Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
A Bao menatap dengan rasa ingin tahu ke arah kepala kecil berbulu yang muncul itu. Ia memiringkan kepala dan bertanya dengan polos pada Zhao Xuan, "kakak, apakah ini anak serigala?"
Zhao Xuan mengangguk.
Tapi sepertinya anak serigala ini tidak terlalu pintar. Ia memamerkan gigi ke arah A Bao sebentar. Saat A Bao hendak mendekat untuk menyentuhnya, mahluk itu tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Setelah itu, sekeras apapun A Bao meniup peluit bambu kecilnya, mahluk itu tidak muncul lagi.
A Bao yang kecewa pun berlari kecil untuk mencari Wang chunniang. Melihat sosok si kecil yang berlari menjauh, Zhao Xuan berkata dengan nada tidak setuju kepada Zhao Heng, "Ayah, kalau begini terus, A Bao akan terlalu menarik perhatian. Lebih baik peluit ini jangan sering-sering di keluarkan."
Zhao Heng mengangkat alis, "Aku sudah mengajari mu sejak umur tiga tahun, tapi sampai sekarang, seekor kelinci pun tidak bisa kau panggil."
Zhao Xuan:"....."
Melihat ayahnya tidak bisa di ajak bicara, Zhao Xuan membatin bahwa ia harus mencari kesempatan bicara dengan ibu, supaya A Bao tidak terlalu mencolok.
Meskipun ada sedikit perdebatan, keluarga itu tetap bekerja keras untuk menggali bibit buah berry liar.
Ayah Yang Dabao adalah tukang besi Yang. Keluarga tukang besi Yang sedang menggali sayuran liar di gunung dan berpapasan dengan keluarga Wang chunniang. Melihat keluarga itu kelelahan dan berkeringat, bahkan si gadis kecil gemuk pun ikut berdiri kesana kemari. Tukang besi Yang dan istrinya nyonya Zhang, mendekat untuk melihat. Ternyata keranjang keluarga Zhao penuh dengan bibit buah berry liar.
"Chunniang, bibit buah berry ini tidak akan bisa hidup. Bertahun-tahun ini sudah banyak orang desa kita yang mencoba, tapi semuanya gagal," ujar nyonya Zhang sambil menggeleng. Setelah bicara, pandangannya tertuju pada A Bao. Bayi gemuk ini benar-benar menggemaskan. Nyonya Zhang tidak tahan untuk melambaikan tangan memanggil A Bao.
A Bao tidak kenal nyonya Zhang. Ia memiringkan kepala kecilnya menatap nyonya Zhang dengan bingung, lalu bertanya dengan suara lembutnya, "kamu ada perlu apa denganku?"
"Lapar tidak? Kami bawa roti isi sayur liar, mau coba?" melihat A Bao tidak bereaksi, nyonya Zhang berkata lembut, "enak sekali, lho."
Mendengar itu A Bao dengan penasaran melangkah maju sedikit. Di belakangnya, Zhao Xuan tak tahan untuk menarik kuncir kecil A Bao.
"Siapa yang menyuruhmu makan? Dasar pembawa sial!" saat Yang Dabao menyusul dari belakang dan melihat ibunya hendak memberi makanan pada A Bao, ia langsung marah dan menerjangnya ke arah A Bao.
Awalnya A Bao masih agak malu-malu, tapi begitu melihat Yang Dabao menyerbu, ia menggembungkan pipi, mendengus, dan ikut berlari menerjang ke arah Yang Dabao. Dua anak gemuk itu pun bertabrakan. Karena Yang Dabao lebih tua dua tahun dari A Bao, gulat antar anak gemuk itu akhirnya dimenangkan oleh Yang Dabao.
A Bao dengan susah payah bangkit dari tanah,tapi ia tidak marah, meskipun ini adalah kekalahan keduanya melawan Yang Dabao hari ini.
" Kau... Kau tunggu pembalasanku! "setelah bangkit, si gemuk kecil itu tak lupa menunjuk Yang Dabao dan melontarkan ancaman.
Zhao Heng mengangkat alis. Sudah belajar mengancam rupanya.
Tapi apa gunanya omongan galak kalau orangnya tidak galak?
Namun, xuan'er bener. Peluit bambu ini memang tidak boleh sering dipakai, terlalu mencolok.
"ibunya Dabao,kami juga tidak punya pilihan lain. Kebun buah habis terbakar, tidak bisa ditanami palawija,jadi kami coba tanam buah berry saja." kata Wang chunniang sambil tersenyum.
"Ah, Zhang tie itu memang....kalian sebaiknya menjauh darinya." kata nyonya Zhang dengan wajah kesal saat menyinggung Zhang tie.
"A Bao kecil,cobalah, enak kok. Nanti sampai dirumah aku akan mengajar Dabao." kata nyonya Zhang sambil menyodorkan roti sayur liar yang sudah dibungkus kepada A Bao. A Bao menatap Wang chunniang dengan ragu. Setelah Wang chunniang mengangguk,barulah ia menyeringai lebar dan menerimanya dengan senang hati."terima kasih,bibi."
Nyonya Zhang berbisik pelan kepada suaminya," benar-benar menggemaskan."
