Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
Matahari pagi baru saja menyiram kawasan elite tempat Mansion Utama Vale-Knight berdiri megah di Los Angeles.
Burung-burung berkicau merdu di antara pepohonan asri taman belakang, dan hembusan angin membawa aroma bunga mawar yang menenangkan. Namun, kedamaian pagi itu seketika hancur berkeping-keping di lantai atas mansion.
"REAGEN EVANDER VALE-KNIGHT!"
Teriakan membahana dari Rossi Vale-Knight menggema dahsyat, menembus dinding-dinding kokoh mansion dan memantul di sepanjang koridor luas sayap timur.
Brak!
Pintu ganda kamar utama milik putra tunggal keluarga Vale-Knight itu terdorong terbuka secara kasar.
Rossi melangkah masuk dengan napas memburu, langkah kakinya menjejak karpet dengan emosi yang sudah berada di puncak kepala.
Pakaian mewahnya yang anggun tampak agak berantakan akibat emosi yang tak tertahankan, dan jemarinya meremas selembar kertas tebal berstempel resmi dengan sangat erat.
Di atas ranjang king-size bernuansa abu-abu gelap, sesosok remaja jangkung berusia 18 tahun sedang menggeliat pelan di balik selimut sutra.
Reagen kecil—yang dulu menggemaskan dan suka berkejaran di taman—kini telah tumbuh menjadi pemuda tampan bertubuh atletis dengan garis rahang tegas yang diwarisi mutlak dari sang ayah, Rowan.
Rambut hitamnya yang sedikit berantakan jatuh melingkupi dahinya saat ia mengucek matanya dengan malas.
"Reagen bisa dengar, Mom..." gumam Reagen dengan suara serak khas bangun tidur, mencoba membenamkan wajahnya kembali ke bantal.
"Bangun!" tegur Rossi tajam, menarik selimut yang menutupi tubuh putranya tanpa ampun.
Rossi berdiri bersedekap dada di samping ranjang, menatap pemuda itu dengan pendar kekecewaan yang sangat membara. "Katakan pada Mommy, surat apa ini, Reagen?!"
Reagen menghela napas panjang, perlahan mendudukkan dirinya di tepi ranjang sembari merapikan kaos hitam santainya. Matanya yang berwarna hitam pekat menatap lembaran kertas yang dilemparkan sang ibu ke pangkuannya.
Oh, shit... umpat Reagen menjerit dalam hati saat membaca kop surat resmi berlogo emas di atas kertas tersebut.
"E-eh... itu bukan punya Reagen, Mom," cicit Reagen mencoba berdusta, menyunggingkan cengiran polos paling manis yang biasa ia gunakan untuk melunakkan hati ibunya.
"Bukan punyamu?!" Rossi tertawa sinis, memijat pangkal hidungnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Lalu kenapa nama Nyonya Rossi dan Tuan Rowan Knight tertera sangat jelas sebagai orang tua murid di surat Pengeluaran ini, Reagen?!"
Suara Rossi meninggi, menunjukkan betapa habisnya kesabaran wanita yang dikenal paling lembut di keluarga Vale-Knight tersebut.
"Kau baru saja dikeluarkan lagi dari sekolahmu!" cecar Rossi dengan mata membelalak tak percaya. "Di seluruh kota Los Angeles, namamu mungkin jadi orang pertama yang bisa pindah sekolah sampai empat kali hanya dalam waktu satu semester! Dan bayangkan... dua bulan terakhir ini kau baru saja pindah ke sekolah terakhirmu yang berstandar internasional itu!"
Reagen menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, merutuki nasib sialnya yang ketahuan secepat ini. "Mom, dengarkan aku dulu... Sekolah itu sangat membosankan dan—"
"Cukup, Reagen!" potong Rossi tegas, mengibaskan tangannya di udara. "Mommy tidak mau mendengar alasan konyolmu lagi. Kali ini Mommy benar-benar tidak bisa membela kau lagi di depan Daddymu! Demi Tuhan... Mommy sangat kecewa padamu, Nak."
Kalimat 'kecewa' yang terucap dari bibir Rossi seketika membuat Reagen membeku.
Pemuda 18 tahun itu menundukkan kepalanya. Ia bisa menghadapi kemarahan siapa pun, tetapi melihat raut kekecewaan di wajah ibunya yang selama ini selalu melindunginya adalah hukuman yang sangat berat.
"Kau pasti akan dikirim ke Chicago," pungkasi Rossi dengan nada dingin yang pasrah. "Ke kota asal Opa Xander-Hayes Stone."
"Oh, no, Mommy!" jerit Reagen seketika bangkit dari ranjangnya, matanya membelalak panik. "Aku tidak mau pindah ke Chicago! Di sana ada Opa Xander dan para sepupu yang gila aturan! Aku akan mati bosan di sana, Mom!"
