirnya menghela napas panjang. Dengan kesal ia memalingkan wajah.
"Terserah."
Sudut bibir Johan nyaris terangkat melihat reaksi itu. Baginya, Aurora adalah satu-satunya orang yang berani berkali-kali membantah Adrian dan masih bisa berdiri dengan tenang.
Adrian menoleh kepada Isabel. "Pastikan dia makan, dan obati luka di wajahnya. Kalau ada yang kurang, laporkan langsung kepadaku."
"Baik, Don."
Setelah memastikan semuanya, Adrian berbalik menuju tangga. Langkahnya perlahan menghilang menuju lantai dua.
Sementara Aurora hanya bisa menatap punggung pria itu dengan perasaan campur aduk. Kesal, bingung, namun di sisi lain... ia mulai penasaran.
Sebenarnya, siapa Adrian Moretti hingga seluruh orang di rumah sebesar ini mematuhinya tanpa berani sedikit pun membantah?
"Silahkan ikut saya, Nona Aurora." Suara lembut Isabel membuyarkan lamunan Aurora.
Aurora menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk pelan. Meski terpaksa, untuk saat ini ia sadar tidak punya pilihan lain.
Isabel berjalan lebih dulu melewati aula yang begitu luas. Aurora mengikuti dari belakang sambil terus memperhatikan setiap sudut bangunan itu.
Semua terlihat begitu mewah. Lantai marmer putih mengkilap, dinding yang dipenuhi lukisan bernilai jutaan franc, hingga lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit.
Yang membuat Aurora semakin heran bukanlah kemewahannya. Melainkan para pelayan, setiap kali berpapasan dengan Adrian, mereka langsung membungkukkan badan dengan penuh hormat.
Bahkan setelah Adrian menghilang di lantai dua, tak satu pun dari mereka berani kembali berdiri sebelum sosoknya benar-benar tak terlihat.
Aurora berbisik pelan. "Dia memang seseram itu?"
Isabel yang mendengarnya tersenyum tipis. "Don Adrian bukan orang yang menakutkan."
Aurora langsung menoleh. "Serius? Kalau bukan orang yang menakutkan, kenapa semua orang seperti takut kepadanya?"
Isabel menghentikan langkahnya sejenak. "Bukan takut."
"Lalu?"
"Hormat."
Aurora mengernyit.
"Don Adrian memang masih muda. Tetapi beliau memimpin ribuan orang. Beliau juga telah menyelamatkan banyak nyawa kami."
Aurora terdiam, ucapan itu membuat bayangannya tentang Adrian sedikit berubah.
"Tapi..." gumamnya pelan. "Dia memaksaku datang ke sini."
Isabel tersenyum kecil. "Itu memang sifatnya."
"Maksudmu suka menculik orang?"
Isabel spontan terkekeh pelan. "Bukan. Don hanya terlalu keras kepala. Kalau Don Adrian merasa seseorang harus dilindungi... tidak ada yang bisa mengubah keputusannya."
Aurora mendesah pelan. "Benar-benar pria aneh."
Tak lama kemudian mereka tiba di lantai tiga. Lorong panjang terbentang dengan deretan pintu kayu berwarna putih gading di kedua sisinya.
Isabel berhenti di depan sebuah pintu.
Klik.
Pintu dibuka perlahan.
Aurora membelalakkan mata. Ruangan itu jauh lebih besar daripada apartemen kecil yang selama ini ia tinggali. Tempat tidur berukuran king size berdiri di tengah ruangan.
Di sampingnya terdapat sofa, meja kerja, televisi besar, balkon pribadi, hingga kamar mandi yang hampir sebesar kamar tidurnya dulu.
"Ini..." Aurora menoleh kepada Isabel. "Ini kamarku?"
Isabel mengangguk. "Iya, mulai malam ini... ini kamar Nona."
Aurora masuk perlahan, tangannya menyentuh seprai putih yang begitu lembut. "Aku bahkan belum pernah tidur di tempat seperti ini."
Isabel hanya tersenyum.
Saat itu pula terdengar ketukan di pintu.
Tok... tok...
Dua pelayan masuk sambil membawa beberapa kotak besar. "Nona, ini pakaian yang diperintahkan Don Adrian."
Aurora memandang kotak-kotak itu dengan bingung. "Untukku?"
"Ya."
Setelah kotak dibuka, Aurora kembali terdiam. Di dalamnya tersusun rapi berbagai pakaian dengan kualitas yang jelas sangat mahal. Gaun, kemeja, celana, sepatu, tas. Bahkan perlengkapan mandi dan kosmetik pun telah disiapkan.
Aurora langsung menggeleng. "Tidak... aku tidak bisa menerima semua ini."
Isabel menatapnya lembut. "Kalau Anda menolak... Don Adrian pasti akan memerintahkan kami menyiapkan yang baru."
Aurora menghela napas panjang. "Dia memang selalu seperti itu?"
"Ya... kalau sudah memutuskan sesuatu, beliau tidak pernah berubah pikiran."
Aurora memijat pelipisnya. "Ya Tuhan... orang macam apa yang baru bertemu beberapa jam sudah mengatur seluruh hidup orang lain?"
Isabel hanya tertawa kecil. Namun sebelum sempat menjawab, sebuah telepon di meja kamar berdering.
Tring...
Isabel segera mengangkat gagang telepon. "Ya?"
Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah serius. "Baik, Don."
Sambungan ditutup.
Aurora menatapnya penasaran. "Ada apa?"
Isabel menoleh. "Don Adrian meminta saya menyampaikan pesan."
"Pesan apa?"
Isabel menarik napas pelan. "Mulai malam ini... Nona tidak boleh keluar dari area markas tanpa izinnya."
Aurora langsung berdiri. "Apa?"
"Don juga memerintahkan seluruh penjaga untuk menghentikan anda, jika anda mencoba pergi."
Wajah Aurora berubah kesal. "Jadi sekarang aku benar-benar menjadi tahanan?"