***
Siang hari,di rumah keluarga Zhao.
Saat Wang chunniang dan keluarganya kembali,Lin Xiang sudah memasak nasi dan sedang duduk di halaman sambil menyiangi sayuran.
Baju yang kedodoran di tubuhnya membuatnya terlihat seperti memakai karung,sangat longgar. Matanya kosong dan ia tidak banyak bicara.
"Bibi,aku pulang! Ini roti sayur liar buatan ibunya Dabao,enak sekali,aku sisakan satu potong untukmu." seru A Bao sambil berlari menghampiri Lin Xiang. Mengetahui kondisi kesehatan Lin Xiang kurang baik,ia segera" mengerem mendadak" agar tidak menabrak Lin Xiang.
Lin Xiang menatap potongan kecil roti sayur liar itu,lalu menatap wajah bulat yang tersenyum padanya. Ia tak bisa menahan diri,teringat kembali pada ketiga putrinya yang telah tiada. Air matanya pun mulai menetes tak terkendali.
A Bao menjadi bingung dan panik,ia menoleh menatap Wang chunniang.
Baru saja Wang chunniang hendak mendekat untuk memeluk Lin Xiang,A Bao sudah menoleh kembali dan langsung menabrakkan kepalanya masuk kedalam pelukan Lin Xiang.
"Bibi jangan menangis."
Saat itu A Bao sama sekali tidak tahu, bahwa kekuatan yang menopang Lin Xiang untuk perlahan bangkit kembali,dimulai dari pelukan kecil ini.
***
Bibit buah berry tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Setelah makan siang,Wang chunniang meminta Lin Xiang mengunci pintu rumah,lalu membawa seluruh keluarga menuju kebun buah di lereng bukit.
Sepanjang jalan,banyak orang yang menatap mereka,karena kabar keluarga Zhao hendak menanam buah berry liar sudah menyebar ke seluruh desa.
"Chunniang,jangan buang-buang tenaga. Bibit buah berry liar yang dipindahkan itu bahkan tidak akan bertahan sampai malam ini. Kalau tidak percaya lihat saja besok pagi pasti pada mati semua."
"Benar, chunniang."
"Chunniang,kau sudah lelah begini,lebih baik buang saja suami butamu itu,lalu menikah lagi. Wajahmu juga lumayan cantik."
A Bao bergekayut di punggung Zhao Heng, sepasang lengan gemuknya memeluk leher Zhao Heng saat ia bertanya,"ayah,menikah lagi itu seperti apa?"
Zhao Heng menahan tubuh si gemuk di punggungnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya mengetuk-ngetuk tongkat ke depan untuk mencari jalan. Soal pertanyaan si kecil,ia pura-pura tidak dengar.
Melihat Zhao Heng diam saja,A Bao dengan penasaran mengulurkan tangan menyentuh telinga Zhao Heng,lalu bergumam pelan," apa telinga Ayah juga sudah tidak bisa mendengar?"
Zhao Heng: benar-benar terima kasih banyak.
Sesampainya di kebun buah, Wang chunniang berbisik bertanya pada A Bao,"A Bao,A Bao,kita tinggal tanam saja kan?"
A Bao mengangguk,"Iya,iya."
Keluarga itu tidak membuang waktu. Mereka langsung bekerja. Zhao Heng tidak bisa membantu,jadi ia duduk di pinggir menjaga anak.
"Mana kantong kain yang dijahit kan ibumu?" teringat pagi ini si gemuk kecil kalah lagi dari Yang Dabao, Zhao Heng bertanya pada A Bao.
A Bao yang duduk di pangkuan Zhao Heng meraba-raba saku bajunya,lalu mengeluarkan sebuah kantong kain.
" Ada,ayah mau buat apa?" A Bao mendongakkan kepala kecilnya, menatap dagu Zhao Heng.
"Isi penuh dengan tanah,lalu berikan padaku." perintah Zhao Heng.
A Bao menunggingkan pantatnya mengisi tanah di pinggir ladang. Tak lama kemudian ia kembali. dengan meraba-raba, Zhao Heng mengikatkan"karung pasir" mini berisi tanah itu ke pinggang A Bao menggunakan secarik kain,lalu menepuk posisi di sebelahnya dan berkata,"pasang kuda-kuda (Zhamabu).
Saat Wang chunniang dan Zhao Xuan selesai menanam dan menyiram bibit berry,mereka melihat A Bao sudah terkapar kelelahan di tanah dengan wajah pasrah.
" Suamiku,hari sudah mulai gelap. Gendong A Bao,ayo kita turun gunung," kata Wang chunniang sambil mengangkat A Bao dan meletakkannya di punggung Zhao Heng.
Keluarga itu pulang di bawah sinar matahari terbenam. Saat tiba dirumah,langit sudah hampir gelap total.
A Bao meluncur turun dari kaki Zhao Heng,dan langsung duduk di samping pintu halaman.
Tiba-tiba, ia berseru kaget. Seekor anak hewan yang tadinya bersembunyi di sudut pintu halaman tiba-tiba melompat keluar, menarik baju A Bao dan berusaha menyeretnya keluar....
"Ibu, apa ini?" pekik A Bao kaget.