NovelToon NovelToon
Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Kamu Yang Selalu Ku Pilih

Status: tamat
Genre:Office Romance / CEO / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:674
Nilai: 5
Nama Author: Gek_Nia

Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

REKAMAN TERAKHIR

Dua hari.

Hanya itu waktu yang mereka punya sebelum tanggal 17 Agustus.

Alya duduk di ruang kerja Raka sambil menatap kalender lama yang ditemukan di meja Dimas.

Tanggal 17 diberi lingkaran merah.

Di bawahnya tertulis:

Pertemuan terakhir — A.S.

Tidak ada alamat.

Tidak ada jam.

Tidak ada nama lengkap.

Hanya dua huruf.

“Kalau A.S. adalah ayahmu,” kata Alya, “berarti pertemuan itu mungkin terjadi sebelum kecelakaan.”

Raka mengangguk.

“Dan Dimas masih menyimpan catatannya sampai sekarang.”

“Pertanyaannya, kenapa?”

Raka diam.

“Karena pertemuan itu penting,” jawabnya.

“Seberapa penting?”

“Sampai dua puluh lima tahun kemudian dia masih menyimpan pengingatnya.”

Alya menatap kalender.

“Berarti kita tidak perlu mencari tanggalnya.”

Raka menoleh.

“Kita perlu mencari tempatnya.”

PUKUL 10.00

Mereka kembali ke rumah lama keluarga Mahendra.

Kali ini Raka membawa semua dokumen lama yang masih tersimpan.

Alya membuka satu per satu.

Kontrak.

Surat.

Catatan rapat.

Agenda lama.

Semuanya diperiksa.

Tidak ada yang menyebut tanggal 17 Agustus.

Sampai Alya menemukan sebuah buku agenda milik ayah Raka.

Dia membukanya.

Halaman-halamannya sudah menguning.

Tanggal 16 Agustus.

Tidak ada catatan.

Tanggal 17 Agustus.

Kosong.

Tanggal 18 Agustus.

Hanya satu kalimat:

“Bertemu seseorang. Harus menyelesaikan semuanya.”

Alya terdiam.

“Raka.”

Raka mendekat.

Dia membaca.

Wajahnya berubah.

“Ini tulisan ayah saya.”

“Jadi pertemuan itu memang terjadi.”

Raka mengangguk.

“Dan dia menulisnya sehari setelah tanggal yang ada di kalender Dimas.”

Alya mengerutkan kening.

“Berarti tanggal 17 bukan pertemuan terakhir.”

“Bisa jadi.”

“Lalu apa?”

Raka membalik halaman berikutnya.

Ada sesuatu yang terselip di sana.

Sebuah kartu nama lama.

Nama:

Surya Adinata

Di bawahnya:

Konsultan Keuangan — Surya Investama

Alya langsung mengenali nama itu.

“Ini perusahaan yang kita cari.”

Raka menatap kartu nama tersebut.

“Surya Adinata…”

“Dia yang dulu menjadi perantara transaksi.”

Raka mengangguk.

“Dan perusahaan itu muncul lagi dalam transaksi saham Arkana.”

Alya mulai menyusun semuanya.

“Dimas menggunakan Surya Investama.”

“Surya Adinata adalah orang yang menangani transaksi.”

“Dan Reza membeli saham melalui Arkana.”

Raka mengangguk.

“Tapi kita belum tahu siapa yang mengatur semuanya.”

Alya menunjuk kartu nama.

“Cari Surya.”

SIANG HARI

Mereka menemukan alamat lama Surya Adinata.

Namun rumah tersebut sudah kosong.

Tetangga sekitar mengatakan Surya pindah beberapa tahun lalu.

Tidak ada yang tahu ke mana.

Raka mulai frustrasi.

“Semua orang menghilang.”

Alya menatap rumah itu.

“Tidak semuanya.”

“Apa maksudmu?”

“Kalau Surya benar-benar ingin menghilang, kenapa perusahaan miliknya masih aktif?”

