Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Namanya Han, Nama yang Hanya Ibunya Tahu
"Saya harus tahu kondisi kepalanya," kata Nathania di depan meja pendaftaran RS Medika Prima. "Dia ditemukan tanpa identitas. Tapi hasil DNA menunjukkan dia ayah kandung anak saya."
Petugas menatap pria di kursi roda, lalu Meira yang memegang ujung lengan pria itu.
"Nama pasien?"
Nathania terdiam.
Meira mendongak. "Papa."
"Mei."
"Kan dia Papa."
Petugas tersenyum canggung. Nathania menarik napas. "Tulis sementara sebagai pasien tanpa identitas. Nanti saya lengkapi."
Di ruang pemeriksaan, dr. Halim membuka hasil CT scan sambil menunjuk beberapa bagian.
"Ada bekas cedera lama di kepala. Bukan baru. Kemungkinan besar pernah mengalami benturan berat."
"Itu bisa membuat dia lupa semuanya?" tanya Nathania.
"Bisa. Ingatan, identitas, bahkan respons sosial bisa kacau. Saya tidak bisa menjanjikan pulih cepat."
Meira duduk di kursi samping. "Dokter, Papa bisa ingat Mei?"
dr. Halim menurunkan suara. "Kita bantu pelan-pelan, ya."
"Kalau Mei peluk tiap hari?"
"Itu boleh," jawab dokter, lembut. "Tapi jangan terlalu memaksa."
Pria itu menatap layar scan tanpa berkedip. Saat dr. Halim menyebut kata "benturan", jari telunjuknya bergerak pelan di atas lutut. Nathania melihat gerakan itu.
"Kamu sakit?" tanyanya.
Pria itu menoleh. Wajahnya polos. "Sa... kit?"
"Kepalamu."
Ia menyentuh pelipisnya, lalu menggeleng. "Tidak."
Jawaban itu terlalu jelas. Nathania menatapnya lebih lama.
dr. Halim menutup map. "Saya sarankan kontrol rutin. Jangan biarkan dia keluar sendirian. Hindari tekanan berlebihan. Kalau ada perubahan ingatan, catat."
"Kalau dia tiba-tiba bicara lancar?" tanya Nathania.
"Catat juga."
Mereka pulang menjelang sore. Meira tertidur di taksi online, kepalanya bersandar di lengan pria itu. Pria itu duduk kaku, tidak berani bergerak.
"Turunkan bahumu," kata Nathania pelan. "Nanti pegal."
Pria itu menurut.
"Kamu mengerti kalau saya bicara."
Ia menatap jendela.
"Jangan pura-pura tidak dengar."
Kali ini ia menoleh. Bibirnya bergerak, tetapi tidak ada kata yang keluar.
Nathania tidak memaksa. "Baik. Pelan-pelan saja."
Di apartemen, persoalan nama kembali muncul saat ia hendak menulis jadwal obat di kertas tempel.
"Tidak mungkin setiap hari Mama tulis 'Papa tanpa nama'," kata Meira sambil berdiri di kursi makan.
Nathania menahan senyum. "Lalu menurut Mei namanya siapa?"
Meira berpikir keras. Dahinya berkerut. "Papa... Han."
"Han?"
"Iya. Pendek. Gampang. Papa bisa bilang?"
Pria itu yang sedang memegang gelas berhenti.
Nathania melihat perubahan itu lagi. Sangat kecil, tetapi ada. Seperti nama itu menyentuh tempat yang terkunci.
"Han," panggil Meira, mencoba.
Gelas di tangan pria itu bergetar sedikit.
"Papa suka?" Meira bertanya.
Pria itu membuka mulut. "Han."
Suara itu pecah, tetapi jelas.
Meira langsung bertepuk tangan. "Mama! Papa bisa bilang!"
Nathania menulis di kertas tempel: Han. Obat pagi. Obat malam. Jangan keluar sendiri.
"Mulai sekarang, sementara kita panggil kamu Han," katanya. "Boleh?"
Pria itu menatap tulisan itu lama. Lalu mengangguk.
Malamnya, kehidupan mereka terasa sedikit lebih mudah. Meira punya nama untuk dipanggil. Nathania punya nama untuk ditulis di botol obat. Han, entah mengerti atau tidak, menoleh setiap kali Meira memanggil.
"Han, duduk sini."
Ia duduk.
"Han, jangan ambil sendok panas."
Ia melepaskan sendok.
"Han, bilang selamat malam."
Ia menatap Meira, lalu Nathania. "Se... la... mat malam."
Meira memeluk lehernya. "Pintar."
