NovelToon NovelToon
Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Bencana Akhir Zaman: Seluruh Kota Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Novi

Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 012 - Kotak Legendaris Kedua

Cahaya emas itu tidak menunggu.

Ia berdiri di balik reruntuhan rumah, menembus udara kelabu seperti tiang api yang tidak panas. Di bawah cahaya itu, tanah basah bergetar pelan. Zombie di sekitar mulai bergerak ke arah yang sama, tertarik oleh energi asing yang jatuh dari langit.

Kiara mencoba berjalan.

Langkah pertama membuat wajahnya memucat.

"Pelan," kata Arga.

"Kalau pelan, Zombie lain datang."

"Kalau kamu jatuh, aku harus menggendongmu sambil bertarung."

Kiara menahan napas, lalu mengangguk. "Baik. Pelan tapi tidak bodoh."

Arga menopang pinggangnya. Combat Suit di tubuh Kiara masih utuh, tapi benturan Tingkat 2 Zombie tadi meninggalkan memar dalam. Setiap tarikan napas membuat tulang rusuknya seperti digesek pisau.

Namun matanya tetap menatap cahaya emas.

Arga melihat itu.

Rasa sakit tidak mematikan gadis ini.

Rasa sakit justru membuatnya lebih sadar bahwa ia masih hidup.

Mereka bergerak melewati pagar roboh, menyeberangi halaman yang dipenuhi pecahan genteng, lalu masuk ke jalan kecil di antara dua rumah kosong. Tiga Zombie Tingkat 1 muncul dari tikungan.

Arga melepaskan Kiara dan maju.

Pedang Hi-Tech menebas leher pertama.

Ia memutar tubuh, menendang dada kedua hingga terdorong ke tembok, lalu menusuk mata ketiga sebelum makhluk itu sempat menggeram.

Kiara tidak ikut menyerang.

Kali ini ia hanya berdiri sambil menggenggam belati.

Ia tahu kapan harus memaksa diri.

Ia juga mulai belajar kapan harus tidak menjadi beban.

Setelah tiga Zombie itu jatuh, Arga membuka jalan sampai cahaya emas berada tepat di depan mereka.

Airdrop Box itu berbeda.

Kotaknya lebih besar dari dua kotak sebelumnya. Permukaannya hitam pekat dengan garis emas yang bergerak seperti aliran listrik. Di sekitarnya, tanah membentuk lingkaran kering. Air kotor yang mendekat seolah terdorong menjauh.

Kiara menatapnya, lupa sejenak pada rasa sakit.

"Ini benar-benar terlihat mahal."

"Legendaris."

"Kalau aku buka dan isinya cuma sendok, aku akan marah."

"Kalau isinya sendok, sendok itu mungkin bisa membelah Zombie."

Kiara ingin tertawa, tapi rusuknya langsung sakit. Ia meringis.

Arga menahan bahunya. "Cepat buka. Setelah itu kita cari tempat aman."

"Aku lagi-lagi yang buka?"

"Kamu yang membuka."

"Karena aku beruntung?"

"Karena sampai sekarang, dunia sedang memberi bukti."

Kiara menatap panel kotak emas itu.

Di kehidupan normal, ia mungkin percaya keberuntungan hanya kata yang dipakai orang malas untuk menjelaskan hasil. Tapi setelah kiamat, setelah kotak dari langit, setelah Zombie Tingkat 2 muncul terlalu cepat, kata itu terdengar tidak lagi lucu.

Ia mengangkat tangan.

Jari-jarinya menyentuh panel.

Klik.

Cahaya emas meledak tanpa suara.

Tutup Airdrop Box terbuka perlahan.

Sepuluh benda tersusun di dalamnya.

Arga melihat satu per satu.

Cincin Dimensi.

Bathtub Hi-Tech.

Serum Evolusi Biasa.

Lima botol air otomatis.

Satu kotak makanan otomatis.

Tenda Hi-Tech.

Kiara menoleh. "Wajahmu berubah."

Arga tidak segera menjawab.

Kotak ini jauh di atas kelas biasa.

Kotak ini seperti disusun untuk mereka berdua.

