NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Diusir Mertua, Dinikahi Diam-diam oleh CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO / Cinta setelah menikah / Ibu Tiri
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Olivia Renata

"Setelah kecelakaan fatal yang merenggut nyawa suaminya, Nadhira terbangun dari koma dengan insting tajam, mampu mencium niat busuk orang lain. Setelah pulang, ia tak disambut kasih, melainkan dianiaya mertua dan ipar licik yang mengincar warisan suaminya. Mereka mengusirnya, memfitnahnya, serta memaksa ia melepas hak waris.
Bahkan ayah kandungnya menjualnya untuk dinikahkan dengan pria tua kaya demi keuntungan pribadi. Di titik paling terpuruk, Rayhan Pradipta, CEO dingin Pradipta Group dan mantan atasan suaminya, datang menawarkan pernikahan kontrak untuk saling melindungi.
Awalnya hanya hubungan transaksional, perasaan sejati perlahan tumbuh di antara mereka. Nadhira bangkit mandiri, membangun Mutiara Property menjadi perusahaan properti ternama dan membesarkan ketiga anaknya. Ia berani membalas semua perundungan keluarga masa lalu.
Namun obsesi Dinda, mantan ipar Rayhan, menyimpan rahasia gelap jaringan perdagangan manusia yang mengancam seluruh kebahagiaan barunya. Mampukah Nadhira menjaga keluarga dan cinta sejatinya sebelum semuanya hancur?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Wawancara

Beberapa hari kemudian, Nadhira duduk di ruang rias studio dengan tiga kartu pertanyaan di pangkuannya.

Ia tidak mengenakan gaun mahal atau perhiasan mencolok. Pilihannya jatuh pada tunik biru tua, celana hitam, dan kerudung polos. Tim menawarkan penata rias, tetapi Nadhira hanya meminta bekas lebam lama di dekat pelipis tidak dibuat lebih gelap atau lebih terang untuk kamera.

"Saya tidak mau terlihat sengaja menyedihkan," katanya.

Staf komunikasi mengangguk. "Ibu cukup terlihat seperti diri sendiri."

Di meja ada air mineral, tisu, salinan kesepakatan pertanyaan, dan satu map bukti yang sudah menutup semua data anak. Pengacara duduk di luar bingkai kamera. Rayhan menunggu di ruang kontrol, bukan di samping kursinya.

"Kalau saya berhenti bicara terlalu lama?" tanya Nadhira.

"Ambil napas," jawab pelatih media. "Hening bukan kegagalan. Kalau pertanyaan melewati batas, lihat saya atau katakan Ibu tidak akan membahas anak."

"Kalau mereka bertanya apakah saya menikah demi uang?"

"Jawab fakta. Jangan mencoba membuat semua orang menyukai Ibu."

Nadhira membalik kartu terakhir. Di sana tertulis satu kalimat dengan tinta hitam: `Saya tidak berutang akses kepada orang yang menyakiti saya.`

Kalimat itu tidak terasa seperti naskah. Kalimat itu terasa seperti pintu yang bisa ia tutup sendiri.

Seorang kru memberi tanda lima menit. Nadhira berdiri, merapikan ujung lengan, lalu melihat pesan dari Mbak Wati. Alif dan Arkan sedang tidur siang. Wajah mereka tidak ada dalam foto, hanya dua pasang kaki kecil di bawah selimut dan Kopi meringkuk di karpet.

Rayhan masuk sebelum siaran dimulai.

"Kalau kamu ingin pulang, kita pulang," katanya.

"Saya ingin menyelesaikannya."

Ia mengulurkan tangan. Rayhan menggenggamnya sebentar, lalu melepaskan sebelum kru memasang mikrofon.

"Saya di belakang kamera."

Lampu studio menyala.

Pewawancara membuka acara dengan merangkum tuduhan Pak Darmo, lalu menyebut bahwa Nadhira meminta identitas anak dan detail sekolah tidak dibahas. Kamera bergerak mendekat.

"Bu Nadhira, banyak orang bertanya mengapa Ibu menikah lagi begitu cepat setelah suami pertama meninggal. Apa jawabannya?"

Nadhira merasakan denyut di pergelangan tangannya. Ia tidak buru-buru.

"Saya tidak meminta orang setuju dengan waktu hidup saya," katanya. "Saya hanya meminta mereka tidak mengarang bahwa saya berselingkuh. Saat Hendra masih hidup, hubungan saya dengan Pak Rayhan adalah hubungan keluarga karyawan dan pimpinan perusahaan. Tidak ada hubungan pribadi."

"Tetapi foto lama menunjukkan Ibu berada di acara yang sama."

