NovelToon NovelToon
Angsa Cantikku

Angsa Cantikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Myz Pena

​"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
​Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"

​Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.

​Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.

Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...

siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 : SATU MALAM, WAJAH BARU

" Saudara saya sebentar lagi datang, Dok" jawab Lastri, mengukir senyum tipis di wajahnya yang masih pucat.

Anna tersenyum lembut seraya memeriksa papan rekam medis di tangannya.

"Bukan saudara yang waktu itu mengantar kamu ke UGD, ya? Temanmu yang pakai kacamata itu... di mana dia? Dari kemarin saya tidak lihat dia mendampingi kamu"

​"Oh, Lulu maksud Dokter?" Lastri terkekeh pelan.

"Dia lagi terjebak lemburan bosnya yang ajaib, Dok. Padahal dia sudah janji mau mampir sore ini"

​"Begitu rupanya..." Anna mengangguk paham, ada kilat simpati di matanya.

"Ya sudah, selamat beristirahat ya. Jangan lupa diminum obatnya agar lekas sembuh"

​"Iya, terima kasih banyak ya, Dok" tutur Lastri tulus. Saat dokter anggun itu berbalik hendak melangkah, Lastri mendadak teringat sesuatu.

"Eh, maaf Dok... dari kemarin saya dirawat di sini, saya sampai lupa menanyakan nama Dokter. Kalau boleh tahu, nama Dokter siapa ya?"

"Nama saya dr. Anna"

"kalau begitu saya permisi ya.. Sus, ayo kita lanjut ke pasien berikutnya" pamit Anna ramah pada Lastri sebelum melangkah anggun menyusuri koridor rumah sakit bersama jajaran perawat.

...****************...

"Pak Angga di mana, sih?!"

"Katanya jam enam, ini sudah lewat jauh!" gumam Lulu berapi-api. Sudah hampir dua jam ia terdampar di sudut restoran temaram yang tak jauh dari persimpangan tempat Angga memungutnya tadi sesuai instruksi ketat dari sang manajer agar ia menunggu di tempat tersembunyi yang nyaris tak terjangkau pandangan orang.

Lulu merapatkan jaketnya, ingatan tentang perasaan aneh seperti diawasi seseorang di jalanan remang tadi sore masih menyisakan sedikit rasa merinding di tengkuknya.

"Ugh, sebal banget hari ini..." Lulu menunduk, menghela napas berat yang sarat keputusasaan.

"Pengin rasanya lari dari tempat kejam ini, tapi aku tak punya pilihan..."

"Kenapa?"

Suara berat yang tiba-tiba mengalun tepat di atas kepalanya membuat Lulu melonjak kaget. Ia mendongak, mendapati Angga sudah berdiri tegap di samping mejanya.

"Ma-maaf, Pak... ini sudah lewat dari jam enam" cicit Lulu pelan, mendadak nyalinya ciut.

"Lalu?" tanya Angga dingin, menatapnya tanpa ekspresi.

Lulu menelan ludah. "Lalu... saya sebenarnya mau diajak ke mana oleh Pak Angga?"

"Kamu sudah makan?" potong Angga datar, sengaja mengalihkan pembicaraan.

Lulu menggeleng perlahan

"Belum, Pak"

"Kalau begitu makan dulu. Malam ini kita harus membeli kado dan kamu harus memilihkan kado terbaik untuk adikku" Angga berbalik, melangkah santai menuju waitress untuk memesankan menu khusus.

"Kado? Untuk... adik?" gumam Lulu terperanjat. Selama ini ia menyangka manajer galak nan arogan ini adalah anak tunggal melihat tabiatnya yang keras dan tak tersentuh.

"Kamu mau makan apa?" Suara Angga kembali memutus lamunannya.

"Maaf Pak, sepertinya saya masih kenyang" tolak Lulu cepat, refleks memegang perutnya. Padahal kenyataannya, sejak pagi ia belum memasukkan sebutir nasi pun karena stres diancam pemecatan.

Kruuuuukkk!

Pengkhianatan perut Lulu terdengar begitu nyaring di udara yang hening. Muka Lulu seketika memerah padam sehangat bara. Ia merutuki perutnya yang tak kompromi. Jika terus gengsi, bisa-bisa ia menyusul Lastri menginap di bangsal rumah sakit.

