Lima tahun dipenjara. Enam puluh bulan tanpa satu pun kunjungan.
Keira Pratama keluar dengan kaki pincang, ginjal yang hilang, dan hati yang sudah membeku. Dia putri kandung keluarga konglomerat Pratama, tetapi sejak kecil dibuang ke panti asuhan, sementara Vanessa, anak orang lain, dimanjakan sebagai putri kesayangan.
Dulu, Vanessa mendorong seseorang dari tangga, tetapi Keira yang dipenjara. Mama-nya menghapus CCTV. Papa-nya menyuruhnya diam. Lucas, pria yang pernah dia cintai, justru menjadi orang yang mengirimnya ke balik jeruji.
Namun Keira yang kembali bukan lagi gadis penurut.
Saat rahasia mulai terbongkar, keluarga yang dulu membuangnya satu per satu hancur oleh penyesalan. Dan di saat semua orang meninggalkannya, Rayhan Hartono, pewaris Hartono Group, diam-diam berdiri di sisinya.
Kini mereka semua berlutut di bawah hujan.
Tapi bagi Keira, satu hal tetap belum terjawab: **apakah penyesalan mereka datang terlambat?**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7
Darah di Lantai Rumah Sakit
Pukul lima pagi, ranjang Kevin sudah kosong.
Keira meninggalkan rumah melalui pintu dapur sebelum petugas keamanan berganti sif. Tas kain menggantung di bahu, amplop Rp 500 ribu terselip di balik seragam, dan kaki kirinya dibalut lebih kencang agar tidak mudah goyah.
Ia naik angkot pertama menuju stasiun KRL, lalu berpindah kereta sampai Stasiun Gambir.
Semarang.
Nama kota itu menyala di papan keberangkatan seperti sebuah kesempatan. Bukan surga. Bukan tempat yang menjanjikan hidup mudah. Hanya kota yang cukup jauh dari Pondok Indah, dari Pratama Group, dan dari orang-orang yang selalu memutuskan nasibnya.
Keira membeli tiket termurah. Setelah ongkos dan tiket, uang dari Tante Mira tinggal kurang dari separuh. Ia tetap menggenggam tiket itu seperti menggenggam pintu keluar.
"Kei!"
Suara Kevin terdengar ketika antrean pemeriksaan tinggal dua orang.
Keira tidak menoleh. Ia menyerahkan identitas kepada petugas dan melangkah maju.
Sebuah tangan menangkap tali tasnya.
"Aku bilang tunggu sampai pagi."
Keira berbalik. Kevin berdiri dengan napas tersengal, kemejanya belum dikancing sempurna. Untuk pertama kalinya, penampilannya tidak menyerupai CEO yang selalu rapi.
"Lepaskan."
"Kakimu harus dirawat."
"Bukan alasan untuk menahanku."
Petugas memandang mereka dengan ragu. Beberapa penumpang mulai memperhatikan.
Keira menarik tasnya. Kevin tidak melepas.
"Papa menunggu di rumah sakit," katanya.
"Biarkan dia menunggu lima tahun. Setelah itu kita impas."
Keira menghentakkan tali tas hingga lepas, lalu berbalik menuju gerbang. Kaki kirinya tertinggal setengah langkah, tetapi pintu masuk sudah di depan mata.
Seseorang muncul dari arah pintu keluar.
Dokter Ryan.
"Keira, tunggu." Wajahnya tegang. "Kondisi kakimu tidak aman untuk perjalanan jauh."
"Ko Ryan datang sebagai dokter atau sebagai kakak Lucas?"
Ryan tidak menjawab.
Itu cukup.
Keira mencoba melewatinya. Ryan mengangkat selembar kain putih. Bau kimia yang manis dan menyengat menutup hidung serta mulutnya.
Keira menahan napas, mencakar lengan Ryan, lalu mencoba berteriak. Suara stasiun memanjang seperti datang dari ujung terowongan. Lutut kanannya melemah.
Hal terakhir yang ia lihat adalah wajah Ryan yang dipenuhi penyesalan.
"Maaf."
Tiket menuju Semarang terlepas dari tangan Keira. Kertas itu jatuh tepat di garis kuning, lalu terdorong angin dari kereta yang datang. Pengumuman keberangkatan bergema di atas kepala mereka ketika Kevin mengangkat tubuh Keira.
Beberapa penumpang menoleh. Ryan menunjukkan kartu dokternya dan mengatakan Keira sedang mengalami kondisi medis. Kebohongan itu membuat petugas membuka jalan.
Tidak seorang pun bertanya apakah pasien tersebut ingin dibawa pergi.
