Xian Yue tewas setelah bertahun-tahun menjadi seorang penyintas di dunia Distopia.
Tapi, bukannya bangkit di alam kubur dan menerima semangkuk sup reinkarnasi dari Meng Po, Xian Yue justru terlempar ke tanah antah berantah.
Dalam perjalanan menuju rumah mertuanya, Xian Yue tak tau tubuh yang dimasukinya ternyata sudah dijual sebagai menantu yang menumpang, pada keluarga miskin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9 Harta dari Hutan
Malam setelah pertemuan di balai desa terasa lebih sunyi dari biasanya. Tak ada seorang pun di rumah keluarga Han yang banyak berbicara.
Suara sumpit yang menyentuh mangkuk menjadi satu-satunya bunyi di meja makan. Semangkuk bubur jagung yang biasanya terasa cukup, kini seolah kehilangan rasanya.
Pikiran semua orang dipenuhi oleh hal yang sama.
Pajak.
Setelah selesai makan, Tuan Han mengeluarkan sebuah kantong kain kecil dari dalam lemari kayu. Ia menuangkan isinya ke atas meja. Tujuh belas keping uang tembaga.
Hanya itu seluruh tabungan keluarga Han.
Nyonya Han menghela napas panjang. "Kalau kita membeli benih, uangnya habis. Kalau tidak membeli benih, musim depan kita tidak punya panen."
Han Zheng mengusap wajahnya. "Aku akan lebih sering pergi gunung, dan masuk lebih dalam ke hutan... Kalau beruntung aku bisa mendapat rusa..."
Tuan Han langsung menggeleng. "Jangan. Semakin jauh kau masuk ke pegunungan, semakin besar kemungkinan bertemu babi hutan atau beruang."
"Itu terlalu berbahaya."
Suasana kembali hening.
Lian Yue yang sejak tadi mendengarkan akhirnya membuka suara. "Besok...aku ingin ikut ke hutan."
Ketiga anggota keluarga Han langsung menoleh.Han Zheng bahkan mengernyit. "Hutan bukan tempat yang aman."
"Aku tahu." sahut Lian Yue.
"Lalu kenapa ingin ikut?"
Lian Yue menjawab dengan tenang. "Aku ingin mencari tanaman liar. Kalau beruntung, mungkin ada sesuatu yang bisa dimakan atau dijual."
Han Zheng tampak ragu. Namun mengingat istrinya pernah menemukan lokasi berburu kelinci, ia akhirnya berkata, "Baik. Tapi kau tidak boleh jauh dariku."
Lian Yue mengangguk dengan senyum kecil.
.
.
Keesokan paginya, mereka berangkat sebelum matahari terbit. Udara pegunungan jauh lebih sejuk dibanding desa.
Embun masih menggantung di dedaunan. Jalan setapak dipenuhi akar pohon yang mencuat dari tanah. Han Zheng berjalan di depan sambil membawa kapak dan busur. Sedangkan Lian Yue mengikuti dari belakang dengan keranjang bambu di punggungnya.
Sepanjang perjalanan, matanya terus mengamati sekitar. Di dunia asalnya, seseorang yang tidak mampu mengenali tanaman akan mati kelaparan. Karena itu, ia terbiasa memperhatikan bentuk daun, warna batang, hingga aroma tanah.
Tak lama kemudian, ia berhenti di depan sekelompok tanaman liar. Daunnya bergerigi. Batangnya kemerahan. Ia tersenyum kecil.
"Bayam liar." ujarnya dengan senang.
Han Zheng ikut mendekat. "Kau mengenalnya? Bisa dimakan."
"Ya, ini sayuran liar..." jawab Lian Yue.
Ia memetik beberapa batang muda lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Han Zheng tidak banyak bertanya.
Selama ini, ia hanya mencari jamur dan rebung. Ia tidak pernah berpikir banyak tanaman liar sebenarnya juga bisa dimakan.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Di sepanjang jalan, Lian Yue menemukan pakis muda, daun kelor liar, dan beberapa tanaman obat yang tumbuh di bawah naungan pohon besar.
Keranjangnya perlahan mulai terisi. Han Zheng yang melihat itu tak bisa menyembunyikan rasa herannya.
"Kau seperti mengenal semua tanaman."
Lian Yue tersenyum tipis. "Dulu...ada seseorang yang mengajariku."
Ia tidak sepenuhnya berbohong, yang mengajarinya memang seseorang. Seorang lelaki tua penyintas di dunia lamanya yang pernah berkata, "Kalau kau bisa mengenali hutan, hutan tidak akan membiarkanmu mati kelaparan."
Kalimat itu masih ia ingat hingga sekarang.
.
.
Saat matahari mulai meninggi, mereka tiba di sebuah aliran sungai kecil. Airnya jernih. Suara gemericik air membuat suasana terasa damai. Han Zheng berjongkok mengisi kendi bambunya.