Cincin Dimensi untuk Kiara. Serum Evolusi untuk memperbaiki kelemahannya. Combat Suit sudah ia dapat sebelumnya. Tenda Hi-Tech berarti markas bergerak. Bathtub Hi-Tech berarti air bersih, pemanas, dan pemulihan mental.

Dalam kiamat, mandi air hangat bisa lebih berharga daripada emas.

"Kita ambil semua," kata Arga.

Ia mengulurkan Cincin Dimensi kepada Kiara.

"Pakai di jari kiri. Teteskan darah sedikit."

Kiara berkedip. "Darah lagi?"

"Sedikit."

"Dunia ini benar-benar suka darah."

Ia menggores ujung jari dengan belati. Darah jatuh ke cincin. Garis tipis menyala di permukaannya, lalu cahaya itu menghilang ke dalam kulit Kiara seperti benang.

Kiara terdiam.

Di pikirannya, ada ruang kosong.

Yang muncul bukan gambar jelas. Ia merasakan sebuah kotak besar tanpa bentuk yang terhubung dengan dirinya.

"Aku bisa merasakannya."

"Cincin Dimensi. Kapasitas lima ratus kilogram."

Kiara mengangkat kepalanya. "Lima ratus?"

"Cukup untuk membuatmu tidak perlu bergantung penuh padaku."

Kalimat itu membuat Kiara diam lebih lama.

Tidak bergantung penuh.

Di dunia lama, itu terdengar biasa.

Di dunia ini, itu berarti ia punya ruang untuk hidup.

Arga mengambil botol Serum Evolusi Biasa.

Cairannya bening, sedikit berkilau biru muda. Tidak sepekat Serum Evolusi Tingkat Tinggi yang pernah ia minum.

"Minum."

Kiara menatap botol itu. "Ini apa?"

"Serum Evolusi. Versi biasa. Meningkatkan dasar tubuhmu satu kali lipat. Tidak menjadikanmu Evolver, tapi tubuhmu akan jauh lebih kuat daripada manusia biasa."

"Sakit?"

"Ya."

"Seperti kamu waktu itu?"

"Lebih ringan."

"Itu jawaban yang tidak menenangkan."

"Aku tidak sedang menenangkanmu."

Kiara menatapnya beberapa detik, lalu mengambil botol.

"Kalau aku pingsan?"

"Aku bawa."

"Kalau aku muntah?"

"Muntah ke samping."

Kali ini Kiara benar-benar tertawa pendek. Lalu ia membuka tutup botol dan meminumnya habis.

Rasa dingin langsung meledak di tenggorokannya.

Detik berikutnya tubuhnya melengkung.

Arga menangkap bahunya.

Serum itu bekerja cepat.

Urat di leher Kiara menonjol. Keringat muncul di dahi. Ia menggigit lengan Combat Suit agar tidak berteriak. Tulang rusuknya yang sakit terasa seperti diremas dari dalam, lalu rasa panas menyebar ke kaki, tangan, punggung, dan mata.

"Napas," kata Arga.

Kiara menarik napas pendek.

"Lebih panjang."

"Sakit."

"Tetap napas."

Air mata keluar dari sudut matanya, tapi ia tidak meminta berhenti. Beberapa menit kemudian, tubuhnya mulai tenang. Napasnya masih berat, namun warna wajahnya membaik. Ketika ia mengangkat tangan, jari-jarinya tidak lagi gemetar karena lemah.

Ia menatap telapak tangannya.

"Rasanya... tubuhku lebih ringan."

"Dasarmu sekarang sekitar dua kali manusia biasa."

"Itu bagus?"

"Untuk seseorang yang dua hari lalu hampir mati di kampus, itu sangat bagus."

Kiara menatap Arga.

Kata-katanya datar.

Tapi untuk pertama kalinya, ia mendengar pengakuan di dalamnya.

Mereka memindahkan semua isi Airdrop Box. Cincin Dimensi Kiara menelan botol air otomatis, kotak makanan otomatis, beberapa perlengkapan kecil, dan Tenda Hi-Tech yang terlipat menjadi paket hitam sebesar koper. Bathtub Hi-Tech lebih berat, tapi bisa masuk setelah Arga mengatur ruangnya dengan rapi.

