NovelToon NovelToon
Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Dia Istriku, Tapi Kayak Orang Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:656
Nilai: 5
Nama Author: Storyginal Finger

Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.

Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.

Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.

Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.

Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.

Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16: Ajakan Makan Malam ke Kafe Kekinian

Kehidupan Azka mulai stabil dengan memposisikan Visha sebagai istri di rumah, sementara Kayla menjadi rekan kerja yang ia kagumi.

Ia merasa telah menemukan formula agar menciptakan hubungan sehat diantara dua wanita tersebut.

Kini Azka memiliki kedekatan dengan Kayla sebagai teman di kantor, menganggapnya seperti Noval. Hanya saja terdapat sebuah perbedaan, Kayla adalah seorang perempuan.

Setiap pagi, Kayla hampir selalu membawakan kopi untuk Azka. Kebiasaan baru yang telah berubah jadi rutinitas. Tak jarang, Azka, Noval dan Kayla berkumpul di satu tempat, entah itu di ruangan Azka, ruang rapat atau kafe langganan.

Kecanggungan antara Noval dan Kayla pun perlahan mulai cair. Mereka sekarang sudah menjadi lebih akrab, meski tetap ada jarak.

Hingga pada suatu hari, Azka dan Noval sedang berada di dalam ruangan kerjanya. Mereka sedang mempersiapkan rencana kunjungan ke salah satu proyek pembangunan.

“Bagaimana menurut kamu, Val?” tiba-tiba Azka bertanya.

“Apanya pak?” jawab Noval tidak paham.

Azka kemudian minta pendapatnya tentang keputusan untuk terbuka kepada Kayla. “Lebih enak seperti ini, kan? Tidak perlu main kucing-kucingan, tidak perlu merahasiakan apapun.”

Menganggukan kepala beberapa kali, tapi Noval mengaku masih ragu dengan apa yang terlihat saat ini.

“Saya masih menunggu, Pak, sampai kalian terpisah,” ucap Noval.

“Terpisah? Maksud kamu, kita tidak bisa berteman saja seperti ini?” tanya Azka agak kesal.

Noval kemudian meluruskan, “Bukan begitu, Pak. Maksud saya, kita tunggu bagaimana reaksimu saat Sesilia menghilang cukup lama,” ujar Noval. “Eh iya, Kayla ya? Saya masih kikuk antara dua nama itu, sebenarnya harus panggil Sesilia atau Kayla, hehe.”

Ia menyindir Azka karena memiliki nama panggilan khusus untuk wanita itu.

Azka merespon dengan candaan, “Dasar kamu ini.”

“Tapi memangnya kenapa? Sabtu-minggu kita libur. Saya tidak ada masalah. Kalau menurut kamu, saya akan merasa kehilangan saat Kayla tidak ada, kamu salah,” jelas Azka terlihat ngotot.

“Iya Pak, iya, saya percaya,” ujar Noval tidak mau memperpanjang perdebatan.

***

Di dalam mobil, Azka menelepon Visha di rumah. “Kenapa?” sahut Visha panik.

“Kenapa apanya? Aku kan belum bicara apapun,” jawab Azka santai.

Ternyata Visha masih trauma dengan kejadian beberapa waktu lalu saat ia menerima kabar bahwa Azka mengalami kecelakaan kerja. Jarang sekali Azka menghubunginya sehingga membuat ia curiga telah terjadi sesuatu.

“Aku aman kok, kamu tenang saja. Justru aku mau kasih tahu kamu. Aku mau ajak lari sore, kamu siapin sepatu ya,” ucap Azka.

“Sepertinya aku sampai rumah mungkin sekitar lima belas menit lagi,” lanjutnya.

Tak lama, ia menutup telepon. Menyetir mobil sambil melamun. Tiba-tiba teringat ucapan Noval yang membuatnya berpikir ulang. Apakah ia benar-benar tidak masalah jika Sesilia tak lagi ada di dalam hidupnya.

Apalagi untuk waktu yang lama.

Pikiran itu hanya sebentar karena ia mendapatkan klakson keras dari pengendara di belakang lantaran Azka menyetir terlalu lambat.

Ia langsung menancap gas mobilnya, segera menuju rumah.

Beberapa menit kemudian, Azka memarkirkan mobil di garasi teras. Visha telah menunggu lengkap sambil menenteng sepatu, bercelana pendek dan kaos oblong.

Wajahnya sumringah menyambut kedatangan Azka. Begitu turun dari mobil, ia langsung ditodong sebuah pertanyaan.

“Kamu lagi ada masalah?” sambut Visha sembari meletakkan sepatu, celana dan kaos di atas kursi teras.