Raka langsung menoleh.

“Apa?”

Alya membuka laptop.

Dia mencari data perusahaan.

Benar.

PT Surya Investama masih terdaftar.

Bahkan laporan tahun terakhir menunjukkan aktivitas finansial.

Alya menunjuk layar.

“Perusahaannya masih hidup.”

“Siapa direkturnya sekarang?”

Alya membaca.

Kemudian membeku.

“Reza Santoso.”

Raka terdiam.

“Jadi…”

“Reza mengambil alih perusahaan Surya.”

Alya mengangguk.

“Berarti dia tahu semua.”

Raka langsung menelepon Reza.

Tidak diangkat.

Dia menelepon lagi.

Tetap tidak diangkat.

Alya berkata,

“Jangan telepon.”

“Kenapa?”

“Dia mungkin sengaja tidak menjawab.”

Raka menatapnya.

“Lalu?”

“Kita temui langsung.”

PUKUL 15.00

Reza akhirnya muncul di kantor.

Dia masuk tanpa banyak bicara.

Raka langsung berkata,

“Kami menemukan kartu nama Surya.”

Reza tidak terlihat terkejut.

“Sudah waktunya kalian menemukannya.”

Alya menatapnya.

“Kamu tahu?”

“Sejak awal.”

Raka menegang.

“Kenapa tidak bilang?”

“Karena kalian belum siap mendengarnya.”

“Jangan bermain teka-teki.”

Reza duduk.

“Surya bekerja untuk ayahmu.”

Raka mengerutkan kening.

“Bukan untuk Dimas?”

“Awalnya untuk ayahmu.”

Alya terkejut.

“Lalu?”

Reza menjawab,

“Dimas mengambil alih kendali transaksi setelah ayahmu mulai curiga.”

Raka menatapnya.

“Dan Surya?”

“Dia takut.”

“Takut kepada Dimas?”

Reza mengangguk.

“Dimas mengancam keluarganya.”

Raka mengepalkan tangan.

“Di mana dia sekarang?”

Reza diam.

“Reza.”

“Surya meninggal dua tahun lalu.”

Ruangan langsung sunyi.

Alya menatap Reza.

“Bagaimana?”

“Kecelakaan.”

Raka membeku.

“Kecelakaan?”

Reza mengangguk.

“Mobilnya masuk jurang.”

Alya merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Seperti ayah Raka?”

Reza tidak menjawab.

Namun ekspresinya sudah cukup.

Raka berdiri.

“Jadi kamu sudah tahu semua ini?”

“Saya tahu sebagian.”

“Kenapa baru sekarang?”

“Karena saya tidak percaya kepada siapa pun.”

Raka menatapnya tajam.

“Termasuk saya?”

“Terutama kamu.”

Raka terdiam.

Reza kemudian mengeluarkan sebuah amplop.

“Ini milik Surya.”

Dia menyerahkannya kepada Raka.

“Dia menitipkannya kepada saya sebelum meninggal.”

Raka menerima.

“Kenapa baru diberikan sekarang?”

“Karena surat itu menyebut satu nama.”

“Siapa?”

Reza menatapnya.

“Dimas.”

SURAT SURYA

Mereka membuka surat itu di ruang Raka.

Tulisan tangan Surya terlihat bergetar.

Surat tersebut ternyata ditulis beberapa tahun lalu.

Isinya bukan pengakuan lengkap.

Tetapi sebuah peringatan.

Surya menulis bahwa Dimas telah menggunakan perusahaan-perusahaan perantara untuk memindahkan uang Mahendra Group.

Namun ada satu transaksi yang berbeda.

Transaksi tersebut dilakukan setelah ayah Raka mengetahui semuanya.

Jumlahnya sangat besar.

Dan penerimanya bukan Dimas.

Melainkan sebuah rekening atas nama perusahaan asing.

Alya membaca bagian tersebut.

“Perusahaan asing?”

Raka mengangguk.

