Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.
Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pelukan Arka di belakang gedung seni sore tadi rasanya masih membekas. Seperti sengatan listrik yang bikin kepala Kirei berisik sampai malam. Luar sedang hujan deras, petir bersahut-sahutan membelah langit, tapi kekacauan di dalam dadanya jauh lebih bising.
Laptop di pangkuannya masih menampilkan draf rancangan kegiatan OSIS. Kursor di layar cuma berkedip-kedip, tak bertambah satu kata pun dari sejam lalu. Tiap kali Kirei memejamkan mata, ingatan tentang wajah panik Arka dan hangat dadanya saat memeluk erat malah berputar ulang bagai kaset rusak.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Arka keluar sambil mengusap kasar rambut basahnya memakai handuk kecil. Cowok itu cuma pakai celana kaus hitam dan kaus oblong putih tipis. Ia melirik Kirei sekilas, lalu berjalan ke meja di sudut ruangan tanpa menyapa.
Atmosfer kamar mendadak pekat dan canggung—jauh lebih menyiksa daripada hari-hari biasanya saat mereka sibuk saling semprot.
"Gue udah cek rekaman CCTV di gang belakang," suara Arka memecah hening, mencoba mengalahkan gemuruh hujan di luar. Ia duduk di kursi, memutar tubuhnya menghadap Kirei.
Kirei menengadah, buru-buru memasang raut sedingin mungkin. "Terus?"
"Tiga cowok tadi sore itu anak SMA Tunas Bangsa. Kapten mereka, Rian, sengaja mau mancing emosi gue lewat lo sebelum pertandingan minggu depan," kata Arka dengan rahang mengeras. "Mulai besok, lo enggak boleh lewat pintu belakang lagi. Dan lo pulang bareng gue."
Kirei menyipitkan mata. Rasa gengsi setinggi langit langsung menyengat kesadarannya. "Pulang bareng lo? Biar rumor di sekolah makin liar? Nggak mau."
"Kirei, ini bukan soal rumor!" Arka berdiri, melangkah mendekati kasur dengan sorot mata menajam. "Mereka udah berani megang-megang lo! Lo pikir kalau sampai lo kena masalah lagi, gue bakal tinggal diam?"
"Ya harusnya lo tinggal diam!" potong Kirei sambil menutup laptopnya kasar dan berdiri menantang Arka. Jarak mereka cuma dipisahkan guling pembatas di atas kasur. "Lo tuh bukan siapa-siapa gue, Arka! Pernikahan ini cuma kertas! Cuma formalitas buat nyelamatin saham dan kesehatan Kakek! Lo enggak perlu berlagak punya hak penuh atas hidup gue!"
Arka tertawa sinis, tapi ada kilat luka yang terlintas cepat di matanya. "Bukan siapa-siapa? Jadi menurut lo, kejadian tadi sore cuma aksi pahlawan kesiangan yang enggak ada artinya?"
"Iya! Lo cuma kasihan, kan? Atau lo cuma takut reputasi keluarga lo tercoreng kalau terjadi apa-apa sama gue?!" sembur Kirei, benar-benar terbawa emosi.
Jemari Arka mengepal rapat. Tanpa aba-aba, ia melompati guling pembatas, memangkas jarak sampai berdiri persis di depan Kirei. Aura mengancam cowok itu mendadak mengungkung Kirei sepenuhnya.
"Lo bener-bener buta atau pura-pura bego, Kirei?" bisik Arka pelan tapi sarat amarah tertahan. Ia menunduk, mengunci tatapan Kirei. "Kalau gue cuma peduli reputasi, gue enggak bakal hampir bikin bonyok anak orang cuma gara-gara dia megang lengan lo!"
Jantung Kirei berdegup kacau. "Arka..."
Belum sempat kalimat berikutnya meluncur, ponsel Arka di atas meja mendadak berdering nyaring, memutus tensi tinggi yang hampir meledak.
Arka menarik napas dalam-dalam, membuang muka lalu mundur untuk meraih ponselnya. Layar yang menyala menampilkan satu nama kontak yang sukses bikin kening Arka bertaut: Siska.
Kirei memperhatikan raut wajah itu. Siska—siswi pindahan baru berparas model yang terang-terangan mendekati Arka sejak hari pertama di SMA Garuda.
Arka menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel ke telinga. "Ya, Siska? Ada apa?"
Suara di ujung telepon terdengar cukup jelas di kamar yang hening, bernada manja dan panik. "Arka... sorry banget ganggu malam-malam. Mobil gue mogok di dekat gerbang kompleks perumahan lo, dan hujan deras banget. Gue bingung mau minta tolong siapa lagi... lo bisa jemput gue sebentar?"
Kirei menahan napas. Kompleks mereka? Ngapain Siska keluyuran di sekitar area privat ini malam-malam?
Arka melirik Kirei yang sedang menatapnya kaku. Ada jeda beberapa detik saat Arka tampak menimbang-nimbang.
"Mogok di mana persisnya?" tanya Arka datar.
"Di dekat minimarket depan gerbang utama, Ka. Gue kedinginan banget..."
"Oke. Tunggu di situ, gue ke sana sekarang," jawab Arka singkat lalu mematikan sambungan.
Arka menyambar jaket parasit hitam di kapstok, lalu berbalik menatap Kirei yang masih mematung di tepi kasur.
"Gue keluar sebentar," pamit Arka pendek.
Kirei melipat tangan di dada, memasang senyum paling dingin meski ada denyut sesak yang mendadak meremas dadanya. "Pergi aja. Lagian enggak ada yang melarang lo buat jadi pahlawan cewek lain, kan?"
Langkah Arka terhenti tepat di depan pintu. Ia menoleh setengah wajah, menatap Kirei dengan sorot sulit diartikan. "Lo cemburu?"
"Nggak sudi!" sembur Kirei cepat. "Mau lo jemput Siska, mau lo jalan sama dia sampai subuh, gue enggak peduli!"
Arka tak membalas lagi. Ia cuma mengembuskan napas berat, membuka pintu, lalu melangkah keluar. Suara langkah kakinya menuruni tangga terdengar tegas, disusul dentuman pintu utama yang tertutup rapat.
Kirei tersungkur duduk di tepi kasur. Hujan di luar makin mengamuk, menghantam kaca jendela dengan deru bising. Rumah dua lantai ini mendadak terasa begitu dingin dan hampa. Matanya tertuju pada guling pembatas yang kini berantakan, merasakan letupan amarah dan rasa tidak rela yang benar-benar asing baginya.