Ia menghampiri Azka yang baru saja menutup pintu mobil. Ia mencium tangannya, dilanjutkan dengan ciuman bibir.

“Lagi ada masalah apa sih?” ulang Visha karena tidak dijawab oleh Azka.

“Tidak ada. Aku hanya ingin menghabiskan waktu sore ini sama kamu. Boleh kan?” ujarnya sambil mencium pipi Visha lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.

Mendengar gombalan Azka itu, Visha salah tingkah. “Tumben kamu begini, pasti ada maunya?” ucapnya.

“Lho, kok kamu malah suudzon gitu sama aku,” jawab Azka sambil tersenyum kecil. Mereka kemudian siap-siap untuk lari sore bersama.

***

Ketika sedang lari bersama, Visha masih merasa penasaran. Ia mempertanyakan kembali tentang alasan Azka mengajak lari sore.

Tapi Azka menegaskan bahwa ia hanya ingin melakukannya. Tidak ada maksud lain. Bahkan Azka juga mengutarakan niat ajak Visha makan malam bersama.

Namun yang berbeda, kali ini Azka mengajak Visha untuk makan malam di sebuah kafe sederhana. Visha setuju sekaligus menyerah dengan memutuskan mempercayai ucapan Azka.

Waktu terus bergulir hingga malam menjelang, suasana pun berganti. Kini mereka telah berada di sebuah tempat yang ramai oleh gelak tawa dan percakapan cepat. Sebuah titik pertemuan para generasi muda sedang mencari hiburan ringan di tengah hiruk pikuk kota kecil di daerah.

“Gimana pekerjaanmu hari ini?”

“Eh, kamu sudah nonton drama terbaru yang baru rilis kemarin belum?”

“Haha! Sudah kubilang, tim favoritku pasti akan menang, tidak mungkin kalah.”

Begitulah kira-kira sejumlah percakapan yang terdengar samar dari para pelanggan.

Kafe itu tak besar, namun dipenuhi energi khas. Cahaya lampu neon warna-warni menggantung rendah di langit-langit, mural gambar dan tulisan menghiasi dinding serta musik reggae kekinian terdengar dari speaker tersembunyi, menciptakan atmosfer santai terasa akrab.

Tak ada menu makanan berat di sana. Alih-alih meja dipenuhi mangkuk berisi camilan ringan, kentang goreng, chicken wings, nachos dan gelas-gelas minuman berwarna cerah dengan topping tampak seperti pernak-pernik dari dunia lain. Minuman kekinian yang memiliki nama terdengar lucu dan dibuat-buat, menjadi primadona tiap meja.

Di tengah keramaian, Azka dan Visha duduk berdampingan. Meski tempat itu bukan pilihan mereka biasanya, malam ini terkesan sesuai untuk sesuatu yang ringan.

“Sudah lama sekali ya, kita tidak datang ke tempat begini,” singgung Visha.

“Iya, tidak apa-apa, kan?” tanya Azka.

Visha tersenyum, lalu bilang, “Ya tidak apa-apa. Kangen juga sama suasananya. Merasa seperti muda lagi.”

“Tapi tumben kamu ajak aku ke sini?” ucap Visha lagi masih penasaran.

Seketika Azka seperti tidak bisa menjawab. Ia mendadak bingung. Apa yang sebenarnya sedang dilakukan belakangan. Mulai dari mengajak Visha lari sore hingga makan malam di tempat seperti ini.

Dalam hatinya mulai bergejolak. Memikirkan apakah mungkin semua adalah gerakan alam bawah sadarnya yang terpengaruh oleh sosok Sesilia Kaylani.

Ia menjadi lebih agresif, tidak bisa diam, rasanya seperti selalu ingin melakukan sesuatu. Meniru apa yang selama ini dilakukan oleh Kayla terhadapnya.

Ketika bersama Visha yang lebih pasif, Azka merasa kurang sehingga secara tidak sadar, ia selalu ingin berinisiatif.

“Azka?” tegur Visha karena melihat suaminya melamun.

“Kamu kenapa?” ucapnya lagi melihat Azka tersadar menatapnya dengan linglung.

Mencari alasan, Azka pun berdalih kalau ia sedang terlintas soal pekerjaan. “Aku baru ingat, tadi lupa serahkan laporan. Tapi tidak apa-apa kok, besok masih bisa,” dalihnya.

Selanjutnya, makan malam mereka berjalan seperti biasa. Meski terdapat beberapa pertanyaan kecil di kepala Visha, tapi ia coba untuk menghiraukan.

1
Nanda Jambi
kenangan terindah pasti ada dalam setiap ingatan terdalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!