Ketika Keira sadar, pipinya menempel pada jok kulit sebuah mobil.
Kepalanya berat. Tenggorokannya pahit. Tangan Kevin menahan bahunya agar tidak jatuh saat mobil berbelok.
Keira langsung menamparnya.
Plak!
Wajah Kevin terpental ke samping. Bekas lima jari muncul di pipinya.
"Kalian menculikku."
"Aku membawamu pulang."
"Aku tidak punya rumah."
Keira hendak meraih gagang pintu, tetapi kuncinya aktif. Kevin menariknya kembali. Dalam kepanikan, Keira memukul dadanya dan mencoba menendang dengan kaki kanan.
Kesabaran Kevin putus.
Tangannya menutup leher Keira dan mendorongnya ke sandaran.
"Berhenti!"
Udara terhenti di tenggorokan Keira. Matanya melebar. Ujung jarinya mencengkeram pergelangan Kevin, tetapi tenaga mereka tidak seimbang.
Dari kursi depan, Ryan berbalik cepat. "Kev, lepaskan dia!"
Kevin tersentak. Ia menarik tangan seolah baru sadar apa yang dilakukannya.
Keira membungkuk sambil batuk. Bekas merah tertinggal di lehernya.
"Kei..."
"Jangan panggil aku begitu."
Suara Keira nyaris tidak terdengar.
Ryan meminta sopir menepi, tetapi Kevin menolak. "Terus ke RSPI."
"Dia perlu diperiksa setelah paparan kloroform dan tekanan pada leher."
"Nanti di rumah sakit."
Keira menyandarkan kepala ke kaca. Kota bergerak di luar, bebas dan tidak terjangkau.
"Aku tidak akan berlutut di depan Evelyn," katanya.
Kevin mengusap pipinya yang merah. "Jangan membuat ini lebih sulit."
"Lebih sulit bagi siapa?"
"Tante Mira masih bekerja di rumah kita. Amanda masih kuliah di Binus."
Keira perlahan menoleh.
Kevin melanjutkan, meski rahangnya menegang seolah sebagian dirinya tahu ia sedang melewati batas. "Papa bisa memecat Tante Mira hari ini. Pratama Group juga punya pengaruh pada sponsor dan dewan kampus. Status kuliah Amanda bisa dibuat bermasalah."
"Kamu mengancam mereka?"
"Aku meminta kamu bekerja sama."
"Dengan menjadikan dua orang yang tidak bersalah sebagai sandera."
Kevin memalingkan wajah. "Datang ke rumah sakit. Minta maaf. Setelah itu mereka aman."
Ryan menatap Kevin dari depan dengan jijik terbuka. "Ini bukan kerja sama, Kev."
"Kamu sudah membantuku membawanya masuk mobil. Jangan berpura-pura bersih sekarang."
Ryan terdiam.
Keira juga diam.
Nama Tante Mira dan Amanda menekan lebih keras daripada tangan Kevin tadi. Tante Mira memberikan seluruh uang yang bisa ia simpan. Amanda bahkan belum bertemu dengannya setelah lima tahun, tetapi pasti akan datang jika dipanggil.
Keira tidak bisa membayar kebaikan mereka dengan kehancuran.
"Baik," katanya akhirnya. "Aku akan berlutut."
Mobil memasuki area RS Pondok Indah menjelang siang.
Ryan memeriksa pupil dan napas Keira di ruang observasi singkat. Ia mendokumentasikan bekas merah di lehernya tanpa menutup-nutupi penyebabnya.
"Paparan tadi berbahaya," katanya pelan. "Aku tidak seharusnya melakukannya."
"Tapi Ko Ryan tetap melakukannya."
"Ya."
Tidak ada maaf kedua. Ryan tahu kata itu tidak mengubah apa pun.
Kevin membawa Keira ke lantai VIP. Edmond sudah menunggu di depan sebuah kamar dengan ekspresi tidak sabar.
Di sampingnya berdiri Daniel Adiputra.
Setelan abu-abu, postur tegak, wajah tenang. Lelaki itu tampak seperti pewaris konglomerat yang datang untuk rapat, bukan orang yang membayar satu miliar rupiah agar seorang perempuan disiksa selama bertahun-tahun.
Tatapannya turun ke kaki Keira, lalu ke bekas merah di lehernya.
Tidak ada keterkejutan.
"Masuk," kata Edmond.
Di dalam kamar, Evelyn Adiputra terbaring di antara mesin. Tubuhnya kurus, kulitnya pucat, matanya tertutup. Lima tahun telah berlalu, tetapi bagi Evelyn waktu berhenti sejak tubuhnya jatuh dari tangga.