Sementara itu, sudut bibir Angga terangkat tipis. Ada kedutan geli di wajah kaku sang manajer melihat Lulu yang terkejut setengah mati memegangi perutnya.

"Aku tidak berminat membawa seseorang yang bisa pingsan kapan saja" sindir Angga pelan.

"Aku sudah minta pelayan membawakan makanan untukmu."

Angga melangkah pergi, meninggalkan Lulu yang menunduk dalam-dalam karena malu setengah mati.

"Perut, bikin malu saja sih!" cibirnya seraya menepuk-nepuk perutnya gemas.

Sambil menunggu pesanan, mata Lulu tak sengaja menyapu sosok Angga dari belakang. Punggung manajernya itu tampak begitu lebar, tegap, dan kokoh di balik kemeja pas badan jelas buah dari disiplin olahraga yang ketat. Ada desir aneh yang mendadak menyengat dada Lulu. Ia membenci sikap Angga yang angkuh, namun jujur ia tak bisa memungkiri betapa menawannya perawakan pria itu.

"Permisi, Kak," panggil seorang waitress, meletakkan baki berisi sepiring nasi goreng harum dengan bakso goreng garing serta jus dingin.

"Ah, iya... terima kasih," respons Lulu hangat. Namun matanya memicing

"Loh, kok cuma satu?"Ia melirik ke arah Angga yang masih berdiri agak jauh, sibuk menerima panggilan telepon.

"Dia tidak makan? Nggak apa-apa deh kalau aku makan duluan, lagipula mana mau orang sekelas Pak Angga duduk satu meja denganku" batin Lulu membenarkan diri.

"Permisi Pak Angga, saya makan duluan ya..." bisik Lulu lirih pada udara hampa, seolah sedang meminta izin. Tanpa buang waktu, ia melahap makanan itu dengan sangat lahap dan sama sekali tak menyadari bahwa dari kejauhan, sepasang mata tajam milik Angga sedang mengawasinya dengan ketertarikan yang tak biasa.

"Sepertinya makanmu sudah selesai" tegur Angga yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat meja, menatap piring Lulu yang licin kandas.

"Sebaiknya kita segera pergi" lanjut Angga seraya melirik jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 20.30 WIB. Ia tak boleh terlalu terlambat datang ke pesta adiknya, apalagi esok jadwal rapat investor sangat padat.

Saat Lulu meneguk jus dinginnya hingga tandas, mata Angga menyapu pakaian bawahannya itu.

"Sepertinya kita harus ke butik dulu. Beli pakaian baru untukmu"

"Ke butik?!" Lulu tersedak pelan. "Tapi Pak, bagaimana saya bisa memastikan pakaian itu cocok untuk adik Anda? Saya kan belum pernah bertemu dengannya. Lebih baik adik Anda sendiri yang mencoba"

"Siapa bilang itu untuk adikku?" pangkas Angga, matanya menelisik penampilan Lulu dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan menilai.

"Itu untukmu"

"Apa?!" Lulu terperanjat.

"Tapi Pak, pakaian saya masih sangat bagus dan layak! Lagipula kalau pakai pakaian baru... terkesan berlebihan"

Angga terkekeh sinis.

"Oh, ya? Sesekali kamu harus dengar pendapat orang lain tentang penampilanmu, supaya kamu tahu mana pakaian yang pantas untuk pesta dan mana yang tidak. Penampilanmu saat ini bukan cuma tidak cocok dan norak, tapi juga memalu-malukan"

Kata-kata tajam itu menghantam dada Lulu bagai pukulan telak.

"Apa yang salah dengan pakaian ini?! Ini baju terbaik yang kubeli dengan uang tabunganku sendiri! Mungkin tidak modis seperti cewek-cewek hits, tapi ini nyaman!" jerit Lulu dalam hati.

Bibirnya terkatup rapat, hanya sanggup melemparkan tatapan dingin nan terluka pada punggung Angga yang melenggang santai menuju kasir. Aku benar-benar membencinya!

Sepuluh menit kemudian, SUV hitam Angga berhenti di depan sebuah bangunan bergaya modern-classic yang memancarkan pendar lampu kemewahan.

"Ya Tuhan... tempat ini mewah sekali" batin Lulu takjub saat menginjakkan kaki di dalam butik bernuansa interior papan atas tersebut.