"Ratusan karyawan dan keluarga mereka ada di acara itu. Berada dalam satu gedung bukan bukti perselingkuhan."

Pewawancara beralih ke pernikahan.

"Ayah Ibu mengaku tidak mengetahui akad."

Pengacara menggeser satu salinan kepada kru. Layar menampilkan halaman taukil wali yang sudah menutup nomor identitas.

"Pak Darmo hadir dalam prosesnya," jawab Nadhira. "Ia menyetujui mahar dan memberi kuasa resmi kepada penghulu untuk menjadi wali. Pernikahan kami tercatat di KUA. Saya tidak menikah diam-diam tanpa wali seperti yang dikatakan di televisi."

"Mengapa sekarang hubungan Ibu dengan orang tua putus?"

Pertanyaan itu membuat telapak kaki Nadhira menekan lantai.

"Hubungan kami tidak putus karena saya tinggal di rumah besar. Hubungan itu sudah tidak aman sebelum saya bertemu Rayhan sebagai suami."

"Tidak aman seperti apa?"

Nadhira memandang lensa kamera. Di baliknya ada ribuan orang yang mungkin sudah menertawakan fotonya, tetapi ia memilih bicara kepada satu perempuan yang mungkin sedang duduk di kamar sempit dan percaya kekerasan keluarga harus dirahasiakan.

"Setelah Hendra meninggal, keluarga suami mengambil akses saya pada uang santunan dan meminta saya menandatangani kuasa atas saham. Ketika saya menolak, saya dipukul dan tangan saya hendak dipaksa memberi cap jempol. Catatan IGD dan rekaman suaranya sudah diserahkan dalam proses hukum."

Foto cedera Nadhira muncul di layar tanpa musik sedih. Hanya tanggal pemeriksaan dan bagian wajah yang relevan.

"Mengapa tidak langsung pergi?" tanya pewawancara.

"Karena pergi tidak selalu sederhana. Saya tidak memegang semua uang, saya punya anak kecil, dan orang yang menyakiti saya adalah orang yang menguasai rumah. Pertanyaan yang lebih tepat bukan mengapa korban tidak cepat pergi, tetapi mengapa orang lain merasa berhak menahan dia."

Di ruang kontrol, tak ada yang bicara.

Pewawancara menurunkan suaranya. "Ayah kandung Ibu juga dituduh mencoba memaksa Ibu menikah. Apa yang terjadi?"

"Pak Darmo datang membawa perantara dan seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun bernama Pak Hartono. Mereka sudah membicarakan mahar dan uang untuk keluarga sebelum meminta persetujuan saya. Saya menolak. Penolakan itu dibalas dengan tamparan dan ancaman bahwa hidup saya akan diputuskan oleh ayah."

"Apakah Ibu merendahkan pria tersebut karena usianya?"

"Tidak. Masalahnya bukan seorang duda atau usia seseorang. Masalahnya adalah tubuh dan pernikahan saya dinegosiasikan tanpa persetujuan saya. Siapa pun orangnya, jawaban tidak tetap berarti tidak."

Pewawancara diam satu detik, lalu mengangguk.

"Pak Darmo mengatakan ia hanya ingin memastikan Ibu dan anak punya penanggung jawab."

"Kalau tujuan seseorang melindungi, ia tidak menerima uang dari calon suami dan memukul perempuan yang menolak."

Nadhira tidak meninggikan suara. Justru ketenangannya membuat kalimat itu terdengar lebih tajam.

Pertanyaan berikutnya mengenai Bu Sumini.

"Nenek Alif mengaku dijauhkan dari cucunya."

"Saya tidak menjauhkan anak untuk menghukum neneknya. Saya menghentikan akses karena Bu Sumini membawa Alif tanpa izin, merusak pintu, dan menguncinya dalam ruangan gelap. Polisi mendokumentasikan tempat serta kondisi anak saat ditemukan. Pengadilan sudah memeriksa bukti dan menolak gugatan pengasuhan beliau."

"Bisa Ibu ceritakan keadaan Alif saat ditemukan?"

Nadhira menarik napas. Ini batas yang sudah ia tentukan.

"Tidak. Anak saya tidak perlu menghidupkan ulang ketakutannya agar orang dewasa percaya kepada saya. Cukup katakan ia membutuhkan rasa aman dan pendampingan."

Pewawancara tidak mendesak.

"Ada yang berpendapat seorang nenek tetap keluarga dan harus dimaafkan."

"Memaafkan adalah pilihan pribadi. Memberi akses kepada anak adalah tanggung jawab. Hubungan darah bukan izin untuk mengambil, mengunci, atau menakut-nakuti anak."