Setelah itu Arga menutup Airdrop Box kosong.

Cahaya emas padam.

Langit kembali kelabu.

Namun bagi mereka, dunia sudah berubah lagi.

Mereka tidak langsung kembali ke hotel.

Arga membawa Kiara masuk ke sebuah ruko kecil yang pintu besinya setengah rusak. Di lantai dua, mereka berhenti untuk memeriksa luka dan menunggu jalur Zombie di bawah memudar.

Kiara duduk bersandar pada dinding.

"Kamu memikirkan Tingkat 2 Zombie itu."

Arga berdiri dekat jendela, melihat jalan di bawah.

"Ya."

"Karena seharusnya belum muncul."

Arga menoleh sedikit.

Kiara mengangkat bahu, lalu meringis. "Aku tidak bodoh. Dari wajahmu, aku tahu ada jadwal di kepalamu. Dan jadwal itu rusak."

Arga diam.

Telepati tidak membaca kebohongan dari Kiara. Hanya rasa ingin tahu, takut, dan kepercayaan yang mulai mengakar.

Tapi rahasia kelahiran kembali belum saatnya dibuka.

"Aku pernah mendapat informasi tentang pola kiamat," katanya.

Kiara tidak mengejar sumbernya.

"Pola itu bilang Tingkat 2 Zombie muncul jauh lebih lambat?"

"Sekitar hari ketiga puluh."

Kiara menatap keluar.

"Sekarang hari kesepuluh."

"Ya."

Hening.

Di bawah, dua Zombie menyeret kaki melewati genangan air. Salah satunya tersandung mayat dan tetap bergerak seperti tidak tahu apa itu jatuh.

Arga berkata, "Ada beberapa kemungkinan. Pertama, Airdrop Box Legendaris yang kuambil terlalu cepat mengubah distribusi energi di sekitar Semarang. Kedua, jumlah Zombie yang kubunuh dan Kristal yang kita ambil mempercepat respons sistem ini."

"Sistem?"

"Cara dunia ini bekerja setelah retakan langit muncul."

Kiara memegang Cincin Dimensi di jarinya.

"Ketiga?"

"Kita."

Kiara menatapnya.

"Aku bertemu kamu lebih cepat. Kamu mendapat Combat Suit, Cincin Dimensi, Serum Evolusi, belati Hi-Tech, semua terlalu awal. Kalau dunia ini seperti papan permainan, kita baru saja menarik terlalu banyak hadiah di awal."

"Dan papan itu membalas?"

"Mungkin."

Kiara tertawa tanpa suara.

"Jadi aku benar-benar magnet masalah dan hadiah."

"Sekarang kamu mulai percaya?"

"Aku mulai takut percaya."

Arga memandang jalan yang hancur.

Pengetahuan enam tahun memberinya rute, nama, lokasi Airdrop Box, waktu bencana, kelemahan Zombie, harga Kristal, masa depan kota. Itu semua masih senjata.

Tapi senjata yang terlalu dipercaya bisa membunuh pemiliknya.

Jika Tingkat 2 muncul dua puluh hari lebih cepat, apa yang lain juga bergerak?

Serangan Zombie?

Airdrop Box?

Kemunculan Evolver lain?

Musuh lama?

Arga mengepalkan tangan.

"Mulai hari ini, kita bergerak lebih cepat."

"Lebih cepat dari apa?"

"Dari perubahan."

Kiara mengangguk pelan.

Ia belum tahu seberapa besar kalimat itu.

Tapi ia tahu satu hal: kalau Arga terdengar seperti itu, maka besok tidak akan lebih mudah.

Menjelang sore, mereka menemukan mal kecil yang sebagian besar lantai bawahnya masih bisa dimasuki melalui akses parkir samping. Air sudah surut di beberapa bagian, menyisakan lumpur tebal dan bau busuk. Di lantai dasar, beberapa toko hancur. Rak-rak kosong. Kaca pecah. Ada jejak kaki manusia, tapi lama.

Arga tidak tertarik pada etalase.

Ia mencari gudang.

