Amira tiba-tiba diperhatikan Dimas — cowok paling populer di sekolah. Tapi di sisi lain, ada Farhan, sahabat sejak kecil yang diam-diam udah lama menyayanginya.
Dua hati sama tulus, dua cara beda sayang. Dan Amira harus memilih — tanpa menyakiti salah satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azqia putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6:Kebenaran yang terbalik
Gue berdiri kaku di ambang pintu. Darah di kepala rasanya panas, sampe gak bisa napas teratur.
"Gue ikut tersangkut? Gue gak tau apa-apa, Han!"
"Gue tau, Mir! Gue tau lo bersih sepenuhnya. Tapi dia tulis di surat itu kalau lo udah tau dari lama dan pilih diam — ikut nutupin semua." Farhan napasnya masih berat, matanya liar, takut banget. "Orang tua gue marah besar. Bilang kalau ini keluar, gak cuma masa depan gue yang hancur... nama lo juga kena kotor."
"Terus lo mau gue lakuin apa?" Suara gue pecah. "Ikut lo pergi? Diam diem nunggu dihukum karena kesalahan lo?"
"Gak! Gue gak mau nyeret lo!" Dia maju selangkah, tangannya gemetar mau pegang gue tapi berhenti di udara. "Gue mau ketemu dia dulu. Gue harus minta surat itu balik. Gue mau bilang dia — lakukan apa pun ke gue, tapi jangan libatkan lo."
"Lo kira dia bakal denger?" Gue geleng-geleng kepala, mundur selangkah. "Dia udah ancam dari awal, Han. Dan sekarang lo malah kasih dia alasan buat makin jauh."
"Tadinya gue mau jujur semuanya ke lo di taman..." Dia turunkan kepala, suaranya pecah. "Ternyata dia udah rencanain dari jauh. Gue bodoh banget. Gue kira sembunyiin itu melindungi lo. Ternyata malah bikin lo jadi sasaran."
"Siapa yang kasih nomor lo ke dia? Siapa yang kirim pesan-pesan itu ke gue?" Gue tiba-tiba ingat semua pesan dari nomor asing itu. Isinya selalu tau persis apa yang terjadi di antara kita. "Han... ada orang lain yang tau semuanya. Dan dia mainin kita bertiga."
Farhan natap gue, kaget. "Maksud lo?"
"Pesan masuk tiap kali ada yang baru kejadian. Tau soal kecelakaan, tau soal Rina, tau soal pertemuan di taman... Gue kira cuma Rina. Tapi kalau dia sibuk ancam lo lewat surat, siapa yang kirim ini ke gue?" Gue tunjuk layar HP yang masih menampilkan pesan terakhir.
Muka Farhan pucat banget. "Gue harus cari dia. Sekarang."
"Gue ikut." Gue ambil tas di balik pintu.
"Gak boleh, Mir! Berbahaya!"
"Kalau dia ancam nama gue, berarti gue punya hak denger semuanya langsung dari mulut dia. Gue gak mau jadi orang yang cuma diomongin tanpa ngerti apa yang terjadi." Gue langkah duluan keluar pintu, kunci pintu rumah, terus jalan ke arah gerbang. "Jangan coba larang gue, Han. Kali ini gue ikut."
Dia ngejar dari belakang, langkahnya berat, tapi akhirnya jalan di sebelah gue. "Oke. Tapi lo tetap di belakang gue. Kalau ada apa-apa, lari. Gak usah nanya, gak usah nunggu."
"Ke mana kita cari dia?"
"Ke rumah kosong di pinggir jalan raya. Dulu kita sering ke sana. Kalau dia mau pergi tanpa ketemu gue dulu... kemungkinan besar di sana."
Jalan ke sana rasanya lama banget. Sepanjang jalan gue mikir — siapa yang sebenarnya di balik semua ini? Kenapa semua informasi itu dikirim ke gue seolah-olah orang itu mau gue tahu, tapi selalu potong di bagian paling penting?
Pas sampe di depan rumah tua itu, lampunya mati. Sepi. Tapi motor Rina ada di depan.
"Dia di dalam," bisik Farhan. "Tunggu di sini ya."
"Gue ikut," jawab gue tegas, gak ngalah.
Dia menghela napas panjang, lalu melangkah masuk duluan. "Rina!" suaranya memantul di ruang kosong. "Gue datang! Keluar aja!"
Dari ruang tengah, lampu menyala pelan. Rina berdiri di sana, tas besar di kaki, selembar kertas di tangan kanannya. Tapi dia gak sendirian.
Ada seseorang berdiri di belakangnya.
Gue mundur selangkah, napas gue tertahan.
Orang itu melangkah maju sedikit, cahaya lampu jatuh ke wajahnya.
Dimas.
Dia natap gue tenang, tanpa kaget sama sekali.
"Lo..." suara gue hilang. "Lo yang kirim semua pesan itu?"
Dimas senyum tipis, bukan senyum yang gue kenal selama ini. Lebih dingin. Lebih tajam.
"Gue cuma bantu kalian berhenti bohong, Mir. Gue kasih bukti. Gue kasih waktu." Dia natap Farhan. "Dan sekarang... waktunya milih."
Farhan berdiri di depan gue, badan dia menutupi sebagian badan gue. "Lo mau apa? Lo yang atur semuanya dari awal?"