Kru di balik kamera saling memandang. Salah seorang perempuan mengusap sudut matanya, lalu cepat kembali memegang papan isyarat.

Bagian akhir wawancara membahas Rayhan.

"Apakah Pak Rayhan menyelamatkan Ibu?"

Nadhira menoleh sesaat ke arah ruang kontrol. Ia bisa melihat siluetnya di balik kaca.

"Ia membantu saya ketika saya membutuhkan saksi, pengacara, dan tempat aman. Saya berterima kasih untuk itu. Tapi saya juga menolak tanda tangan, menghubungi bantuan, berdiri di pengadilan, dan memilih hidup saya sendiri. Pertolongan seseorang tidak menghapus keberanian orang yang ditolong."

"Apakah pernikahan Ibu bahagia?"

Pertanyaan itu tidak ada pada kartu yang disepakati. Pengacara bergerak di luar bingkai, tetapi Nadhira mengangkat tangan kecil untuk menunjukkan ia bersedia menjawab.

"Pernikahan kami masih belajar," katanya. "Kami pernah salah paham tentang perlindungan dan kebebasan. Kami memperbaikinya dengan bicara dan membuat keputusan bersama. Saya tidak akan menjual bagian yang paling pribadi hanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang asing."

"Apa yang ingin Ibu katakan kepada Pak Darmo dan Bu Sumini?"

Nadhira menatap lurus ke kamera.

"Berhenti memakai kata keluarga untuk menuntut uang, akses, atau ketaatan. Saya tidak akan pulang ke tempat yang membuat saya dan anak takut."

Lampu merah kamera padam.

Nadhira baru menyadari tangannya gemetar ketika kru melepas mikrofon. Rayhan masuk dari ruang kontrol. Ia tidak langsung memeluknya di depan semua orang. Ia menunggu sampai Nadhira mengangguk, lalu menaruh satu tangan di punggungnya.

"Air," katanya kepada staf.

Nadhira tertawa kecil di sela napas yang belum teratur. "Itu komentar pertama kamu?"

"Kamu belum minum selama empat puluh menit."

Ia menerima botol yang sudah dibuka Rayhan.

Potongan wawancara mulai menyebar bahkan sebelum mereka sampai rumah. Bukan foto lebam yang paling banyak dibagikan, melainkan jawaban Nadhira tentang korban yang tidak bisa pergi dengan mudah dan anak yang tidak wajib menghidupkan ulang trauma.

Tagar `#TeamNadhira` masuk daftar topik lokal. Ribuan perempuan menulis pengalaman mereka tentang uang yang ditahan keluarga, perkawinan yang dipaksa, atau rasa bersalah karena menjaga jarak dari orang tua toksik. Ada pula kritik dan komentar kasar, tetapi arah percakapan berubah.

Program televisi mengunggah klarifikasi bahwa pihak Nadhira telah memberikan dokumen wali dan catatan hukum. Beberapa akun gosip menghapus judul lama. Satu akun memasang koreksi. Bu Wulan mengirim foto layar grup arisan yang kini dipenuhi pesan dukungan.

Pak Darmo tidak menjawab telepon produser untuk dimintai tanggapan atas taukil wali.

Di rumah lain, Dinda menonton rekaman itu sendirian.

Ia menghentikan video tepat ketika kamera menangkap Rayhan berdiri di belakang Nadhira setelah wawancara. Jarinya menekan layar sampai gambar bergetar.

"Dia mengambil semuanya," bisiknya.

Di meja, ada tangkapan layar tagar dukungan dan pesan dari Bu Ratna yang menanyakan apa yang harus dilakukan berikutnya. Dinda tidak membalas. Ia menyapu gelas kosong hingga jatuh ke karpet, lalu memutar lagi bagian ketika Nadhira mengatakan pernikahannya masih belajar.

Wajahnya membeku.

Malam itu, rumah Pradipta akhirnya tenang. Alif dan Arkan sudah tidur. Nadhira berdiri di dapur, memakan nasi hangat karena baru sadar ia melewatkan makan malam.

Rayhan masuk tanpa jas. Ia menyandarkan punggung pada meja seberang dan memperhatikannya.

"Kenapa?" tanya Nadhira.

"Saya sudah menontonmu dari belakang kamera."

"Dan?"

"Kamu tidak butuh saya menjawab satu pertanyaan pun."

Nadhira meletakkan sendok. "Saya tetap butuh kamu datang."

Rayhan mendekat. Jarak mereka tinggal satu langkah.

"Kamu kuat," katanya pelan. "Lebih kuat dari yang kamu kira."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!