NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 015 - Jalan ke Malang

Pukul lima pagi, Surabaya masih gelap.

Arya sudah berdiri di ruang makan dengan dua map di tangan.

Map pertama berisi surat pemeriksaan dokter, bukti nikah siri, fotokopi KTP, dan daftar rencana pendaftaran KUA.

Map kedua berisi bukti awal akun anonim, jejak email Hartono Group, dan rekaman kelas kemarin.

Bapak Hendra membaca keduanya sambil berdiri.

"Komisi disiplin kampus?" tanya Kirana dari sofa.

Matanya masih bengkak. Ia memakai cardigan tebal dan hijab abu muda.

Bapak Hendra menutup map.

"Saya sudah menelepon teman lama di dinas pendidikan tinggi. Kita tetap mengikuti aturan. Kampus perlu melihat dokumen lengkap sebelum mengambil keputusan."

Arya mengangguk. "Saya juga sudah kirim email resmi ke sekretariat fakultas. Kami siap datang setelah kembali dari Malang."

Kirana menggenggam ujung lengan bajunya. "Kalau mereka mengeluarkan kita?"

"Mereka harus punya dasar," jawab Arya. "Dan kita punya dokumen, saksi, serta bukti ada tekanan dari pihak luar."

Ibu Sri meletakkan termos air hangat ke tas kecil Kirana.

"Sekarang yang paling penting ibumu."

Kirana menunduk.

Kalimat itu lebih berat dari surat kampus.

Mereka turun ke parkiran. Mercedes-Benz S-Class S680 sudah siap. Arya sengaja tidak membawa GR Supra. Hari ini ia perlu membuat Kirana nyaman dan menjaga perjalanan tetap tenang.

Bapak Hendra ikut mengantar sampai lobby.

"Arya."

"Iya, Pak."

"Di depan Ibu Ratna, jangan banyak membela diri. Dengarkan dulu."

"Saya paham."

"Kalau dia marah, terima."

"Iya."

Bapak Hendra menatap Kirana.

"Nak, apa pun reaksinya, ibumu tetap ibumu."

Kirana mengangguk. Air matanya langsung naik.

Mobil keluar dari Grand Surya Residence.

Jalanan pagi kosong. Lampu kota masih menyala. Surabaya perlahan tertinggal di belakang.

Selama tiga puluh menit pertama, Kirana tidak bicara.

Ia duduk dengan kedua tangan di atas perut, walau belum banyak terlihat. Sesekali ia menarik napas terlalu cepat.

Panel sistem muncul tipis di tepi pandangan Arya.

【Pemantauan Kirana: detak jantung meningkat. Stres emosional tinggi.】

Arya menurunkan kecepatan.

"Ran."

"Hm?"

"Mau dengar lagu?"

Kirana menatap jendela. "Apa saja."

Arya memutar Perahu Kertas dari Maudy Ayunda. Volume rendah. Lagu itu pernah Kirana putar saat mereka belajar bersama di perpustakaan kampus, jauh sebelum semua masalah ini.

Kirana memejamkan mata.

Sepuluh menit kemudian, Arya bertanya, "Kamu paling takut apa?"

Kirana membuka mata. Lama ia diam.

"Takut Mama diam."

"Diam?"

"Kalau dia marah, aku bisa terima. Kalau dia nangis, aku hancur. Kalau dia diam..." Kirana menelan ludah. "Aku merasa sudah membunuh sesuatu di dalam hatinya."

Arya tidak langsung menjawab.

Ia menggenggam tangan Kirana dengan tangan kirinya.

"Aku yang bicara pertama."

"Dia pasti tanya kenapa aku sembunyikan."

"Jawab dengan jujur. Kamu takut."

"Mama pernah bilang, perempuan harus menjaga diri lebih keras, karena dunia lebih cepat menyalahkan perempuan."

"Maka aku akan berdiri di depan dunia itu."

Kirana menoleh.

"Kamu selalu terdengar yakin."

"Aku sering takut."

"Kapan?"

"Sekarang."

Kirana menatap wajahnya.

Arya tersenyum tipis. "Bedanya, aku tetap menyetir."

Untuk pertama kalinya sejak pagi, Kirana tertawa kecil.

Mereka berhenti di area Batu saat matahari mulai naik. Udara lebih sejuk. Deretan toko oleh-oleh baru buka. Arya memarkir mobil di depan toko yang menjual keripik apel, susu segar, dan jajanan rumahan.

"Kita beli sedikit untuk Mama," kata Arya.

"Jangan terlalu banyak. Mama tidak suka merepotkan orang."