"Angga?!"

Seorang wanita anggun berusia 40-an terperanjat memanggil namanya. Angga mengukir senyum hangat sebuah pemandangan langka bagi Lulu saat wanita itu mendekat.

"Hai, Elena" sapa Angga ramah. Mereka berpelukan singkat dan saling bertukar kecupan pipi yang hangat.

"Astaga, Angga! Gimana kabarmu? Lama sekali kamu tidak datang ke sini! aku pikir kamu sudah menikah dan pindah ke luar negeri" kekeh Elena renyah.

"Aku baik-baik saja, seperti yang kamu lihat" jawab Angga tenang.

Lulu hanya bisa berdiri canggung di belakang, menyaksikan interaksi akrab itu. Jelas sekali Elena adalah pemilik atau langganan lama Angga.

"Oh iya... di mana Anna?" tanya Elena tiba-tiba, matanya mengedar mencari sosok wanita anggun yang dulu biasa mendampingi pria itu.

Pertanyaan itu seketika memotong udara. Senyum di bibir Angga membeku, matanya meredup sekilas sebelum kembali tenang.

"Aku sedang mencari gaun yang bagus" alih Angga cepat, menyembunyikan luka lama yang mendadak terkelupas lagi.

"Astaga, maaf! Aku sampai lupa menanyakan tujuanmu!" Elena tertawa canggung, merasa tak enak hati lalu memanggil stafnya.

"Siti! Bawakan beberapa koleksi gaun terbaru edisi terbatas!"

Elena memamerkan beberapa gaun berpotongan elegan.

"Nah, ini sangat cocok untuk Anna! Tampilannya elegan, modis dan seksi. Apalagi Anna punya kulit putih dan kaki jenjang..."

"Ini bukan untuk Anna" pangkas Angga. Suaranya mendadak mengeras, matanya berkaca-kaca menatap gaun itu.

Kenangan lama mendadak menghantam dadanya tanpa ampun. Dulu, ia selalu membawa Anna ke butik ini. Dulu, ia begitu yakin Anna akan menjadi pendamping hidupnya selamanya sebelum takdir memisahkan mereka. Rasa perih itu kembali menusuk-nusuk hatinya.

Elena tersentak kaget "O-oh... maafkan aku, Angga, aku pikir"

"Bukan. Gaun itu untuk wanita yang duduk di sana" potong Angga seraya menunjuk ke arah Lulu yang sedang duduk canggung di sofa empuk sudut ruangan.

Elena menoleh dan matanya melebar tak percaya.

"Yang... duduk di sana?"

"Iya. Pilihkan gaun paling bagus dan paling cocok untuknya" perintah Angga dingin, lalu melangkah ke sofa lain yang berseberangan dengan Lulu.

Elena memanggil stafnya dengan berbisik " Siapa wanita ini? Penampilannya kuno sekali seperti ibu-ibu... Tidak mungkin Angga berpacaran dengan cewek yang tidak bisa merawat diri begini, kan? Meskipun... harus kuakui struktur wajahnya sangat cantik"

"Silakan dicoba dulu, Nona" ujar staf bernama Siti seraya menyerahkan lima gaun mewah kepada Lulu.

Lulu menerima gaun-gaun itu dengan canggung lalu menghilang di balik ruang ganti.

Sreeek!

Tirai tersingkap. Lulu melangkah ragu, berdiri di hadapan Angga.

Napas Angga mendadak tertahan di tenggorokan.

Gaun pertama itu membungkus ketat lekuk tubuh Lulu dan menampilkan garis pinggang yang ramping, paha mulus dan belahan dada yang terbentuk sempurna. Pemandangan sensual yang mendadak melompat ke matanya membuat dada Angga berdesir hebat. Jantungnya berdegup tak karuan. Dengan panik, Angga memalingkan wajah menyembunyikan reaksi tubuhnya yang tak terkendali.

"Ma-maaf, Pak... ini terlalu pendek dan sangat tidak nyaman" cicit Lulu gugup dan kedua tangannya sibuk menutupi dadanya yang terekspos.

"Cepat ganti!" kibas Angga dengan mengibaskan tangan, mengusir Lulu seolah tak sudi melihatnya padahal ia sedang berusaha menguasai detak jantungnya sendiri.

