NovelToon NovelToon
Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Rahasia Mantan Istri: Kembali Ke Pelukan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Lari Saat Hamil / Penyesalan Suami
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"

....

Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 #Racun yang ditebar

Mobil mewah yang membawa mereka akhirnya kembali terhenti di depan teras rumah sewa Bening. Setelah berbelanja baju, takdir memaksa mereka untuk berpisah jalan lagi. Kaivandra yang masih ingin bersama sang papa, dengan riang tetap memilih untuk ikut pulang ke kediaman besar Aditama bersama Gibran.

Suasana kediaman mewah itu terasa tenang saat sore menyapa. Di sudut area ruang tengah yang megah, Wira Aditama tampak sedang menikmati cangkir teh sorenya. Pandangan mata tua yang sarat dominasi itu seketika melunak saat melihat cucu tunggalnya melangkah masuk.

"Kakek!" sapa Kaivandra riang sambil berlari kecil menghampiri Wira.

Gibran mengusap lembut kepala putranya sebelum menatap sang ayah singkat. "Aku harus ke ruang kerja sebentar untuk mengurus pekerjaan kantor yang tertunda," pamit Gibran singkat. Pria itu membiarkan Kaivandra bercengkerama dengan sang kakek di ruang tengah, sementara langkah kakinya bergerak menuju ruang kerja pribadinya di rumah itu.

"Kakek, lihat deh!" seru Kaivandra penuh semangat, mengeluarkan tas belanjaan berisi setelan kemeja katun premium yang baru saja mereka beli. "Minggu depan di sekolah Kai ada acara liburan ke kebun binatang. Nanti ada Lomba Kostum Keluarga paling kompak! Baju ini lucu banget, kan, Kakek?"

Wira meraih kemeja bertuliskan Dad dan Son itu dengan ukiran senyum tipis di bibirnya. Dalam hatinya, Wira merasa sangat lega. Melihat hanya dua kemeja itu di tangannya, ia berasumsi bahwa hubungan Gibran dan Bening sudah benar-benar mati dan tak tersisa.

Namun, kepolosan ucapan Kaivandra berikutnya seketika membekukan senyum di wajah pria tua itu.

"Tadi Mama juga sangat cantik waktu mencoba baju kembarannya!" lanjut Kai dengan mata berbinar polos, sama sekali tidak menyadari perubahan raut wajah kakeknya. "Baju Mama ada gambarnya singa juga, serasi banget sama punya Papa! Kai sudah tidak sabar menunggu Mama bisa pulang dan tinggal di rumah ini lagi bersama kita. Boleh kan, Kakek?"

Deg.

Senyum di wajah Wira menguap tanpa bekas. Sorot matanya mendadak berubah dingin dan tajam. Rupanya Bening masih mencoba mendekati putraku lewat anak ini, batin Wira membakar dendam.

Melihat kepolosan cucunya yang begitu mendambakan sosok sang ibu, Wira merasa inilah kesempatan emas baginya untuk meracuni pikiran Kaivandra, memutus ikatan batin bocah itu dengan Bening selamanya.

Wira meletakkan cangkir tehnya ke atas piring kecil dengan dentang halus. Ia membelai kepala Kai, lalu menatap manik mata cucunya dengan raut wajah berpura-pura prihatin.

"Hmm... Kai. Papa dan Mamamu belum bercerita apa-apa padamu, ya?" tanya Wira dengan suara rendah bertopeng kasih sayang.

Kaivandra memiringkan kepalanya bingung. "Cerita apa, Kakek?"

"Papa dan Mamamu itu... sudah bercerai," ucap Wira perlahan, sengaja menekankan setiap suku katanya.

"Apa itu... bercerai?" bisik Kai dengan polos, alis kecilnya bertaut rapat.

Wira menghela napas buatan, seolah prihatin dengan kenyataan pahit itu. "Bercerai itu artinya berpisah, Jagoan. Berpisah karena mereka sudah tidak saling mencintai lagi. Dan... asal Kaivandra tahu, Mamamu itu wanita yang jahat. Dulu, dia mengkhianati Papamu dengan mencintai pria lain."

Deg.

Dada kecil Kaivandra berdesir aneh. Bocah enam tahun itu mendadak terdiam membisu, mencerna setiap kata beracun yang meluncur dari bibir kakeknya. Kata "jahat" dan "mengkhianati" terasa begitu asing dan menakutkan di telinganya.

Melihat Kai terdiam, Wira tersenyum puas di dalam hati. Ia menepuk bahu cucunya dengan lembut namun penuh manipulasi.