Nathania pura-pura merapikan meja agar tidak ketahuan tersenyum.
Ketika Meira akhirnya tidur, Nathania membawa gelas air ke ruang tengah. Han duduk di dekat jendela, melihat pantulan kota di kaca.
"Han."
Ia menoleh.
"Nama itu mengingatkanmu pada sesuatu?"
Diam.
"Pada seseorang?"
Jari Han menyentuh dadanya. Matanya kosong, tetapi napasnya berubah berat.
"Tidak apa-apa," kata Nathania cepat. "Kalau sakit, jangan dipaksa."
Ia hendak berbalik ketika Han menggumam sangat pelan.
"Mama..."
Nathania berhenti.
Han memejamkan mata, seolah suara itu keluar dari tempat yang jauh sekali.
"Han..."
Kali ini kata itu terdengar seperti panggilan lama. Bukan nama baru dari Meira. Bukan bunyi acak dari pria hilang ingatan.
Nathania menatap punggungnya.
Di ruang yang remang itu, untuk pertama kalinya ia merasa nama yang dipilih anaknya mungkin bukan kebetulan.
Keesokan paginya, Meira menempel gambar di kulkas. Tiga orang bergandengan tangan. Di bawah gambar pria tinggi, ia menulis dengan huruf miring: HAN.
"Kenapa mata Papa besar sekali?" tanya Nathania.
"Biar Papa lihat jalan pulang."
Nathania memegang spidol, lalu menulis kecil di bawah gambar itu: rumah.
Han berdiri di belakang mereka tanpa suara.
"Bisa baca?" tanya Nathania.
Han menatap kata itu. "Rumah."
"Iya. Ini rumah. Tapi rumah juga punya aturan."
Meira langsung mengangkat tangan. "Aturan pertama, Papa tidak boleh pergi."
"Itu bukan aturan."
"Itu janji."
Nathania menatap Han. "Aturan pertama, kalau kamu sakit, bilang. Kalau ingat sesuatu, bilang. Kalau takut, juga bilang."
Han mengulang pelan, "Bilang."
"Kedua, jangan keluar sendiri."
"Jangan keluar."
"Ketiga, jangan percaya orang yang datang mengaku keluarga sebelum saya tahu."
Meira ikut serius. "Termasuk kalau orang itu bawa permen?"
"Terutama kalau bawa permen."
Han menatap Meira. "Permen bahaya?"
"Kalau dari orang asing, bahaya," jawab Nathania.
Ia mengangguk seperti menerima instruksi rapat.
Siang itu, Nathania mengirim pesan ke Denny tentang jadwalnya bekerja dari rumah. Denny membalas cepat.
Bu Nathania, kalau butuh bantuan administrasi pasien, saya bisa urus.
Nathania mengetik, lalu berhenti. Ia menatap Han yang sedang mencoba memasang plester kecil di lutut Meira, terbalik tetapi penuh perhatian.
"Denny tanya, kita butuh bantuan?"
Meira menjawab sebelum Han. "Butuh es krim."
"Bukan itu."
Han menatap Nathania. "Butuh... aman."
Nathania merasakan kata itu jatuh tepat di bagian paling lelah dari dirinya.
"Iya," katanya. "Kita butuh aman."
Han melihat gambar di kulkas sekali lagi. Rumah. Tiga orang. Nama yang seharusnya asing, tetapi terasa seperti pintu tua yang terbuka sedikit.
Di kepalanya, suara perempuan lembut kembali berbisik.
Han, pulang.
Malamnya, Nathania menulis semua instruksi dr. Halim di buku kecil.
"Kontrol dua minggu lagi," bacanya. "Obat setelah makan. Tidak boleh stres. Tidak boleh pergi sendiri."
Meira menunjuk Han. "Dengar, Pa?"
"Dengar."
"Kalau Papa pergi sendiri, Mei lapor dokter."
Han menatapnya serius. "Jangan."
"Kenapa?"
"Dokter... galak?"
Meira tertawa. "Dokter baik."
Nathania menutup buku itu. "Yang galak Mama."
Han dan Meira menatapnya bersamaan.
"Kalian tidak perlu sekompak itu."
Meira berbisik pada Han, cukup keras untuk terdengar, "Kalau Mama galak, bilang iya saja."
Han mengangguk.
"Aku dengar," kata Nathania.
Untuk pertama kalinya sejak hasil DNA keluar, tawa kecil benar-benar hidup di ruang tengah mereka.
Nathania menatap tulisan Han di kulkas, lalu berbisik, "Baiklah, Han. Kita mulai dari sini."