Bejo Mulyorejo pemuda berusia 18 tahun, dia hidup sendirian di Desa Krajan jauh dari hiruk-pikuk kota. Dia mendapatkan warisan dari leluhurnya menjadi Penggali Makam melanjutkan peninggalan sang kakek buyut.
Kehidupan sehari-hari Bejo terbilang cukup, dia selalu hemat dalam pengeluarannya. Walaupun sesekali dapat bantuan dari orang tak terduga tapi dia berusaha membuka usaha kecil-kecilan, akan tetapi perjalan panjang Bejo sedikit sulit.
Bukan kesulitan tentang kebutuhan tapi kesulitan dalam menghadapi segala penampakan setelah menggali makam, dia yang memiliki mata peka dan terbiasa dengan makhluk gaib namun dia juga memiliki rasa takut tersendiri.
Bagaimana kehidupan Sang Penggali Makam ini, kita lanjutkan dalam perjalanan panjangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rantai Kematian
"Kok bersih!!"
Bejo memandang seluruh rumahnya tiba-tiba bersih, entah siapa yang membersihkannya. Ia kebingungan, hingga kebelakang rumah juga bersih, namun ketika kebelakang di melihat sosok hitam sekelebatan saja.
"Apaan tuh!!," dalam hati Bejo.
Kemudian Bejo berjalan untuk melihatnya, langkah demi langkah rasa takut, bulu halus meramang naik tanpa sebab. Ia terus berjalan, saat dekat bau bunga melati begitu menyengat dalam hidungnya.
"Hayo ngapain lo Jo!!,"
"Astaga.."
Bejo berbalik kebelakang penuh keterkejutan, ia memandang Mbak Mala yang tiba-tiba menyapanya.
Dinda tertawa kecil.
"Hihihi......."
Mereka berdua terdiam, mendengar suara tawa yang sangat melengking di siang hari.
Bejo dan Mala saling pandang, penuh pertanyaan apa yang mereka dengar.
Ujung mata Bejo melihat sosok perempuan berpakaian hitam dengan kerudung menutupi kepalanya, ia juga melihat sosok pria paruh dengan senyum memandang kearahnya.
Jantung Bejo berdebar-debar, ia kebingungan dengan apa yang terjadi. Selama bertahun-tahun baru kali ini, Bejo melihat penampakan seperti itu di rumahnya.
"Suara siapa tadi Jo?,"
Mala berjalan mendekatinya, ia ketakutan merasakan bau wangi bersamaan dengan busuk ketawa melengking.
Bejo hanya menggelengkan kepalanya, dia berjalan kedepan menghiraukan apa yang telah ia lihat.
Terik matahari siang semakin turun, hingga tiba sore hari. Bejo duduk di teras rumah, setelah selesai mandi dia minum kopi dan menikmati pisang goreng yang di berikan Mbak Mala.
Namun pikiran Bejo terus terusik oleh sosok sebelum ia lihat, hingga Bejo melamun.
"Jo.."
"Ishhh... Bejoooo??!.."
"Ehh.. iya apa,"
"Kamu kenapa melamun?,"
"Gak kenapa-kenapa. Tumben kamu kesini Din?,"
"Kamu di wa gak bales-bales Jo, jadi aku kesini,"
Dinda kemudian duduk.
Bejo melihat HP-nya, ternyata benar Dinda telah mengirimkan pesan kepadanya.
"Kamu sibuk gak Jo?,"
"Enggak,"
"Hmmm.. kerumah bantuin aku bisa gak Jo?,"
"Bantuin apa?,"
Dinda membisikkan sesuatu kepada Bejo.
Bejo membelalakkan matanya, ia memandang wajah Dinda penuh selidik sekaligus terkejut.
"Nantilah, kalau aku bisa kesana," ucap Bejo.
"Oke Jo, aku pulang dulu ya," balas Dinda.
Setelah kepergian Dinda, Bejo masuk kedalam rumah lalu ia keluar dari pintu belakang rumahnya. Sambil membawa pancing dan ember.
Bejo berjalan ke waduk ringin yang berada tak jauh dari rumahnya.
"Dah gini aja, mancing sore-sore sambil lihat matahari terbenam pasti indah." Bejo bergumam pelan.
Baru setengah jam berlalu suara toa masjid terdengar keras.
"Innailaihi wainnailaihi rojiun, telah meninggal dunia saudari Sinta keluarga dari bapak Kusumo. Terima kasih"
Bejo menghela napas panjang, ia merapikan alat pancingnya.
"Baru juga duduk mancing di panggil aja buat kerja."
Bejo berjalan pulang kerumah, saat sampai dia sudah di sambut oleh dua teman yang selalu hadir tanpa di minta. Kemudian mereka berbincang-bincang sambil menunggu keluarga datang kerumah untuk mencari tempat yang di inginkan.
Tidak berselang lama seorang wanita muda berjalan berdua dengan wanita paruh baya.
