"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8 Fitting Room
Sepulang dari rumah sakit, Angie turun dari taksi daring di depan Plaza Senayan.
Bra menyusu yang dipakainya sudah kehilangan bentuk. Jahitan di sisi kanan menekan kulit, sementara ukuran cup yang terlalu kecil membuat nyeri dan rembesan ASI semakin parah. Dr. Kevin menyuruhnya mengganti pakaian dalam dengan ukuran yang tepat sebelum luka baru muncul.
Angie memasuki gerai pakaian dalam di lantai dua, lalu berhenti ketika melihat label harga.
Rp 1,8 juta untuk satu bra.
Ia membalik label itu, berharap salah membaca. Angkanya tetap sama.
Pramuniaga mendekat dengan senyum profesional. "Ada ukuran atau model yang dicari, Kak?"
"Bra menyusui. Tapi saya lihat-lihat dulu."
Tatapan pramuniaga turun ke tas kanvas dan sepatu sederhana Angie, lalu kembali ke wajahnya. Senyumnya masih ada, tetapi tidak sehangat tadi. "Koleksi diskon ada di bagian belakang."
Angie berjalan ke sana. Bahkan setelah potongan harga, dua bra akan menghabiskan uang makan hampir sebulan. Ia memegang satu model katun, menghitung saldo di kepala, lalu mengembalikannya.
"Kenapa tidak dicoba?"
Suara Hansen membuat bahunya menegang.
Ia berdiri di pintu gerai dengan jas gelap dan ponsel di tangan, tampak begitu tidak sesuai di antara rak-rak renda berwarna pastel.
"Tuan Hansen sedang apa di sini?"
"Ada pertemuan di lantai atas." Tatapannya turun ke bra yang baru diletakkan Angie. "Kamu?"
Angie buru-buru merapatkan jaket. "Mau membeli sesuatu."
"Jelas."
Hansen mengambil model katun tersebut, membaca ukurannya, lalu mengumpulkan beberapa pilihan lain dari rak bra menyusui. Warna krem, hitam, abu muda, dan satu merah anggur berpindah ke lengannya.
"Coba ini."
Angie memandang tumpukan itu dengan ngeri. "Tuan tahu itu apa?"
"Aku bisa membaca tulisan `nursing bra`."
"Maksud saya, kenapa Tuan tahu saya membutuhkannya?"
Hansen teringat botol penuh, noda di seragam, dan dua kata yang ia dengar di rumah sakit. Ia tidak menyebut salah satunya.
"Kevin bilang kamu punya kebutuhan fisik khusus dan pakaian yang menekan bisa memperburuk gejala."
Itu satu-satunya penjelasan umum yang pernah diberikan Kevin terkait pembayaran obat. Sisanya adalah kesimpulan Hansen sendiri.
Pramuniaga kembali dengan senyum jauh lebih lebar setelah mengenali wajah Hansen. "Suaminya baik sekali, ya, menemani istri belanja."
Wajah Angie memanas. "Dia bukan suami saya."
Hansen tidak mengoreksi. Ia justru menyerahkan semua pilihan kepada pramuniaga. "Carikan ukuran yang tepat dan bahan paling nyaman."
"Baik, Pak. Istrinya bisa masuk ke ruang pas."
"Saya bukan istrinya," ulang Angie.
Pramuniaga tertawa canggung. "Maaf, Kak. Kalian terlihat serasi."
Dua pelanggan di dekat kasir mulai berbisik. Salah satunya memandangi Hansen seperti pernah melihat wajahnya di berita bisnis. Angie semakin ingin menghilang ke balik rak.
"Tuan bisa menunggu di luar," katanya pelan.
"Kenapa?"
"Ini toko pakaian dalam perempuan."
Hansen melihat sekeliling, lalu kembali menatapnya. "Aku tidak akan pingsan karena melihat bra."
"Tapi saya bisa pingsan karena semua orang melihat kita."
"Mereka melihatku."
"Itu tidak membantu."
Pramuniaga membawa pita ukur dan menawarkan pemeriksaan ukuran di dalam ruang pas. Angie menerimanya karena luka di sisi dadanya memang mulai terasa. Ketika tirai menutup, Hansen tetap berdiri di luar sambil memegang empat bra menyusui seperti itu pekerjaan paling normal di dunia.
Pemandangan tersebut begitu absurd sampai rasa malu Angie berubah menjadi tawa kecil yang lolos tanpa izin.