Dalam ingatan sebelumnya, banyak pusat perbelanjaan punya ruang penyimpanan bawah tanah untuk restoran, minimarket, toko baju, dan supermarket kecil. Barang di lantai depan sering habis dijarah. Barang di gudang belakang sering terlewat, terutama setelah air dan Zombie membuat orang takut turun.

Mereka menemukan pintu logam di belakang area supermarket.

Terkunci.

Arga menendang.

Pintu penyok.

Tendangan kedua membuat kunci patah.

Bau gudang lembap keluar.

Kiara menyalakan senter Hi-Tech.

Cahaya putih menyapu ruangan.

Rak-rak panjang muncul.

Indomie.

Beras instan.

Makanan siap panaskan.

Sambal ABC.

Garam.

Air mineral.

Pembalut wanita.

Pakaian perempuan.

Selimut.

Kasur lipat.

Barang-barang yang bagi dunia lama hanya stok dagang, kini menjadi fondasi hidup.

Kiara berdiri di ambang pintu, lupa bernapas.

"Sebanyak ini..."

"Kira-kira empat ton kalau dihitung semua."

"Kita bisa bawa?"

"Tidak semua."

Kiara menoleh.

Arga mengangkat tangan kirinya. "Cincin Dimensi milikku lima ratus kilogram. Milikmu lima ratus. Sebagian sudah terisi. Kita ambil prioritas."

"Sisanya?"

"Kita kunci. Tandai. Ambil lagi saat punya ruang lebih besar."

"Kamu yakin akan punya?"

Arga melihat deretan rak yang tenggelam dalam cahaya senter.

Di sekitar gudang ini, menurut ingatannya, masih ada satu titik Airdrop Box yang pada kehidupan sebelumnya diperebutkan banyak tim kecil. Jika Efek Kupu-Kupu tidak menghancurkan semuanya, mungkin kotak itu masih ada.

Dan jika Kiara masih membawa keberuntungan seperti hari ini...

"Yakin."

Mereka bekerja sampai langit luar gelap.

Arga mengisi Cincin Dimensi dengan barang padat bernilai tinggi: makanan siap panaskan, Indomie berbagai rasa, Sambal ABC, garam, pembalut, obat dasar dari rak apotek kecil, baterai, pakaian bersih, pisau dapur cadangan, kompor portable, dan beberapa tabung gas kecil yang masih aman.

Kiara mengisi ruang miliknya dengan barang yang ia pilih sendiri.

Pakaian perempuan.

Pembalut.

Selimut.

Makanan ringan.

Beberapa pasang sepatu.

Lalu ia berhenti di depan satu dus kecil berisi sabun cair dan sampo.

Ia menatapnya lama.

Arga melihat dari samping. "Ambil."

"Ini tidak terlalu penting."

"Untuk bertahan hidup, tidak. Untuk tetap menjadi manusia, iya."

Kiara tidak berkata apa-apa.

Ia memasukkan dus itu ke Cincin Dimensi.

Ketika kapasitas hampir penuh, Arga menutup kembali pintu gudang dengan rantai, menggeser rak besi besar ke depannya, lalu menandai dinding dalam dengan goresan kecil yang hanya ia pahami.

"Sekitar tiga ton lebih masih di sini," kata Kiara.

"Nanti kita kembali."

"Dengan ruang lebih besar."

"Dengan ruang lebih besar."

Malam turun sepenuhnya ketika mereka menemukan tempat untuk membuka Tenda Hi-Tech.

Arga memilih aula kecil di lantai dua mal, jauh dari jendela, dengan dua akses masuk yang mudah diawasi. Ia meletakkan paket hitam di lantai dan menekan panel.

Tenda itu terbuka tanpa suara.

Lapisan hitam melebar, naik, membentuk dinding, lalu mengembang menjadi ruang yang mustahil.

Dari luar, ukurannya hanya seperti tenda besar.

Di dalam, ruangnya hampir dua ratus meter persegi.

Lantai bersih.

Dinding halus.

Lampu lembut.

Udara sejuk.

Kiara melangkah masuk dan berhenti seperti terkena sihir.