Keira berdiri di sisi ranjang.
"Aku tidak mendorongnya," katanya.
Daniel menutup pintu. "Berlutut."
Keira menatapnya. "Kamu membayar mereka."
"Kamu mengambil lima tahun hidup adikku."
"Dan kamu mengambil lima tahun hidupku tanpa pernah memastikan kebenaran."
Daniel mendekat sampai hanya satu langkah memisahkan mereka. "Aku memastikan sendiri. Kevin bersaksi. Pengacaramu sendiri mengatakan kamu bersalah. Ibumu menghapus rekaman karena malu pada perbuatanmu."
"Lucas bukan pengacaraku. Dia pengacara Vanessa."
"Perbedaannya tidak mengubah keadaan Evelyn."
Keira menunjuk tubuh tak bergerak di ranjang. "Kalau suatu hari Evelyn membuka mata dan bilang aku bukan pelakunya, apa kamu akan mengembalikan kakiku? Apa kamu akan menghapus setiap malam ketika mereka datang membawa jarum dan tongkat?"
Untuk pertama kalinya, napas Daniel tersendat.
"Evelyn tidak akan bangun," katanya, lebih pelan.
"Jadi kamu memilih jawaban yang tidak pernah bisa membantahmu."
Daniel memandang wajah Keira. Sekilas ia melihat gadis berseragam bersih di panggung lomba matematika delapan tahun lalu, gadis yang mengalahkannya dengan satu soal terakhir lalu menolak piala tambahan karena panitia salah menghitung nilai peserta lain. Ingatan itu muncul terlalu cepat. Ia mematikannya sebelum berubah menjadi rasa bersalah.
Mata Daniel menjadi gelap. "Berlutut."
Kevin berdiri di belakang Keira. Ia tidak mendorongnya, tetapi ancaman di mobil masih berada di antara mereka.
Keira menekuk kaki kanan. Kaki kirinya tidak bisa mengikuti. Lututnya menghantam lantai keramik lebih keras daripada yang ia rencanakan.
Nyeri menyambar sampai pinggang.
Ia menahan tubuh dengan kedua telapak tangan.
"Minta maaf," kata Edmond.
Keira membungkuk.
Keningnya menyentuh keramik.
Sekali.
Di lantai itu ia melihat bayangan borgol yang dikunci pada pergelangannya lima tahun lalu. Kevin berdiri di depan hakim. Lucas tidak memandangnya. Yolanda menunduk ketika Keira berteriak meminta rekaman diputar.
Ia mengangkat kepala, lalu membungkuk lagi.
Dua kali.
Keramik yang dingin berubah menjadi lantai blok lapas dalam ingatannya. Bau air toilet, ujung jarum di bawah kuku, dan bunyi enam tongkat yang diletakkan berjajar sebelum menghantam kakinya kembali dalam satu tarikan napas.
Keira mencengkeram lantai. Darah belum keluar, tetapi dahinya sudah berdenyut.
"Katakan kamu menyesal," desak Edmond.
Keira menatap wajah pucat Evelyn. "Aku menyesal kamu terbaring di sini. Tapi aku tidak akan mengakui dosa yang bukan milikku."
Ia membungkuk untuk ketiga kali.
Pada benturan ketiga, kulit di dahinya pecah. Setetes darah jatuh ke lantai putih.
Ryan bergerak maju, tetapi Daniel mengangkat tangan. "Biarkan."
Keira menegakkan tubuh. Darah mengalir dari dahinya melewati alis, lalu turun di sudut mata seperti garis air mata merah.
Tatapan Daniel berubah.
Untuk sepersekian detik, kepuasan di wajahnya hilang. Ada sesuatu yang lebih tua dan lebih rumit di sana, sesuatu yang bukan sekadar kebencian. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
"Cukup," katanya akhirnya.
Keira berdiri dengan bertumpu pada ranjang Evelyn. Ia tidak meminta bantuan dan tidak mengucapkan maaf.
"Aku sudah berlutut," katanya kepada Kevin. "Jangan sentuh Tante Mira atau Amanda."
Lalu ia berjalan keluar.
Di ujung koridor, cahaya sore masuk melalui jendela tinggi. Keira berhenti di sana. Pantulan dirinya terlihat samar pada kaca: seragam pudar, kaki bengkok, leher memerah, dan darah yang mengering di wajah.
"Kalau aku mati di sini," bisiknya kepada bayangan sendiri, "apakah ada yang akan menangis?"
Di ujung lain koridor, seorang lelaki berpakaian hitam mengangkat kepala.
Tatapannya singgah pada gadis berwajah penuh darah di depan jendela.