“Berarti Dimas bukan orang terakhir yang menerima uang.”

“Lalu siapa?”

Alya membaca nama perusahaan.

Kemudian terdiam.

“Raka…”

“Hm?”

“Perusahaan ini masih aktif.”

“Di mana?”

“Singapura.”

Raka mengambil laptop.

Mereka mencari data perusahaan tersebut.

Beberapa detik kemudian—

Raka membeku.

Pemilik perusahaan itu bukan orang asing.

Namanya:

Aditya Santoso.

Alya mengerutkan kening.

“Aditya?”

Raka menatap layar.

“Itu nama ayah saya.”

Alya langsung menatapnya.

“Tidak mungkin.”

“Bukan.”

Raka memperbesar dokumen.

Nama lengkapnya berbeda.

Aditya Bram Santoso.

Alya menghela napas.

“Jadi bukan ayahmu.”

“Bukan.”

“Siapa dia?”

Raka terdiam.

Kemudian berkata,

“Adik Bram.”

Alya membeku.

“Berarti…”

“Paman Reza.”

Mereka saling menatap.

Ternyata aliran uang tidak berhenti pada Dimas.

Uang itu bergerak menuju keluarga Santoso.

Namun masih belum jelas apakah Reza terlibat atau tidak.

MALAM

Alya pulang bersama Raka.

Mereka duduk di teras rumahnya.

Tidak ada laptop.

Tidak ada dokumen.

Untuk beberapa menit, mereka hanya diam.

Alya memecah keheningan.

“Raka.”

“Hm?”

“Kalau semua ini benar…”

“Apa?”

“Berarti keluarga kamu dan keluarga Reza sama-sama punya bagian dalam masalah ini.”

Raka mengangguk.

“Mungkin.”

“Dan Dimas adalah orang yang menghubungkan semuanya.”

“Iya.”

Alya menatapnya.

“Kamu masih percaya Reza?”

Raka berpikir.

“Saya tidak tahu.”

“Kalau dia ternyata terlibat?”

“Saya akan menghadapinya.”

“Kalau dia tidak terlibat?”

“Berarti dia juga sedang mencari kebenaran.”

Alya tersenyum.

“Kamu mulai belajar tidak langsung menuduh orang.”

Raka tertawa kecil.

“Pengaruh kamu.”

Alya menatapnya.

“Bagus.”

Mereka terdiam lagi.

Kemudian Raka menggenggam tangan Alya.

“Saya tidak pernah membayangkan masa lalu keluarga saya akan seperti ini.”

Alya membalas genggamannya.

“Kamu tidak harus menyelesaikannya sendirian.”

Raka menatapnya.

“Saya tahu.”

“Dan satu lagi.”

“Hm?”

“Jangan lupa kita sudah punya janji.”

“Janji apa?”

“Setelah semuanya selesai…”

Alya tersenyum.

“Kamu akan mengajakku makan malam sebagai seorang laki-laki.”

Raka tertawa.

“Masih ingat?”

“Jelas.”

“Kalau begitu saya harus memastikan semuanya selesai.”

KEESOKAN HARINYA

Mereka tidak mendapatkan kesempatan.

Pukul 07.30, telepon Raka berdering.

Nomor tidak dikenal.

“Halo?”

Tidak ada jawaban.

Kemudian terdengar suara laki-laki.

“Berhenti mencari.”

Raka langsung berdiri.

“Siapa ini?”

“Kalau kamu terus mencari masa lalu, orang-orang di sekitarmu akan terkena akibatnya.”

Telepon terputus.

Raka menatap Alya.

“Siapa?”

Raka tidak menjawab.

“Raka?”

“Ancaman.”

Alya langsung serius.

“Dimas?”

“Tidak tahu.”

Ponsel Raka kembali berbunyi.

Kali ini pesan.

Sebuah foto.

Alya melihat layar.

Foto dirinya.

Diambil ketika dia keluar dari kantor kemarin.

Alya membeku.

“Dia mengikuti saya.”