"Jadi, Kakek tidak bisa mengizinkan Mamamu untuk tinggal di rumah ini lagi. Kai mengerti, kan?" lanjut Wira dengan nada membujuk. "Kai tidak perlu sedih. Kakek akan memberikan segalanya untuk Kai... apa pun yang Kai mau. Jadi, lupakanlah Mamamu yang jahat itu, ya?"

Kaivandra tetap tidak menjawab. Bibirnya mengatup rapat, kepalanya menunduk menatap kemeja berbordir singa di pangkuannya. Di dalam otak kecilnya, kata-kata sang kakek berbenturan hebat dengan ingatan hidupnya. 'Mama jahat? Tapi... Mama selalu memeluk Kai kalau Kai dingin. Mama selalu memijat Kai kalau Kai capek. Mama yang merawat Kai sendirian saat kai sakit... Kenapa Kakek bilang Mama jahat?'

Merasa racun kebohongannya sudah cukup merasuk ke dalam pikiran sang cucu, Wira menegakkan tubuhnya lalu memanggil seorang pelayan senior di rumah itu.

"Asri!" panggil Wira tegas.

"Iya, Tuan Besar?" sahut Asri bergegas mendekat.

"Bawa Kaivandra ke kamarnya. Bantu dia mandi sore dan berganti pakaian sebelum makan malam tiba."

"Baik, Tuan."

Kaivandra membiarkan tangannya dituntun oleh Bi Asri menuju kamar atas. Bocah kecil itu melangkah dalam diam, membawa beban kebingungan besar yang sengaja ditanamkan sang kakek di dalam hati polosnya.

***

Suasana meja makan megah keluarga Aditama malam itu terasa dingin dan kaku, sangat berbanding terbalik dengan kehangatan yang biasanya terpancar. Gibran sudah bergabung di sana, duduk persis di samping Kaivandra. Pria itu sibuk melayani putranya dengan penuh kasih sayang, mengambilkan secentong nasi hangat dan semangkuk sup ayam kesukaan Kai.

Namun, Gibran menyadari ada hal aneh pada putranya. Sorot mata riang yang biasanya menghiasi wajah polos Kai mendadak meredup total. Bocah itu hanya menunduk, mengaduk-aduk makanan di piringnya tanpa minat.

"Ada apa, Sayang? Apa kamu tidak suka makanannya?" tanya Gibran lembut, mengusap pelan punggung Kai. "Papa bisa minta Bi Asri memasakkan menu lain untukmu. Katakan pada Papa, Kai mau makan apa?"

Kaivandra menggeleng pelan tanpa menatap mata papanya. Dengan gerakan lambat, ia menyuap sedikit nasi dan kuah sup ke dalam mulutnya, hanya agar papanya tidak khawatir.

Di ujung meja, Wira Aditama berdeham pelan. Ia menyapu pandangan pada Gibran dan Kai sebelum akhirnya membuka suara dengan nada santai tanpa rasa bersalah.

"Gibran... sepertinya sudah saatnya kamu mencari istri baru," ujar Wira memecah keheningan. "Kai pasti sangat merindukan sosok ibu dan ingin punya mama baru, kan?"

Brak.

Sendok di tangan Kaivandra terlepas, berdenting keras menabrak piring keramik. Rasa sesak yang sejak sore ia tahan akibat bisikan beracun sang kakek seketika meledak, tak lagi mampu ditampung oleh dada kecilnya.

Bocah itu tidak mengatakan sepatah kata pun. Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Kai mendadak bangkit melompat turun dari kursi makan, lalu berlari kencang menuju tangga untuk mengurung diri di kamarnya.

Suasana meja makan seketika menegang hebat.

Gibran berdiri dari kursinya dengan rahang mengeras, menatap sang ayah penuh amarah yang tertahan. "Papa! Kenapa Papa bicara seperti itu di depan Kai?!" tembak Gibran dengan suara menahan geram. "Sudah aku katakan berulang kali, Kaivandra masih terlalu kecil untuk mengetahui keadaan rumit ini!"

Wira menyandar santai di kursinya, menyeringai dingin. "Justru karena dia masih kecil, dia harus tahu kenyataannya, Gibran! Dia harus tahu bahwa mamanya itu seorang pengkhianat!"

Gibran mengepalkan tangannya erat-erat, namun ia tidak melayani perdebatan beracun itu lebih jauh. Prioritas utamanya saat ini adalah putranya. Tanpa memedulikan panggil sang ayah, Gibran berbalik cepat dan melangkah lebar mengejar Kaivandra ke lantai atas.

Di dalam kamar, Bi Asri tampak berlutut memeluk tubuh kecil Kaivandra yang duduk di tepi ranjang. Bocah itu menangis tersedu-sedu dengan bahu tergoncang hebat.

