Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Genggaman tangan yang rapuh
Setelah pintu ruang kerja kembali tertutup dan langkah kaki Baskoro terdengar menjauh meninggalkan ruangan, keheningan yang mencekam kembali menguasai atmosfer. Mita masih tertunduk di kursinya, menatap nanar punggung tangannya yang masih gemetar di atas pangkuan.
Tiba-tiba, terdengar helaan napas panjang dari sudut ruangan. Diana, yang sejak awal pertemuan hanya duduk membisu seperti patung tanpa nyawa di sofa dekat jendela, perlahan bergerak. Wanita paruh baya itu bangkit berdiri. Langkah kakinya terdengar pelan dan berat, memecah kesunyian lantai ruang kerja yang luas itu.
Mita menahan napas saat menyadari bayangan Diana berjalan mendekat ke arahnya. Ia mengira sang nyonya rumah akan memarahinya atau menegaskan kembali perintah suaminya. Namun, dugaan Mita meleset.
Diana melangkah memutari meja besar milik Baskoro, lalu perlahan menurunkan tubuhnya dan duduk di kursi kosong tepat di samping Mita.
Untuk pertama kalinya siang itu, Diana menatap Mita. Guratan kesedihan yang mendalam tercetak jelas di wajah cantiknya yang mulai dimakan usia. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Diana mengulurkan tangannya yang terasa dingin, lalu menggenggam jemari Mita yang terkepal erat. Genggaman itu terasa begitu rapuh, seolah-olah Diana sendirilah yang sedang membutuhkan kekuatan untuk bertahan hidup.
Akhirnya, ibu angkatnya pun mulai mengangkat bicara.
"Mita..." suara Diana terdengar begitu lirih dan bergetar, hampir menyerupai bisikan yang tertahan di tenggorokan. "Maafkan Tante... Maaf karena Tante tidak bisa berbuat apa-apa untuk membelamu, juga untuk membela Sam."
Mita menggelengkan kepala dengan cepat, air matanya menetes pelan mengenai punggung tangan Diana. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan posisi ibu angkatnya yang terjebak di bawah kendali mutlak Baskoro. Mita tahu betul betapa dominannya sang kepala keluarga di rumah ini.
"Mita tidak apa-apa, Tante. Mita sama sekali tidak menyalahkan Tante Diana," jawab Mita serak, berusaha menguatkan suaranya.
Mita menatap lekat-lekat mata ibu angkatnya yang dipenuhi rasa bersalah. Di tengah keputusasaan yang mengimpit, sebuah pemikiran melintas di benaknya. Jika pernikahan ini memang tidak bisa lagi dibatalkan, setidaknya ada satu hal yang ingin dia selamatkan: harga diri Sam, kekasih Sam, dan juga ketenangannya sendiri.
Mita membalas genggaman tangan Diana, menatapnya dengan pandangan memohon yang amat sangat.
"Hanya saja... Mita memohon satu hal pada Tante. Tolong bantu Mita menyampaikan keinginan ini pada Om Baskoro," lirih Mita dengan dada yang sesak. "Mita mohon, biarkan pernikahan ini dilakukan secara tertutup saja. Cukup akad yang sah, tanpa pesta besar-besaran."
Diana tertegun sejenak, menatap mata Mita yang dipenuhi kepasrahan sekaligus permohonan yang mendalam. Ia tahu, permintaan sederhana ini adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang dimiliki Mita untuk menjaga martabatnya sebagai anak pembantu di rumah ini, sekaligus mengurangi beban mental Sam.
Perlahan, Diana mengangguk kecil, mengeratkan genggaman tangannya yang dingin guna menyalurkan sedikit kehangatan yang tersisa.
"Baiklah anakku, Akan Tante coba usahakan," bisik Diana lirih memberikan sedikit harapan. "Tante akan bicara Pada Om Baskoro malam ini setelah amarahnya mereda. Setidaknya, ini hal kecil yang bisa Tante usahakan untuk kalian berdua."
Mita merasakan sedikit kelegaan menyusup di antara sesak dadanya. Meski masa depannya kini sudah terjebak dalam sangkar emas yang tak ia inginkan, setidaknya ia tahu, ia tidak benar-benar sendirian menghadapi badai yang akan datang.Begitu Mita melangkah mendekati teras, Diana tidak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Wanita paruh baya itu langsung berlari kecil menyongsong ke depan, lalu memeluk Mita dengan begitu erat, seolah takut perempuan itu akan terbang dan menghilang lagi.
"Mita..." isak Diana di pelukan sang anak angkat, air matanya tumpah membasahi bahu Mita.
Mita balas memeluk Diana dengan penuh kehangatan, mengusap punggung wanita yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri. "Sudah, Mama... Jangan menangis lagi. Sekarang Mita sudah di sini," bujuk Mita lembut.