"Gue mau apa?" Dimas tertawa kecil. "Gue mau apa yang seharusnya gue dapet dari awal. Gue mau dia sadar siapa yang pantas di sampingnya. Bukan pengecut yang sembunyi di balik rahasia."
"Lo rusak semuanya cuma buat milih?" Gue maju sedikit, tangan gue gemetar. "Lo bikin gue takut, bikin gue sakit, bikin gue bingung... cuma karena lo mau menang?"
"Gue gak main-main, Mir!" Dimas maju selangkah, matanya tajam. "Gue tunjukin siapa dia sebenarnya sebelum lo jatuh terlalu dalam! Itu bukan permainan! Itu perlindungan!"
"Perlindungan yang nyakiti semua orang?" Farhan maju, suaranya naik. "Lo pakai Rina, pakai kecelakaan, pakai nama gue — lo mainin kita kayak boneka!"
"Dia hamil bukan karena gue, Farhan!" potong Dimas tiba-tiba. "Dan lo tau itu!"
Keheningan. Berat banget.
Rina menunduk, kertas di tangannya terlipat pelan. "Gue... gue gak tau harus bilang gimana. Gue janji sama Dimas gue bakal diam sampai hari ini."
Dimas taruh tangan di saku, natap lurus ke Farhan.
"Kecelakaan itu... gue yang nyetir, Mir. Bukan dia."
Dunia di sekitar gue rasanya berhenti berputar. Napas gue berat, gak bisa masuk sampe dada. "Lo... lo yang nyetir?"
"Iya." Dimas gak natap jauh. Matanya lurus ke gue, tegas, gak mundur sedikit pun. "Malam itu hujan, gue yang bawa mobil. Gue yang nabrak pembatas. Farhan cuma duduk di sebelah. Tapi dia bilang ke semua orang — ke orang tua gue, ke polisi, ke siapa pun — kalau dia yang nyetir. Biar gak ada catatan di nama gue. Biar gue tetap bersih."
Gue natap Farhan. Dia nunduk, pundaknya turun pelan. "Han... bener ini?"
Dia angkat kepala pelan, matanya merah. "Gue janji sama dia. Gue bilang gue bakal tanggung semuanya. Karena gue yang ajak dia keluar malam itu. Gue yang minta dia nyetir walau hujan deras. Gue rasa itu salah gue juga."
"Terus lo diam setahun penuh?" Suara gue pecah. "Lo biar semua orang — termasuk gue — mikir lo yang nabrak, lo yang luka dia, lo yang pengecut? Padahal lo cuma nutupin dia?"
"Karena dia takut masa depannya hancur, Mir!" Farhan suaranya naik, air mata jatuh sendiri. "Gue rela kalau nama gue kotor. Asal dia tetap baik-baik aja. Gue kira itu pertemanan yang benar."
"Pertemanan yang bikin gue nyakiti lo dari jauh?" Dimas potong, suaranya dingin. "Gue lihat lo makin jauh dari dia, makin tertutup, makin takut. Gue gak bisa diam nonton lo hancur pelan-pelan karena satu rahasia."
"Jadi lo rusak semua orang cuma buat bikin dia sadar?" Gue mundur selangkah lagi, punggung nempel tembok. "Lo pakai Rina, lo pakai berita hamil, lo ancam nama gue... semua cuma biar kita berhenti pura-pura?"
"Berita hamil itu gue gak bikin," kata Dimas tenang. "Itu bener. Cuma bukan anak Farhan. Rina tau dari awal. Dia cuma pakai kesempatan ini buat minta uang dari orang tua Farhan."
Rina mendadak jatuh duduk di lantai, nangis. "Gue putus asa... gue pikir kalau gue bilang itu anak Farhan, dia bakal tanggung jawab. Gue gak tau harus ke mana lagi."
"Dan lo tau dari awal?" Gue natap Dimas lagi. "Lo tau semua?"
"Gue tau sebagian. Sisanya gue cari pelan-pelan. Makanya gue kasih pesan ke lo — satu-satu. Biar lo sendiri yang lihat. Bukan karena gue jahat. Tapi karena kalau gue bilang langsung, lo gak bakal percaya."
Farhan maju, berdiri di samping gue. "Gue minta maaf, Mir. Gue seharusnya cerita dari awal. Gue kira diam itu melindungi. Ternyata diam itu yang memisahkan kita."
Gue natap mereka bertiga satu per satu. Semua cerita yang gue kira udah gue paham — ternyata terbalik sepenuhnya. Yang gue kira jujur ternyata main peran. Yang gue kira pengecut ternyata rela hancur buat orang lain. Yang gue kira musuh ternyata cuma korban yang salah jalan.
"Gue butuh waktu," kata gue pelan, suaranya masih gemetar. "Semua ini... terlalu cepat. Terlalu banyak yang berubah."
Gue mundur ke arah pintu. Gak ada yang nahan.
"Mir..." panggil Farhan pelan.
"Jangan ikut dulu ya," gue bilang tanpa nengok. "Biar gue sendiri dulu."
Langkah gue keluar ke jalan, udara malam dingin nyentuh wajah. Hujan mulai turun lagi — persis kayak hari pertama. Tapi kali ini gue gak lari berteduh. Gue jalan pelan, biar air hujan campur air mata.
Satu hal baru gue tau sekarang: yang paling berat bukan kebohongannya. Tapi alasan di baliknya — dan gak ada yang benar-benar jahat di sini. Semua cuma takut.
Dan ketakutan itu... yang merusak segalanya.