"Kamu tertawa?" tanya Hansen.
"Tidak."
"Aku mendengarnya."
"Saya hanya membayangkan reaksi pegawai Liem Corporation kalau melihat direkturnya sekarang."
"Mereka akan tetap bekerja kalau tidak mau kehilangan bonus."
Angie menggigit bibir agar tidak tertawa lagi. Untuk pertama kalinya, berada di dekat Hansen tidak hanya membuat tubuhnya tegang. Ada kenyamanan kecil yang menyusup di antara rasa takut dan perbedaan status mereka.
Angie membawa pakaian ke ruang pas sebelum wajahnya semakin merah. Dari balik tirai, ia mencoba model pertama. Ukurannya jauh lebih nyaman, tetapi label harga masih membuat perutnya mulas.
"Bagaimana?" tanya Hansen dari luar.
"Terlalu mahal."
"Aku bertanya tentang ukurannya."
"Nyaman."
"Ambil."
"Tidak."
"Kalau pakaian lama membuat luka dan mengganggu pekerjaanmu, menggantinya bukan kemewahan."
"Bagi Tuan mungkin bukan. Bagi saya, harga satu benda itu setara biaya makan berminggu-minggu."
Hansen menyandarkan bahu ke dinding di seberang tirai. "Warna krem?"
"Tuan benar-benar mau membahas warna pakaian dalam saya?"
"Yang merah anggur lebih bagus."
Tirai terbuka sedikit. Wajah Angie muncul dengan tatapan tidak percaya. "Tuan Hansen!"
Sudut bibirnya terangkat. "Setidaknya kamu berhenti memikirkan harga selama lima detik."
Angie menutup tirai lagi. Ia tidak menyadari kapan rasa takut terhadap pria itu mulai bercampur dengan sesuatu yang lebih ringan.
Ketika ia keluar dengan pakaian sendiri, pramuniaga membawa semua pilihan ke kasir.
"Saya hanya ambil dua," kata Angie.
"Suami Kakak bilang ambil semuanya."
"Dia bukan..." Angie mengembuskan napas. "Tolong panggil dia."
Pramuniaga memandang Hansen. "Maaf, Pak, saya salah menyebut hubungan kalian."
Angie menjawab lebih dulu, berusaha menghentikan salah paham. "Suami saya sudah meninggal. Anak saya juga sudah tidak ada."
Kalimat tentang suami itu adalah jawaban aman yang selalu ia gunakan agar orang berhenti bertanya tentang ayah dari bayi yang bahkan tidak sempat ia bawa pulang. Ingatannya tidak menyimpan pernikahan, hanya cerita kabur bahwa laki-laki dalam hidupnya telah tiada.
Namun duka tentang anaknya bukan kebohongan.
Senyum pramuniaga hilang. "Maaf, Kak."
Hansen pun diam.
Ia menatap tangan Angie yang mencengkeram tas. Perempuan ini pernah melahirkan, kehilangan bayi, mengalami kecelakaan, lalu muncul di rumahnya dengan ASI yang masih mengalir. Guai menolak semua orang dan tenang hanya di dadanya.
Potongan-potongan itu semakin sulit diabaikan.
Hansen menyerahkan kartu hitam ke kasir.
"Saya bisa bayar dua sendiri," protes Angie.
"Ambil semua."
"Saya sudah berutang Rp 180 juta."
"Potong dari gajimu."
"Berapa lagi yang harus saya bayar?"
"Aku belum menghitung."
Mereka sama-sama tahu ia tidak berniat memasukkan belanja itu ke perjanjian utang.
Di dalam mobil menuju Kediaman Liem, Angie memeluk kantong belanja di pangkuan dan menatap jalanan sore. Hansen duduk di sebelahnya, membaca pesan dari William tanpa berkata apa-apa.
Ponselnya kemudian berdering. Nama William muncul di layar. Hansen memasang satu earbud dan mengalihkan wajah ke jendela agar Angie tidak mendengar percakapan.
"Bicara," kata Hansen.
"Tuan Muda, tentang Angie Thio," suara William masuk hanya ke telinganya. "Satu tahun lalu ada catatan kecelakaan atas namanya. Tiga hari sebelumnya, ada catatan kelahiran bayi."
Tatapan Hansen bergerak ke arah Angie.
William melanjutkan, "Yang aneh, bayi itu kemudian dinyatakan meninggal. Dokumennya tidak lengkap dan rumah sakit asalnya sudah menutup akses arsip."