Sementara itu, Lian Yue mendengar suara ribut dari atas pohon.
["Dia datang lagi."]
["Manusia aneh."]
["Manusia yang bisa mendengar."]
Seekor tupai kecil turun dari batang pohon sambil membawa buah liar di kedua tangannya.
Ia berhenti beberapa langkah dari Lian Yue.
["Kau mencari makanan?"]
Lian Yue mengangguk pelan sambil memastikan Han Zheng tidak memperhatikannya.
"Iya."
Tupai itu mengibaskan ekornya. ["Ikut aku."]
Lian Yue segera berdiri. "Suamiku.." panggilnya, "Aku ke arah sana sebentar. Aku melihat beberapa tanaman."
Han Zheng menoleh. "Jangan jauh. Aku bisa melihatmu dari sini."
Lian Yue mengangguk. Ia mengikuti tupai itu menyusuri semak selama beberapa puluh langkah. Tak lama kemudian, tupai berhenti di depan sebatang pohon besar. Di bawah pohon itu tumbuh belasan rumpun jamur berwarna cokelat muda.
Mata Lian Yue berbinar. Jamur itu masih segar. Jumlahnya jauh lebih banyak dibanding yang biasa dibawa Han Zheng pulang.
"Terima kasih."
Tupai itu mengangguk bangga. ["Manusia lain sering melempar batu."]
["Kau tidak. Jadi aku membantumu."]
Lian Yue tersenyum tulus mendengar ucapan si tupai itu. Ia lalu bergegas memanen jamur itu dengan hati-hati, menepuk-nepuk pucuk kepala jamur agar sporanya jatuh dan menyisakan beberapa yang kecil agar tetap bisa berkembang.
Melihat tindakannya, tupai kecil itu tampak kebingungan.
["Kenapa tidak diambil semua?"]
Lian Yue menjawab pelan, "Kalau semuanya diambil hari ini...besok tidak akan ada lagi."
Tupai itu mengedipkan mata beberapa kali.Lalu tertawa kecil. ["Benar kata para burung Pipit itu, kau memang manusia aneh."]
Ketika akhirnya Lian Yue kembali, Han Zheng langsung membelalakkan mata. "Dari mana kau mendapatkan semua itu?"
Lian Yue mengangkat keranjang yang kini hampir penuh. "Di balik semak."
Han Zheng menggaruk kepalanya. "Aku sudah bertahun-tahun masuk hutan...tapi belum pernah melihat tempat itu."
Lian Yue hanya tersenyum. Bukan karena tempat itu tersembunyi. Melainkan karena selama ini tidak ada yang bertanya kepada penghuni hutan.
.
.
Sebelum pulang, mereka beristirahat di bawah pohon rindang. Han Zheng mengeluarkan dua potong roti jagung keras dari dalam kantong kain.
Ia memberikan satu kepada Lian Yue. "Makanlah."
Lian Yue menerima roti itu. Meski keras, baginya rasanya tetap enak. Saat sedang makan, seekor gagak mendarat di dahan tepat di atas kepala mereka.
Burung itu berkicau keras.
["Cepat pulang!"]
["Cepat pulang!"]
["Babi hutan turun gunung!"]
Lian Yue spontan berdiri dengan wajah pucat dan keringat dingin, Han Zheng menatapnya dengan heran.
"Ada apa?"
"Kita harus pulang. Sekarang!"
Han Zheng belum sempat bertanya ketika terdengar suara ranting patah dari kejauhan.
Kraak!
Disusul dengusan berat yang menggema di antara pepohonan. Wajah Han Zheng langsung berubah.
"Itu...Babi hutan."
Ia segera memanggul keranjang mereka. "Ayo!" serunya sambil menarik tangan Lian Yue dan menyeretnya berlari.
Tanpa menunda sedetik pun, keduanya berlari mengikuti jalan setapak menuju desa. Di belakang mereka, suara semak yang diterjang sesuatu terdengar semakin dekat.
Lian Yue sempat menoleh sekilas. Di antara pepohonan yang rapat, ia melihat bayangan tubuh hitam besar bergerak cepat.
Jantungnya berdegup kencang. Kalau bukan karena peringatan sang gagak, mungkin mereka sudah terlambat menyadarinya. Dan kali ini, keberuntungan mungkin tidak akan berpihak kepada mereka.
sehingga apa yg membuat mereka ingin membuang mu jauh jauh dan dilarang kesana bertemu batu merah
dgn diatas
apakah mereka sengaja membuang kian Yue .agar tidak mampu membangkitkan ilmunya
makanya dia dilarang bertemu batu merah
sehingga para burung dan binantang lainnya sangat ketakutan
semoga kau bisa menyelamatkan keluarga han
mungkin terlalu tua 💪💪
disaat kemarau juga sama ya kadang tak kunjung datang hujan
sampai sampai mendoakan kejayaan untk mereka
saling bertanya
deep talk gitu😁😁🤔
bisa mendengar BHS binatang