Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.
Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.
Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.
Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.
Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.
Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.
Happy reading 🌷🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Mobil sport hitam itu akhirnya berbelok masuk ke dalam pelataran parkir bawah tanah gedung Penthouse mewah di kawasan elit pusat kota. Suasana siang yang tenang mengiringi langkah kaki Braxton yang dengan telaten dan penuh kelembutan merengkuh pinggang Lux, menuntun istrinya melintasi lorong privat beralaskan karpet tebal hingga tiba di dalam hunian megah mereka.
Aroma wangi terapi aroma vanila dan sentuhan kayu segar seketika menyambut kedatangan mereka. Setelah meminum segelas air hangat di dapur, keletihan hebat yang menumpuk akibat aktivitas malam pertama hingga rentetan kejadian siang hari membuat tubuh mereka menuntut haknya untuk beristirahat.
"Kita tidur di ruang tengah saja, ya?" bisik Braxton lembut, membelai pipi merona istrinya.
Lux mengangguk pelan. Di ruang keluarga yang serba luas itu, terdapat sebuah sofa bed besar berbahan kulit premium yang amat empuk, menghadap langsung ke arah layar televisi raksasa dan pemandangan lanskap pencakar langit Los Angeles di balik dinding kaca tebal.
Braxton mengambil dua buah bantal empuk dan menarik selimut bulu tebal berwarna krem.
Pria itu merebahkan tubuh tegapnya terlebih dahulu, lalu menarik tubuh tipis Lux ke dalam pelukannya. Lux menyandarkan kepalanya dengan sangat nyaman di atas dada bidang Braxton yang hangat dan tak berbusana atas, melingkarkan satu tangannya di pinggang kokoh suaminya.
Keheningan yang amat menenangkan menyelimuti ruangan tersebut. Embusan pendingin udara yang lembut dan detak jantung Braxton yang beratur teratur di bawah telinga Lux perlahan-lahan menghanyutkan kesadaran sang suami.
Hanya dalam kurun waktu sepuluh menit, Braxton sudah terbawa masuk ke dalam alam mimpi, terlelap amat nyenyak karena kelelahan emosional dan fisik. Napasnya teratur dan teratur, menandakan betapa bahagianya jiwa pria itu saat bisa memeluk istrinya erat-erat dalam tidur.
Namun, tidak untuk Lux.
Di dalam keheningan ruang tengah yang remang itu, sepasang mata abu-abu milik Lux mendadak terbuka lebar.
Sama sekali tidak ada jejak kantuk atau kepolosan di dalam binar mata indahnya. Pendar mata abu-abu itu kilatnya berubah menjadi teramat tajam, dingin, pekat, dan sarat akan dominasi yang membekukan.
Lux. Nama "Lux Victoria" bukanlah nama dari seorang wanita lemah yang akan diam dan pasrah begitu saja saat ada orang lain yang mencoba menindas atau mengusik wilayah kekuasaannya.
Braxton—suaminya yang narsis, protektif, dan penuh kasih itu—mungkin hanya mengenal Lux dari sikap galak, ketus, dan gengsi tingginya selama dua bulan belakangan ini. Braxton menganggap Lux sebagai sosok wanita lembut, polos, dan berhati bersih yang harus dilindungi dari kejamnya kenyataan dunia luar.
Pikiran bersih dan indah? Kekhawatiran soal aku yang akan terguncang? Soal Rachel yang akan menyentuhku?
Sebuah senyuman lebar—sangat lebar, dingin, dan beracun—perlahan terukir manis di bibir merona Lux di balik kegelapan dada suaminya.
Uuuh... suaminya yang tampan itu benar-benar salah besar.
Lux mengusap dada bidang Braxton dengan gerakan jemari yang amat pelan dan penuh rasa kepemilikan. Nyatanya, Lux tidak sepolos atau sebodoh yang diperkirakan oleh siapa pun.