"Ini... bukan tenda."

"Tenda Hi-Tech."

"Ini apartemen."

"Apartemen yang bisa dilipat."

Di sudut ruangan, Arga mengeluarkan Bathtub Hi-Tech. Bentuknya kompak saat terlipat, lalu terbuka menjadi bak putih lebar untuk dua orang. Panel kecil menyala. Sistemnya mulai menarik kelembapan udara dan air kotor yang telah difilter dari wadah cadangan, memanaskan perlahan.

Kiara menatap air yang mulai naik.

Matanya merah.

"Air bersih."

"Panas juga."

Kiara menutup mulut.

Sejak kiamat, ia mencium darah, lumpur, tubuh busuk, asap, keringat, dan ketakutan. Ia membunuh Ratna. Ia hampir diperkosa. Ia membunuh manusia. Ia dipukul Zombie Tingkat 2 sampai tulang rusuknya terasa retak.

Dan sekarang, di tengah dunia yang runtuh, ada air hangat.

Hal kecil yang dulu tidak pernah ia hargai.

Ia menangis tanpa suara.

Arga berdiri di sampingnya, tidak mengganggu.

Setelah beberapa saat, ia berkata, "Mandi. Aku berjaga di luar."

Kiara memegang ujung bajunya.

"Jangan jauh."

Arga menatap tangannya.

Lalu menatap wajahnya.

"Aku di pintu."

Kiara mengangguk.

Ia mandi lama.

Air hangat tidak menyembuhkan semua luka. Tapi ia membersihkan darah kering dari kulit, debu dari rambut, dan sebagian rasa kotor yang ditinggalkan hari-hari terakhir. Ketika Kiara keluar memakai pakaian bersih dari gudang, wajahnya masih pucat, tapi matanya tidak lagi kosong.

Arga telah menyiapkan kotak makanan otomatis.

Nasi hangat.

Ayam bumbu sederhana.

Sedikit sambal.

Kiara duduk di lantai bersih Tenda Hi-Tech, memegang makanan itu dengan kedua tangan.

"Aku takut ini mimpi."

"Kalau mimpi, rasa rusukmu tidak akan sakit."

Kiara menatapnya datar.

"Kamu benar-benar buruk dalam menghibur."

"Tapi akurat."

Kali ini ia tersenyum kecil.

Mereka makan tanpa banyak bicara.

Di luar tenda, mal gelap dan penuh bau mati.

Di dalam, ada cahaya, makanan, air hangat, dan dua orang yang masih bernapas.

Itu cukup untuk malam ini.

Larut malam, Kiara tertidur di atas kasur lipat yang mereka ambil dari gudang. Napasnya masih tidak rata karena rusuk sakit, tapi tubuhnya akhirnya menyerah pada lelah.

Arga duduk tidak jauh darinya.

Di tangannya, Kristal Tingkat 2 berwarna biru memantulkan cahaya lembut.

Untuk naik ke Tingkat 2, seorang Tingkat 1 Evolver membutuhkan seratus Kristal Tingkat 1.

Itu aturan dasar.

Tapi dunia tidak pernah hanya punya satu cara.

Kristal Tingkat 2 bernilai jauh lebih tinggi. Jika ia menemukan metode yang lebih efisien, jika ia bisa menggabungkan jalur barter, Kristal, dan Airdrop Box yang tepat, kenaikan tingkat bisa dipercepat berkali-kali.

Arga memutar Kristal itu di antara jarinya.

Di luar mal ini, dalam ingatan sebelumnya, ada satu titik Airdrop Box lagi.

Satu yang banyak orang lewatkan karena lokasinya berada di dekat lorong servis bawah tanah.

Jika kotak itu berubah kualitas akibat Efek Kupu-Kupu...

Jika Kiara yang membukanya...

Mata Arga menjadi dalam.

Besok, ia harus bergerak sendiri.

Kiara perlu pulih.

Dan ia membutuhkan sesuatu yang bisa mengubah semua rencana.

Arga menutup jari di sekitar Kristal biru itu.

"Kalau dunia mempercepat kiamat," bisiknya, "aku akan mempercepat diriku lebih dulu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!