"Bibi... Kai tidak mau punya mama baru... Kai cuma mau Mama Bening..." tangis Kai terisak-isak.

"Iya, Den Kai... Tenang ya, Nak. Cup, cup... Jangan menangis lagi," bisik Bi Asri penuh penyesalan, mengusap air mata di pipi mungil itu.

Melihat Gibran melangkah masuk dengan raut wajah panik dan bersalah, Bi Asri berdiri memundurkan diri, memberikan ruang bagi sang ayah untuk mendekat.

Gibran berlutut tepat di depan Kaivandra. Kedua tangannya yang gemetar menggegam jemari mungil putranya yang basah oleh air mata.

"Papa..." bisik Kai lirih, menatap lurus ke dalam iris mata Gibran dengan sorot luka yang begitu dalam. "Kakek bilang... Papa dan Mama sudah bercerai. Dan cerai itu... katanya karena Papa dan Mama sudah tidak saling mencintai lagi..."

Gibran merasa tenggorokannya tersumbat hebat. Lidahnya membeku.

"Kakek juga bilang... Mama itu jahat. Huhu... Hawa..." Kai kembali terisak parah, meremas ujung kemeja Gibran.

"Sayang... Dengarkan Papa. Jangan menangis lagi, Nak, tolong..." bisik Gibran dengan suara bergetar, ibu jarinya sibuk menyapu air mata yang terus meleleh di pipi Kai.

Namun, Kaivandra justru mendongak, menatap papanya dengan keberanian dan kejujuran polos seorang anak kecil.

"Papa... Kai mau pulang. Mama tidak jahat, Pa... Mama sama sekali tidak jahat!" tegasa Kai menahan sesak di dadanya.

Gibran memejamkan mata erat-erat, menahan rasa perih yang meluas di dadanya. "Iya, Sayang... Iya, Kai tenang dulu ya..."

"Selama ini Mama sendirian, Papa..." lanjut Kai dengan tangisan yang makin memilu, mengucapkan setiap patah kata yang menghantam ego keras sang CEO hingga hancur berkeping-keping. "Kai sering melihat Mama menangis sendirian di malam hari... Kalau Kai terus di sini bersama Papa dan Kakek... lalu siapa yang akan memeluk Mama?"

Deg.

Kalimat polos itu bagai hantaman petir di siang bolong. Gibran membeku. Dada pria itu mendadak sesak luar biasa, hingga napasnya tertahan di tenggorokan. Batinnya menjerit, bayangan Bening yang menangis dalam kesendirian dan kemiskinan selama bertahun-tahun kini membayang begitu nyata di depan matanya.

Ego, gengsi, dan prasangka buruk yang dipupuknya selama tujuh tahun hancur seketika hanya oleh ucapan tulus dari putra kecilnya.

1
Akun Maisarah
jahat banget Wira nih.orang tua apa yg Setega itu.kasihan bening😪
Lisa
👍👍 bagus Gibran tangkap pria itu lalu urus papamu yg membayar pria itu..ntar lg kebenaran terungkap.
Lisa
Kalian harus rujuk kembali..
Lisa
Syukurlah Gibran segera menyuruh asistennya utk menyelidiki pria itu setlh semuanya terungkap mereka ber3 dpt bersatu lg..
Lisa
Gibran selidiki masa lalu itu kamu harus tegas terhadap ayahmu
Lisa
Ayo Gibran sadarlah bahwa Papamu itu yg menghasutmu
Lisa
Udh Gibran jgn keraskan hatimu..Bening msh mencintaimu & ga pernah selingkuh..
Lisa
Makanya kamu harus menyelidiki kasus itu Gibran..
Lisa
Makanya kamu harus bersikap tegas Gibran terhadap ayahmu..dia itu yg udh menyusun skenario jahat ttg Bening
Lisa
Makanya kamu harus tegas Gibran selidiki masalah 7 thn yg lalu itu..
Lisa
Kapan Gibran & Bening dapat rukun lagi ☺️
Lisa
Wira ini jahat banget moga aj kelakuannya diketahui oleh Gibran
Lisa
Sadarlah Gibran..anakmu aj sangat taat beribadah..kamu harus berubah dan mencontoh sikap anakmu.
Lisa
ya nih Gibran koq g sadar slm 6 thn di atur oleh ayahnya
Lisa
Ceritanya menarik 👍
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Sama² Kak Nova..aku suka ceritanya..
total 2 replies
Yani Tan
bagus...sangat bagus
partini
ck ck ck ternyata ortu lacknat
ga bakal ketauan ortu sendiri
partini
pak CEO bego masa iya di bantai terus sama lawan 🤦🤦
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!