"Ini mas Bejo ya?,"
"Iya betul,"
"Saya keluarga dari pak Kusumo, untuk makam sepupu saya di minta jauh dari makam sang ayah. Karena itu permintaan terakhirnya,"
"Hmm.. oke mbak,"
"Ini mas buat beli makanan dan rokoknya,"
"Terima kasih mbak,"
"Sama-sama mas, saya pamit pulang ya mas. Permisi,"
Jarot dan Dirga terpesona melihat kecantikan gadis yang menghampiri Bejo, mereka terus memandangi hingga gadis muda itu pergi.
Bejo memandang dua temannya, ia hanya bisa menggelengkan kepala.
"Ehh.. musang darat, ayo berangkat malah diam aja lo berdua!!."
"Bentarlah Jo, lihat yang bening-bening tuh nyegerin mata," balas Jarot.
"Bener tuh Jo," imbuh Dirga.
"Nanti aku kasih lihat yang lebih bening lagi," ucap Bejo.
"Apa tuh Jo?," dengan kompak mereka berdua bertanya.
Bejo tersenyum kecil, ia berjalan meninggalkan teman-temannya. Jarot dan Dirga saling pandang, lalu mereka ikut berjalan lebih cepat untuk mengejar Bejo.
Tidak ada hambatan sama sekali ketika Bejo dan teman-temannya menggali makam, hingga banyak orang yang membantu tidak seperti sebelumnya.
Sampai selesai pun berjalan lancar, Bejo dan teman-temannya pulang bersama.
"Jo, kita mandi ke sumbernya yok. Lama gak mandi disana," seru Jarot, ia mengajak Bejo mandi di sumber.
"Gas.."
Bejo mengambil peralatan mandi dan handuknya, ia berjalan bersama dua teman. Tepat di jalan menuju rumah Dinda mereka bertemu.
"Mau kemana Jo?,"
"Mau ke sumber,"
"Hmm.."
"Mau kemana kalian bertiga, udah rapi aja?," tanya Bejo.
"Mau pergilah Jo, suntuk di rumah Dinda," jawab Salsa.
"Ayo Jo, keburu gelap nanti k sumber," seru Jarot.
Kemudian Bejo pergi meninggalkan Dinda dan temannya, ia berjalan menuju sumber. Saat sampai mereka berbincang-bincang sebentar sambil menikmati rokok dan sisa makanan dari kuburan tadi.
"Tumben Jo Dinda nyapa lu duluan?,"
"Baru-baru ini dia sering nyapa gua,"
"Wah.. pasti ada apa-apa nih,"
"Ada apanya Dir?, lu jangan berfikir aneh-aneh."
"Ehh.. kayak lu enggak aja Rot."
"Sudahlah, buruan mandi, dah gelap nih."
Bejo sudah selesai, dia menunggu teman-temannya. Namun pandangan Bejo tertuju pada rumpun bambu tidak jauh darinya, ia melihat sosok perempuan yang hampir mirip dengan apa yang di lihat sebelumnya.
Bagi Bejo seperti tidak asing, tapi siapa!!. Bejo membalikkan pandangannya, enggan untuk penasaran lebih lanjut lagi.
Setelah dua temannya selesai, Bejo berjalan pulang. Namun pas dengan gelapnya sumber mata air.
"Waduh.. sudah mulai gelap nih, buruan dah," seru Jarot.
Jarot lebih dulu melangkah pergi, di ikuti oleh Dirga lalu Bejo paling belakang. Belum melangkah lebih jauh, Jarot berhenti membuat Dirga terkejut.
"Aduhh.. lu ngapain berhenti Rot," seru Dirga.
"I-it-itu, i-it-itu, i-it-itu. -itu apasih!!,"
Dirga melihat kearah yang di tunjuk oleh Jarot, membuat dia membelalakkan matanya terkejut.
"Jo.. i-it-itu apaan Jo!!,"
"Sudah ayo terus jalan, aku sudah tau sejak tadi," ucap Bejo.
Bejo mendorong teman-temannya, karena dia juga merasakan sesuatu dari belakang yang mengikuti mereka pulang.
"Mau kemana Mas??.. kok sudah mau pulang aja!!."
Suara seorang perempuan entah darimana bertanya pada mereka bertiga.
Jarot dan Dirga terdiam membisu membuat Bejo yang di belakang semakin sulit mendorong langkah kedua temannya. Ujung mata Bejo menangkap sosok yang di kenali semasa hidupnya, membuat Bejo bertanya-tanya wujud dari perempuan itu sangat mirip dengan anak pak Kusumo.
Bejo yang sudah tidak sabar karena paling belakang, dia lari meninggalkan temannya yang sulit di dorong untuk berjalan. Jarot dan Dirga yang melihat Bejo lari mereka sangat terkesan ikut berlari juga.
Hingga sampai di ujung jalan menuju sumber mata air Bejo berhenti, napas mereka bertiga tersengal-sengal. Jarot yang paling belakang wajahnya pucat pasi ketakutan, di ikut Dirga yang masih termenung dengan napas tersengal-sengal.
Bejo mengatur napasnya, dia kembali lebih tenang dengan napas yang mulai teratur.