"Tentu saja, sayang... tentu saja," jawab Diana penuh kelegaan sambil melepaskan pelukan untuk menatap wajah Mita lekat-lekat.
Suasana sore itu mendadak dipenuhi kehangatan. Mereka berjalan masuk ke dalam rumah, saling bercengkerama melepas rindu yang tertahan selama dua tahun lamanya, hingga waktu bergeser menuju jam makan malam.
Di meja makan yang tertata rapi dengan berbagai hidangan lezat kesukaan Mita, obrolan mengalir dengan santai di antara gelak tawa kecil. Di tengah-tengah makan malam, Baskoro tiba-tiba teringat sesuatu dan membuka topik tentang cucu mereka.
"Bagaimana kabar anakmu, Mita? Siapa tadi namanya... kalau tidak salah, namanya Semi, kan?" tanya Baskoro penasaran.
Mita mengangguk pelan sambil tersenyum simpul. "Iya, Pah... namanya Semi."
Sam yang duduk di sisi meja ikut menatap Mita, lalu berkata dengan nada setengah bercanda namun menyiratkan makna tersirat, "Aku ingat waktu itu kamu bilang namanya Semi... karena kamu teringat dengan Kakakmu ini, kan?"
Pipi Mita seketika merona merah mendengar ucapan Sam, membuat jantungnya berdegup lebih kencang. "Iya, Mas Sam betul," jawabnya lirih sambil tersenyum.
Namun, perlahan-lahan senyum di wajah Mita memudar, digantikan oleh ekspresi muram dan gelisah. Ia meletakkan sendok dan garpunya pelan-pelan, lalu menatap satu per satu anggota keluarga di hadapannya dengan tatapan penuh beban.
"Mama, Papa, Mas Sam..." cicit Mita terbata-bata, menggantungkan kalimatnya sejenak sebelum akhirnya mengaku dengan jujur. "Sebetulnya... anakku tidak sedang sakit."
Seketika suasana di meja makan mendadak hening. Sam, Diana, dan Baskoro menatap Mita dengan kening berkerut penuh tanda tanya.
"Sebenarnya..." lanjut Mita dengan suara bergetar menahan rasa bersalah, "aku tidak diizinkan pergi ke sini kalau membawa Semi, oleh suamiku. Aku merasa sangat tidak enak pada kalian... Aku terpaksa mencari-cari alasan kalau anakku sakit, namun aku juga tidak enak kalau harus terus-menerus berbohong seperti ini. Semi tidak diizinkan berkunjung ke mari, apalagi... suamiku itu orangnya sangat menjengkelkan dan keras kepala. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membohongi kalian..."
Mendengar pengakuan jujur itu, Diana langsung tersenyum lembut, meraih tangan Mita di atas meja dan menggenggamnya erat. "Oh, Mita... tidak apa-apa, sayang. Kedatanganmu ke sini saja sudah membuat kami sangat bersyukur. Ke depannya, jika memang kamu merasa kesulitan untuk membawa anakmu, tidak apa-apa. Itu kan hak ayahnya. Jika ayahnya tidak mengizinkan, maka biarlah... kehadiranmu di sini sudah cukup membahagiakan kami."
Mita tampak terharu, namun ia masih menyimpan satu keraguan besar di benaknya. Dengan ragu-ragu, ia kembali membuka suara, "Jadi... apakah tidak apa-apa kalau misalkan aku... tahun depan ke sini lagi, namun tetap tidak bisa membawa anak itu... apakah kalian..." Mita kembali menggantungkan kalimatnya, takut-takut.
Baskoro tertawa kecil untuk mencairkan suasana, melambaikan tangan dengan santai. "Tidak apa-apa, Mita. Jangan merasa canggung seperti itu. Kami tidak akan bertanya lebih banyak atau menuntut jika memang situasinya belum memungkinkan. Bagaimanapun juga, itu adalah hak ayahnya."
Baskoro mendesah pelan, lalu melanjutkan dengan nada sedikit geram, "Ya... kita mungkin mengerti. Sebetulnya, di sini juga ada yang merasa kesulitan luar biasa karena ulah anak ini..." Baskoro melirik tajam ke arah Sam, hampir saja berniat menjelek-jelekkan putranya sendiri dengan membongkar gosip bahwa Sam kini diisukan impoten akibat terlalu lama tertekan dan merana.
Namun, sebelum Baskoro sempat meneruskan kalimatnya, Diana langsung memotong dengan cepat.
"Pah, sudah... Sudah dulu," tegur Diana tegas namun lembut, melarang suaminya memperpanjang hal tersebut. "Ayo, kita lanjutkan makannya saja."
Mendengar itu, Baskoro mengurungkan niatnya. Suasana hangat kembali menyelimuti ruang makan tersebut, menghapus sejenak segala beban dan kebohongan yang sempat mengganjal, membuat malam itu terasa begitu berharga bagi mereka berempat.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)