NovelToon NovelToon
Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Salah Buka Celana, Malah Dinikahi Komandan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Menikahi tentara
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Cuma niat periksa batu ginjal, si komandan dingin malah "salah dibuka celananya" oleh dokter magang sok berani.
Satu kalimat "saya tanggung jawab", dan Keisha resmi jadi istri kontrak Sang Komandan Meriam—pewaris konglomerat Prawira yang paling ditakuti.

Perjanjiannya: tidak boleh saling sentuh.
Kenyataannya: komandan berhati es itu **tak pernah tahan semalam pun**.

"Katanya kontrak, Pak?"
"Kontraknya," bisiknya sambil menariknya mendekat, "mulai malam ini kita tulis ulang."

Yang mereka kira dokter miskin, ternyata putri konglomerat Wijaya yang hilang.
Yang dikira pernikahan palsu, ternyata jerat paling manis.
**Nyonya Meriam sudah pulang—dan sang serigala tak akan melepasnya lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Bab 21

Firasat Buruk

Keisha tidak membalas pesan dari akun asing itu.

Ia mengambil tangkapan layar, memeriksa profil yang nyaris kosong, lalu memblokirnya. Dua hari kemudian, akun baru mengirim foto lama Arya di sebuah acara kampus. Sisi perempuan yang berdiri di sebelahnya sengaja dipotong, hanya menyisakan tangan yang memegang lengannya.

Kamu cuma perempuan yang dipakai untuk menolak saya.

Keisha menyimpan tangkapan layar kedua. Ia tahu ini permainan psikologis. Namun setiap melihat Arya minum obat di meja makan, ucapan Bu Yati tentang Vanya dan pesan Bu Sukma mengenai satu tahun kembali bergesekan di kepalanya.

Ia belum sempat menuntut penjelasan ketika telepon dari ruang perawatan Anindita masuk.

"Dokter Keisha, wali pasien datang membawa permintaan pemindahan," kata perawat. "Mereka ingin prosesnya dilakukan hari ini."

Keisha meninggalkan ruang konsultasi secepat mungkin.

Herman dan Della sudah berdiri di depan meja perawat ketika ia tiba. Di tangan Herman ada map biru dengan salinan identitas, surat kuasa lama, dan formulir permintaan rujukan ke fasilitas perawatan di luar Bandung.

"Tidak ada pemindahan hari ini," kata Keisha.

Herman bahkan tidak menoleh. "Saya wali medis istri saya. Saya berhak memilih fasilitas yang sanggup saya bayar."

"Kondisi Mama perlu dinilai dokter penanggung jawab sebelum perjalanan. Fasilitas penerima juga harus menyatakan kesiapan. Formulir ini belum lengkap."

Della tersenyum dingin. "Selalu saja cari alasan. Sekarang kamu punya suami kaya, kenapa masih mencampuri keputusan keluarga kami?"

"Karena pasien itu Mama saya."

"Anak angkat," tekan Della.

Keisha tidak membiarkan dua kata itu melukainya di depan mereka. Ia mengambil salinan formulir dari perawat dan membaca tujuannya. Fasilitas tersebut menawarkan perawatan dasar, tetapi tidak mencantumkan kemampuan menangani komplikasi neurologis atau kebutuhan pemantauan Anindita.

"Pak Herman meminta penghentian beberapa layanan sebelum pemindahan," kata perawat pelan. "Kami belum menjalankan karena belum ada instruksi dokter."

Keisha mengangkat kepala. "Layanan apa?"

Herman akhirnya menatapnya. "Yang tidak perlu. Biayanya membuang uang."

"Pencegahan luka tekan, fisioterapi pasif, dan dukungan nutrisi bukan membuang uang. Menghentikannya tanpa evaluasi bisa membahayakan pasien."

"Jangan mengajari saya soal istri saya."

"Kalau keputusan Pak Herman membahayakan pasien, saya akan mengajari siapa pun."

Suasana di koridor menegang. Dua perawat berhenti bekerja sesaat, lalu kembali menunduk pada berkas sambil mendengarkan.

Herman membuka map lain dan menyodorkan selembar surat. "Kalau begitu, tanda tangani ini. Cabut keberatanmu atas pengelolaan Griya Anindita dan berhenti meminta audit. Saya akan mempertahankan perawatannya di sini."

Keisha membaca dua paragraf pertama. Surat itu memberinya kewajiban melepaskan klaim atas dokumen perusahaan, menyetujui penjualan sejumlah aset, dan menyatakan semua transaksi Herman sah.

"Jadi ini bukan soal biaya." Ia merobek salinan yang diberikan kepadanya menjadi dua. "Pak Herman memakai tubuh Mama untuk memaksa saya menutup pencurian."

Wajah Herman berubah merah. "Jaga ucapanmu."

"Saya punya salinan invoice tanpa bukti penerimaan dan perjanjian utang berbunga tinggi. Kalau Pak Herman merasa bersih, serahkan buku besar dan rekening perusahaan."

Della mencengkeram lengan Keisha. "Kamu tidak tahu sedang melawan siapa."

Keisha menepis tangannya. "Jangan sentuh saya."

Ia meminta perawat mencatat seluruh percakapan dalam laporan insiden, lalu mengirim keberatan tertulis kepada dokter penanggung jawab, komite etik, dan bagian hukum rumah sakit. Permintaan pemindahan ditahan sementara sampai penilaian medis lengkap, persetujuan fasilitas penerima, dan verifikasi dokumen wali selesai.

Herman tidak bisa memindahkan Anindita saat itu juga.

Namun sebelum pergi, ia mendekat dan berkata cukup pelan agar hanya Keisha yang mendengar, "Kamu pikir seragam suamimu bisa menjaga ibumu setiap jam?"

Ancaman itu mengikuti Keisha sampai malam.

Sebelum kembali bekerja, Keisha masuk ke kamar Anindita. Ia memeriksa selang nutrisi, posisi tubuh, catatan kulit, serta jadwal fisioterapi pasif satu per satu. Tidak ada layanan yang terlewat. Ia meminta setiap perubahan instruksi menghubungi dokter penanggung jawab dan dirinya, lalu menempelkan nomor bagian hukum pada map komunikasi keluarga.

"Mama tidak akan dipindahkan diam-diam," bisiknya sambil merapikan selimut. "Keisha akan cari cara yang sah. Kali ini Mama tidak sendirian."

Jari Anindita tetap diam di dalam genggamannya. Keisha menahannya beberapa detik lebih lama sebelum kembali ke ruang pelayanan.

Hujan mulai turun ketika ia menyelesaikan catatan pasien terakhir. Arya menelepon dua kali, tetapi Keisha menolak panggilannya. Bahunya masih dalam masa pemulihan. Ia tidak ingin menyeretnya kembali ke rumah sakit hanya karena Herman membuat masalah.

Pesan dari akun asing ketiga masuk.

Dia menikahimu karena butuh perisai dari perempuan yang sebenarnya ia inginkan.

Di bawahnya ada kalimat lain.

Tanyakan siapa Vanya.

Jari Keisha membeku. Jadi dugaannya benar. Orang di balik pesan ini setidaknya berkaitan dengan perempuan masa lalu Arya.

Ponselnya berdering lagi. Arya.

Kali ini ia mengangkat.

"Kamu di mana?" Suara Arya terdengar tegang.

"Masih di rumah sakit."

"Aku jemput. Hujan deras."

"Tidak perlu. Bahumu belum pulih. Saya bisa pesan mobil."

"Keisha, tunggu di dalam."

"Aku bukan anak kecil."

"Dan aku tidak suka firasatku malam ini."

Keisha memandang jendela yang dipukul hujan. "Aku akan kabari kalau sudah dapat mobil."

Ia memutus sambungan sebelum Arya membantah.

Area penjemputan penuh. Tiga pengemudi membatalkan pesanan karena genangan dan kemacetan. Setelah hampir satu jam, Keisha memutuskan berjalan ke jalan besar agar lebih mudah ditemukan.

Payungnya terbalik diterpa angin sebelum mencapai gerbang samping. Dalam hitungan detik, jas kerjanya basah. Air mengalir ke sepatu dan membuat trotoar licin.

Sebuah mobil gelap berhenti beberapa meter di depannya.

Dua lelaki turun. Keisha tidak mengenali wajah mereka, tetapi salah satunya membawa map biru yang sama seperti milik Herman.

"Bu Keisha," panggil lelaki pertama. "Pak Herman minta tanda tangan malam ini. Setelah itu kami antar pulang."

Keisha mundur. "Saya tidak akan menandatangani apa pun. Pergi."

Lelaki kedua bergerak menutup jalan kembali ke gerbang. "Jangan dipersulit. Kami cuma menyampaikan pesan."

"Menyampaikan pesan tidak perlu mengepung orang. Minggir atau saya panggil keamanan."

Ia meraih ponsel. Hujan membasahi layar hingga sentuhannya sulit terbaca. Salah satu lelaki mencoba mengambil payungnya. Keisha menarik pegangan itu, lalu berteriak ke arah pos yang nyaris tidak terlihat di balik tirai air.

"Tolong!"

Lelaki pertama mengumpat. "Cepat tanda tangan, kami pergi."

Keisha berhasil menekan nama Arya. Sambungan masuk, tetapi air memenuhi pengeras suara.

"Mas Arya!" teriaknya. "Gerbang samping rumah sakit. Ada dua orang..."

Ponsel terlepas saat salah satu lelaki menyenggol lengannya. Benda itu jatuh ke genangan. Layar berkedip sekali, lalu hitam.

Jalan pulang tertutup mobil mereka. Gerbang berada di belakang lelaki kedua. Hujan menelan suara Keisha.

Lalu cahaya putih membelah malam.

Sebuah mobil mengerem keras di tepi jalan. Pintu terbuka bahkan sebelum mesinnya mati.

Arya turun tanpa payung, menerjang hujan, lalu berdiri di depan Keisha dengan tubuhnya sebagai perisai.

1
paijo londo
Yee si mantan datang ngeclaim kalo Arya punyanya g malu tuh muka badak padahal udah ditolak ma Arya juga🤦🤦
paijo londo
asyiiik Keisha masuk ke sangkar emasnya Arya 😍😍😍moga2;g ada perceraian
paijo londo
ya ampun pertemuan pertama yg menggelikan bikin jantung bedebar🤭🤭🤭salah diagnosis lagi🤦🤦
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!