"Bicarakan sendiri hal itu dengan Daddymu," jawab Rossi tanpa ragu, membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari kamar sembari terus memijat keningnya yang pusing melihat kelakuan putra tunggalnya.
Satu jam kemudian...
Atmosfer di dalam ruang kerja pribadi Rowan Vale-Knight di lantai bawah terasa bagaikan penjara es yang mencekam.
Aroma kayu cendana dan kertas dokumen mahal memenuhi ruangan berlantai kayu jati tua tersebut.
Di balik meja kerja mahoni yang megah, Rowan duduk tegap. Pria paruh baya itu masih nampak teramat tampan dan berwibawa dalam balutan kemeja abu-abu gelap. Rambut hitamnya dirapikan ke belakang, dan matanya yang tajam bagaikan elang sedang menatap lurus ke arah pintu.
Tok... tok.
Pintu kayu tebal itu terdorong terbuka. Reagen melangkah masuk dengan gerakan pelan yang teramat hati-hati. Keangkuhan dan ketampanannya di luar seketika menguap saat berhadapan langsung dengan aura penguasa milik sang ayah.
"Duduk," perintah Rowan singkat. Suara baritonnya yang rendah dan dingin memotong keheningan ruangan.
Reagen menelan ludahnya yang terasa kaku. Dengan patuh, pemuda 18 tahun itu menarik kursi kulit di hadapan ayahnya, lalu duduk tegak dengan tangan yang bertaut rapi di atas pangkuan—mencoba berakting sejinak dan semanis mungkin di depan sang Ayah.
Rowan bersandar di kursi kerjanya, menyilangkan jemari tangannya di atas meja sembari menatap putranya tanpa ekspresi.
"Apakah ada pembelaan lagi?" tanya Rowan dingin, melihat putranya yang tampak bersikap sok manis duduk di depannya.
Reagen berdehem pelan, mencoba menyusun kalimat pertahanan terbaiknya. "Reagen punya alasan, Dad... Guru fisika di sekolah baru itu selalu saja buat ulangan dadakan tanpa pemberitahuan! Dan dia bersikap sangat menyebalkan pada teman-temanku, jadi Reagen hanya—"
"Dan keputusan Daddy..." potong Rowan mantap, tak memberi celah sedikit pun untuk alasan konyol putranya, "kau tetap harus ke Chicago. Daddy tidak menerima penolakan!"
"Dad!" protes Reagen memelas.
"Dua bulan lalu kau sudah berjanji, Reagen," tegur Rowan dengan pandangan menajam yang membuat Reagen membisu. "Kau bilang high school ini adalah tempat terakhir kau buat ulah. Kau berjanji di depan Mommy-mu bahwa kau akan menyelesaikan semester akhir ini dengan tenang. Tapi apa yang kau lakukan? Kau meretas sistem alarm kebakaran sekolah hanya karena menghindari ulangan dadakan!"
Rowan menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya sembari menatap Reagen dengan tegas.
"Kau sudah berusia 18 tahun, Reagen. Kau bukan anak kecil lagi yang bisa berlindung di balik gaun piyama Mommy-mu setiap kali kau membuat kekacauan. Sudah saatnya kau belajar tentang kedisiplinan dan tanggung jawab atas tindakanmu."
Reagen menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia tahu jika ayahnya sudah menggunakan nada suara seperti ini, tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa mengubah keputusannya—bahkan Mommy atau Nenek Suzzy sekalipun.
"Baik, Dad... Reagen minta maaf," ujar Reagen pasrah, suaranya pelan penuh penyesalan.
Rowan menatap putra tunggalnya itu. Di balik ketegasannya, ada rasa kasih sayang yang begitu dalam.
Reagen diwarisi wajah dan ketegasannya, tetapi juga diwarisi sifat keras kepala dan jiwa pelindung yang terkadang dilampiaskan dengan cara yang salah.
"Malam ini juga, kau berangkat," umum Rowan tanpa bisa diganggu gugat. "Pesawat jet pribadi keluarga sudah disiapkan."
Reagen mendongak kaget. "Malam ini?!"
"Ya, malam ini," tegas Rowan. "Dan selama di sana, ikuti seluruh aturan bersama para sepupumu. Opa Xander dan keluarga Stone tidak akan memanjakanmu seperti Nenek Suzzy memanjakanmu di sini. Jangan berbuat ulah lagi, Reagen."
Reagen menyandarkan punggungnya di kursi dengan helaan napas berat. Ia tahu melarikan diri dari takdir ini adalah hal yang mustahil.
Chicago—kota asal dari Opa Xander-Hayes Stone, ayah dari Nenek Suzzy sekaligus legenda keluarga mereka—akan menjadi rumah barunya untuk sementara waktu.
Di sana, di antara para sepupu dari keluarga Stone yang terkenal ketat dan disiplin, Reagen harus belajar mendewasakan diri dan meninggalkan seluruh kenakalan remaja yang selama ini mewarnai masa mudanya di Los Angeles.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