Lulu kembali masuk dan keluar dengan gaun kedua. Namun gaun kali ini terlalu longgar dan warnanya mati di kulit Lulu.

"Ganti, Next!" ketus Angga.

Percobaan ketiga dan keempat pun sama gagalnya. Hingga akhirnya, untuk kelima kalinya, tirai tersingkap lagi.

"Maaf, Pak... apakah... yang ini sudah cocok?" tanyanya pelan.

Angga menoleh. Dan detik itu juga, dunianya serasa berhenti berputar.

Lulu berdiri dalam balutan gaun berwarna merah marun. Warna itu begitu kontras, mengekspos kulit mulusnya yang seputih porselen. Potongannya membingkai pinggangnya yang ramping dengan sangat sempurna tidak terlalu seksi, namun memancarkan keanggunan kelas atas yang luar biasa mahal.

"Sempurna..." bisik Elena terpana.

"Ya... sungguh cantik," gumam Angga tanpa sadar. Tatapannya terkunci rapat pada Lulu, begitu dalam dan hangat, membuat rona merah merambat cepat dari leher hingga ke pipi Lulu bagaikan tomat matang.

"B-baiklah, sepertinya ini cukup. Saya ganti baju dulu"

"Tidak perlu," tebas Angga tegas.

"Tapi Pak ?"

"Kamu lupa kita mau ke pesta? Lupakan pakaian lusuhmu itu. Kita tidak punya banyak waktu!" Angga melirik jam tangannya, berusaha keras menutupi rasa terpesonanya.

Elena yang memperhatikan dinamika aneh di antara mereka tersenyum penuh arti.

"Jika tidak keberatan, aku bisa membantumu merias wajah dan menata rambutmu, Nona Lulu"

"Ah, tidak usah, Bu... Gaun ini saja sudah cukup" tolak Lulu halus.

Mendengar penolakan itu, Angga bangkit berdiri. Ia melangkah mendekati Lulu lalu dengan gerakan lembut namun penuh dominasi, kedua tangannya mencengkeram perlahan kedua bahu Lulu. Ia membalikkan tubuh Lulu menghadap cermin besar di dinding.

Lulu menahan napas saat mendapati refleksi dirinya di cermin, tepat dengan Angga yang berdiri tegap melekat di belakang punggungnya.

"Kamu yakin mau menemani saya dengan tampilan rambut acak-acakan begini?" bisik Angga dingin di dekat telinganya.

"Kamu mau orang-orang mengira kamu ini pembantuku? Bahkan seorang pembantu pun tidak akan mau berpenampilan sepertimu di pesta"

Cibiran itu kembali menusuk hati Lulu, membuat matanya berkaca-kaca menatap pantulan dirinya.

"Elena, tolong rias dia sebaik mungkin" perintah Angga pelan pada Elena.

"Mari ikut saya, Nona Lulu," ajak Elena ramah. Lulu hanya bisa pasrah menunduk, mengekor di belakang Elena menuju area dalam.

Lulu kembali dibuat terperangah. Di balik pintu mahoni, terbentang salon VIP yang super megah. Lampu gantung kristal memancarkan cahaya hangat, merembes di antara cermin-cermin berbingkai emas. Aroma kemewahan, perpaduan parfum mahal dan bunga segar menyergap indra penciumannya.

"Rileks ya, Nona, kami cuci rambutnya dulu" pandu staf salon.

Lulu merebahkan kepalanya di bak porselen yang empuk. Saat pijatan lembut jemari staf mulai meresap di kulit kepalanya yang dibalut busa wangi dan basuhan air hangat, Lulu memejamkan mata. Rasa hangat, rileks dan aroma chamomile herbal yang disajikan dalam cangkir porselen perlahan mengikis habis kelelahan, amarah dan rasa sakit hatinya seharian ini. Ia bahkan nyaris tertidur pulas jika staf tidak mengimbau dirinya untuk berpindah ke kursi penataan.

Di depan cermin rias, sang stylist mulai beraksi. Tanpa memotong rambut panjang kesayangan Lulu, ia menggunakan catokan canggih membentuk gelombang-gelombang tebal, bervolume, dan berayun indah (blow-out) yang membingkai wajah imut Lulu dengan sangat glamor bak aktris Hollywood.