Saat Braxton pamit ke kamar mandi di restoran privat Beverly Hills tadi, Lux tidak benar-benar tetap duduk manis di dalam mobil seperti wanita penurut.
Rasa kejanggalan yang menyelimuti raut wajah Braxton dan telepon misterius soal wanita melarikan diri dari rumah sakit telah memicu insting kewaspadaannya. Lux keluar dari mobil secara diam-diam, menyusul langkah suaminya, dan berdiri tersembunyi di balik pilar berukir dekat koridor Toilet.
Lux mendengar semuanya.
Ia menguping setiap suku kata dari konfrontasi panas antara Braxton dan "Rachel"—atau yang nama aslinya adalah Amelia Giger.
Sejak awal, otak cerdas seorang seniman independen di dalam kepala Lux telah menghubungkan seluruh benang merah yang berserakan dengan sangat presisi.
Kunjungan rahasia Braxton ke rumah sakit kemarin sore untuk menjenguk seorang "teman" wanita yang baru sadar dari koma... kecocokan waktu dengan Rachel yang mengaku baru terbangun setelah koma tiga bulan akibat percobaan bunuh diri... narasi gila Rachel tentang pria berinisial Mr. B yang selalu diceritakannya selama dua tahun terakhir... hingga tatapan mata Amelia di restoran tadi—tatapan lapar, haus, obsesif, dan mendambakan yang dilayangkan wanita itu pada tubuh dan wajah Braxton.
Lux bukan wanita polos yang bodoh. Ia tahu betul membaca raut wajah manusia.
Dan soal kegilaan Rachel? Soal ide ekstrem untuk "menabrak mati" pria yang menolaknya?
Lux terkekeh sangat pelan tanpa suara di dalam pelukan Braxton.
Seluruh ide-ide ekstrem, pikiran liar, dan dorongan provokatif dalam percakapan mereka selama dua tahun terakhir sejatinya berasal dari otak Lux sendiri!
Lux adalah wanita dengan segala pikiran liar dan kegelapan terselubung di balik estetika seni yang diciptakannya. Ia hanya pura-pura menjadi pendengar yang simpati di depan Rachel untuk mengamati seberapa jauh kegilaan sahabatnya itu bisa berkembang.
Melihat bagaimana Amelia Giger—sosok di balik nama "Rachel"—berani menatap suaminya dengan pandangan mendambakan dan mencoba mengklaim hak atas Braxton, rasa kepemilikan liar di dalam jiwa Lux meledak secara absolut.
Dalam perjalanan hidup seorang Lux Victoria, siapapun yang berani mengganggu, mengusik, atau mencoba merebut kebahagiaan yang baru saja ia rasakan dan miliki secara sah... akan ia geser dan hancurkan tanpa ampun.
Lux mendongakkan kepalanya sedikit, menatap wajah lelap Braxton yang begitu tampan dan polos dalam tidurnya. Jemari lentik Lux terangkat, menyapu rahang tegas suaminya yang berhias tanda merah ciptaannya sendiri.
"Suamiku ini milikku sepenuhnya..." bisik Lux dalam batinnya dengan nada yang teramat dingin dan pekat.
Tatapan mata abu-abu Lux membayang pada sosok Amelia Giger. Jika Amelia masih berani membayangkan, merencanakan, atau mendambakan Braxton Desmon dengan kedua matanya yang penuh obsesi itu... maka bagi Lux, wanita seperti Amelia tidak pantas lagi hidup dengan kedua matanya yang indah jika mata itu masih digunakan untuk memandang pria miliknya.
Lux merapatkan kembali tubuhnya pada dada bidang Braxton, menyunggingkan senyum manisnya yang paling memikat, lalu memejamkan matanya dalam kehangatan pelukan sang suami—siap merancang permainan gelapnya sendiri di balik senyuman polos seorang istri.
Keheningan di ruang tengah Penthouse itu terasa semakin pekat. Embusan napas Braxton yang teratur menjadi satu-satunya irama yang memecah sepi, kontras dengan gelombang pikiran liar yang menari-nari di balik sepasang mata abu-abu Lux.