"Sedikit."

Lima belas menit kemudian, keranjang Arya sudah penuh.

Kirana memegang dahinya. "Itu sedikit versi siapa?"

"Versi menantu panik."

Kirana memukul pelan lengannya.

Arya mengambil sebuah gelang emas dari etalase kecil di samping kasir. Bentuknya halus, tidak terlalu besar. Ia baru akan meminta pegawai mengeluarkannya saat panel sistem menyala.

【Terdeteksi: host menyiapkan hadiah untuk ibu mertua.】

【Analisis karakter Ibu Ratna Sari dimulai.】

【Hasil: pekerja keras, mandiri, sensitif terhadap rasa dikasihani.】

【Saran: pilih hadiah yang menunjukkan perhatian dan menahan pamer kemampuan finansial.】

Arya berhenti.

Pegawai toko bertanya, "Mau lihat gelangnya, Pak?"

Arya menggeleng. "Yang itu saja."

Ia menunjuk sebuah selendang lembut berwarna hijau tua di rak kain. Bahannya bagus, motifnya tenang.

Kirana melihat pilihannya.

"Mama suka warna itu."

"Ambil."

Mereka juga membeli keripik apel, susu segar, teh melati, dan beberapa bahan kue yang Kirana ingat sering dipakai ibunya.

Saat kembali ke mobil, Arya menyusun semuanya rapi di bagasi.

Kirana berdiri di sampingnya.

"Terima kasih sudah bertanya ke sistemmu."

Arya hampir menutup bagasi terlalu cepat.

Kirana menatapnya.

Ia tidak tersenyum penuh, namun matanya lebih jernih.

"Aku tahu kamu punya banyak hal yang belum bisa kamu jelaskan. Aku tidak memaksa hari ini. Aku hanya senang kamu memakainya untuk memikirkan Mama."

Arya menatapnya lama.

"Suatu hari aku akan jelaskan."

"Hari ini cukup temani aku masuk rumah."

"Aku temani sampai selesai."

Sebelum Arya menutup bagasi, ponselnya bergetar.

Om Agus menelepon.

"Sudah sampai mana?"

"Batu, Om. Sebentar lagi masuk Malang."

"Ibumu sudah saya beri tahu kamu pulang. Saya belum cerita apa-apa. Itu tugasmu."

"Terima kasih, Om."

"Jangan terima kasih dulu. Kalau Ratna pingsan, kamu yang angkat ke rumah sakit."

Arya melirik Kirana. Wajah istrinya langsung pucat lagi.

"Saya siap, Om."

Suara Om Agus melembut sedikit.

"Bicaralah pelan. Ratna keras, tapi hatinya cuma satu: Kirana."

Sambungan putus.

Kirana menatap jalan. "Om bilang apa?"

"Dia menunggu kita menyelesaikan ini dengan benar."

"Mama tahu aku pulang?"

"Tahu. Belum tahu alasannya."

Kirana mengangguk, lalu masuk mobil dengan gerakan lebih lambat.

Arya memberi waktu. Ia tidak menyalakan mesin sampai napas Kirana kembali stabil.

Perjalanan dilanjutkan.

Jalan menuju Malang mulai padat. Rumah-rumah kampung, toko kecil, bengkel motor, dan gerobak sarapan muncul bergantian.

Semakin dekat, Kirana semakin diam.

Arya mengikuti arah yang Kirana sebutkan. Mobil besar itu masuk ke jalan kecil, lalu berhenti karena gang di depan terlalu sempit.

Di kiri kanan, rumah-rumah berdempetan. Beberapa tetangga langsung menoleh melihat S-Class berhenti di mulut gang.

Kirana tidak bergerak.

"Itu gang rumahku," katanya.

Suaranya sangat pelan.

Arya mematikan mesin.

"Kita turun."

"Arya."

"Aku di sini."

Kirana menarik napas panjang.

Ia membuka pintu.

Sebelum kakinya menapak penuh di jalan, seorang perempuan kurus muncul dari ujung gang.

Perempuan itu memakai daster tua dan celemek lusuh. Rambutnya diikat seadanya. Kedua tangannya masih putih oleh tepung.

Langkahnya berhenti saat melihat Kirana.

Lalu matanya bergerak ke mobil hitam besar di belakangnya.

Wajahnya berubah.

Bingung.

Cemas.

Terluka sebelum tahu alasan.

Kirana berdiri kaku.

"Mama..."

Ibu Ratna menatap putrinya lama.

Tepung jatuh.

"Kirana," katanya pelan. "Kamu pulang bawa siapa?"

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!