"Wah, luar biasa..." puji Elena saat melihat hasilnya. Rambut bergelombang itu memberi sentuhan dewasa dan sangat elegan pada Lulu.

Selanjutnya, jemari andal MUA mulai memoles wajahnya. Kacamata tebalnya dilepas sementara. Bukan dengan riasan tebal, melainkan makeup halus yang menyatu dengan kulit porselennya menegaskan bentuk matanya yang jernih serta memoles bibirnya dengan warna merah muda alami yang basah.

"Kecantikan yang sangat elegan. Makeup ini benar-benar menyatu dengan dirinya!" puji Elena tak henti-hentinya.

Saat cermin diputar ke arahnya, Lulu membeku. Matanya membelalak tak percaya. Apakah... ini benar-benar aku? batinnya tertegun melihat sosok wanita anggun, memikat dan memancarkan aura mahal yang terpantul di sana.

"Selesai! Ayo kita tunjukkan pada Mr. Angga" kekeh Elena riang, menuntun Lulu keluar menuju lounge VIP.

Di luar, Angga sedang duduk menyesap hot cappuccino-nya seraya menatap keluar jendela.

"Permisi... maaf mengganggu lamunanmu, Mr. Angga" goda Elena.

Angga menoleh santai, "Sudah selesai?"

"Tentu saja! Tadaaa!" Elena bergeser ke samping, memberikan panggung sepenuhnya pada wanita di belakangnya.

Genggaman tangan Angga pada cangkirnya seketika terkunci di udara.

Lulu melangkah pelan mendekat. Dan di detik itu juga, napas Angga seperti ditarik paksa dari paru-parunya.

Matanya tak berkedip sedikit pun. Lulu berdiri anggun di hadapannya dengan gaun marun yang memeluk tubuh indah, tatanan rambut bergelombang yang jatuh sempurna di bahu dan wajah jelita yang merona malu di bawah pendar lampu kristal. Sosok gadis culun yang biasa ia bentak di kantor mendadak lenyap tanpa bekas, berganti menjadi seorang dewi yang begitu memikat dan berbahaya bagi pertahanan hatinya.

Desir hebat menghantam dada Angga. Pipi sang manajer arogan itu mendadak memanas, memerah tipis tanpa bisa ia cegah.

"Sangat... cantik," gumam Angga lirih, tatapan matanya berubah begitu dalam, hangat dan sarat akan kekaguman yang tak lagi mampu ia sembunyikan.

1
-Thiea-
kenapa wanita itu bisa sampai dibunuh? Apa yang menjadi dasar dari tindakannya itu kira-kira?"
ginevra
astaga!!! tokoh utamanya meninggal dari episode pertama.
Myz Pena: penasaran kan.. ?? 🤭
total 1 replies
ginevra
ada apa ini? awal udah disuguhi adegan bekap membekap.
sinnox
Hayoloh lulu🫢
Myz Pena: Lulu OTW kerja keras 💪
total 1 replies
Wawan
Salam kenal untuk Lulu 💪✍️
Wawan
Waow /Toasted/
Myz Pena: ini karya pertama ku,, mohon selalu dukungannya ya... dan mari kita saling mendukung 🥹❤️❤️❤️❤️
total 1 replies
ciber ara
makin suka sama ceritanya
semangat thor
Myz Pena: mohon dukungannya ya,, jalan ceritanya akan tetap mendebarkan hanya saya menyesuaikan bab2 sebelumnya karena terlalu panjang..terimah kasih sudah memberi banyk dukungan 🥹❤️❤️
total 2 replies
Anisa Nur Afifah
haii kak mampir lagi nih aku, semangat yaa . jngan lup mampir lagi di novelku🥰
Myz Pena: siap 🤩🤩
total 2 replies
Myz Pena
terimah kasih 😍❤️❤️❤️
Anisa Nur Afifah
seruu banget kaa, aku balik lagiii nih🥰
ciber ara
lnjut💪
Myz Pena: siap, updatenya setiap hari ya.. 😍
total 1 replies
Nisaicha
wah menarik kak ada visualnya juga 😍
jadi penasaran nih lanjut baca..
Myz Pena: di tunggu ya... updatenya tiap hari 😍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakkk
Myz Pena: terimah,, kasih ❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!