Dengan jemari yang teramat pelan, Lux membelai tengkuk suaminya. Sentuhan itu tampak manis dan penuh kasih dari luar, namun di baliknya tersimpan kehendak absolut seorang penguasa yang tak akan pernah membiarkan wilayah kekuasaannya diganggu gugat.
Lux teringat bagaimana tadi pagi Amelia—atau Rachel—berbicara dengannya di telepon dengan nada suara sok suci, mendoakan pernikahan mereka langgeng dan segera diberi momongan.
Betapa lihainya wanita gila itu bersandiwara. Namun, Amelia lupa bahwa Lux adalah seorang seniman; seseorang yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyelami kerumitan emosi, simbol, dan kepalsuan manusia.
Jiwa seni Lux tidak hanya melahirkan keindahan, tetapi juga ketajaman intuisi yang sanggup menguliti setiap kebohongan.
Kau pikir kau bisa membodohiku, Rachel? batin Lux seraya tersenyum dingin.
Di mata Braxton, Lux adalah sosok istri yang harus dijaga dari kotornya dunia luar.
Pria itu menyembunyikan kenyataan pahit ini demi melindungi "pikiran bersih dan indah" miliknya. Pemikiran Braxton yang begitu manis dan protektif itu sejujurnya membuat dada Lux berdesir hangat oleh rasa cinta.
Namun, Braxton tidak sadar bahwa bunga indah yang ia lindungi ini memiliki duri-duri beracun yang siap mencabik siapa saja yang mencoba memetiknya.
Lux menyapukan pandangannya ke arah dinding kaca Penthouse, menatap gedung-gedung tinggi Los Angeles yang berdiri megah di bawah pendar sinar matahari siang.
Di kota yang dingin dan tak berbelas kasihan ini, Lux telah belajar satu hal penting: kebahagiaan bukanlah sesuatu yang didapatkan secara cuma-cuma, melainkan sesuatu yang harus dipertahankan dengan darah dan dominasi.
Jika Amelia berpikir bahwa statusnya sebagai "sahabat" selama dua tahun ini bisa menjadikannya celah untuk merayap masuk ke dalam kehidupan Braxton, maka wanita itu sedang menggali kuburannya sendiri.
Lux mengenal setiap titik lemah Rachel. Lux tahu persis ketakutan, obsesi, dan ketidakstabilan mental yang diidap sahabatnya itu—karena selama dua tahun terakhir, Lux yang menyerap setiap rahasia tersebut.
"Braxton Desmon adalah milikku," bisik Lux teramat lirih, suara yang nyaris tak terdengar itu menguap di antara hembusan pendingin udara. "Kau boleh menggilainya dalam halusinasi mu, Rachel. Tapi begitu kau melangkah satu senti saja untuk menyentuhnya di dunia nyata... aku sendiri yang akan memastikan kau kehilangan segalanya."
Lux mendekatkan bibirnya ke leher kokoh Braxton, tepat di atas jejak kemerahan yang ia tinggalkan semalam. Ia mendaratkan sebuah kecupan protektif yang amat lama di sana. Senyuman di bibirnya melebar, tampak begitu anggun namun sarat akan bahaya yang mematikan.
Biarlah Braxton berakting menjadi pahlawan yang melindunginya di balik layar. Sementara itu, Lux akan memainkan perannya dengan sangat rapi—menjadi istri yang manis, galak, dan manja di depan suaminya, sembari menyiapkan jaring pembalasan yang paling menyakitkan untuk Amelia Giger.
Lux akhirnya memejamkan mata indahnya, menyandarkan dagunya di dada bidang Braxton, dan membiarkan dirinya terlelap dalam pelukan sang suami dengan kepuasan dingin yang bertakhta utuh di jiwanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mohon dukungannya untuk meninggalkan komentar ya kak reader 🥰🫶🏻
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux