Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khitbah yang tertukar
"Kamu itu benar-benar pembawa sial, Alika!"
Suara Ayah menggelegar, membuat piring-piring di atas meja seolah ikut bergetar. Ayah membanting map kuning yang kemarin ia bangga-banggakan di depan Alya. Sekarang, isinya bukan lagi rencana masa depan untuk anak emasnya, melainkan pernyataan mengejutkan dari Farhan.
"Ayah sudah siapkan jalan yang mulus untuk Alya. Kenapa harus kamu yang merusaknya? Apa yang kamu lakukan malam itu sampai Farhan berubah pikiran?!" Ayah menunjuk wajah Alika dengan jari yang gemetar karena murka.
Alya duduk mematung di kursi sebelah Ayah. Kepalanya menunduk sangat dalam. Tidak ada air mata yang jatuh, hanya jemarinya yang saling bertautan erat di bawah meja. Mendengar pria yang ia kagumi dalam diam—pria yang ia sebut dalam doa setiap sepertiga malam—justru memilih kembarannya yang "berantakan" adalah hantaman yang luar biasa telak. Tapi, demi cintanya pada Alika, Alya memilih membisu.
Alika tidak tinggal diam. Ia berdiri, menendang kursinya hingga terjungkal ke belakang. Matanya merah, bukan karena takut, tapi karena muak.
"Aku nggak minta dia memilih aku, Yah! Aku juga nggak sudi dikhitbah karena rasa kasihan atau rasa tanggung jawab konyol itu!" teriak Alika. "Tanya saja pada pria suci pilihan Ayah itu! Aku mabuk, aku pingsan, dan dia yang datang tiba-tiba. Apa salahku kalau dia jadi merasa harus jadi pahlawan?"
"Kamu sudah mempermalukan keluarga! Farhan bilang dia sudah melihat auratmu, dia sudah menyentuhmu. Di mata Ayah, kamu sudah merusak nama baik Alya karena wajah kalian sama!" Ayah melangkah maju, sorot matanya tajam. "Sekarang, kamu harus tanggung jawab. Farhan mau menikahimu untuk menutup aibmu. Kamu akan menikah dengannya, mau atau tidak!"
Alika tertawa sinis, tawa yang terdengar seperti pecahan kaca. "Menutup aib? Bilang saja Ayah malu punya anak sepertiku dan ingin cepat-cepat membuangku ke tangan orang lain! Aku bukan barang yang bisa ditukar-tukar, Yah!"
Alika melirik Alya yang masih diam seribu bahasa. "Dan kamu, Al! Kenapa kamu diam saja? Kamu mau calon suamimu diambil aku? Bilang ke Ayah kalau kamu nggak setuju! Bilang!"
Alya perlahan mendongak. Matanya yang jernih menatap Alika dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara luka dan kasih sayang yang tulus.
"Kalau itu memang jalan untukmu berubah menjadi lebih baik, Al... aku ikhlas," bisik Alya pelan.
"Bohong! Kalian semua munafik!" Alika menyambar jaketnya dan berlari keluar rumah, membanting pintu depan dengan keras, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang makan.
Nama yang Terhapus
Di atas meja kerja Ayah, tumpukan kertas undangan berwarna krem elegan baru saja tiba dari percetakan. Ayah menatapnya dengan rahang mengeras. Jari telunjuknya menyentuh baris nama pengantin wanita.
Di sana, jejak nama Alya Zulaikha telah dihapus, digantikan oleh Alika Zulfa.
Hanya berbeda beberapa huruf, namun maknanya merombak seluruh tatanan hidup keluarga mereka. Bagi Ayah, ini adalah aib yang sedang "dicuci". Bagi Ibu, ini adalah kegagalan yang harus segera ditutupi agar tetangga tak bertanya-tanya mengapa anak kesayangannya batal menikah.
"Semua ini karena kamu, Alika," Ibu bergumam pedas sambil memasukkan undangan-undangan itu ke dalam amplop plastik. "Harusnya kakakmu yang duduk di pelaminan itu. Harusnya kami bangga. Sekarang? Kami harus menanggung malu kalau orang-orang sadar yang menikah adalah anak yang sukanya keluyuran."
Alika yang sedang berdiri di ambang pintu dapur mengepalkan tinju. "Lalu kenapa diteruskan? Batalkan saja! Aku tidak pernah minta dinikahi pria kaku itu!"
"Kamu yang minta!" bentak Ayah dari ruang tengah. "Kamu ingat apa yang kamu katakan pada Farhan malam itu saat kamu mabuk? Kamu memeluknya, kamu menangis, kamu minta dia membawa kamu pergi jauh! Dia pria yang punya kehormatan, Alika. Dia menganggap permintaanmu sebagai amanah, meskipun dia tahu kamu sedang tidak sadar."
Alika tertegun. Ingatan malam itu samar-samar kembali seperti kepingan film rusak. Aroma parfum maskulin yang menenangkan, dada yang bidang, dan perasaan aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia memang meminta dibawa pergi, tapi ia tidak menyangka "pergi" yang dimaksud Farhan adalah melalui ikatan pernikahan.
Ia menoleh ke arah ruang makan, di mana Alya sedang membantu Ibu melipat sisa undangan. Alya bekerja dalam diam. Tak ada protes, tak ada air mata di depan umum. Namun, setiap kali jemari Alya menyentuh nama Alika Zulfa di undangan itu, Alika bisa melihat tangan kakaknya sedikit bergetar.
"Al..." panggil Alika pelan.
Alya mendongak, tersenyum tipis yang justru terasa lebih menyakitkan daripada makian Ibu. "Nggak apa-apa, Al. Mungkin ini cara Allah supaya kamu ada yang menjaga. Farhan orang baik. Sangat baik."
"Tapi dia itu calon suamimu! Dia lihat fotomu, dia datang untukmu!" Alika mendekat, mencoba mencari pembelaan dari satu-satunya orang yang selalu memihaknya.
"Dia datang untuk 'kembaran Alya'. Dan sekarang, dia memilihmu," jawab Alya tegar. "Ganti bajumu. Ibu bilang besok kita harus ke penjahit untuk fitting kebaya. Kebaya yang tadinya dijahit untuk ukuranku... sepertinya harus dikecilkan sedikit di bagian pinggang agar pas di badanmu."
Alika merasa sesak. Ia merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri. Ia mencuri masa depan kakaknya, mencuri kebahagiaan orang tuanya, dan sekarang ia terperangkap dalam komitmen dengan pria yang bahkan belum pernah ia ajak bicara secara normal tanpa emosi yang meluap.
Di kamar, Alika membanting tubuhnya ke kasur. Ia meraih ponsel dan mengirim pesan singkat pada Farhan.
Alika: "Puas kamu sekarang? Semua orang di rumah ini membenciku gara-gara namamu ada di samping namaku di undangan itu."
Beberapa menit kemudian, sebuah balasan masuk.
Farhan: "Saya tidak ingin dibenci, Alika. Saya hanya ingin menepati janji. Kamu minta dibawa pergi jauh, kan? Mari kita pergi jauh dari luka-lukamu yang sekarang, lewat jalan yang benar."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...