Raka langsung mengambil ponsel.

Wajahnya berubah.

“Mulai sekarang kamu tidak boleh pergi sendirian.”

Alya mengangguk.

Namun kemudian dia melihat detail kecil pada foto.

Di belakangnya ada sebuah mobil hitam.

Plat nomor terlihat samar.

Alya memperbesar foto.

“Raka.”

“Apa?”

“Saya pernah melihat mobil ini.”

“Di mana?”

“Di kantor.”

Raka terdiam.

“Mobil siapa?”

Alya menunjuk logo kecil di kaca depan.

“Mobil operasional salah satu direktur.”

Raka menatap foto itu.

Kemudian perlahan memahami.

Ancaman tersebut bukan berasal dari luar.

Seseorang dari dalam perusahaan sedang mengawasi mereka.

PUKUL 10.00

Raka memanggil kepala keamanan.

“Saya ingin daftar kendaraan yang masuk dan keluar gedung selama satu minggu terakhir.”

“Baik, Pak.”

“Jangan beri tahu siapa pun.”

“Siap.”

Dua jam kemudian, daftar itu datang.

Alya memeriksa.

Mobil hitam tersebut tercatat masuk hampir setiap hari.

Pemilik akses:

Dimas Wibowo.

Namun ada satu masalah.

Dimas sudah mengundurkan diri.

Dan menurut catatan keamanan—

kartu aksesnya masih aktif.

Alya menatap Raka.

“Ini tidak mungkin.”

Raka mengangguk.

“Berarti ada orang yang menggunakan aksesnya.”

“Siapa?”

Raka melihat daftar.

Kemudian satu nama muncul.

Asisten pribadi Dimas.

Alya langsung berdiri.

“Kita harus menemukannya.”

Namun ketika mereka menuju meja staf tersebut—

mejanya sudah kosong.

Komputernya mati.

Telepon tidak aktif.

Dan di atas meja hanya tersisa sebuah amplop.

Ditujukan kepada:

Raka Mahendra.

Raka membuka amplop itu.

Di dalamnya hanya ada satu kalimat.

“Kalau ingin tahu siapa yang membunuh ayahmu, datang ke tempat kecelakaan pada tanggal 17 Agustus. Datang sendiri.”

Alya menatap Raka.

Besok tanggal 17.

Raka menggenggam surat itu.

“Ini jebakan.”

Alya mengangguk.

“Jelas.”

“Kalau saya datang sendiri, mereka mungkin sudah menunggu.”

“Kalau kamu tidak datang, kita mungkin kehilangan kesempatan.”

Raka menatap Alya.

“Kamu tidak ikut.”

Alya menggeleng.

“Kali ini tidak.”

“Ini berbahaya.”

“Saya tahu.”

“Justru karena itu.”

Alya menatapnya dengan tenang.

“Kita sudah terlalu jauh untuk kembali.”

Raka diam.

Alya menggenggam tangannya.

“Kita datang bersama.”

Raka menatapnya beberapa detik.

Kemudian mengangguk.

“Baik.”

Besok mereka akan kembali ke tempat ayah Raka mengalami kecelakaan.

Tempat yang selama dua puluh lima tahun dianggap sebagai akhir dari sebuah kehidupan.

Namun kali ini—

mereka akan datang untuk mencari awal dari sebuah kejahatan.

Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kebenaran akhirnya akan muncul.

1
Anugerah Kreasi Dewata
ceritanya menarik.. mungkin bisa menjadi salah satu novel yang saya rekomendasikan untuk di baca
Dewi Wibawa
terimakasih kakak🙏
Uthie
Ada yg mulai cemburu, tapi masih gengsi 😁😁👍
Uthie
cowok gengsian keburu di tikung 😂
Uthie
Sukkkkaaa banget moment macam itu 👍😁😁😁
Uthie
Saya masih lanjut baca 😍😍👍
Uthie
Menarik 👍👍😁🤗
Uthie
tertarik mampir untuk sebuah cerita baru 😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!